Setiap malam, tepat setelah makan malam, menantu perempuan bernama Maria

Suasana rumah mendadak terasa mencekam. Detak jantung Aling Rosa berpacu begitu cepat hingga ia harus memegangi dadanya. Tangannya yang gemetar merogoh saku daster, mengeluarkan ponselnya dengan gerakan secepat kilat namun hati-hati agar tidak menimbulkan suara.

Ia menekan nomor darurat barangay police yang sudah disimpannya. Suaranya berbisik parau, menceritakan bahwa ada penyusup di rumahnya. Polisi berjanji akan segera datang. Namun, bagi Aling Rosa, setiap detik terasa seperti satu jam.

Tiba-tiba, suara air di kamar mandi mati total. Hening. Keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada suara apa pun.

Aling Rosa mundur perlahan, berniat kembali ke kamarnya dan mengunci diri. Namun, tepat saat ia berbalik, pintu kamar mandi itu berderit terbuka. Ia membeku.

Maria keluar. Ia mengenakan handuk yang melilit tubuhnya dengan rapi, rambutnya basah. Namun, tatapan matanya… bukan lagi Maria yang manis dan sopan. Matanya kosong, dingin, dan menatap lurus ke arah Aling Rosa. Tidak ada rasa terkejut, tidak ada rasa malu. Ia hanya berdiri di sana, memegang sebuah botol kecil beraroma peppermint yang sangat menyengat.

“Ibu belum tidur?” suara Maria terdengar tenang, datar, namun dengan intonasi yang terasa tidak manusiawi.

Aling Rosa mencoba bersuara, “Maria… siapa… siapa yang ada di dalam?”

Maria tidak menjawab. Ia malah melangkah mendekat. Perlahan, Aling Rosa menyadari sesuatu yang membuat darahnya membeku. Bayangan Maria di dinding yang terpantul oleh cahaya lampu ruang tamu tidak hanya menunjukkan satu sosok. Bayangan di belakang Maria tampak tinggi, tegap, dan memiliki siluet bahu pria yang lebar—seolah-olah ada seseorang yang memeluknya erat dari belakang, meski di hadapan mata telanjang, Maria tampak sendirian.

“Ibu terlalu banyak mendengarkan,” bisik Maria. Aroma peppermint itu kini bercampur dengan bau tanah basah yang busuk.

Tiba-tiba, terdengar suara sirine mobil polisi di depan gerbang. Maria berhenti melangkah. Senyum tipis, yang lebih mirip seringai, muncul di wajahnya.

“Mereka datang untuk menjemput kita,” ucap Maria pelan.

Saat pintu depan didobrak oleh petugas polisi, mereka menemukan Aling Rosa terkapar pingsan di lantai, tubuhnya menggigil hebat. Namun, saat polisi memeriksa seluruh isi rumah, termasuk kamar mandi, mereka tidak menemukan siapa pun. Kamar mandi itu kosong, keran air tertutup rapat, dan lantainya kering—padahal, baru beberapa menit lalu suara air terdengar deras.

Maria berdiri di sana, menyambut polisi dengan sopan, mengenakan baju tidur yang rapi dan kering, seolah-olah ia baru saja keluar dari kamar tidurnya, bukan dari kamar mandi.

“Ada apa ini, Pak Polisi? Ibu mertua saya tiba-tiba berteriak dan pingsan,” ucap Maria dengan wajah penuh kekhawatiran yang dibuat-buat.

Polisi memeriksa rekaman kamera pengawas yang dipasang Aling Rosa di pot tanaman. Anehnya, saat rekaman diputar di depan mereka, hanya terlihat Aling Rosa yang sedang berbicara sendiri di depan pintu kamar mandi yang tertutup. Tidak ada siapa pun yang keluar, tidak ada pria, tidak ada suara bisikan.

Namun, di akhir rekaman, saat kamera sedikit bergeser karena getaran, terlihat samar-samar sebuah tangan pucat dengan urat-urat menonjol—tangan seorang pria—yang sedang menutup lensa kamera dari sisi dalam kamar mandi.

Maria menikah dengan Jun, dan Jun sering pergi untuk urusan pekerjaan. Tapi malam itu, polisi menemukan sebuah kebenaran yang mengerikan di dalam tas kerja Jun yang tertinggal di gudang: tumpukan foto-foto pria yang hilang dalam tiga bulan terakhir, dengan bagian wajah mereka yang dicoret menggunakan tinta merah.

Maria tidak pernah berselingkuh dengan pria hidup. Ia adalah “penjaga” bagi sesuatu yang Jun bawa pulang dari lokasi proyek konstruksi kuno—sesuatu yang membutuhkan ruang, sesuatu yang hidup dalam aroma peppermint, dan sesuatu yang kini telah “mengunci” rumah itu sebagai tempat persembunyiannya yang baru.

Sejak hari itu, Aling Rosa tidak pernah lagi berani mendekati kamar mandi, dan setiap malam, tepat pukul delapan, ia akan pergi keluar rumah, meninggalkan Maria sendirian dengan tamu tak kasatmata yang selalu setia menunggunya di balik pintu yang tertutup rapat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang