Ketika usiaku menginjak 63 tahun, kupikir hidup sudah kehabisan cara untuk mengejutkanku.
Aku salah.
Suamiku, Hendra, telah meninggal hampir sembilan tahun sebelumnya. Kedua anakku sudah menikah dan sibuk dengan keluarga masing-masing. Putraku, Bayu, tinggal di Surabaya, sedangkan putriku, Laras, menetap di Semarang bersama suaminya.
Mereka bukan anak-anak yang buruk. Setidaknya, selama bertahun-tahun aku selalu mengatakan itu kepada diriku sendiri.
Mereka hanya sibuk.

Begitulah caraku memaafkan telepon yang semakin jarang, kunjungan yang selalu tertunda, dan pesan singkat yang biasanya hanya berbunyi, Ibu sehat?
Aku tinggal sendirian di rumah sederhana peninggalan Hendra di pinggiran Yogyakarta. Setiap sore aku duduk dekat jendela sambil minum teh, memandang jalan kecil yang semakin sepi ketika matahari tenggelam.
Hidupku tenang.
Namun ternyata, ketenangan dan kesepian sering kali memiliki wajah yang hampir sama.
Pada ulang tahunku yang ke-63, aku menunggu sejak pagi.
Pukul delapan, tidak ada telepon.
Pukul dua belas, tetap tidak ada.
Menjelang sore, aku membuka percakapan keluarga di ponsel. Pesan terakhir berasal dari tiga hari sebelumnya. Bayu mengirim foto makanan, Laras membalas dengan emoji tertawa.
Tak seorang pun mengingat ulang tahunku.
Aku berdiri di depan cermin kamar.
Rambutku sudah dipenuhi uban. Kerutan mengelilingi mataku. Tubuhku tentu tak lagi seperti ketika berusia tiga puluh tahun.
Namun perempuan dalam cermin itu masih hidup.
Dan tiba-tiba aku bertanya kepadanya, apakah kau akan menghabiskan sisa umur hanya dengan menunggu orang lain mengingatmu?
Malam itu aku membeli tiket kereta menuju Jakarta.
Aku bahkan tidak memberi tahu anak-anakku.
Aku menginap di sebuah hotel kecil di Menteng. Setelah mandi dan mengganti pakaian, aku berjalan tanpa tujuan hingga menemukan sebuah lounge dengan musik pelan dan pencahayaan temaram.
Di sanalah aku bertemu Adrian.
Usianya sekitar akhir empat puluhan. Rambut di pelipisnya mulai beruban. Kemejanya sederhana, tetapi caranya berbicara tenang dan terukur.
Apakah kursi ini kosong? tanyanya.
Aku mengangguk.
Percakapan yang seharusnya hanya berlangsung beberapa menit berubah menjadi berjam-jam.
Adrian mengaku sebagai fotografer perjalanan. Dia bercerita tentang Flores, Sumba, Maluku, dan desa-desa kecil yang pernah didatanginya.
Ketika kusebut Labuan Bajo, matanya berbinar.
Belum pernah ke sana?
Aku tersenyum pahit.
Dulu suami saya berjanji akan mengajak saya setelah pensiun. Ternyata dia pergi lebih dulu.
Adrian terdiam.
Lalu dia berkata, Kalau begitu, jangan tunggu seseorang untuk membawa Ibu ke sana.
Kalimat sederhana itu terasa seperti mengetuk sesuatu di dalam dadaku.
Aku bercerita banyak malam itu. Tentang Hendra, tentang anak-anak, tentang rumah yang terlalu sunyi, tentang rasa bersalah setiap kali aku ingin melakukan sesuatu hanya untuk diriku sendiri.
Adrian tidak mengasihaniku.
Dia mendengarkan.
Dan sudah bertahun-tahun tidak ada seseorang yang benar-benar mendengarkanku.
Malam semakin larut.
Entah karena kesepian, keberanian, atau keinginan membuktikan bahwa aku masih memiliki hidupku sendiri, aku membiarkannya menemaniku kembali ke hotel.
Malam itu tidak ada janji.
Tidak ada pembicaraan tentang masa depan.
Hanya dua orang asing yang sama-sama tidak ingin sendirian.
Ketika pagi datang, sisi ranjang di sebelahku kosong.
Adrian telah pergi.
Di atas meja terdapat amplop putih.
Di dalamnya ada foto diriku sedang tertidur. Wajahku terlihat damai dalam cahaya lampu kamar.
Di belakang foto itu tertulis sesuatu.
Terima kasih karena malam tadi membuatku mengerti bahwa keberanian dan keindahan tidak pernah mengenal usia. Tetapi aku harus meminta maaf. Ada sesuatu yang sejak awal tidak kukatakan kepadamu.
Aku sebenarnya adalah seseorang yang diminta untuk mencarimu.
Darahku seperti berhenti mengalir.
Di bawah tulisan itu terdapat sebuah nomor telepon dan satu kalimat lagi.
Kalau Ibu ingin mengetahui siapa yang menyuruhku, datanglah ke alamat ini pukul sepuluh pagi. Datang sendiri.
Aku hampir merobek foto itu.
Pikiran buruk berkelebat di kepalaku. Penipuan, pemerasan, penculikan.
Aku langsung memeriksa dompet dan barang-barang berhargaku.
Tidak ada yang hilang.
Pukul sembilan lewat dua puluh, rasa takutku kalah oleh rasa penasaran.
Aku memesan taksi daring menuju alamat yang ditulis Adrian.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar di kawasan Kebayoran Baru.
Aku semakin bingung.
Seorang perempuan berseragam membuka pintu.
Ibu Sari?
Aku mengangguk.
Silakan masuk. Bapak sudah menunggu.
Ruang tamunya luas, tetapi terasa dingin. Di salah satu dinding tergantung puluhan foto hitam putih.
Lalu aku melihat sebuah foto yang membuat kakiku lemas.
Hendra.
Suamiku.
Foto itu memperlihatkan Hendra sekitar tiga puluh tahun lalu, berdiri bersama seorang pria yang tak kukenal.
Di bawahnya tertulis dua nama.
Hendra Prasetyo dan Daniel Wijaya, 1996.
Saya tahu Ibu pasti terkejut.
Aku menoleh.
Seorang pria tua berusia sekitar tujuh puluh tahun berdiri di ambang pintu.
Siapa Anda?
Daniel Wijaya.
Aku menatapnya.
Nama itu sama sekali asing bagiku.
Apa hubungan Anda dengan suami saya?
Daniel duduk perlahan.
Saya sahabat sekaligus rekan bisnis Hendra.
Aku hampir tertawa.
Hendra tidak pernah punya bisnis. Dia bekerja sebagai pegawai perusahaan logistik sampai pensiun.
Daniel menggeleng.
Itulah yang dia ingin keluarganya percaya.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah map.
Tiga puluh tahun lalu, Daniel dan Hendra mendirikan perusahaan distribusi kecil bersama. Bisnis itu berkembang, tetapi Hendra memilih mundur dari operasional setelah mengalami masalah kesehatan.
Namun sahamnya tidak pernah dijual.
Nilainya terus bertambah.
Aku menatap dokumen di tanganku.
Angka yang tercantum di sana membuatku sulit bernapas.
Hendra meninggalkan aset bernilai miliaran rupiah.
Kenapa saya tidak pernah tahu?
Karena dia meminta saya merahasiakannya sampai waktunya tepat.
Waktunya tepat?
Daniel menunduk.
Hendra takut uang akan merusak keluarga kalian.
Aku langsung berdiri.
Sembilan tahun suami saya meninggal dan Anda baru muncul sekarang?
Daniel tidak menjawab.
Justru suara lain terdengar dari belakang.
Karena sebenarnya kami sudah tahu, Bu.
Aku membeku.
Laras berdiri di sana.
Di sampingnya ada Bayu.
Aku tidak bisa memahami apa yang kulihat.
Kalian?
Laras mulai menangis.
Maaf, Bu.
Aku memandang kedua anakku bergantian.
Kalian tahu?
Bayu menunduk.
Ayah memberi tahu kami sebelum meninggal.
Dadaku seperti ditusuk.
Jadi selama sembilan tahun kalian tahu tentang semua ini dan tidak pernah mengatakan apa pun kepadaku?
Bukan begitu, Bu.
Lalu bagaimana?
Suaraku meninggi.
Laras mendekat, tetapi aku mundur.
Ayah membuat surat wasiat, katanya. Sebagian saham akan menjadi milik Ibu kalau Ibu benar-benar bisa hidup mandiri setelah dia meninggal.
Aku menatapnya tak percaya.
Apa maksudnya hidup mandiri?
Daniel akhirnya menjelaskan.
Hendra mengenalku terlalu baik.
Sepanjang pernikahan, aku hidup untuk orang lain.
Setelah menjadi istri, aku berhenti bekerja karena Hendra memintaku fokus mengurus keluarga. Setelah anak-anak dewasa, aku tetap menjadikan kebutuhan mereka sebagai pusat hidupku.
Hendra takut jika meninggalkan kekayaan besar secara langsung, aku akan membagikan semuanya kepada anak-anak lalu kembali hidup sendirian tanpa tujuan.
Karena itu, ia membuat syarat aneh.
Aku harus melakukan sesuatu yang benar-benar kupilih untuk diriku sendiri.
Bukan karena anak.
Bukan karena suami.
Bukan karena kewajiban.
Aku tertawa getir.
Dan siapa yang menentukan kapan saya sudah melakukan itu?
Bayu mengeluarkan ponselnya.
Ayah meninggalkan surat untuk Ibu.
Sebuah video diputar.
Wajah Hendra muncul.
Lebih kurus daripada yang kuingat.
Sari, kalau kamu melihat rekaman ini, berarti aku sudah tidak ada.
Tanganku menutup mulut.
Aku tahu kamu akan marah karena aku merahasiakan banyak hal. Tapi selama hampir empat puluh tahun mengenalmu, aku tahu satu kelemahanmu.
Kamu selalu merasa bersalah ketika bahagia untuk dirimu sendiri.
Air mataku jatuh.
Aku tidak ingin setelah aku pergi kamu berubah menjadi penjaga rumah, menunggu anak-anak pulang dan lupa bahwa kamu juga punya hidup.
Aku ingin suatu hari kamu bangun dan melakukan sesuatu karena kamu menginginkannya.
Pergi ke kota lain. Naik pesawat. Belajar menari. Jatuh cinta lagi. Apa saja.
Asalkan itu pilihanmu.
Video berhenti.
Ruangan sunyi.
Aku memandang Bayu.
Lalu Laras.
Jadi Adrian?
Mereka saling berpandangan.
Daniel menghela napas.
Adrian bekerja untuk saya sebagai fotografer dokumentasi. Saya hanya memintanya memastikan Ibu baik-baik saja selama di Jakarta.
Memastikan?
Aku menatap tajam.
Tidak ada seorang pun yang menyuruh Adrian mendekati Ibu di lounge, kata Daniel cepat. Apalagi sampai pergi bersama Ibu. Itu keputusan kalian sendiri.
Wajahku langsung panas.
Bayu memalingkan muka. Laras tampak berusaha keras menahan ekspresi.
Jangan tertawa, bentakku.
Maaf, Bu.
Namun ada satu hal yang masih menggangguku.
Bagaimana kalian tahu saya pergi ke Jakarta?
Bayu terlihat bersalah.
Kami datang ke Yogya tadi malam untuk memberi kejutan ulang tahun.
Aku terdiam.
Rumah kosong. Ibu tidak bisa dihubungi. Kami panik. Setelah mengecek transaksi tiket dari rekening yang dulu Ibu minta aku bantu aktifkan, kami tahu Ibu pergi ke Jakarta.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku tertawa.
Ironis sekali.
Ketika aku berhenti menunggu mereka, justru mereka datang mencariku.
Laras memelukku.
Selamat ulang tahun, Bu.
Tangisku pecah.
Bukan karena uang.
Bukan karena rahasia Hendra.
Tetapi karena akhirnya aku memahami sesuatu yang terlambat kusadari selama puluhan tahun.
Aku bukan hanya ibu seseorang.
Bukan hanya istri seseorang.
Aku adalah Sari.
Dan ternyata Sari masih hidup.
Tiga bulan kemudian aku berdiri di Bandara Komodo, Labuan Bajo.
Sendirian.
Di tanganku ada kamera baru yang kubeli dengan uangku sendiri.
Aku menolak menggunakan satu rupiah pun dari warisan Hendra untuk perjalanan pertamaku.
Saat berjalan keluar terminal, ponselku berbunyi.
Pesan dari nomor yang masih kusimpan.
Adrian.
Ada sebuah foto terlampir.
Foto matahari terbit di Pulau Padar.
Di bawahnya hanya ada satu kalimat.
Akhirnya berani juga pergi sendiri?
Aku tersenyum lalu membalas.
Siapa bilang sendiri?
Beberapa detik kemudian muncul balasan.
Aku menoleh.
Sekitar dua puluh meter di depanku, Adrian berdiri sambil membawa ransel dan kamera. Dia tersenyum canggung.
Aku berjalan menghampirinya.
Kamu mengikuti saya lagi?
Tidak. Kali ini kebetulan.
Pembohong.
Dia tertawa.
Aku berhenti di depannya.
Ada satu hal yang belum pernah kutanyakan.
Apa?
Malam itu, kalau kamu sudah tahu siapa aku, kenapa kamu tetap mendekat?
Adrian terdiam cukup lama.
Kemudian dia menatapku.
Karena malam itu saya tidak melihat seorang janda berusia 63 tahun yang sedang kesepian.
Lalu?
Saya melihat seorang perempuan yang selama bertahun-tahun lupa bahwa dirinya masih pantas dicintai.
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu aku berjalan melewatinya.
Adrian tampak bingung.
Ibu mau ke mana?
Aku menoleh sambil tersenyum.
Jangan panggil saya Ibu kalau masih ingin ikut.
Untuk pertama kalinya sejak Hendra meninggal, aku tertawa tanpa merasa bersalah.
Enam bulan kemudian, aku menjual sebagian kecil saham peninggalan Hendra.
Bukan untuk Bayu.
Bukan untuk Laras.
Aku membuka sebuah komunitas perjalanan bagi perempuan berusia di atas lima puluh tahun yang kehilangan pasangan, pensiun, atau terlalu lama menghabiskan hidup untuk keluarga hingga lupa memiliki impian sendiri.
Kami menamakannya Langkah Kedua.
Pada perjalanan pertama, dua puluh tiga perempuan ikut bersamaku ke Flores.
Adrian menjadi fotografernya.
Hubungan kami tidak pernah kuberi nama. Aku tidak tahu apakah itu cinta, persahabatan, atau sekadar dua manusia yang bertemu pada waktu yang tepat.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak membutuhkan kepastian.
Suatu sore di Labuan Bajo, aku duduk memandang matahari tenggelam.
Adrian duduk di sampingku.
Kalau boleh tahu, apa keputusan paling gila yang pernah kamu buat? tanyanya.
Aku tertawa kecil.
Tidur dengan pria asing di usia 63 tahun.
Dia tersedak kopinya.
Aku melanjutkan dengan tenang.
Tapi ternyata itu bukan keputusan paling gila.
Lalu apa?
Aku memandang laut yang berkilauan diterpa cahaya senja.
Menghabiskan enam puluh dua tahun hidup dengan berpikir bahwa kebahagiaan harus mendapat izin dari orang lain.
Adrian tidak menjawab.
Aku menggenggam tangannya.
Di usia 63 tahun, aku memang menemukan rahasia terbesar suamiku.
Aku menemukan warisan yang tidak pernah kuketahui.
Aku menemukan kebohongan anak-anakku.
Dan aku menemukan seorang pria asing yang mengubah arah hidupku.
Namun semua itu bukan penemuan terbesar.
Penemuan terbesar itu adalah diriku sendiri.
Perempuan yang selama ini kukira sudah tua, selesai, dan tidak lagi memiliki cerita.
Ternyata hidup tidak pernah berkata bahwa ceritaku telah berakhir.
Akulah yang terlalu cepat menutup bukunya.
