“Anak Maya sedang dalam bahaya! Kamu tidak bisa sedikit lebih dewasa dan memahami keadaan?”
Suara Bu Ratna terdengar begitu keras sampai Laras yang duduk di sebelahku bisa mendengarnya.
Aku menatap jalanan Jakarta yang bergerak lambat di balik kaca taksi. Enam tahun aku mengenal keluarga Wijaya. Enam tahun pula aku belajar bahwa setiap kali nama Maya muncul, aku selalu menjadi orang yang diminta mengerti.
Ketika Galang membatalkan makan malam ulang tahunku karena Maya sakit, aku harus mengerti.

Ketika dia meninggalkan acara pertunangan kami selama hampir satu jam karena Arga menelepon, aku harus mengerti.
Ketika Maya mengirim pesan tengah malam dan Galang membalasnya di sampingku, aku juga harus mengerti.
Hari ini pun sama.
Bedanya, aku sudah lelah.
“Aku sudah menghubungi layanan darurat,” kataku.
Bu Ratna terdiam.
“Apa?”
“Ambulans dan petugas sedang menuju rumah Maya.”
“Kenapa kamu ikut campur?”
Aku hampir tertawa.
“Bukankah tadi Ibu bilang ini soal nyawa seorang anak?”
“Itu bukan maksud Ibu.”
“Aku tahu.”
Aku memutus sambungan.
Laras menatapku.
“Kamu yakin?”
“Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, iya.”
Ketika kami tiba di Hotel Arunika, puluhan tamu sudah memenuhi ballroom. Bunga putih dan merah menghiasi pintu masuk. Nama GALANG DAN INTAN terpampang besar di layar LED.
Begitu aku turun dari taksi, beberapa orang langsung menoleh.
Tidak ada mobil pengantin.
Tidak ada Galang.
Hanya aku, Laras, dan seorang sopir taksi yang masih terlihat bingung melihat pengantin perempuan membayar ongkos melalui QRIS.
Mama berlari menghampiriku.
“Intan!”
Papa mengikuti dari belakang.
Mama memegang kedua lenganku.
“Galang mana?”
Aku belum sempat menjawab ketika Bu Ratna datang bersama suaminya.
“Ini gara-gara Intan!” katanya.
Beberapa kerabat mulai mendekat.
“Dia turun dari mobil hanya karena Galang harus menolong anak yang sedang dalam keadaan darurat.”
Papa menatapku.
“Benar?”
“Sebagian.”
Aku menceritakan semuanya.
Tentang telepon Maya.
Tentang keputusan Galang memutar balik mobil.
Tentang pertanyaanku mengenai ambulans.
Tentang bagaimana Galang tetap memilih pergi sendiri.
Wajah Papa semakin gelap.
Namun Bu Ratna segera menyela.
“Galang memang dekat dengan Arga. Anak itu sudah seperti keponakannya sendiri.”
Aku menatapnya.
“Kalau begitu kenapa selama enam tahun saya tidak pernah benar-benar boleh tahu seberapa dekat mereka?”
Bu Ratna kehilangan kata-kata.
Mama menggenggam tanganku.
“Sekarang kamu mau bagaimana?”
Aku melihat pintu ballroom.
Di dalam, musik masih dimainkan. Para tamu belum tahu bahwa pengantin pria sedang berada di rumah mantan kekasihnya.
“Aku mau masuk.”
Bu Ratna langsung menghadang.
“Tanpa Galang?”
“Iya.”
“Untuk apa?”
“Menutup acara yang seharusnya sudah selesai.”
Aku berjalan masuk.
Percakapan perlahan berhenti ketika orang-orang melihatku datang sendirian.
Aku naik ke panggung.
MC mendekat dengan wajah panik.
“Mbak Intan, kita tunggu Mas Galang dulu?”
Aku meminta mikrofon.
Tanganku dingin, tetapi anehnya aku tidak merasa takut.
“Selamat siang.”
Ballroom menjadi sunyi.
“Terima kasih karena sudah datang untuk menyaksikan hari yang seharusnya menjadi awal pernikahan saya.”
Mama mulai menangis.
Aku menarik napas.
“Sayangnya, pengantin pria tidak akan hadir untuk sementara waktu.”
Suara bisik-bisik langsung terdengar.
Aku melanjutkan.
“Dalam perjalanan ke sini, Galang menerima kabar mengenai keadaan darurat yang melibatkan seorang anak. Saya menghormati keputusan siapa pun untuk menolong seseorang yang sedang dalam bahaya.”
Aku berhenti sebentar.
“Namun pernikahan bukan hanya tentang siapa yang kita tolong ketika keadaan darurat datang. Pernikahan juga tentang siapa yang kita pilih untuk berdiri di samping kita ketika hidup memaksa kita menentukan prioritas.”
Pintu ballroom tiba-tiba terbuka.
Galang berdiri di sana.
Wajahnya berkeringat. Jas pengantinnya kusut.
Di belakangnya ada Bu Ratna yang tadi keluar entah sejak kapan.
“Intan!”
Semua kepala berbalik.
Galang berjalan cepat menuju panggung.
“Apa yang kamu lakukan?”
Aku menurunkan mikrofon.
“Menjelaskan keadaan.”
“Arga baik-baik saja.”
Aku menatapnya.
“Syukurlah.”
“Petugas sudah datang sebelum aku sampai.”
“Tentu.”
Galang terdiam.
Aku sudah menelepon mereka.
Ia menaiki panggung dan merendahkan suara.
“Kita selesaikan acara dulu. Nanti kita bicara.”
Aku hampir tidak percaya.
“Kamu masih ingin menikah?”
“Jangan kekanak-kanakan.”
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diriku benar-benar padam.
“Galang, kamu meninggalkan calon istrimu di lampu merah pada hari pernikahan.”
“Aku pergi karena ada anak yang mau bunuh diri!”
Beberapa tamu tersentak mendengar kalimatnya.
Aku menatapnya lama.
“Benarkah?”
“Apa maksudmu?”
“Benarkah itu yang terjadi?”
Wajahnya berubah.
Sebelum ia menjawab, HP-ku bergetar.
Nomor tak dikenal.
Aku mengangkatnya.
“Bu Intan Pradipta?”
“Iya.”
“Saya petugas yang tadi menerima laporan lanjutan terkait anak di Cempaka Residence.”
Aku menjauh sedikit dari mikrofon.
“Bagaimana keadaannya?”
“Anaknya selamat dan tidak ditemukan luka pada pergelangan tangannya.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Tidak ada luka. Anak tersebut ditemukan di kamar, bukan kamar mandi. Dia mengatakan sejak pagi sedang bermain gim menggunakan headset dan tidak mengetahui ibunya menelepon seseorang untuk meminta bantuan.”
Darahku terasa turun dari wajah.
Aku menatap Galang.
Petugas melanjutkan, “Kami menyarankan keluarga melakukan evaluasi lebih lanjut karena terdapat perbedaan antara laporan awal dengan kondisi di lokasi.”
Aku mengucapkan terima kasih lalu menutup telepon.
Galang langsung bertanya, “Siapa?”
Aku menyalakan pengeras suara mikrofon kembali.
“Petugas.”
Wajahnya berubah.
“Arga tidak melukai dirinya.”
Ballroom langsung gaduh.
Galang menatapku.
“Apa?”
“Tidak ada luka. Tidak ada anak yang terkunci di kamar mandi.”
“Mustahil. Maya sendiri yang bilang.”
“Kalau begitu, mungkin kamu perlu bertanya kepada Maya kenapa dia berbohong.”
Galang segera mengambil HP.
Belum sempat ia menelepon, sebuah suara terdengar dari belakang.
“Tidak perlu.”
Aku mengenali suara itu.
Maya.
Perempuan itu berdiri di pintu ballroom.
Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang hitam. Matanya bengkak.
Di belakangnya berdiri seorang perempuan paruh baya yang kukenal sebagai kakaknya.
Galang turun dari panggung.
“Maya? Kenapa kamu ke sini?”
Maya tidak menjawabnya.
Ia menatapku.
“Maaf.”
Hanya satu kata.
Tetapi cukup untuk membuat seluruh ruangan semakin sunyi.
Aku bertanya, “Kenapa?”
Air mata mengalir di pipinya.
“Karena aku ingin tahu apakah dia masih akan memilihku.”
Galang membeku.
“Maya!”
“Aku capek, Galang.”
Maya menatapnya.
“Enam tahun kamu bilang ke aku bahwa Intan adalah perempuan yang akan kamu nikahi. Tapi setiap kali aku punya masalah, kamu datang. Setiap kali aku menelepon, kamu meninggalkan dia.”
Galang menggeleng.
“Aku membantu kamu karena Arga.”
“Jangan bawa anakku lagi.”
Nada suara Maya berubah keras.
“Arga bahkan mulai bertanya kenapa Om Galang selalu datang kalau Mama menangis.”
Orang-orang mulai berbisik.
Maya mengusap air matanya.
“Tadi aku panik. Aku tahu kamu sedang menikah. Aku tahu seharusnya aku tidak menelepon.”
“Jadi kamu sengaja berbohong?”
Galang terdengar tidak percaya.
Maya mengangguk.
“Aku bilang Arga terluka karena aku tahu hanya ada satu hal yang bisa membuatmu meninggalkan Intan pada hari ini.”
Ia menatap Galang lurus-lurus.
“Aku ingin membuktikan bahwa aku masih lebih penting.”
Aku seharusnya marah kepada Maya.
Anehnya, yang kurasakan justru lega.
Karena akhirnya seseorang mengatakan dengan suara keras apa yang selama enam tahun selalu kutakuti untuk akui.
Galang menoleh kepadaku.
“Intan, dengar dulu. Aku nggak tahu dia bohong.”
“Aku tahu.”
“Kalau aku tahu, aku nggak mungkin pergi.”
“Masalahnya bukan kamu tahu atau tidak.”
“Terus apa?”
Aku turun dari panggung.
“Masalahnya, ketika Maya menelepon, kamu tidak berpikir mencari bantuan yang paling tepat. Kamu langsung memutuskan bahwa kamu harus menjadi orang yang datang.”
Galang membuka mulut.
Aku tidak memberinya kesempatan.
“Karena selama enam tahun, kamu menikmati menjadi orang yang selalu dibutuhkan Maya.”
Wajahnya pucat.
“Itu nggak benar.”
“Benar.”
Maya tiba-tiba berkata.
Galang menatapnya.
Maya tertawa pahit.
“Kamu selalu datang bukan karena aku tidak punya siapa-siapa. Kamu datang karena kamu suka merasa bahwa aku masih membutuhkanmu.”
Galang mengepalkan tangan.
“Diam, Maya.”
“Kenapa? Karena akhirnya Intan tahu?”
Bu Ratna berlari mendekat.
“Sudah! Ini pernikahan anak saya!”
Maya menatapnya.
“Ibu juga tahu.”
Ruangan seketika sunyi.
Bu Ratna membeku.
Aku menatapnya.
“Tahu apa?”
Maya mengeluarkan HP.
“Tiga bulan lalu, Bu Ratna datang ke rumahku.”
Galang langsung menoleh kepada ibunya.
“Mama?”
Maya membuka sebuah rekaman suara.
Suara Bu Ratna terdengar jelas.
“Kalau Galang memang masih punya perasaan sama kamu, jangan tunggu sampai setelah menikah. Pastikan sebelum hari pernikahan. Saya lebih baik kehilangan calon menantu daripada melihat anak saya bercerai.”
Aku merasa Mama menggenggam lenganku dari belakang.
Bu Ratna pucat.
“Matikan itu!”
Maya menghentikan rekaman.
“Aku memang salah. Tapi bukan aku satu-satunya orang yang ingin menguji Galang hari ini.”
Galang menatap ibunya seperti melihat orang asing.
“Mama menyuruh Maya melakukan ini?”
“Tidak! Mama hanya bicara!”
“Kenapa?”
Bu Ratna mulai menangis.
“Karena Mama tahu kamu belum pernah benar-benar melupakan Maya.”
Galang diam.
Dan justru diamnya itulah jawaban paling menyakitkan.
Aku menatap laki-laki yang selama enam tahun kucintai.
Tiba-tiba semua kenangan terasa berbeda.
Semua pembatalan mendadak.
Semua pesan tengah malam.
Semua kalimat “kamu harus percaya sama aku”.
Mungkin Galang memang mencintaiku.
Tetapi sebagian hatinya selalu meninggalkan pintu terbuka untuk perempuan lain.
Aku melepas cincin dari jariku.
Galang langsung bergerak.
“Intan, jangan.”
Aku meletakkannya di telapak tangannya.
“Enam tahun lalu kamu bilang memilihku.”
“Aku memang memilih kamu.”
Aku tersenyum tipis.
“Orang yang benar-benar memilih tidak membutuhkan enam tahun untuk menutup pintu yang lain.”
Matanya memerah.
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
Aku mengangguk.
“Tapi bukan sebagai suamiku.”
Aku berbalik.
Galang meraih tanganku.
Untuk pertama kalinya, Papa maju dan melepaskan tangannya dari lenganku.
“Cukup.”
Suara Papa tenang.
“Anak saya sudah menunggu enam tahun. Jangan minta dia menunggu lagi.”
Tidak ada yang berbicara.
Aku berjalan melewati para tamu.
Ketika sampai di pintu ballroom, aku berhenti dan menoleh kepada MC.
“Makanan tetap disajikan.”
Beberapa orang menatapku bingung.
Aku tersenyum.
“Sudah dibayar. Sayang kalau dibuang.”
Entah siapa yang tertawa kecil pertama kali.
Kemudian beberapa orang ikut tertawa.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku juga tertawa.
Tiga bulan setelah pernikahan yang tidak pernah terjadi itu, Laras mengirimkan sebuah foto kepadaku.
Mobil pengantin merah yang kami gunakan hari itu.
Ternyata perusahaan rental menjualnya.
“Beli nggak?” tulis Laras bercanda.
Aku menjawab, “Buat apa?”
“Katanya mobil yang pernah putar balik bawa sial.”
Aku tersenyum membaca pesannya.
Lalu kubalas.
“Bukan mobilnya yang salah. Orangnya saja yang salah arah.”
Setahun kemudian aku mendengar Galang dan Maya tidak pernah bersama.
Maya pindah ke Bandung bersama Arga dan menjalani terapi keluarga. Ia pernah mengirimiku satu pesan panjang berisi permintaan maaf. Aku tidak membalas, tetapi aku juga tidak menyimpan kebencian.
Galang beberapa kali mencoba menghubungiku.
Pesan terakhirnya hanya berbunyi, “Kalau hari itu aku tidak memutar balik mobil, menurutmu kita akan bahagia?”
Aku menatap pesan itu cukup lama.
Kemudian menjawab.
“Tidak.”
Tiga titik muncul di layar.
Lalu hilang.
Aku menambahkan satu kalimat.
“Kalau mobil itu tidak berbalik, mungkin aku hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk tahu bahwa hatimu sudah lama melakukannya.”
Setelah itu aku memblokir nomornya.
Orang-orang tua di keluargaku ternyata masih sering menceritakan kejadian tersebut setiap ada sepupu yang hendak menikah.
Mereka bilang pantangan itu terbukti.
Mobil pengantin tidak boleh berbalik arah.
Aku tidak pernah membantah mereka.
Hanya saja, aku sekarang memahami pantangan itu dengan cara berbeda.
Bukan karena jalan yang dilewati membawa kutukan.
Bukan pula karena nasib akan menghukum pengantin yang melanggar tradisi.
Kadang hidup memang sengaja membuat seseorang berbalik tepat sebelum kita mengikat janji seumur hidup dengannya.
Bukan untuk menghancurkan pernikahan.
Melainkan untuk memperlihatkan ke mana sebenarnya hatinya selalu ingin pulang.
Dan hari ketika aku turun sendirian di lampu merah itu bukanlah hari ketika aku ditinggalkan calon suamiku.
Itulah hari ketika, setelah enam tahun terus-menerus memilih Galang, akhirnya aku memilih diriku sendiri.
