Kalimat yang saya tulis di halaman depan surat itu hanya satu.
Silakan datang mengambil barang kalian sebelum pemilik baru mengganti semua kunci.
Saya memotretnya, mengirimkannya kepada Laras, lalu meletakkan pena di meja samping ranjang.
Malam itu saya akhirnya menangis.

Bukan karena Arga pergi ke Bali. Bukan pula karena rumah yang pernah saya bayangkan akan menjadi tempat Kirana belajar berjalan sebentar lagi menjadi milik orang lain.
Saya menangis karena untuk pertama kalinya saya menyadari betapa lama saya hidup dengan seseorang yang hanya mencintai saya selama saya berguna baginya.
Enam tahun lalu, ketika kami menikah, Arga tidak punya rumah, tabungan besar, atau posisi tinggi. Saya tidak pernah mempermasalahkan itu. Saya bahkan menggunakan sebagian bonus tahunan untuk membantunya melunasi utang kartu kredit agar dia bisa memulai kehidupan baru tanpa beban.
Setelah kariernya menanjak, ceritanya berubah.
Di depan keluarganya, rumah Bintaro disebut rumah yang dia beli untuk istrinya.
Mobil saya disebut hadiah darinya.
Bahkan investasi yang saya bangun sejak sebelum menikah perlahan mulai disebut aset keluarga Mahendra.
Saya membiarkannya karena saat itu saya mengira pernikahan bukan kompetisi mengenai siapa memiliki apa.
Ternyata Arga tidak berpikir demikian.
Pukul enam pagi, Laras datang ke rumah sakit membawa kopi dan setumpuk dokumen.
Dia membaca surat pengasuhan sementara dari firma hukum Arga, kemudian tersenyum tipis.
“Mereka bergerak terlalu cepat.”
“Artinya?”
“Artinya mereka panik.”
Laras menunjukkan sesuatu yang tidak saya perhatikan sebelumnya. Surat itu menyebut saya mengalami gangguan emosional pascapersalinan, tetapi tidak menyertakan pemeriksaan dokter, diagnosis psikolog, ataupun rekomendasi medis.
“Ancaman Arga soal mengambil Kirana sudah kamu simpan?”
Saya mengangguk.
“Pesan suara, chat, semuanya.”
“Bagus. Jangan hapus apa pun.”
Saya menatapnya.
“Dia benar-benar bisa mengambil Kirana?”
“Tidak semudah itu. Apalagi kamu sedang menjalani perawatan karena komplikasi pascaoperasi. Dirawat bukan berarti tidak mampu menjadi ibu.”
Laras menutup map.
“Dan seseorang yang meninggalkan istri lima hari setelah operasi untuk berlibur, kemudian menghentikan fasilitas perawatan agar istrinya mencabut laporan terhadap dirinya, bukan sedang membangun argumen pengasuhan yang bagus.”
Untuk pertama kalinya sejak kemarin saya tersenyum.
Sekitar pukul delapan, Arga menelepon sebelas kali.
Saya tidak menjawab.
Panggilan kedua belas datang dari ibunya.
Saya abaikan.
Lalu pesan masuk bertubi-tubi.
Naila, kamu sudah keterlaluan.
Rumah itu rumah tangga kalian.
Arga sudah mengeluarkan banyak uang selama menikah.
Kamu tidak boleh menjual aset keluarga tanpa izin suami.
Saya meneruskan semuanya kepada Laras.
Jawabannya hanya singkat.
Jangan berdebat. Biarkan mereka terus menulis.
Pukul sepuluh, Pak Damar mengabarkan proses transaksi rumah dipercepat. Pembeli ternyata seorang pengusaha yang memang sedang mencari rumah untuk putrinya dan tidak menggunakan kredit bank.
Semua dokumen kepemilikan telah diperiksa.
Tidak ada nama Arga.
Tidak ada hak tanggungan atas namanya.
Tidak ada satu pun bukti bahwa rumah itu pernah dialihkan menjadi harta bersama.
Siang harinya, masalah Arga bertambah.
Pak Ridwan menelepon saya.
“Bu Naila, kami mungkin perlu meminta keterangan tambahan.”
“Silakan.”
“Tim audit menemukan ketidaksesuaian lebih luas daripada dokumen yang Ibu serahkan.”
Saya terdiam.
Pak Ridwan tidak memberikan detail karena pemeriksaan masih berlangsung. Namun dari beberapa kalimatnya, saya memahami bahwa laporan penggantian biaya perjalanan Arga bukan sekadar kebiasaan ceroboh.
Ada pola.
Nama vendor yang sama muncul berulang kali.
Nomor kuitansi berurutan digunakan pada perjalanan berbeda.
Beberapa klien yang disebut menerima jamuan bahkan menyangkal pernah bertemu Arga pada tanggal tersebut.
Dan Maya Adisty, supervisor yang namanya sering muncul dalam dokumen, mendadak mengajukan cuti sakit setelah dipanggil bagian kepatuhan.
Sore itu Arga akhirnya mengirim pesan.
Aku pulang besok.
Kita bicara baik-baik.
Saya tidak membalas.
Lima menit kemudian pesan lain datang.
Jangan jual rumah.
Saya tetap diam.
Lalu kalimat yang selama ini saya tunggu muncul.
Nai, aku minta maaf.
Aneh sekali.
Selama enam tahun pernikahan, dua kata itu terasa sangat mahal baginya.
Sekarang, ketika jabatan dan rumahnya terancam hilang dalam waktu bersamaan, dia bisa mengetiknya begitu mudah.
Keesokan harinya dokter mengizinkan saya pulang dengan syarat luka diperiksa berkala dan saya tidak melakukan aktivitas berat.
Saya tidak kembali ke Bintaro.
Laras sudah membantu menyewa apartemen servis di Jakarta Selatan selama tiga bulan. Ada kamar tambahan untuk perawat bayi dan akses mudah ke rumah sakit.
Barang pribadi saya sudah dipindahkan oleh jasa pindahan yang diawasi Pak Damar.
Barang Arga dan keluarganya tetap berada di rumah lama.
Tepat pukul empat sore, Arga tiba di sana.
Saya tahu karena kamera keamanan yang masih terhubung ke ponsel saya mengirim notifikasi.
Dia turun dari taksi dengan wajah kusut.
Ayah dan ibunya berada di belakang.
Liburan Bali yang seharusnya berlangsung hampir dua minggu berakhir setelah tiga hari.
Arga mencoba membuka pintu.
Tidak bisa.
Pembeli sudah mengganti kunci.
Dia menelepon saya.
Kali ini saya menjawab.
“Kamu di mana?”
“Tempat yang aman.”
“Kenapa kunci rumah diganti?”
“Karena rumahnya sudah diserahterimakan.”
Terdengar suara ibunya berteriak dari belakang.
“Dia tidak bisa begitu, Ga! Itu rumahmu!”
Arga menarik napas.
“Naila, berhenti main-main. Aku suamimu.”
“Dan saya pemilik rumah itu.”
“Aku tinggal di sini enam tahun!”
“Tinggal tidak sama dengan memiliki.”
Dia diam.
Saya melanjutkan.
“Barangmu sudah dikemas. Hubungi Pak Damar untuk jadwal pengambilan.”
“Nai, dengar dulu. Aku memang salah pergi ke Bali. Aku akui. Tapi kamu menghancurkan semuanya hanya karena satu kesalahan.”
Saya menatap Kirana yang tertidur di dada perawat.
“Satu kesalahan?”
“Naila…”
“Kamu menggunakan cuti pendampingan untuk liburan. Kamu mematikan fasilitas rumah sakit ketika luka operasi saya terinfeksi. Kamu mengancam mengambil bayi lima hari dari ibunya supaya saya mencabut laporan. Setelah itu kamu mengirim surat hukum untuk memaksa saya menyerahkan Kirana.”
Suara Arga melemah.
“Itu ide Mama.”
Dari kejauhan terdengar ibunya memprotes.
Saya hampir tidak percaya.
Bahkan sekarang dia masih mencari seseorang untuk dijadikan tameng.
“Dan laporan reimburse juga ide Mama?”
Telepon mendadak sunyi.
“Nai…”
“Saya tidak pernah menuduhmu melakukan apa pun. Audit perusahaanmu yang akan menentukan.”
Arga langsung meninggikan suara.
“Kamu tahu kalau aku kehilangan pekerjaan, Kirana juga yang rugi!”
“Tidak.”
Saya menjawab pelan.
“Kirana rugi kalau tumbuh dengan keyakinan bahwa ibunya harus menerima ancaman supaya ayahnya tetap nyaman.”
Saya menutup telepon.
Dua hari kemudian, saya menerima kabar bahwa Arga diberhentikan.
Hasil pemeriksaan menemukan puluhan klaim biaya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan selama hampir tiga tahun.
Nilainya bukan miliaran seperti yang sempat saya bayangkan.
Sekitar Rp486 juta.
Tetapi masalah terbesar bukan jumlahnya.
Perusahaan menemukan dugaan pemalsuan dokumen pendukung dan penggunaan anggaran perusahaan untuk kepentingan pribadi.
Maya Adisty akhirnya memberikan keterangan.
Dia mengaku beberapa kali diminta membantu mengatur kuitansi agar klaim Arga terlihat sesuai prosedur. Sebagai gantinya, Arga memberikan sebagian uang penggantian biaya kepadanya.
Perusahaan meneruskan kasus itu kepada pihak berwenang.
Ketika berita pemecatan Arga sampai kepada keluarganya, narasi mereka berubah lagi.
Saya bukan lagi istri manja.
Saya sekarang perempuan kejam yang menjebak suami sendiri.
Ibu Arga bahkan mengirim pesan sepanjang enam layar.
Saya tidak membacanya sampai selesai.
Saya memblokir nomornya.
Sebulan kemudian, Arga mengajukan permohonan perceraian lebih dulu.
Dalam dokumennya, dia menyatakan hubungan kami rusak karena saya tidak menghormati suami dan mengambil keputusan finansial sepihak.
Laras tertawa ketika membacanya.
“Biarkan.”
Saya tidak tertawa.
Saya hanya merasa lelah.
Selama berminggu-minggu saya menjalani hidup dalam ritme yang sederhana.
Menyusui Kirana.
Membersihkan luka.
Tidur dua jam.
Bangun.
Menangis tanpa alasan yang jelas.
Kemudian belajar tersenyum lagi ketika Kirana menggenggam jari saya.
Saya menjalani pemeriksaan psikologis atas saran Laras, bukan karena saya merasa ada yang salah dengan diri saya, melainkan karena saya tahu isu kondisi mental akan digunakan Arga dalam perkara pengasuhan.
Hasil evaluasi tidak menemukan kondisi yang membuat saya tidak mampu mengasuh anak.
Sebaliknya, rekam medis menunjukkan saya konsisten mengikuti pengobatan, menyediakan perawat profesional, dan memastikan seluruh kebutuhan Kirana terpenuhi.
Sementara itu, bukti ancaman Arga menjadi masalah besar bagi pihaknya.
Pesan suara mengenai pencabutan fasilitas rumah sakit.
Surat pengasuhan yang dikirim saat saya masih dirawat.
Foto liburan Bali.
Dokumen cuti pendampingan.
Semuanya membentuk gambaran yang sulit dibantah.
Tetapi kejutan terbesar justru muncul tiga bulan kemudian.
Suatu sore Pak Ridwan meminta bertemu.
Kami duduk di sebuah kafe di Kuningan.
Dia meletakkan sebuah amplop di depan saya.
“Ini bukan bagian dari kasus perusahaan,” katanya. “Tapi saya rasa Ibu perlu mengetahui sesuatu.”
Di dalamnya terdapat salinan dokumen aplikasi kredit.
Nama pemohon adalah Arga Mahendra.
Tujuannya pengajuan pinjaman bernilai Rp2,8 miliar.
Jaminannya tertulis sebuah rumah di Bintaro.
Rumah saya.
Saya menatap tanda tangan pada halaman persetujuan pasangan.
Nama saya tercetak di bawahnya.
Naila Prameswari.
Tetapi saya tidak pernah menandatangani dokumen itu.
Darah saya seperti berhenti mengalir.
“Kapan ini dibuat?”
“Sekitar dua bulan sebelum Ibu melahirkan.”
“Pinjamannya cair?”
“Tidak. Verifikasi sertifikat belum selesai.”
Saya memejamkan mata.
Mendadak semuanya masuk akal.
Kepanikan Arga ketika mengetahui rumah dijual.
Ancaman soal Kirana.
Upaya membuat saya dinyatakan tidak stabil.
Desakan agar saya menyerahkan pengasuhan sementara.
Ini bukan hanya soal kehilangan tempat tinggal.
Dia membutuhkan rumah itu tetap berada di bawah kendali saya agar bisa digunakan dalam transaksi yang sedang dia susun.
Laras kemudian menemukan fakta yang lebih buruk.
Nomor telepon yang dicantumkan sebagai kontak saya dalam aplikasi kredit bukan nomor saya.
Nomor itu milik Maya.
Saat dimintai keterangan, Maya akhirnya mengaku bahwa Arga berencana menggunakan pinjaman tersebut untuk menutup kewajiban pribadi dan mengganti sebagian dana yang mulai dia khawatirkan akan ditemukan perusahaan.
Penjualan rumah yang dilakukan dalam hitungan hari ternyata bukan hanya memisahkan saya dari Arga.
Tanpa saya sadari, keputusan itu juga menghancurkan rencana finansial yang sudah dia susun berbulan-bulan.
Hampir setahun kemudian, perceraian kami selesai.
Hak pengasuhan utama Kirana berada pada saya dengan pengaturan pertemuan yang ditetapkan secara hukum.
Saya membeli rumah baru.
Lebih kecil.
Tidak ada kolam renang kompleks yang mewah. Tidak ada ruang keluarga sebesar rumah lama.
Tetapi sertifikatnya saya simpan sendiri.
Di ruang tamu hanya ada sofa sederhana, rak buku, beberapa mainan Kirana, dan foto kami berdua ketika dia berusia enam bulan.
Suatu pagi, saat Kirana mulai belajar berjalan, dia terhuyung dari ujung karpet menuju saya.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Lalu jatuh ke pelukan saya sambil tertawa.
Saya memeluknya erat.
Bekas operasi di perut saya sudah berubah menjadi garis pucat.
Dulu saya membencinya.
Garis itu mengingatkan saya pada malam-malam demam, pengkhianatan, ancaman, dan ketakutan kehilangan anak.
Sekarang saya melihatnya berbeda.
Ada luka yang menjadi tanda bahwa sesuatu pernah dihancurkan.
Ada pula luka yang membuktikan bahwa sesuatu berhasil diselamatkan.
Arga mengira rumah adalah hal terbesar yang dia kehilangan ketika meninggalkan saya sendirian di rumah sakit.
Dia salah.
Rumah hanyalah bangunan.
Yang benar-benar hilang darinya hari itu adalah seorang perempuan yang selama bertahun-tahun selalu memberinya kesempatan untuk pulang.
Dan yang saya dapatkan bukan Rp5,25 miliar dari penjualan rumah.
Saya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih mahal.
Hak untuk tidak pernah lagi meminta izin kepada siapa pun demi menyelamatkan diri saya sendiri.
