Sosok di balik jendela itu membuat darahku seperti berhenti mengalir.
Aku tidak tahu berapa lama aku terpaku. Mungkin hanya beberapa detik, tetapi rasanya seperti berjam-jam.
Hujan mengguyur halaman rumah dengan deras. Air mengalir di permukaan kaca, membuat wajah perempuan berpakaian putih itu tampak samar. Namun saat kilat kembali menyambar, aku melihatnya dengan lebih jelas.
Rambut panjang yang jatuh melewati bahu.
Wajah pucat.

Tubuh kurus.
Dan mata yang menatap lurus ke dalam rumah.
Maya.
Tidak mungkin aku salah.
Aku mengenal wajah itu lebih baik daripada wajahku sendiri.
Nara justru tersenyum lebar di dalam pelukanku.
“Mama datang, Ayah.”
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
“Nara, jangan ke mana-mana.”
Aku menurunkannya dari pangkuanku, lalu berdiri perlahan.
Tanganku meraih ponsel di atas meja. Entah apa yang ingin kulakukan. Menelepon polisi? Memanggil tetangga? Atau sekadar menggunakan benda itu sebagai pegangan agar tanganku berhenti gemetar?
Ketika aku kembali menatap jendela, perempuan itu masih ada.
Kemudian bibirnya bergerak.
Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya karena suara hujan terlalu keras.
Tapi aku melihat tangannya terangkat.
Dia mengetuk kaca.
Tok.
Tok.
Tok.
Tubuhku membeku.
Nara langsung berlari.
“Mama!”
Aku menangkap tubuhnya sebelum dia mencapai pintu.
“Jangan!”
Nara terkejut mendengar bentakanku. Matanya langsung berkaca-kaca.
“Kenapa, Ayah? Itu Mama.”
Aku tidak menjawab.
Aku menggendongnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya meraih gagang pintu.
Aku tidak percaya hantu.
Setidaknya selama ini aku selalu mengatakan begitu.
Tetapi malam itu, semua keyakinanku terasa tidak berguna.
Aku membuka pintu perlahan.
Angin dingin menerobos masuk bersama percikan hujan.
Halaman rumah kami kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Aku melangkah keluar.
“Maya?”
Tidak ada jawaban.
Aku memeriksa sisi jendela.
Kosong.
Jalan kecil di depan rumah juga sepi. Hanya ada beberapa motor milik tetangga yang terparkir di bawah teras.
Kemudian aku melihat sesuatu di tanah.
Jejak kaki.
Jejak itu berasal dari depan jendela dan berlanjut menuju gang di samping rumah.
Berarti perempuan tadi bukan bayangan.
Bukan halusinasi.
Ada seseorang yang benar-benar berdiri di sana.
Aku mengikuti jejak itu beberapa langkah sebelum berhenti.
“Nara, kamu kenal perempuan tadi?”
Nara mengangguk tanpa ragu.
“Mama.”
“Kamu pernah melihatnya sebelumnya?”
Jawabannya membuat tengkukku terasa dingin.
“Sering.”
Aku menatapnya.
“Sering?”
Nara menunjuk ke arah kamar.
“Mama kadang datang kalau Ayah sudah tidur.”
Aku hampir menjatuhkannya.
“Kapan?”
“Kadang malam.”
“Apa Mama masuk rumah?”
Nara menggeleng.
“Di jendela.”
Aku membawa Nara masuk dan mengunci semua pintu.
Malam itu aku tidak tidur.
Aku duduk di ruang keluarga sampai pagi dengan Nara tertidur di pangkuanku.
Pikiranku dipenuhi kemungkinan yang semakin lama semakin menakutkan.
Mungkin ada perempuan dengan gangguan jiwa yang kebetulan mirip Maya.
Mungkin seseorang sedang mengawasi rumah kami.
Namun satu pertanyaan terus menggangguku.
Bagaimana mungkin Nara langsung memanggilnya Mama?
Nara hanya mengenal Maya melalui foto.
Pagi harinya aku menghubungi kakak perempuan Maya, Mbak Rina.
Awalnya aku tidak ingin menceritakan semuanya karena takut terdengar gila. Tetapi akhirnya aku mengirimkan rekaman CCTV dari kamera kecil yang kupasang di teras beberapa bulan sebelumnya.
Kami menontonnya bersama di rumah.
Pukul 21.47.
Seorang perempuan muncul dari ujung gang.
Dia mengenakan pakaian putih dan berdiri di depan jendela.
Sayangnya wajahnya tertutup rambut dan hujan.
Mbak Rina memutar rekaman itu beberapa kali.
Tiba-tiba tangannya berhenti.
“Ardi.”
“Apa?”
Dia menunjuk layar.
“Putar lagi waktu perempuan itu berjalan.”
Aku melakukannya.
Wajah Mbak Rina perlahan berubah pucat.
“Kenapa?”
Dia tidak menjawab.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Jalannya.”
Aku menatap layar.
“Maksud Mbak?”
“Maya kalau berjalan selalu sedikit menyeret kaki kiri sejak kecelakaan waktu SMA.”
Aku memperhatikan perempuan itu.
Benar.
Kaki kirinya tampak sedikit tertinggal.
Aku merasakan napasku menjadi berat.
“Itu kebetulan.”
Mbak Rina menatapku.
“Semoga.”
Aku memutuskan tidak bekerja hari itu.
Sore harinya, aku membawa Nara ke rumah ibu Maya di Bantul.
Aku sengaja tidak mengatakan apa pun mengenai kejadian malam sebelumnya.
Ketika kami sedang minum teh di ruang tamu, aku bertanya kepada Nara.
“Kalau Mama datang lagi, Nara bisa tunjukkan ke Nenek?”
Nara mengangguk.
Kemudian dia mengambil kertas dan krayon.
Dia menggambar tiga orang.
Aku.
Dirinya.
Dan seorang perempuan berpakaian putih.
Tetapi ada sesuatu yang aneh.
Di tangan perempuan itu, Nara menggambar sebuah gelang berwarna merah.
Aku menatap gambar tersebut.
“Nara, ini apa?”
“Gelang Mama.”
Aku langsung menoleh kepada ibu Maya.
Wajah beliau berubah.
“Ada apa, Bu?”
Beliau masuk ke kamar dan kembali membawa sebuah kotak kayu kecil.
Dari dalamnya, beliau mengeluarkan foto lama.
Foto Maya ketika masih kuliah.
Di pergelangan tangan kanannya terdapat gelang tali merah dengan manik kecil berbentuk bunga.
Aku tidak pernah melihat gelang itu.
“Ini pemberian adiknya,” kata ibu Maya pelan. “Maya memakainya bertahun-tahun, tapi hilang sebelum kalian menikah.”
Aku menatap Nara.
“Nara pernah lihat foto ini?”
Dia menggeleng.
Aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Malam berikutnya aku sengaja menunggu.
Lampu teras kubiarkan menyala.
Aku menutup tirai, tetapi menyisakan sedikit celah.
Pukul sebelas malam, tidak terjadi apa-apa.
Tengah malam.
Masih sunyi.
Hampir pukul satu, aku mendengar suara dari halaman.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku berdiri.
Jantungku berdegup begitu keras sampai telingaku berdenging.
Perempuan itu kembali.
Kali ini aku sudah siap.
Aku membuka pintu dan langsung berlari keluar.
“Berhenti!”
Perempuan itu terkejut lalu berlari menuju gang.
Aku mengejarnya.
Hujan tidak turun malam itu sehingga aku bisa melihatnya lebih jelas.
Dia berlari pincang.
“Berhenti!”
Aku berhasil menyusulnya di dekat sebuah warung yang sudah tutup.
Aku menarik lengannya.
Perempuan itu menjerit.
Ketika dia berbalik, seluruh tubuhku membeku.
Wajahnya memang mirip Maya.
Sangat mirip.
Tetapi dia bukan Maya.
Usianya tampak lebih muda beberapa tahun. Ada bekas luka tipis di dekat alisnya.
Dia menangis sambil berusaha melepaskan tanganku.
“Lepaskan saya!”
“Kamu siapa?”
Dia tidak menjawab.
“Kenapa kamu mengawasi rumah saya?”
Perempuan itu menunduk.
Aku melihat pergelangan tangannya.
Ada gelang merah.
Sama persis dengan gambar Nara.
“Siapa kamu sebenarnya?”
Dia terisak.
Nama yang kemudian keluar dari bibirnya membuatku semakin bingung.
“Nama saya Laras.”
Aku tidak pernah mengenal perempuan bernama Laras.
Namun ketika aku menyebut nama itu kepada ibu Maya keesokan paginya, cangkir di tangannya jatuh ke lantai.
Wajah beliau berubah pucat.
“Bagaimana kamu tahu nama itu?”
“Dia datang ke rumah saya.”
Ibu Maya duduk perlahan.
Mbak Rina yang berada di sana langsung memandang ibunya.
“Siapa Laras, Bu?”
Butuh waktu lama sebelum beliau akhirnya bicara.
Tiga puluh tahun lalu, sebelum menikah dengan ayah Maya, ibu Maya pernah melahirkan anak perempuan.
Beliau masih sangat muda.
Ayah bayi itu meninggalkan beliau.
Karena tekanan keluarga dan keadaan ekonomi, bayi tersebut akhirnya diasuh oleh pasangan lain.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui hal itu.
Bahkan Maya.
Namun bertahun-tahun kemudian, ketika Maya kuliah, dia tanpa sengaja menemukan dokumen lama.
Dia mencari saudari kandungnya secara diam-diam.
Dan menemukannya.
Laras.
“Mereka sempat bertemu beberapa kali,” kata ibu Maya sambil menangis. “Gelang merah itu diberikan Maya kepada Laras.”
Aku terdiam.
“Kenapa saya tidak pernah tahu?”
“Maya berencana memberitahumu setelah melahirkan.”
Kalimat itu terasa seperti pisau.
Ada satu bagian kehidupan istriku yang tidak pernah sempat dia ceritakan.
Aku menemui Laras lagi.
Kali ini kami berbicara di sebuah kedai kopi kecil.
Dia menceritakan semuanya.
Setelah mengetahui Maya meninggal, Laras tidak berani datang ke rumah kami.
Dia merasa tidak memiliki hak.
Namun beberapa bulan lalu, dia menemukan akun media sosial Mbak Rina dan melihat foto Nara.
“Aku cuma ingin melihat anak Kak Maya,” katanya. “Sekali saja.”
“Tapi kenapa datang malam-malam?”
“Saya takut.”
“Kenapa Nara bilang kamu sering datang?”
Laras menunduk.
Ternyata selama dua bulan terakhir dia memang beberapa kali berdiri di luar rumah setelah pulang bekerja.
Tidak pernah masuk.
Tidak pernah mengetuk.
Hanya melihat Nara dari kejauhan.
Aku seharusnya marah.
Namun melihat matanya, aku justru menemukan kesedihan yang kukenal.
Kesedihan seseorang yang kehilangan Maya.
“Ada satu hal lagi,” kata Laras.
Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop yang sudah kusam.
“Kak Maya menitipkan ini kepada saya beberapa minggu sebelum melahirkan.”
Tanganku gemetar saat menerimanya.
Di bagian depan tertulis namaku.
Untuk Ardi.
Aku membuka amplop itu.
Tulisan tangan Maya memenuhi dua lembar kertas.
Dia menulis bahwa jika suatu hari terjadi sesuatu kepadanya, dia ingin aku mengetahui tentang Laras.
Dia meminta maaf karena menyimpan rahasia.
Kemudian aku membaca bagian terakhir.
Ardi, kalau anak kita perempuan, aku ingin namanya Nara. Aku suka nama itu karena bagiku artinya seseorang yang membawa cerita. Kalau suatu hari aku tidak bisa mendampinginya tumbuh, ceritakan tentang aku kepadanya. Jangan biarkan dia mengenalku hanya dari sebuah foto.
Tanganku berhenti.
Air mataku jatuh mengenai kertas.
Aku tidak pernah tahu Maya telah memilih nama Nara.
Aku memilih nama itu sendiri di rumah sakit, beberapa jam setelah kematiannya.
Setidaknya, selama tiga tahun aku selalu mengira begitu.
Aku menatap Laras.
“Kenapa baru diberikan sekarang?”
“Saya pengecut,” jawabnya sambil menangis. “Setiap kali datang, saya ingin mengetuk pintu. Tapi saya takut kehadiran saya justru membuka luka kalian.”
Malam itu aku pulang membawa surat Maya.
Nara sudah menunggu di rumah bersama neneknya.
Begitu melihatku, dia berlari.
“Ayah!”
Aku memeluknya erat.
Kemudian Nara melihat Laras yang berdiri beberapa langkah di belakangku.
Wajahnya langsung cerah.
“Mama!”
Laras menutup mulut sambil menangis.
Aku berjongkok di depan Nara.
“Sayang, dengarkan Ayah. Ini bukan Mama.”
Nara terlihat bingung.
“Namanya Tante Laras. Dia adiknya Mama.”
Nara menatap Laras lama.
Kemudian dia bertanya polos.
“Kalau bukan Mama, kenapa wajahnya sama?”
Aku tersenyum dalam tangis.
“Karena mereka saudara.”
Sejak malam itu, Laras perlahan menjadi bagian dari kehidupan kami.
Dia tidak menggantikan Maya.
Tidak akan pernah.
Namun Nara mendapatkan seseorang yang bisa menceritakan sisi ibunya yang bahkan tidak kukenal.
Tentang Maya semasa kuliah.
Tentang kebiasaannya membeli dua es krim tetapi selalu memberikan yang lebih besar kepada Laras.
Tentang gelang merah.
Tentang mimpi-mimpi kecil yang tidak pernah sempat diwujudkannya.
Beberapa bulan kemudian, pada malam ulang tahun Nara, kami kembali duduk di depan foto Maya.
Kali ini tidak hanya aku dan Nara.
Laras juga duduk bersama kami.
Nara memandang foto ibunya.
“Mama, sekarang Nara punya Tante Laras.”
Aku tersenyum.
Lalu Nara mendekati foto itu dan berbisik.
“Terima kasih sudah suruh Tante datang.”
Aku dan Laras saling menatap.
“Nara,” kataku pelan. “Mama tidak menyuruh Tante datang.”
Nara mengernyit.
“Lho?”
Dia berlari ke kamar dan kembali membawa sebuah kertas gambar lama.
Gambar yang dibuatnya sehari sebelum Laras pertama kali muncul di jendela.
Di sana ada seorang perempuan berpakaian putih dengan gelang merah.
Di sampingnya berdiri perempuan lain.
Aku belum pernah memperhatikan sosok kedua itu karena digambar sangat tipis.
Aku bertanya, “Ini siapa?”
Nara menunjuk perempuan dengan gelang merah.
“Ini Tante Laras.”
Kemudian jarinya berpindah kepada sosok di sebelahnya.
“Kalau yang ini Mama.”
Aku merasakan seluruh tubuhku merinding.
“Kenapa Mama ada di sebelah Tante?”
Nara tersenyum seperti pertanyaan itu sangat mudah dijawab.
“Karena waktu itu Mama bilang Tante Laras takut mengetuk pintu.”
Ruangan mendadak hening.
Laras menutup mulutnya.
Aku menatap foto Maya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasakan kesedihan ketika melihat wajahnya.
Aku justru tersenyum.
Mungkin semua yang dikatakan Nara hanyalah imajinasi seorang anak.
Mungkin dia mendengar sesuatu tanpa kami sadari lalu menggabungkannya menjadi cerita.
Aku tidak pernah mencoba mencari jawabannya.
Karena malam itu aku akhirnya memahami sesuatu.
Selama tiga tahun, aku selalu mengira tugasku adalah memastikan Nara tidak melupakan ibunya.
Ternyata aku salah.
Melalui Nara, Maya justru memastikan bahwa kami yang masih hidup tidak melupakan satu sama lain.
Aku memeluk putriku.
Di luar, angin malam Yogyakarta bergerak lembut melewati pepohonan.
Tirai di dekat jendela bergoyang perlahan.
Dan tepat sebelum lampu kecil di samping foto Maya kupadamkan, aku mencium aroma yang sudah tiga tahun tidak pernah tercium di rumah itu.
Aroma parfum melati yang selalu dipakai Maya.
Nara menoleh ke arah jendela.
Namun kali ini dia tidak menunjuk atau memanggil.
Dia hanya tersenyum kecil dan melambaikan tangan.
“Selamat malam, Mama.”
