Pagi hari ketiga, aku terbangun bukan karena alarm, melainkan karena suara benda jatuh dari arah ruang tamu.
Disusul teriakan ibu mertuaku.
“Ardi!”
Aku langsung bangkit dari tempat tidur.
Begitu membuka pintu kamar, kulihat Ardi tergeletak di lantai dekat meja makan. Wajahnya pucat, keringat membasahi pelipisnya, sementara satu tangannya menekan perut.
Ibu mertuaku berlutut di sampingnya dengan wajah panik.
“Di, kamu kenapa? Bangun, Nak!”

Aku segera menghampiri dan memeriksa kondisinya.
“Mas, dengar aku?”
Ardi membuka mata, tetapi hanya mampu mengerang.
“Perutku sakit banget, Rin.”
Melihat kondisinya, aku tidak berani menunggu. Aku memesan mobil melalui aplikasi dan membawa Ardi ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan, ibu mertuaku terus memegangi tangan putranya sambil menangis.
Anehnya, beberapa kali beliau justru menatapku seolah semua ini salahku.
Setelah diperiksa di IGD, dokter mengatakan Ardi mengalami radang lambung akut disertai dehidrasi. Kondisinya diperburuk karena dua hari terakhir pola makannya berantakan, terlalu banyak minum kopi saat bekerja, dan mengonsumsi obat pereda nyeri dalam keadaan perut kosong.
Untungnya, dia dibawa ke rumah sakit sebelum kondisinya memburuk.
Aku mengembuskan napas lega.
Namun ketenanganku hanya bertahan beberapa menit.
Petugas administrasi datang membawa formulir.
“Untuk sementara diperlukan deposit rawat inap sebesar tiga juta rupiah.”
Aku belum sempat menjawab ketika ibu mertua langsung menoleh kepadaku.
“Rina, bayar dulu.”
Nada suaranya bukan meminta.
Melainkan memerintah.
Aku menatap beliau beberapa detik.
“Kenapa saya?”
Beliau tampak tidak percaya.
“Lho, Ardi itu suamimu.”
“Betul.”
“Ya berarti kamu yang bayar.”
Aku mengangguk pelan.
Kemudian aku menatap Ardi yang masih terbaring lemah.
“Mas punya uang?”
Ardi terdiam.
Aku sudah tahu jawabannya.
Gajinya baru masuk empat hari lalu dan hampir seluruhnya sudah diberikan kepada ibunya.
“Ibu kan pegang uang Mas Ardi,” kataku.
Wajah ibu mertua berubah.
“Itu uang yang diberikan Ardi kepada Ibu.”
“Kalau begitu masih ada, kan?”
Beliau mengalihkan pandangan.
“Sudah Ibu pakai.”
Aku benar-benar terkejut.
“Sepuluh juta habis dalam tiga hari?”
“Bukan urusanmu.”
Jawaban itu membuatku tersenyum pahit.
“Tapi biaya rumah sakit anak Ibu sekarang menjadi urusan saya?”
Beliau langsung berdiri.
“Kamu ini istri macam apa? Suamimu sakit malah hitung-hitungan uang!”
Beberapa orang di ruang tunggu mulai memperhatikan kami.
Aku tidak ingin membuat keributan di rumah sakit.
Aku akhirnya mengeluarkan kartu debit dan membayar deposit.
Bukan karena kalah.
Bukan pula karena takut kepada ibu mertua.
Aku membayar karena kondisi Ardi membutuhkan penanganan.
Namun saat memasukkan kartu ke mesin pembayaran, dalam hati aku membuat keputusan.
Ini terakhir kalinya.
Siang harinya kondisi Ardi mulai membaik.
Dokter mengatakan dia harus menginap satu malam untuk observasi.
Ketika aku kembali ke kamar setelah membeli air mineral, kudengar ibu mertua sedang berbicara pelan kepada Ardi.
“Kamu jangan lembek sama istrimu. Perempuan kalau sudah berani mengatur uang suami, lama-lama akan menguasai semuanya.”
Langkahku berhenti di depan pintu.
Ardi tidak langsung menjawab.
Ibunya melanjutkan.
“Gaji itu hakmu. Kamu mau kasih ke siapa pun terserah kamu.”
Aku masuk.
“Benar, Bu.”
Keduanya langsung menoleh.
Aku meletakkan botol air di meja.
“Gaji Ardi memang hak Ardi. Sama seperti gaji saya adalah hak saya.”
Ibu mertua mendengus.
“Jadi kamu tega membiarkan suamimu sakit?”
Aku menatapnya.
“Saya yang membawanya ke rumah sakit. Saya juga yang baru membayar tiga juta.”
Beliau terdiam.
Aku kemudian menghadap Ardi.
“Mas, setelah kamu pulang dari rumah sakit, kita harus bicara.”
Ardi menunduk.
Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran kami, aku melihat sesuatu yang berbeda di wajahnya.
Bukan kemarahan.
Melainkan rasa malu.
Sore itu, ketika ibu mertua pergi membeli makanan, Ardi tiba-tiba memanggilku.
“Rin.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
Dia menatap langit-langit cukup lama.
“Aku minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
“Dua hari ini aku baru sadar,” lanjutnya. “Selama ini aku pikir kebutuhan rumah itu kecil. Beras, listrik, gas, sabun, air, internet. Aku pikir semua itu nggak seberapa.”
Aku tersenyum hambar.
“Karena kamu nggak pernah membayarnya.”
Ardi mengangguk.
“Ternyata untuk makan sehari saja aku kebingungan.”
Aku duduk di kursi dekat ranjang.
“Masalah kita bukan cuma uang, Mas.”
“Aku tahu.”
“Masalahnya kamu menganggap tanggung jawab rumah tangga sebagai kewajibanku sendiri.”
Ardi menatapku.
Aku melanjutkan dengan suara tenang.
“Aku nggak pernah melarang kamu membantu Ibu. Bahkan selama empat tahun aku nggak pernah protes ketika kamu mengirim uang. Tapi membantu orang tua dan menyerahkan seluruh tanggung jawab rumah kepada pasangan adalah dua hal berbeda.”
Ardi menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Aku bodoh.”
Aku tidak menghiburnya.
Ada penyesalan yang memang harus dirasakan sampai selesai.
Namun kejutan sebenarnya baru datang malam itu.
Sekitar pukul delapan, seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun datang ke kamar.
Aku mengenalnya.
Namanya Maya, adik perempuan Ardi yang tinggal di Solo.
Begitu melihat ibunya, Maya langsung berkata,
“Bu, uangnya mana?”
Ibu mertua membeku.
“Uang apa?”
“Uang sepuluh juta dari Mas Ardi.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku dan Ardi saling berpandangan.
Maya mengeluarkan ponselnya.
“Pakde bilang Ibu kemarin datang ke rumah dan bayar utang lima juta. Terus Ibu juga kasih tiga juta ke Mas Danu.”
Ardi langsung bangkit sedikit dari bantal.
“Danu?”
Wajah ibu mertua pucat.
Danu adalah keponakan kesayangannya. Umurnya dua puluh tujuh tahun, tidak memiliki pekerjaan tetap, tetapi gemar berganti ponsel dan sepeda motor.
“Bu,” suara Ardi berubah. “Gajiku dikasih ke Danu?”
“Cuma dipinjam.”
“Berapa?”
Ibunya diam.
“Berapa, Bu?”
“Delapan juta.”
Aku bahkan tidak perlu mengatakan apa pun.
Wajah Ardi sudah menjelaskan semuanya.
Selama ini dia selalu berkata ibunya hidup susah di kampung.
Ternyata sebagian besar uang yang dia berikan justru digunakan untuk menutup utang keluarga lain.
Maya menggeleng kesal.
“Mas tahu nggak? Ini sudah lama terjadi.”
Ardi menatap adiknya.
“Apa maksudmu?”
“Setiap Mas kirim uang, Ibu selalu cerita ke keluarga besar kalau Mas sekarang sukses. Akhirnya semua orang datang pinjam. Pakde minta, Danu minta, Bulik minta. Ibu nggak pernah bisa bilang tidak karena gengsi.”
Ibu mertua langsung membentak.
“Diam kamu!”
Namun Maya tidak berhenti.
“Rumah Ibu nggak kekurangan apa-apa, Mas. Sawah masih disewakan. Uang pensiun Bapak masih ada. Aku juga kirim satu setengah juta tiap bulan.”
Aku menoleh perlahan kepada Ardi.
Wajahnya seperti kehilangan warna.
“Bu, kenapa selama ini bilang nggak punya uang?”
Ibu mertua mulai menangis.
“Ibu cuma ingin keluarga menghargai kamu.”
“Menghargai aku?”
Suara Ardi bergetar.
“Ibu tahu aku sampai nggak punya uang makan?”
Tangisan ibu mertua semakin keras.
“Ibu nggak tahu akan begini.”
“Rina sampai menanggung semuanya sendirian!”
Itulah pertama kalinya Ardi membelaku di depan ibunya.
Aku sendiri sampai terdiam.
Ibu mertua memandangku, lalu kembali menatap putranya.
“Jadi sekarang kamu menyalahkan Ibu gara-gara perempuan ini?”
Ardi menutup mata beberapa detik.
Ketika membukanya kembali, suaranya justru sangat tenang.
“Bukan karena Rina.”
Dia menarik napas.
“Karena aku baru sadar selama ini aku menjadi suami yang buruk.”
Ibu mertua membeku.
“Mulai bulan depan aku tetap akan membantu Ibu. Tapi jumlahnya dua juta.”
“Dua juta?”
“Iya.”
“Mana cukup?”
Ardi menatap ibunya.
“Maya kirim satu setengah juta. Ada uang pensiun Bapak. Ada hasil sewa sawah. Kalau itu masih nggak cukup, kita duduk dan hitung kebutuhan Ibu bersama-sama.”
Wajah ibu mertua langsung merah.
“Jadi sekarang semua harus dihitung?”
“Harus.”
Ardi menoleh kepadaku.
“Karena ternyata uang yang tidak pernah dihitung membuat aku hampir kehilangan rumah tanggaku.”
Aku menunduk.
Entah mengapa kalimat itu terasa jauh lebih berat daripada permintaan maaf apa pun.
Keesokan harinya Ardi diperbolehkan pulang.
Namun masalah belum selesai.
Setibanya di rumah, aku mengeluarkan sebuah map dari lemari.
Di dalamnya ada catatan pengeluaran rumah tangga selama hampir dua tahun.
Aku memang staf akuntansi.
Mencatat angka sudah menjadi kebiasaanku.
Aku meletakkannya di depan Ardi.
“Ini pengeluaran kita.”
Dia membaca satu per satu.
Listrik.
Air.
Internet.
Belanja bulanan.
Gas.
Perawatan rumah.
Biaya kendaraan.
Dana darurat.
Dan puluhan kebutuhan kecil lain yang selama ini mungkin tidak pernah terlihat olehnya.
Ketika sampai pada jumlah keseluruhan, Ardi terdiam lama.
“Selama ini kamu bayar sebanyak ini?”
“Hampir semuanya.”
Dia mengusap wajah.
“Aku bahkan pernah marah waktu kamu beli sepatu satu juta.”
Aku tertawa kecil.
“Padahal sepatu itu aku beli pakai uangku sendiri.”
Ardi menunduk.
Hari itu kami membuat aturan baru.
Setiap bulan kami akan memasukkan jumlah tertentu ke rekening bersama khusus kebutuhan rumah tangga.
Ardi enam juta.
Aku empat juta.
Sisanya menjadi uang pribadi masing-masing.
Dari uang pribadinya, Ardi bebas membantu ibunya selama kebutuhan rumah tangga sudah terpenuhi.
Aku tidak akan ikut campur.
Sebaliknya, dia juga tidak berhak mengatur bagaimana aku menggunakan sisa penghasilanku.
Ibu mertua jelas tidak menyukai aturan itu.
Beliau bahkan pulang ke kampung sore itu tanpa berpamitan kepadaku.
Namun aku tidak mengejarnya.
Beberapa hubungan membutuhkan jarak agar orang-orang di dalamnya belajar menghargai batas.
Tiga bulan berlalu.
Rumah kami berubah.
Bukan karena menjadi lebih mewah.
Namun karena Ardi berubah.
Dia mulai ikut belanja.
Belajar memasak nasi.
Membayar listrik sendiri.
Bahkan suatu malam dia pulang membawa dua tabung gas sekaligus.
Aku tertawa ketika melihatnya.
“Kenapa beli dua?”
Ardi memasang wajah serius.
“Trauma. Ternyata gas habis saat lagi goreng ayam itu menyakitkan.”
Aku tertawa sampai perutku sakit.
Namun perubahan terbesar terjadi enam bulan kemudian.
Suatu sore ibu mertua datang.
Aku sempat mengira beliau akan kembali membicarakan uang.
Ternyata tidak.
Beliau membawa sebuah amplop.
“Ini.”
Aku menerimanya.
Di dalamnya ada uang tiga juta rupiah.
Aku langsung menatap beliau.
“Untuk apa, Bu?”
“Uang rumah sakit waktu itu.”
Aku terdiam.
Beliau duduk di sofa tanpa berani menatapku.
“Dulu Ibu pikir karena kamu istrinya Ardi, semua kebutuhan Ardi otomatis menjadi kewajibanmu.”
Suaranya pelan.
“Ternyata Ibu salah.”
Aku duduk di seberangnya.
Beliau menarik napas panjang.
“Setelah Ardi mengurangi kiriman, orang-orang yang dulu sering datang ke rumah Ibu juga mulai menghilang.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Danu bahkan marah karena Ibu nggak mau kasih uang lagi.”
Beliau tersenyum pahit.
“Baru saat itu Ibu sadar. Selama ini Ibu membanggakan diri karena merasa dibutuhkan keluarga. Padahal sebenarnya mereka hanya membutuhkan uang.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
Aku mendorong amplop itu kembali.
“Uangnya simpan saja, Bu.”
Beliau menggeleng.
“Ambil.”
“Tidak perlu.”
“Rina.”
Untuk pertama kalinya beliau menyebut namaku tanpa nada merendahkan.
“Biar Ibu belajar bertanggung jawab juga.”
Tanganku berhenti.
Akhirnya aku menerima amplop itu.
Bukan karena tiga juta rupiahnya.
Melainkan karena aku tahu ada sesuatu yang jauh lebih mahal sedang dikembalikan hari itu.
Rasa hormat.
Malamnya, setelah ibu mertua tidur di kamar tamu, aku dan Ardi duduk di teras.
Ardi tiba-tiba menggenggam tanganku.
“Kamu tahu apa yang paling bikin aku takut waktu di rumah sakit?”
“Apa?”
“Bukan sakitnya.”
Dia tersenyum kecil.
“Aku takut kamu benar-benar pergi.”
Aku menatap halaman rumah yang diterangi lampu teras.
“Waktu itu aku memang sudah berpikir untuk pergi, Mas.”
Genggaman tangannya mengencang.
Aku melanjutkan.
“Aku bahkan sudah melihat beberapa kontrakan dekat kantorku.”
Ardi menoleh cepat.
“Kamu serius?”
Aku mengangguk.
“Kalau pagi itu kamu nggak sakit, mungkin malamnya aku sudah bicara soal berpisah.”
Dia terdiam lama.
Mungkin baru saat itulah Ardi benar-benar memahami seberapa dekat rumah tangga kami dengan kehancuran.
Anehnya, musibah yang kami kira datang untuk menghancurkan segalanya justru membuka sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kami lihat.
Bahwa keluarga bukan tentang siapa yang paling berhak menerima pengorbanan.
Bukan pula tentang ibu melawan istri atau suami memilih salah satunya.
Keluarga adalah tentang mengetahui batas antara berbakti dan mengabaikan tanggung jawab.
Tentang memahami bahwa cinta yang sehat tidak meminta seseorang mengorbankan orang lain agar dirinya merasa diprioritaskan.
Dan yang paling penting, rumah tangga tidak hancur hanya karena kekurangan uang.
Rumah tangga mulai hancur ketika salah satu orang terus memberi, sementara yang lain menganggap pemberian itu sebagai kewajiban.
Tiga hari aku berhenti melakukan semuanya.
Hanya tiga hari.
Namun tiga hari itu membuat suamiku memahami pekerjaan yang selama empat tahun tidak pernah dilihatnya.
Membuat ibu mertuaku memahami bahwa uang anaknya bukan ukuran kasih sayang.
Dan membuatku sendiri memahami satu hal yang tidak pernah lagi kulupakan.
Kadang-kadang kita tidak perlu berteriak agar seseorang menyadari nilai kita.
Kita hanya perlu berhenti melakukan semua hal yang selama ini mereka anggap akan selalu tersedia.
