Enam Belas Tahun Lalu Aku Menyembunyikan Uang SPP Teman Sebangkuku di Balik Beasiswa Sekolah; Kini Aku Datang ke Gedung Perusahaannya dengan Kemeja Kusut dan Anak yang Menunggu di Musala—Lalu Resepsionis Berbisik, “Direktur Utama Hari Ini Hanya Mau Mewawancarai Satu Orang: Anda.”

“Kalau masih mau menjawab bahwa semua itu kebetulan, aku akan benar-benar marah, Arga.”

Aku tidak langsung berbalik.

Enam belas tahun ternyata cukup lama untuk mengubah banyak hal, tetapi tidak cukup lama untuk membuatku lupa suara itu.

Aku berdiri perlahan.

Nadhira Maharani berada beberapa langkah di belakangku.

Blazer hitam, kemeja putih, rambut sebahu, tanpa perhiasan mencolok. Perempuan yang wajahnya berkali-kali kulihat di majalah bisnis itu kini menatapku seperti Nadhira yang kukenal di kelas dua belas dulu.

Hanya saja matanya berkaca-kaca.

“Kamu tahu?” tanyaku.

Nadhira menarik kursi di hadapanku.

“Duduk dulu.”

Aku tetap berdiri.

“Sejak kapan?”

“Duduk, Ga.”

Nada itu membuatku menurut.

Dia mengambil lembar pertanyaan di atas meja, lalu membaliknya.

Di bagian belakang terdapat salinan dokumen lama.

Nama sekolah kami.

Tanggal pembayaran.

Nominal.

Dan tanda tangan Bu Ratih.

“Aku tahu sebelas tahun lalu,” katanya.

Aku menatapnya tak percaya.

“Sebelas tahun?”

Nadhira mengangguk.

“Ibu meninggal tahun 2014. Sebelum meninggal, beliau terus merasa ada satu utang yang belum sempat dibayar. Katanya dulu ada orang yang menyelamatkan sekolahku ketika beliau bahkan tidak sanggup membeli beras.”

Dia menggeser sebuah amplop cokelat ke arahku.

“Setelah pemakaman, aku menemui Bu Ratih.”

Aku membuka amplop itu.

Di dalamnya ada fotokopi buku administrasi sekolah.

Beberapa pembayaran diberi tanda kecil dengan tinta biru.

AP.

Arga Pratama.

Dadaku mendadak sesak.

“Bu Ratih berjanji kepadamu untuk merahasiakannya,” lanjut Nadhira. “Tapi katanya janji itu tidak berlaku selamanya kalau orang yang ditolong sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa harga dirinya dulu sebenarnya sedang dijaga seseorang.”

Aku menunduk.

“Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku?”

Nadhira tersenyum tipis.

“Aku mencoba.”

Aku mengangkat kepala.

“Nomormu sudah tidak aktif. Kamu pindah. Media sosialmu hampir kosong. Aku dengar kamu membangun perusahaan di Jakarta, jadi kupikir hidupmu baik-baik saja.”

Dia berhenti sebentar.

“Dan aku tidak mau datang hanya untuk mengembalikan uang.”

“Kenapa?”

“Karena kalau aku mengembalikan Rp8,4 juta, aku akan membuat semua yang kamu lakukan terlihat seperti pinjaman.”

Aku terdiam.

Nadhira menatap lurus ke mataku.

“Padahal bukan itu, kan?”

Aku tersenyum hambar.

“Waktu itu aku cuma tidak mau kamu berhenti sekolah.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu membuatku tertawa kecil.

“Ini wawancara kerja atau interogasi?”

“Jawab.”

Aku memandang jendela besar di belakangnya. Jakarta terbentang jauh di bawah kami.

“Karena kamu pintar.”

“Hanya itu?”

“Dan keras kepala.”

“Arga.”

Aku menarik napas.

“Karena aku tahu rasanya melihat orang tua bekerja sampai tangannya pecah-pecah. Aku punya kesempatan membantu. Jadi aku membantu.”

Nadhira mengangguk pelan.

“Masih sama.”

“Apa?”

“Kamu selalu membuat hal besar terdengar kecil.”

Aku ingin membalas, tetapi ponselku bergetar.

Nomor sekolah Raka.

Aku langsung mengangkatnya.

“Halo?”

“Selamat siang, Pak Arga. Kami dari sekolah Raka. Raka tadi izin tidak mengikuti kegiatan terakhir karena katanya harus menemui Bapak.”

Aku berdiri.

“Apa?”

Jantungku langsung berdegup keras.

“Dia pergi?”

“Sekitar dua puluh menit lalu.”

Aku memutus telepon.

Tanganku dingin.

“Maaf, Nad. Aku harus pergi.”

“Ada apa?”

“Anakku.”

Aku memasukkan dokumen ke dalam map dengan terburu-buru.

Nadhira ikut berdiri.

“Anakmu kenapa?”

“Dia keluar sekolah tanpa izin.”

“Ke mana?”

Aku terdiam.

Pagi tadi aku mengatakan kepadanya bahwa kalau wawancara berlangsung lama, kami akan bertemu di musala dekat gedung Nawasena.

Aku berlari keluar.

Nadhira menyusul.

Kami turun dengan lift khusus tanpa mengatakan apa pun.

Begitu pintu lift terbuka, aku berlari melewati lobi.

Musala berada di bangunan kecil di sisi belakang kompleks.

Aku menemukannya di teras.

Raka duduk memeluk tas sekolah.

Napasnya terengah-engah.

Aku langsung berjongkok di depannya.

“Raka!”

Dia tersentak.

“Papa.”

“Kamu kenapa keluar sekolah sendiri?”

“Aku naik bus.”

“Papa bilang tunggu di sekolah!”

Raka menunduk.

Aku hampir memarahinya lagi ketika melihat sesuatu di tangannya.

Kotak makan plastik.

“Apa itu?”

Raka mengangkatnya.

“Nasi.”

Aku mengernyit.

“Tadi teman-teman dapat makan tambahan dari sekolah. Aku simpan satu buat Papa.”

Semua kemarahan di tubuhku runtuh.

“Papa bilang wawancaranya mungkin sampai siang. Papa belum sarapan.”

Aku menutup mata.

Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, mengetahui anakku pergi sendirian melintasi Jakarta atau mengetahui alasan dia melakukannya.

“Jangan lakukan begini lagi.”

“Maaf.”

Aku memeluknya.

Baru saat itulah Raka melihat seseorang berdiri di belakangku.

Nadhira.

“Ini bos Papa?”

Aku hampir tertawa.

“Belum.”

Nadhira justru berjongkok.

“Kamu Raka?”

“Iya.”

“Kamu tadi bawa nasi untuk Papa?”

Raka mengangguk.

Nadhira menatap kotak makan itu cukup lama.

Kemudian dia menoleh kepadaku.

Ekspresinya berubah.

Seolah sesuatu dari enam belas tahun lalu baru saja berdiri di depannya.

“Kamu memang anaknya Arga,” katanya.

Raka tampak bingung.

Aku tahu persis apa yang dipikirkan Nadhira.

Nasi di kantin.

Meja dekat jendela.

Satu porsi makanan yang dikirim tanpa nama.

Hidup ternyata benar-benar suka mengulang dirinya sendiri.

Kami kembali ke gedung.

Nadhira meminta staf menyediakan makan siang untuk Raka di ruangannya.

Setelah Raka sibuk makan, dia mengajakku ke ruangan sebelah.

“Aku sudah membaca semua tentang perusahaanmu,” katanya.

Aku menegang.

“Kamu menyelidikiku?”

“Aku melakukan pemeriksaan latar belakang setelah melihat namamu masuk ke sistem rekrutmen.”

Aku menatap lantai.

“Nawasena tidak perlu mempekerjakan orang gagal karena rasa kasihan.”

“Aku tidak kasihan.”

“Perusahaanku bangkrut.”

“Aku tahu.”

“Utangnya hampir empat puluh miliar.”

“Aku tahu.”

“Istriku pergi setelah aset kami disita.”

Nadhira diam sejenak.

“Aku juga tahu.”

Rahangku mengeras.

“Kalau begitu kamu tahu cukup banyak untuk menolak.”

“Justru karena itu aku memanggilmu.”

Dia membuka laptop.

Sebuah laporan muncul.

Nama perusahaanku.

Grafik.

Transaksi.

Daftar pemasok.

“Aku meminta tim audit internal mempelajari kasus kepailitan perusahaanmu.”

Aku membaca layar.

Lalu membeku.

Ada beberapa transfer yang tidak kukenal.

Nominalnya besar.

Berulang.

Mengalir melalui tiga perusahaan pemasok.

“Apa ini?”

“Alasan sebenarnya perusahaanmu jatuh.”

Aku mendekat.

“Chief Financial Officer-mu, Dimas Wicaksana, membentuk tiga vendor melalui kerabatnya. Selama hampir dua tahun mereka menaikkan nilai kontrak dan memindahkan dana.”

Aku menggeleng.

“Tidak mungkin.”

“Kerugian langsung sekitar Rp31 miliar.”

Darah seperti turun dari wajahku.

Dimas.

Sahabatku selama sebelas tahun.

Orang pertama yang membantuku mendirikan perusahaan.

Orang yang berdiri di sampingku ketika bank menyita gudang terakhir.

“Dia bilang semua terjadi karena ekspansi terlalu cepat.”

“Sebagian benar. Tapi dia menggunakan ekspansi itu untuk menutupi penggelapan.”

Aku jatuh terduduk.

Tiba-tiba semuanya masuk akal.

Arus kas yang selalu terasa bocor.

Tagihan pemasok yang melonjak.

Audit yang terus tertunda.

Dimas yang memintaku menandatangani restrukturisasi.

“Ada yang lebih buruk,” kata Nadhira.

Dia membuka dokumen lain.

Salah satu perusahaan yang membeli aset gudangku saat proses likuidasi terhubung dengan Dimas.

Aku mengepalkan tangan.

“Jadi dia mencuri, membuat perusahaan jatuh, lalu membeli asetnya?”

“Dengan harga jauh di bawah pasar.”

Aku berdiri.

“Kenapa kamu melakukan semua ini?”

“Karena aku ingin tahu orang seperti apa yang sedang melamar di perusahaanku.”

“Tidak. Kenapa sampai sejauh ini?”

Nadhira menutup laptop.

“Karena enam belas tahun lalu, seorang anak bengkel bekerja setiap Minggu supaya seorang perempuan keras kepala tidak dikeluarkan dari sekolah.”

Aku menatapnya.

“Aku tidak akan berpura-pura tidak melihat ketika orang yang sama sedang dihancurkan oleh pengkhianatan.”

Mataku panas.

Untuk pertama kalinya sejak perusahaan bangkrut, aku merasa ingin menangis.

Bukan karena kehilangan uang.

Bukan karena rumah disita.

Bukan karena istriku pergi.

Tetapi karena setelah berbulan-bulan dianggap sebagai lelaki yang gagal, akhirnya ada seseorang yang berkata bahwa mungkin seluruh cerita tentang kegagalanku belum selesai.

“Aku tidak punya uang untuk melawan Dimas.”

“Nawasena punya tim hukum.”

“Aku tidak bisa membayar mereka.”

“Aku tidak menawarkan jasa hukum gratis.”

Aku menatapnya bingung.

Nadhira mengeluarkan sebuah map hitam.

“Ini tawaran kerjamu.”

Aku membukanya.

Lalu hampir tertawa karena mengira dia bercanda.

Posisi yang tercantum bukan Executive Office Operations.

Director of Supply Chain Recovery.

Gaji jauh di atas lowongan yang kulamar.

“Nad.”

“Jangan salah paham. Kamu tetap harus melewati masa percobaan enam bulan.”

“Aku melamar posisi staf.”

“Aku tahu.”

“Aku bahkan sedang pailit.”

“Perusahaanmu pailit. Pengalamanmu tidak.”

Aku tidak mampu menjawab.

Nadhira menunjuk halaman berikutnya.

“Tugas pertama adalah membantu kami membenahi tiga anak perusahaan distribusi yang sedang bermasalah. Kalau gagal, aku akan memecatmu sendiri.”

Aku tersenyum untuk pertama kalinya hari itu.

“Masih galak.”

“Sekarang aku dibayar untuk itu.”

Tiga bulan berikutnya menjadi periode paling melelahkan dalam hidupku.

Aku bekerja hampir dua belas jam sehari.

Raka dan aku pindah ke kamar kontrakan kecil di Tebet.

Tidak mewah.

Tapi ada kasur.

Ada kamar mandi.

Dan setiap malam aku bisa mengunci pintu sambil mengetahui anakku tidur di tempat yang aman.

Tim hukum Nawasena menyerahkan bukti transaksi Dimas kepada penyidik dan kurator.

Perlahan, skema penggelapan itu terbuka.

Beberapa aset yang dijual melalui transaksi terafiliasi dibekukan.

Namaku tidak otomatis bersih.

Aku tetap harus mengakui bahwa sebagai direktur utama, aku lalai mengawasi orang yang terlalu kupercaya.

Namun untuk pertama kalinya, kegagalan itu memiliki konteks.

Enam bulan kemudian, aku berdiri lagi di lantai lima puluh delapan.

Nadhira menyerahkan evaluasi masa percobaanku.

“Kinerja cukup.”

“Cukup?”

“Tiga anak perusahaan yang rugi sudah positif.”

“Berarti bagus.”

“Jangan besar kepala.”

Aku tertawa.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah benda dari laci.

Sebuah penggaris plastik transparan.

Sudutnya sudah retak.

Aku langsung mengenalinya.

“Tidak mungkin.”

“Masih ingat?”

Penggaris yang kupinjamkan kepadanya setelah dia kembali dari ruang wali kelas dengan mata merah.

“Kamu masih menyimpannya?”

“Enam belas tahun.”

Aku memegang benda itu.

Di salah satu sisi ada tulisan kecil dengan spidol yang sudah memudar.

ARGA P.

Aku menatap Nadhira.

Dia tersenyum.

“Aku memang baru tahu soal uang sekolah sebelas tahun lalu.”

“Terus?”

“Tapi sebenarnya aku sudah curiga sejak dulu.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Karena kalau aku bertanya, kamu pasti menyangkal.”

Aku tertawa pelan.

Nadhira menatap ke luar jendela.

“Aku hanya tidak pernah tahu berapa banyak yang kamu korbankan.”

Pintu terbuka.

Raka masuk membawa dua kotak makanan.

“Papa!”

Aku menoleh.

“Kenapa kamu di sini?”

“Tante Nadhira yang suruh datang.”

Nadhira mengambil satu kotak lalu meletakkannya di depanku.

“Nasi telur balado.”

Aku menatapnya.

Dia menahan senyum.

“Katanya dulu ada orang salah pesan.”

Aku tertawa.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, tawa itu tidak terasa berat.

Raka memandang kami bergantian.

“Aku enggak ngerti.”

“Enggak perlu,” kataku sambil merangkulnya.

Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Enam belas tahun lalu aku berpikir sedang menyelamatkan seorang teman sebangku dengan Rp8,4 juta yang kukumpulkan sedikit demi sedikit.

Aku tidak pernah mengharapkan uang itu kembali.

Tidak pernah mengharapkan ucapan terima kasih.

Tidak pernah membayangkan perempuan itu suatu hari menjadi pemimpin perusahaan bernilai triliunan rupiah.

Aku hanya tidak ingin seseorang kehilangan masa depan karena tidak mampu membayar sekolah.

Namun hidup menyimpan catatan dengan caranya sendiri.

Kadang kebaikan tidak kembali sebagai uang.

Tidak pula kembali dari orang yang sama pada saat kita menginginkannya.

Kadang ia menghilang enam belas tahun, melewati kota, kegagalan, pernikahan yang hancur, perusahaan yang bangkrut, dan malam-malam panjang di bangku terminal.

Lalu ketika kita sudah hampir percaya bahwa semuanya selesai, kebaikan itu mengetuk pintu lagi.

Bukan untuk membayar utang.

Melainkan untuk mengingatkan bahwa satu bab yang hancur tidak pernah berhak menentukan seluruh cerita hidup seseorang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang