SETENGAH BULAN SETELAH MENANDATANGANI KESEPAKATAN CERAI, AKU DATANG DIAM-DIAM KE KLINIK DI DEPOK UNTUK MENGAKHIRI KEHAMILAN KEMBAR—NAMUN SAAT DOKTER MENGANGKAT JARUM BIUS, SUAMIKU MENDOBRAK PINTU, MENARUH MAP MERAH DI DADAKU, LALU MENGUCAPKAN KALIMAT YANG MEMBUAT SELURUH RUANGAN MEMBEKU

Aku menatap Ratih cukup lama sampai suara mesin pemantau di samping ranjang terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sesuatu.

“Lahirkan saja dua cucu saya. Setelah itu kamu boleh pergi ke mana pun kamu mau.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Dokter di sampingku terdiam. Perawat yang tadi hendak meminta Arga keluar bahkan berhenti di dekat pintu. Arga menatap ibunya seperti baru pertama kali melihat perempuan yang membesarkannya.

Aku justru tertawa.

Pelan.

Begitu pelan sampai Ratih mengernyit.

“Kirana?”

Aku mencabut sensor dari jariku.

“Empat tahun saya dianggap tidak berguna karena tidak bisa memberi cucu.”

Aku menatap langsung ke matanya.

“Sekarang setelah tahu saya hamil, Ibu menganggap saya berguna karena bisa melahirkan cucu.”

Senyum Ratih menghilang.

“Jangan dibalik-balik. Saya sedang menawarkan jalan terbaik.”

“Terbaik untuk siapa?”

Ratih membuka mulut, tetapi Arga memotong.

“Cukup, Ma.”

Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku mendengar dua kata yang selama ini kutunggu.

Anehnya, aku tidak merasakan kelegaan apa pun.

Aku hanya merasa lelah.

Ratih menoleh tajam.

“Kamu diam, Arga. Kamu bahkan tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan.”

“Justru sekarang aku tahu.”

Arga mengambil map merah itu dan mengeluarkan beberapa lembar lain.

“Aku tahu Mama membayar seseorang di laboratorium.”

Wajah Ratih berubah.

“Aku tahu hasil pemeriksaanku disembunyikan. Aku juga tahu salah satu laporan Kirana diubah supaya seolah-olah masalah kesuburan berasal darinya.”

Ratih mencoba meraih dokumen tersebut, tetapi Arga menarik tangannya.

“Jangan.”

Suara Arga rendah.

Tidak keras.

Namun untuk pertama kalinya, ibunya benar-benar berhenti.

“Aku sudah bicara dengan dr. Hendra pagi tadi,” lanjut Arga. “Aku juga sudah menemukan mantan staf administrasi klinik yang menerima uang dari Mama.”

Ratih menelan ludah.

“Itu demi kamu.”

“Demi aku?”

“Ayahmu meninggalkan perusahaan itu untukmu. Kamu satu-satunya anak laki-laki. Kalau orang tahu kamu bermasalah soal keturunan, bagaimana keluarga besar akan melihatmu?”

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.

Jadi itulah alasannya.

Bukan cinta.

Bukan perlindungan.

Nama keluarga.

Ratih memilih menghancurkan harga diriku selama bertahun-tahun hanya agar kelemahan putranya tidak diketahui.

Arga menatap ibunya dengan mata merah.

“Jadi Mama membiarkan Kirana disalahkan?”

“Saya hanya ingin menyelamatkan martabat keluarga.”

“Dengan menghancurkan istri saya?”

Ratih tidak menjawab.

Arga tertawa getir.

“Dan aku membiarkan itu terjadi.”

Kalimat terakhir itu bukan ditujukan kepada Ratih.

Dia mengatakannya sambil menatapku.

Aku mengalihkan pandangan.

Dokter kemudian mendekat.

“Bu Kirana, saya perlu bertanya sekali lagi. Apakah tindakan hari ini tetap ingin dilanjutkan?”

Semua orang memandangku.

Ratih.

Arga.

Naya, yang entah sejak kapan muncul di belakang pintu dengan napas tersengal.

Aku memandang langit-langit putih.

Beberapa menit sebelumnya aku yakin akan mengakhiri kehamilan ini.

Sekarang seluruh fondasi keputusan itu tiba-tiba runtuh.

Aku pikir tubuhku gagal.

Ternyata tidak.

Aku pikir Arga memilih menceraikanku karena aku tidak bisa memberinya anak.

Ternyata ada kebohongan yang jauh lebih besar.

Tetapi satu kenyataan tidak berubah.

Selama empat tahun, ketika aku menangis setelah dihina ibunya, Arga ada di sana.

Dan dia diam.

Aku menoleh kepada dokter.

“Saya tidak jadi melanjutkan hari ini.”

Ratih langsung mengembuskan napas lega.

Aku mengangkat tangan sebelum dia sempat berbicara.

“Bukan karena Ibu.”

Lalu aku menatap Arga.

“Dan bukan karena kamu.”

Aku turun dari ranjang dengan bantuan perawat.

“Aku hanya tidak mau mengambil keputusan sebesar ini ketika kepalaku sedang kacau.”

Arga mengangguk.

“Aku mengerti.”

“Tidak. Kamu belum mengerti.”

Aku berdiri di depannya.

“Kehamilan ini tidak membatalkan perceraian kita.”

Wajahnya langsung kehilangan warna.

Ratih bahkan lebih terkejut.

“Kirana, kamu sedang mengandung anak Arga!”

“Benar.”

“Kalau begitu kalian harus kembali bersama.”

Aku mengambil tas.

“Tidak.”

“Anak membutuhkan keluarga lengkap!”

Aku menoleh.

“Anak membutuhkan rumah yang aman. Itu tidak selalu berarti ayah dan ibunya harus tinggal di bawah satu atap.”

Aku berjalan keluar bersama Naya.

Arga tidak mengejarku.

Mungkin akhirnya dia memahami bahwa mengejar seseorang setelah membiarkannya berjalan sendirian selama empat tahun bukanlah bentuk keberanian.

Tiga hari kemudian, aku pindah dari studio di Cilandak.

Bukan karena takut pada Arga.

Aku takut pada Ratih.

Ketakutanku terbukti.

Dalam seminggu, dua orang berbeda datang ke kantorku dengan alasan ingin bertemu.

Salah satunya mengaku staf legal keluarga Pradipta.

Dia membawa proposal.

Apartemen.

Biaya persalinan.

Asuransi kesehatan anak.

Dana pendidikan sampai universitas.

Nilainya begitu besar hingga Naya sampai terdiam ketika melihat angkanya.

Syaratnya hanya satu.

Setelah lahir, kedua anakku harus menggunakan nama keluarga Pradipta dan hak pengasuhan tertentu harus diberikan kepada Arga.

Aku merobek proposal itu di depan orang yang membawanya.

Malamnya, Arga menelepon.

Aku hampir tidak mengangkat.

“Aku tidak mengirim orang itu,” katanya sebelum aku sempat berbicara.

“Lalu siapa?”

“Mama.”

“Tentu saja.”

“Kirana, dengarkan aku. Jangan tanda tangani apa pun dari keluarga.”

Aku tertawa hambar.

“Nasihat yang datang empat tahun terlambat.”

Dia diam.

“Aku tahu.”

Setelah itu dia tidak meminta maaf panjang lebar.

Mungkin karena akhirnya dia sadar kata maaf tidak selalu memperbaiki sesuatu.

“Ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu,” katanya.

“Apa?”

“Hasil tesku bukan satu-satunya hal yang disembunyikan.”

Aku menegakkan badan.

Arga menjelaskan bahwa setelah memeriksa rekening lama ibunya, dia menemukan pembayaran rutin kepada seseorang bernama Bima Santoso, mantan pegawai klinik fertilitas.

Pembayaran itu berlangsung hampir tiga tahun.

Bima akhirnya bersedia bertemu.

Dari sanalah muncul fakta yang lebih mengerikan.

Ratih tidak sekadar mengganti halaman laporan.

Dia sengaja menghentikan dokter untuk memberi tahu kami bahwa pemeriksaan awal menunjukkan kondisi kami sebenarnya masih memungkinkan kehamilan alami, meski peluangnya tidak tinggi.

Setiap kali dokter menyarankan Arga menjalani pemeriksaan lanjutan, Ratih mengintervensi melalui direktur klinik yang dikenalnya.

Aku duduk membeku sambil memegang telepon.

“Kenapa?”

“Karena kalau aku tahu masalahnya mungkin ada padaku, Mama takut aku akan menjalani terapi dan keluarga besar mengetahui hasilnya.”

“Jadi lebih mudah membuat semua orang percaya aku mandul.”

“Iya.”

Satu kata itu menghancurkan sisa penghormatanku kepada perempuan tersebut.

Namun ternyata Arga belum selesai.

“Aku juga membatalkan surat kuasa gugatan.”

Aku langsung berdiri.

“Apa?”

“Tenang. Bukan untuk menahan perceraian.”

“Lalu?”

“Aku mengganti pengacara.”

Dia menarik napas.

“Kesepakatan yang kita tanda tangani dibuat oleh pengacara Mama. Ada klausul tambahan dalam versi yang dia simpan.”

Darahku terasa dingin.

“Klausul apa?”

“Kalau dalam masa proses perceraian ditemukan adanya kehamilan, Mama berencana menggunakannya untuk menunda perceraian dan menekanmu lewat urusan hak asuh.”

Aku memejamkan mata.

Tiba-tiba map cokelat di meja Pondok Indah terbayang kembali.

Cek Rp1,4 miliar.

Semua sudah dipersiapkan.

Bahkan kemungkinan aku hamil rupanya pernah diperhitungkan.

“Kenapa kamu memberitahuku?”

“Karena aku sudah memberikan salinannya kepada pengacaramu.”

Aku terdiam.

“Kamu tahu siapa pengacaraku?”

“Naya memberitahuku setelah aku bersumpah tidak akan mengganggumu.”

Dari ruang tamu terdengar Naya pura-pura batuk.

Aku memelototinya.

Dia mengangkat kedua tangan.

Arga melanjutkan, “Aku juga sudah mengundurkan diri dari perusahaan keluarga.”

Aku benar-benar tidak menyangka.

“Arga, jangan melakukan hal dramatis untuk membuatku kembali.”

“Aku tidak melakukannya supaya kamu kembali.”

Nada suaranya tenang.

“Aku melakukannya karena selama ini aku pikir diam adalah cara menjaga keluarga. Ternyata diam hanya membuat orang yang paling kuat bebas menyakiti orang lain.”

Setelah percakapan itu, Arga benar-benar menjaga jarak.

Dia tidak datang ke rumahku.

Tidak mengirim bunga.

Tidak meminta foto USG.

Tidak memohon kesempatan kedua.

Dia hanya mengirim satu pesan setelah setiap pemeriksaan.

Semoga kamu dan bayi-bayi sehat.

Aku tidak selalu membalas.

Kehamilanku memasuki bulan kelima ketika masalah berikutnya datang.

Ratih mengajukan permohonan melalui pengacaranya untuk memastikan keluarga Pradipta mendapatkan akses terhadap cucu setelah lahir.

Pengacaraku, Maya, hanya tertawa ketika membaca dokumennya.

“Belum lahir saja sudah diperebutkan.”

Aku tidak bisa tertawa.

Aku takut.

Untuk pertama kalinya, aku menyadari kekayaan keluarga Pradipta bukan sekadar angka.

Itu adalah jaringan.

Pengacara.

Relasi.

Orang-orang yang terbiasa mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Sidang perceraian berlangsung tertutup.

Aku datang dengan perut yang sudah jelas terlihat.

Ratih duduk di belakang Arga.

Namun sebelum sidang dimulai, sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.

Arga berdiri.

Dia menyerahkan setumpuk dokumen kepada pengacaranya.

Kemudian mengatakan dengan suara cukup keras agar semua orang mendengar:

“Saya tidak akan mempersoalkan perceraian. Saya juga tidak akan meminta hak asuh penuh.”

Ratih langsung bangkit.

“Arga!”

Dia tidak menoleh.

“Saya mengakui Kirana adalah ibu dari anak-anak kami dan saya mendukung keputusan pengasuhan yang mengutamakan kepentingan mereka.”

“Arga, duduk!”

Untuk pertama kalinya, dia tidak menaati ibunya.

Ratih berjalan keluar sebelum sidang selesai.

Dua bulan kemudian, perceraian kami resmi.

Aneh rasanya.

Aku keluar dari gedung pengadilan sebagai perempuan yang sudah bukan istri Arga, tetapi membawa dua anaknya dalam tubuhku.

Di tangga depan, dia berdiri beberapa meter dariku.

“Selamat,” katanya.

Aku mengerutkan dahi.

“Orang biasanya tidak mengucapkan selamat setelah bercerai.”

“Aku tidak tahu harus bilang apa.”

Aku hampir tersenyum.

Hampir.

Lalu Arga menyerahkan sebuah map merah.

Aku langsung menegang.

“Map lagi?”

“Kali ini baca.”

Di dalamnya bukan dokumen hukum.

Ada dua buku tabungan atas namaku sebagai wali, masing-masing berisi dana yang dia sisihkan dari aset pribadinya.

“Untuk mereka,” katanya.

Aku menutup map.

“Aku tidak bisa menerima ini.”

“Bukan untuk membeli hak sebagai ayah.”

Dia menatap perutku.

“Dan bukan supaya mereka memakai nama Pradipta.”

Aku terdiam.

“Kalau suatu hari mereka ingin mengenalku, aku akan ada. Kalau mereka marah kepadaku karena apa yang kulakukan pada ibunya, aku juga akan menerimanya.”

Aku menatap laki-laki yang pernah kucintai itu.

Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kumiliki selama menjadi istrinya.

Seorang Arga yang mampu berdiri sendiri.

Sayangnya, dia muncul setelah pernikahan kami berakhir.

Aku menerima map itu.

Bukan sebagai tanda kami akan kembali.

Melainkan sebagai tanggung jawab seorang ayah.

Dua bulan kemudian, aku melahirkan melalui operasi caesar.

Dua bayi perempuan.

Alya dan Aluna.

Arga menunggu di luar ruang operasi.

Aku mengizinkannya melihat mereka setelah aku sadar.

Ketika perawat memberikan Alya kepadanya, tangan Arga gemetar hebat.

Dia menangis tanpa suara.

“Aku bahkan takut menggendongnya.”

“Bagus,” kataku lemah. “Berarti kamu sadar dia bukan barang milikmu.”

Arga tertawa sambil menangis.

Lalu pintu kamar terbuka.

Aku mengira Naya.

Ternyata Ratih.

Dia berdiri membawa dua kotak perhiasan.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibanding terakhir kali aku melihatnya.

Arga langsung berdiri.

“Mama tidak boleh datang tanpa izin.”

Ratih tidak membantah.

Dia hanya menatap kedua bayi.

“Kirana.”

Aku menunggu.

“Saya minta maaf.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Tetapi anehnya, aku tidak merasakan kemenangan.

Aku hanya bertanya, “Ibu menyesal karena menyakiti saya atau karena hampir kehilangan cucu?”

Ratih tidak bisa menjawab.

Itu sudah cukup.

“Kalau suatu hari Alya dan Aluna ingin mengenal neneknya, saya tidak akan melarang.”

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Tapi ada satu syarat.”

“Apa?”

“Jangan pernah membuat mereka merasa nilai seorang perempuan ditentukan oleh kemampuannya melahirkan anak.”

Ratih menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, perempuan itu tidak memiliki jawaban.

Setahun berlalu.

Aku kembali bekerja.

Alya dan Aluna tumbuh sehat.

Arga datang dua kali seminggu sesuai kesepakatan. Kadang kami bertengkar soal jadwal tidur bayi. Kadang kami tertawa ketika salah satu dari mereka memuntahkan susu ke kemeja mahalnya.

Kami tidak kembali menikah.

Tidak juga kembali berpacaran.

Kami belajar menjadi dua orang dewasa yang pernah saling menyakiti, tetapi memilih tidak mewariskan luka itu kepada anak-anak mereka.

Sampai pada ulang tahun pertama Alya dan Aluna, Arga datang membawa amplop putih.

“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”

Aku langsung curiga.

“Apa lagi?”

“Hasil tes DNA.”

Aku membeku.

“Apa maksudmu?”

Arga tersenyum kecil.

“Tenang. Mereka anakku.”

Aku hampir melempar bantal kepadanya.

“Terus?”

Dia mengeluarkan lembar kedua.

“Aku melakukan pemeriksaan genetik lanjutan karena dokter heran dengan hasil tes kesuburanku yang dulu.”

Aku membaca kesimpulannya.

Kemudian menatap Arga.

“Kondisimu tidak separah yang tertulis di laporan lama.”

“Benar.”

Aku belum memahami maksudnya.

Sampai Arga meletakkan dokumen terakhir di meja.

Hasil pemeriksaan dari laboratorium independen.

Ternyata bukan hanya laporanku yang pernah dimanipulasi.

Hasil Arga juga.

Ratih sengaja membuat kondisi putranya terlihat lebih buruk dalam dokumen internal agar kebohongan tentang sumber masalah kesuburan kami tidak mudah terbongkar bila suatu hari ada audit medis.

Selama empat tahun, sebenarnya tidak pernah ada diagnosis yang menyatakan salah satu dari kami tidak bisa memiliki anak.

Kami hanya pasangan dengan peluang kehamilan yang lebih rendah dan membutuhkan waktu lebih panjang.

Aku terduduk.

Empat tahun penghinaan.

Perceraian.

Hampir kehilangan dua anak.

Semua bermula dari satu keluarga yang terlalu takut mengakui bahwa manusia tidak bisa mengendalikan kehidupan sesuai jadwalnya.

Aku menatap Alya dan Aluna yang sedang berebut boneka di lantai.

Tiba-tiba aku teringat hari ketika dua garis merah muncul di toilet kafe.

Dulu aku menganggapnya lelucon paling kejam dalam hidupku.

Sekarang aku mengerti.

Dua garis itu bukan tanda bahwa aku harus kembali kepada Arga.

Bukan pula bukti bahwa Ratih salah dan aku benar.

Dua garis itu memaksaku melihat sesuatu yang jauh lebih penting.

Bahwa selama bertahun-tahun aku terlalu sibuk membuktikan diriku layak menjadi istri, sampai lupa bahwa aku sudah layak sebagai manusia bahkan tanpa gelar istri, tanpa anak, tanpa nama keluarga siapa pun.

Arga berdiri di samping pintu sebelum pulang.

“Kirana.”

“Ya?”

“Kalau waktu bisa diulang, aku akan membelamu sejak hari pertama.”

Aku menatapnya.

“Kalau waktu bisa diulang, mungkin aku juga akan pergi sejak hari pertama kamu memilih diam.”

Dia tersenyum getir.

“Adil.”

Aku menggendong Aluna sementara Alya merangkak mengejar kaki ayahnya.

Sebelum pintu tertutup, Arga berbalik.

“Terima kasih karena hari itu kamu menghentikan tindakan.”

Aku menatap kedua putriku.

Kemudian menggeleng.

“Jangan berterima kasih kepadaku untuk keputusan yang tidak pernah menjadi milikmu.”

Arga terdiam.

Lalu mengangguk.

“Kamu benar.”

Dan kali ini, ketika dia pergi, aku tidak merasa ditinggalkan.

Aku berdiri di rumahku sendiri, memeluk anakku, sementara suara tawa Alya memenuhi ruang tamu.

Aku akhirnya memahami bahwa akhir sebuah pernikahan tidak selalu berarti sebuah keluarga hancur.

Kadang-kadang, justru setelah sebuah hubungan berakhir, orang-orang di dalamnya baru belajar membangun sesuatu yang lebih sehat.

Bukan keluarga yang terlihat sempurna dari luar.

Melainkan keluarga yang tidak lagi meminta seorang perempuan mengorbankan harga dirinya hanya agar semua orang lain merasa nyaman.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang