DI USIA 63 TAHUN, AKU MENIKAH LAGI DENGAN CINTA PERTAMAKU: PADA MALAM PERTAMA, SAAT MEMBANTUNYA MELEPAS PAKAIAN, AKU TIBA-TIBA TERDIAM DAN HATIKU TERASA SANGAT PEDIH KETIKA MELIHAT…

Namaku Budi, dan pada usia 63 tahun aku akhirnya menikahi perempuan yang pernah kucintai lebih dari empat puluh tahun lalu. Namun, kebahagiaan yang membuatku merasa muda kembali itu berubah menjadi rasa sesak pada malam pertama kami, ketika aku melihat sesuatu yang selama ini disembunyikan Sari di balik pakaiannya.

Tanganku seketika berhenti.

Di bagian punggung hingga sisi pinggangnya terdapat bekas luka panjang dan tidak beraturan. Sebagian sudah memudar, tetapi beberapa masih tampak jelas seperti garis-garis kasar yang tak mungkin muncul karena kecelakaan biasa.

Aku tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

Sari menyadari tatapanku. Ia buru-buru menarik kembali pakaiannya, lalu membelakangiku.

“Maaf,” katanya lirih.

Aku semakin bingung.

“Kenapa kamu minta maaf?”

Sari tidak menjawab. Bahunya sedikit bergetar.

Aku duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya.

“Sari, lihat aku.”

Perlahan ia menoleh. Air matanya sudah memenuhi kedua matanya.

Aku menunjuk ke arah punggungnya tanpa menyentuhnya.

“Itu karena apa?”

Sari menunduk.

“Cerita lama, Bud.”

“Kalau kamu belum siap bercerita, aku tidak akan memaksa.”

Mendengar itu, justru tangisnya pecah.

Selama dua tahun kami kembali dekat, aku mengenal Sari sebagai perempuan yang tenang. Ia jarang mengeluh. Bahkan ketika lututnya sakit atau tekanan darahnya naik, ia selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.

Malam itu adalah pertama kalinya aku melihatnya menangis seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu.

“Aku takut kamu menyesal menikah denganku,” katanya.

Aku tercekat.

“Menyesal karena bekas luka?”

Sari menggeleng.

“Bukan cuma karena itu.”

Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menceritakan kehidupan pernikahannya.

Suaminya dulu, Darmawan, dikenal banyak orang sebagai pria pekerja keras dan bertanggung jawab. Di depan keluarga besar, ia ramah. Di lingkungan tempat tinggal mereka, ia sering membantu tetangga.

Namun, di balik pintu rumah, Darmawan adalah orang yang berbeda.

Ia mudah marah dan sangat pencemburu.

Pada tahun-tahun awal pernikahan, kemarahannya hanya berupa bentakan. Lama-kelamaan, bentakan berubah menjadi dorongan, lalu pukulan.

Bekas luka di punggung Sari berasal dari sebuah malam puluhan tahun lalu ketika Darmawan pulang dalam keadaan emosi setelah bisnisnya mengalami kerugian besar.

“Kenapa kamu tidak pergi?” tanyaku dengan suara bergetar.

Sari tersenyum pahit.

“Mau pergi ke mana? Waktu itu aku belum punya penghasilan. Orang tuaku sudah tua. Aku punya anak-anak yang masih kecil.”

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Anak-anakmu tahu?”

“Anak sulungku tahu sebagian. Yang bungsu tidak pernah tahu semuanya.”

Aku menatap perempuan di hadapanku dan tiba-tiba teringat Sari yang kukenal ketika berusia tujuh belas tahun.

Gadis yang selalu tertawa ketika kami pulang sekolah.

Gadis yang pernah berkata ingin menjadi guru.

Gadis yang kemudian menghilang dari kehidupanku karena dinikahkan keluarganya.

Aku membayangkan semua yang harus dilaluinya selama puluhan tahun, dan dadaku terasa sakit.

“Kenapa selama dua tahun ini kamu tidak pernah cerita kepadaku?”

Sari mengusap air matanya.

“Karena aku ingin kamu mengenalku sebagai Sari yang sekarang, bukan mengasihaniku sebagai perempuan yang pernah mengalami semua itu.”

Aku tidak sanggup menjawab.

Aku hanya memeluknya.

Malam pertama kami akhirnya tidak menjadi malam seperti yang sering dibayangkan orang tentang pasangan pengantin. Kami duduk di tepi tempat tidur sampai lewat tengah malam, berbicara tentang kehidupan yang telah merenggut begitu banyak tahun dari kami.

Sebelum tidur, aku mengatakan sesuatu kepadanya.

“Mulai malam ini, jangan pernah meminta maaf atas luka yang dibuat orang lain.”

Sari menatapku lama.

Kemudian untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum.

Beberapa minggu pertama pernikahan kami berjalan damai.

Setiap pagi kami berjalan kaki mengelilingi kompleks. Sari menyiapkan teh, sedangkan aku biasanya membeli bubur ayam atau nasi kuning dari warung dekat rumah.

Kadang kami bertengkar karena hal-hal kecil.

Aku suka meninggalkan handuk di kursi.

Sari selalu lupa meletakkan kacamata.

Namun justru hal-hal sederhana itu membuat rumah yang selama sembilan tahun terasa kosong kembali hidup.

Anak-anakku juga menyukai Sari.

Putriku bahkan pernah berkata kepadaku, “Pak, sejak menikah lagi, wajah Bapak kelihatan lebih segar.”

Aku tertawa.

Namun kebahagiaan kami mulai terganggu ketika putra bungsu Sari, Raka, pulang dari Surabaya.

Aku sudah beberapa kali bertemu dengannya sebelumnya, tetapi setelah aku menikahi ibunya, sikapnya berubah.

Ia menjadi dingin.

Suatu malam, setelah makan bersama, Raka mengajakku berbicara di teras.

“Pak Budi,” katanya, “saya mau bicara terus terang.”

“Silakan.”

“Rumah Ibu nanti bagaimana?”

Aku tidak langsung memahami pertanyaannya.

“Maksudmu?”

“Rumah yang ditempati Ibu sebelum menikah. Sertifikatnya atas nama Ibu.”

Aku mengangguk.

“Itu tetap milik ibumu.”

Raka menatapku tajam.

“Saya cuma tidak mau ada masalah soal warisan nanti.”

Aku mulai mengerti.

“Kamu takut saya mengambil rumah ibumu?”

Ia tidak menjawab.

Aku tersenyum kecil.

“Raka, saya menikahi ibumu karena ingin hidup bersama dengannya. Bukan karena rumah.”

“Tapi kita tidak pernah tahu niat seseorang.”

Kalimat itu membuatku tersinggung, tetapi aku memilih diam.

Aku menceritakan percakapan tersebut kepada Sari malam harinya.

Wajahnya langsung berubah.

“Maafkan Raka.”

“Jangan minta maaf atas sikap anakmu.”

Sari terdiam cukup lama.

Kemudian ia berkata, “Ada sesuatu yang belum pernah kuceritakan.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Apa?”

Sari membuka lemari dan mengambil sebuah map cokelat.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen.

Salah satunya adalah sertifikat rumah.

Namun ada juga surat perjanjian utang.

Aku membaca nama yang tertera di sana.

Raka Darmawan.

Nilainya hampir delapan ratus juta rupiah.

Aku menatap Sari.

“Ini apa?”

Sari menjelaskan bahwa dua tahun sebelumnya, Raka membuka usaha bersama temannya. Bisnis tersebut gagal. Untuk menyelamatkannya dari utang, Sari menjaminkan rumah kepada bank.

“Aku pikir dia sudah membereskan semuanya,” katanya.

“Sudah?”

Sari menggeleng.

“Tiga bulan terakhir cicilannya tidak dibayar.”

Aku terkejut.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

“Dia berjanji akan menyelesaikannya.”

Keesokan paginya aku menghubungi Raka.

Ia datang dengan wajah tegang.

Aku meletakkan dokumen tersebut di meja.

“Kamu khawatir saya mengambil rumah ibumu, padahal rumah itu bisa hilang karena utangmu.”

Raka langsung berdiri.

“Itu urusan keluarga kami.”

“Sekarang ibumu istriku.”

“Justru itu masalahnya.”

Sari yang sejak tadi diam tiba-tiba berdiri.

“Raka.”

Putranya menoleh.

Untuk pertama kalinya aku mendengar Sari berbicara dengan suara tegas.

“Jangan bicara seperti itu kepada suamiku.”

Raka tampak terkejut.

“Ibu membelanya?”

“Bukan soal membela siapa. Ini soal benar dan salah.”

Raka tertawa sinis.

“Sejak menikah, Ibu berubah.”

Sari menatapnya.

“Bukan. Ibu baru sekarang berani menjadi diri sendiri.”

Ruangan mendadak sunyi.

Kemudian Raka mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuduga.

“Ayah benar tentang Ibu.”

Tubuh Sari membeku.

Aku langsung berdiri.

“Apa maksudmu?”

Raka tampaknya menyadari bahwa ia sudah keterlaluan, tetapi semuanya terlambat.

“Ayah dulu bilang Ibu selalu punya laki-laki lain di hati.”

Aku menatap Sari.

Wajahnya pucat.

Raka melanjutkan, “Nama Pak Budi pernah saya dengar dari Ayah.”

Aku merasa darahku seperti berhenti mengalir.

Sari memejamkan mata.

Ternyata bertahun-tahun lalu, Darmawan pernah menemukan sebuah kotak tua milik Sari. Di dalamnya terdapat foto kelas SMA dan selembar surat yang kutulis sebelum ujian masuk perguruan tinggi.

Surat itu bahkan tidak pernah sempat kukirim.

Aku menitipkannya kepada seorang teman Sari, tetapi entah bagaimana surat tersebut akhirnya sampai kepadanya setelah ia menikah.

Isinya sederhana.

Aku hanya menulis bahwa jika suatu hari kami bertemu kembali, aku berharap Sari menjalani kehidupan yang bahagia.

Darmawan membacanya.

Sejak itulah kecemburuannya semakin parah.

Aku terduduk.

Bekas luka yang kulihat pada malam pertama ternyata berkaitan denganku.

“Sari…”

Ia langsung menggeleng.

“Jangan.”

“Tapi kalau surat itu…”

“Bukan salahmu.”

Matanya menatapku tegas.

“Orang yang melakukan kekerasan selalu mencari alasan. Kalau bukan suratmu, pasti ada alasan lain.”

Aku tidak bisa berkata-kata.

Raka pun terdiam.

Wajahnya perlahan berubah.

Untuk pertama kalinya, mungkin ia mulai memahami bahwa cerita tentang ibunya yang selama ini ia dengar dari ayahnya tidak sepenuhnya benar.

Ia pergi tanpa mengatakan apa-apa.

Selama hampir dua minggu, Raka tidak menghubungi kami.

Kemudian suatu pagi ia datang.

Wajahnya terlihat lelah.

Ia membawa sebuah tas.

Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan beberapa dokumen dan meletakkannya di meja.

“Saya menjual mobil saya.”

Sari menatapnya.

Raka melanjutkan, “Saya juga keluar dari bisnis itu. Sisanya akan saya cicil sendiri.”

Ia kemudian menatap ibunya.

“Maaf, Bu.”

Hanya dua kata.

Namun aku melihat bibir Sari bergetar.

Raka menundukkan kepala.

“Saya terlalu lama percaya bahwa Ayah selalu benar.”

Sari berjalan mendekatinya.

Ia tidak memarahinya.

Ia memeluk putranya.

Raka menangis di bahunya seperti seorang anak kecil.

Beberapa bulan kemudian, kami berhasil menyelesaikan persoalan rumah itu. Raka mendapatkan pekerjaan baru dan mulai bertanggung jawab atas kewajibannya.

Hubungan kami perlahan membaik.

Suatu sore, aku dan Sari duduk di teras sambil menikmati teh. Hujan baru saja berhenti. Udara Yogyakarta terasa sejuk.

Sari tiba-tiba masuk ke kamar lalu kembali membawa sebuah kotak kayu kecil.

“Ada sesuatu untukmu.”

Ia menyerahkannya kepadaku.

Ketika kubuka, aku menemukan foto kelas SMA kami.

Dan di bawahnya ada sebuah amplop yang warnanya sudah menguning.

Tanganku gemetar.

Itu surat yang kutulis lebih dari empat puluh tahun lalu.

“Aku kira sudah dibuang,” kataku.

Sari tersenyum.

“Aku menyimpannya.”

Aku membuka surat itu.

Tulisan tanganku sudah memudar, tetapi kalimat terakhir masih terbaca.

Jika suatu hari kita bertemu lagi ketika rambut kita sudah memutih, semoga saat itu aku masih bisa melihatmu tersenyum.

Aku menatap Sari.

Rambutnya memang sudah memutih.

Wajah kami dipenuhi keriput.

Tubuh kami tidak lagi sekuat dahulu.

Kami telah kehilangan pasangan, melewati penyakit, kesepian, kesalahan anak-anak, luka, dan puluhan tahun kehidupan yang berjalan ke arah berbeda.

Namun perempuan yang duduk di sampingku tersenyum persis seperti gadis tujuh belas tahun yang pernah kukenal.

Aku menggenggam tangannya.

“Berarti doaku terkabul.”

Sari tertawa kecil.

“Telat empat puluh tahun.”

Aku menggeleng.

“Tidak ada kata terlambat kalau kita masih diberi waktu.”

Sari menyandarkan kepalanya di bahuku.

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun aku mengira cinta pertama adalah tentang seseorang yang tidak berhasil kita miliki ketika muda.

Ternyata aku salah.

Cinta bukan tentang siapa yang datang paling awal.

Bukan pula tentang berapa lama seseorang pernah hilang dari kehidupan kita.

Cinta adalah tentang siapa yang, setelah mengetahui seluruh luka yang kita sembunyikan, tetap memilih duduk di samping kita tanpa meminta kita menjadi orang lain.

Dan pada usia 63 tahun, ketika banyak orang menganggap kisah cinta seharusnya sudah selesai, aku justru menemukan bahwa bagian paling indah dari kisahku baru saja dimulai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang