“Kak, sebenarnya semua ini apa?”
Suara Ardi terdengar jauh lebih pelan daripada beberapa menit sebelumnya.
Tangannya masih menggenggam sertifikat tanah dan dua buah kunci yang baru saja diberikan Bima. Kemarahan yang tadi memenuhi dadanya perlahan berubah menjadi kebingungan. Ada sesuatu yang tidak masuk akal. Jika Bima benar benar menghabiskan uang kirimannya untuk hal buruk, seharusnya tidak ada sertifikat tanah, tidak ada kunci mobil, dan tidak ada kunci bangunan di dalam kaleng tua itu.
Bima tidak langsung menjawab.

Ia hanya mengambil sandal usang di dekat pintu kandang, lalu mengenakannya perlahan.
“Ayo ikut Kakak.”
“Kita mau ke mana?”
“Tidak jauh.”
Ardi menatap kaki Bima yang pincang.
“Kakak bisa jalan?”
Bima tersenyum tipis.
“Masih bisa. Selama delapan tahun ini juga masih bisa.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa membuat Ardi merasa bersalah.
Mereka berjalan menyusuri jalan desa yang mulai berubah warna karena matahari sore. Sepanjang perjalanan, beberapa warga yang melihat Bima menyapa dengan ramah.
“Pak Bima, baru pulang?”
“Iya, Bu.”
“Besok jadi ke tempat produksi, Pak?”
“Insyaallah.”
Ardi memperhatikan semuanya dengan heran.
Orang orang tidak memperlakukan kakaknya seperti pengangguran miskin yang tinggal di bekas kandang. Sebaliknya, mereka memanggil Bima dengan penuh hormat.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit, mereka sampai di jalan yang lebih lebar.
Bima berhenti.
“Lihat ke depan.”
Ardi mengangkat wajah.
Di seberang jalan berdiri sebuah bangunan dua lantai yang cukup besar. Bentuknya sederhana tetapi modern, dengan dinding putih, jendela lebar, dan halaman luas. Sebuah papan besar terpasang di bagian depan.
BENGKEL DAN PUSAT PRODUKSI BERSAMA BUMI JAYA
Di bawah tulisan itu terdapat kalimat yang lebih kecil.
Membuka lapangan kerja untuk warga desa.
Ardi menatap bangunan tersebut lama sekali.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
“Kak…”
Bima mengangkat dagu sedikit.
“Pakai kunci yang tadi.”
Ardi berjalan mendekati pintu utama.
Tangannya gemetar ketika memasukkan kunci ke lubang pintu.
Klik.
Pintu terbuka.
Begitu masuk, Ardi langsung terdiam.
Di dalam bangunan itu terdapat mesin pemotong kayu, alat las, beberapa meja kerja, rak peralatan, komputer, serta puluhan produk furnitur sederhana yang sudah dikemas.
Ada meja, kursi, rak dapur, lemari kecil, bahkan furnitur modular yang desainnya terlihat sangat modern.
Di sebuah ruangan lain, belasan mesin jahit tersusun rapi.
Ardi berbalik.
“Kakak yang membangun ini?”
Bima mengangguk.
“Sebagian uangmu dipakai untuk membeli tanah ini. Sebagian untuk membangun tempat produksi. Sebagian lagi untuk membeli mesin.”
Ardi merasa tenggorokannya tercekat.
“Tapi aku mengirim uang untuk membangun rumah.”
“Aku tahu.”
“Kenapa Kakak tidak mengikuti pesanku?”
Bima berjalan mendekati salah satu meja kerja lalu mengusap permukaannya.
“Karena Kakak tahu rumah besar tidak akan membuatmu pulang.”
Ardi terdiam.
Bima melanjutkan.
“Selama bertahun tahun setiap kali kamu menelepon, kamu selalu bilang ingin pulang. Tapi setelah itu kamu bilang lagi bahwa pekerjaan di kampung tidak ada. Gaji kecil. Masa depan tidak jelas.”
Bima menatap adiknya.
“Kakak pikir, kalau rumah itu selesai, kamu mungkin hanya pulang dua minggu. Setelah itu kamu akan kembali ke Jepang.”
Ardi tidak bisa membantah.
Itulah kenyataannya.
Bahkan sebelum pulang kali ini, ia masih berencana kembali ke Jepang setelah libur satu bulan.
Bima berjalan menuju pintu belakang.
“Belum selesai.”
Mereka keluar melalui halaman belakang.
Di sana berdiri bangunan lain yang lebih kecil.
Ketika pintunya dibuka, Ardi melihat beberapa ruangan kantor, ruang rapat, dan satu ruangan besar yang masih kosong.
Di salah satu dinding terdapat gambar rancangan sebuah perusahaan konstruksi.
Ardi mendekat.
Nama perusahaan yang tercetak di bagian atas membuat napasnya berhenti.
ARDIMA KARYA NUSANTARA.
Ardi menoleh cepat.
“Kak…”
Bima tertawa kecil.
“Nama kita berdua. Ardi dan Bima.”
Ardi menatap gambar tersebut.
Ada rancangan usaha konstruksi rumah sederhana, renovasi bangunan, furnitur, serta pelatihan keterampilan untuk pemuda desa.
“Kenapa ada perusahaan konstruksi?”
“Karena Kakak punya adik insinyur sipil.”
Ardi tidak berkata apa apa.
“Kalau suatu hari kamu pulang,” lanjut Bima, “Kakak ingin kamu punya pekerjaan di sini. Bukan sekadar pekerjaan, tapi sesuatu yang bisa kamu bangun sendiri.”
Ardi merasakan matanya panas.
Namun sebelum air matanya jatuh, ia teringat sesuatu.
“Lalu mobil?”
Bima tersenyum.
“Mau lihat?”
Mereka berjalan ke samping bangunan.
Di balik pintu gudang terdapat sebuah mobil bak terbuka yang kondisinya masih sangat bagus.
“Bukan mobil mewah,” kata Bima. “Tapi cukup untuk mengangkut bahan dan barang.”
Ardi menggenggam kunci mobil yang tadi diberikan kepadanya.
“Semua ini… dari uang yang kukirim?”
“Tidak semuanya.”
Ardi menatapnya.
“Maksud Kakak?”
Bima menunduk.
“Uangmu jadi modal awal. Setelah usaha kecil mulai jalan, keuntungannya diputar lagi. Kakak juga bekerja.”
“Kerja apa?”
“Macam macam.”
Bima tersenyum seolah itu bukan sesuatu yang penting.
“Dulu bantu tukang. Pernah jadi kuli proyek. Pernah angkut pasir. Setelah bengkel mulai jalan, Kakak ikut belajar membuat furnitur.”
Ardi menatap tangan kakaknya yang penuh bekas luka.
Baru sekarang semuanya mulai masuk akal.
“Kaki Kakak kenapa?”
Bima diam.
Ardi mendekat.
“Kak, kenapa Kakak pincang?”
“Cuma kecelakaan kecil.”
“Jangan bohong.”
Bima akhirnya menghela napas panjang.
“Tiga tahun lalu ada balok besi jatuh saat pembangunan gedung ini.”
Ardi membeku.
“Kakak masuk rumah sakit?”
“Beberapa minggu.”
“Kenapa tidak pernah bilang?”
“Untuk apa?”
Ardi hampir tidak percaya.
“Untuk apa? Kakak hampir celaka dan bilang untuk apa?”
Bima tersenyum.
“Kalau Kakak cerita, kamu pasti pulang.”
“Memang seharusnya aku pulang!”
“Lalu semua ini siapa yang selesaikan?”
Suara Bima tetap tenang.
Justru ketenangan itulah yang menghancurkan pertahanan Ardi.
Ia menatap bangunan besar di depannya, mesin mesin di dalamnya, halaman luas, mobil, dan dokumen perusahaan.
Tiba tiba semua kenangan selama delapan tahun terakhir muncul dalam pikirannya.
Setiap kali ia mengeluh bekerja lembur di Jepang, Bima selalu berkata bahwa semuanya baik baik saja.
Setiap kali ia bertanya tentang rumah, Bima selalu bilang pembangunan berjalan lancar.
Setiap kali ia ingin mengirim uang lebih banyak, Bima selalu menjawab, “Kalau kamu butuh, simpan saja.”
Ardi selama ini mengira kakaknya hanya pandai mengatur uang.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa Bima sendiri hidup sehemat mungkin demi mengembangkan sesuatu yang jauh lebih besar.
“Tapi kenapa Kakak tinggal di bekas kandang itu?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Bima terdiam cukup lama.
“Rumah lama sebenarnya masih bisa ditempati.”
“Lalu?”
Bima menarik napas.
“Tahun lalu, rumah itu Kakak kosongkan.”
“Kenapa?”
“Karena dipakai keluarga Pak Joko.”
Ardi mengenal nama itu.
Pak Joko adalah tetangga mereka sejak kecil.
“Rumahnya kebakaran,” lanjut Bima. “Dia punya istri dan dua anak. Tidak punya tempat tinggal. Jadi Kakak suruh mereka pakai rumah kita sementara.”
Ardi semakin sulit memahami kakaknya.
“Terus Kakak tinggal di kandang?”
“Cuma sementara.”
“Setahun itu bukan sementara, Kak.”
Bima tertawa kecil.
“Kakak sendirian. Tidur di mana saja tidak masalah.”
Ardi menundukkan wajah.
Saat itu ia benar benar merasa malu.
Beberapa menit lalu ia datang dengan kemarahan besar. Ia menuduh kakaknya dalam hati sebagai penjudi, pemabuk, bahkan pengkhianat.
Padahal laki laki yang berdiri di hadapannya justru menghabiskan delapan tahun hidupnya membangun masa depan untuk mereka berdua.
Namun Bima belum selesai.
“Ada satu tempat lagi.”
Ardi menatapnya.
“Masih ada?”
Bima mengangguk.
Mereka kembali berjalan.
Kali ini menuju jalan kecil di belakang desa.
Setelah beberapa ratus meter, mereka tiba di sebuah lahan luas yang dipagari sederhana.
Di tengah lahan itu berdiri enam rumah kecil yang bentuknya hampir sama.
Rumah rumah tersebut tidak besar, tetapi terlihat bersih dan layak.
Beberapa orang sedang duduk di teras.
Seorang ibu tua melihat Bima lalu melambaikan tangan.
“Pak Bima!”
Bima membalas sapaan itu.
Ardi berdiri terpaku.
“Ini apa?”
“Rumah sewa.”
Ardi mengernyit.
“Punya siapa?”
Bima menyerahkan sertifikat tanah yang sejak tadi dibawa Ardi.
“Baca nama pemiliknya.”
Ardi membuka sertifikat tersebut.
Matanya langsung melebar.
Nama yang tertulis di sana adalah namanya sendiri.
ARDI PRATAMA.
“Kak…”
“Enam rumah itu juga atas namamu.”
Ardi mulai kehilangan kata kata.
“Kenapa?”
“Karena kalau perusahaan sedang sepi, kamu tetap punya pemasukan.”
Bima menatap rumah rumah kecil itu.
“Tidak besar. Tapi cukup.”
Air mata Ardi mulai jatuh.
“Kenapa Kakak melakukan semua ini?”
Bima tidak langsung menjawab.
Ia justru duduk di sebuah bangku kayu di pinggir jalan.
Ardi ikut duduk.
Beberapa detik mereka hanya mendengar suara burung dan kendaraan yang sesekali melintas jauh di depan.
Kemudian Bima berkata pelan.
“Kamu masih ingat waktu Ibu meninggal?”
Ardi mengangguk.
Saat itu ia baru duduk di kelas dua SMA.
“Waktu itu kamu bilang ingin berhenti sekolah karena kita tidak punya uang.”
Ardi masih mengingatnya.
Bima menjual sepeda motor satu satunya agar Ardi bisa menyelesaikan sekolah.
Setelah itu Bima bekerja serabutan untuk membiayai kuliah adiknya.
“Waktu kamu dapat kesempatan kerja ke Jepang, Kakak senang sekali.”
Bima tersenyum.
“Tapi malam sebelum kamu berangkat, kamu tidur. Kakak lihat koper kamu di ruang depan. Entah kenapa Kakak takut.”
“Takut apa?”
“Takut kamu akan seperti orang orang lain di kampung.”
Ardi mengerutkan kening.
“Banyak yang pergi jauh bertahun tahun untuk mencari uang. Pulang membawa mobil, bangun rumah besar, lalu beberapa tahun kemudian uang habis. Akhirnya pergi lagi.”
Bima menatap adiknya dalam dalam.
“Kakak tidak mau hidupmu seperti itu.”
Ardi menahan napas.
“Rumah besar bisa rusak. Mobil mewah bisa dijual. Tapi tanah, usaha, keterampilan, dan pekerjaan bisa membuat kamu bertahan.”
Air mata Ardi semakin deras.
Bima menepuk bahunya.
“Makanya setiap uang datang, Kakak pikir bagaimana caranya uang itu bisa menghasilkan uang lagi.”
“Tapi Kakak sendiri tidak punya apa apa.”
Bima tersenyum.
“Kakak punya semuanya.”
“Apa?”
Bima menunjuk ke arah bengkel yang atapnya terlihat dari kejauhan.
“Orang orang di sana sekarang bisa bekerja tanpa meninggalkan keluarga.”
Kemudian ia menunjuk rumah sewa.
“Orang tua di sana bisa tinggal dengan harga murah.”
Lalu ia menatap Ardi.
“Dan adik Kakak akhirnya pulang.”
Saat itulah Ardi benar benar tidak sanggup lagi menahan dirinya.
Ia berlutut di depan Bima.
“Kak…”
Bima terkejut.
“Di, bangun.”
Ardi memeluk pinggang kakaknya sambil menangis seperti anak kecil.
“Maaf.”
“Sudah.”
“Aku tadi menuduh Kakak.”
“Kamu belum sempat menuduh.”
“Aku sudah menuduh dalam hati.”
Bima tertawa pelan.
“Kalau begitu minta maafnya dalam hati saja.”
Namun Ardi semakin menangis.
Delapan tahun hidup jauh dari rumah telah membuatnya merasa sebagai orang yang paling banyak berkorban.
Ia selalu berpikir dirinya yang bekerja paling keras.
Dirinya yang paling lelah.
Dirinya yang paling kesepian.
Ternyata di kampung, ada seseorang yang diam diam mengubah setiap tetes keringatnya menjadi masa depan.
Malam itu Ardi tidak menginap di hotel.
Ia ikut Bima kembali ke bekas kandang.
“Kamu gila?” kata Bima ketika Ardi membentangkan tikar di sebelah kardusnya.
“Kalau Kakak bisa tidur di sini setahun, aku bisa satu malam.”
“Besok masuk angin.”
“Biar.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun, mereka berbicara sampai lewat tengah malam.
Tentang Jepang.
Tentang masa kecil.
Tentang ibu mereka.
Tentang usaha.
Tentang rencana masa depan.
Namun sebelum tidur, Ardi bertanya satu hal.
“Kak, sebenarnya uang yang kukirim selama ini berapa yang tersisa?”
Bima berpikir sebentar.
“Kalau uang tunai, tidak banyak.”
Ardi tertawa.
“Berarti benar habis.”
“Iya.”
“Tapi berubah jadi semua itu.”
Bima mengangguk.
Ardi tersenyum.
“Besok kita hitung semuanya.”
“Untuk apa?”
“Aku mau pulang permanen.”
Bima menoleh cepat.
“Kamu serius?”
“Serius.”
Ardi menatap atap kandang yang berlubang.
“Aku sudah delapan tahun membangun proyek orang lain. Sekarang aku ingin membangun milik kita.”
Beberapa bulan kemudian, Ardi benar benar mengundurkan diri dari pekerjaannya di Jepang.
Ia kembali ke desa dan mengambil alih pengembangan teknis Ardima Karya Nusantara.
Dengan pengalaman teknik sipil yang dimilikinya, usaha tersebut berkembang jauh lebih cepat.
Mereka mulai menerima proyek renovasi rumah, pembangunan kos, desain rumah sederhana, hingga pembuatan furnitur.
Dua tahun kemudian, jumlah pekerja mereka bertambah dari dua belas menjadi lebih dari enam puluh orang.
Namun ada satu hal yang tidak pernah dilakukan Ardi.
Ia tidak pernah membangun rumah mewah seperti yang dahulu ia impikan.
Sebaliknya, di tanah keluarga, ia membangun sebuah rumah sederhana dengan dua kamar.
Satu untuk dirinya.
Satu untuk Bima.
Di halaman belakang, ia sengaja tidak membongkar bekas kandang tempat kakaknya pernah tinggal.
Ia memperbaikinya, membersihkannya, lalu mengubahnya menjadi sebuah ruang kecil.
Di dinding ruangan itu ia memasang kaleng biskuit tua yang dulu menyimpan sertifikat dan kunci.
Di bawahnya terdapat tulisan sederhana.
Rumah bukan tempat kita menunjukkan seberapa banyak uang yang telah kita kumpulkan.
Rumah adalah tempat yang membuat kita tidak perlu pergi jauh lagi untuk merasa memiliki kehidupan.
Setiap kali ada orang bertanya mengapa seorang insinyur yang pernah bekerja di Jepang memilih tinggal di desa dan menjalankan usaha bersama kakaknya, Ardi hanya tersenyum.
Karena hanya dirinya yang tahu bahwa delapan tahun lalu ia mengirim uang untuk membangun sebuah rumah.
Namun kakaknya justru membangun sesuatu yang jauh lebih mahal.
Sebuah alasan untuk pulang.
