WANITA TERKAYA DI JAKARTA MEMBERIKAN KASUR BEKAS KEPADA PELAYANNYA, LALU SUARA DARI DALAMNYA MEMBUKA RAHASIA YANG SELAMA INI DISEMBUNYIKAN

Kasur itu jatuh dari balkon lantai dua dan mendarat tepat di depan kakiku.

Debu beterbangan hingga membuatku terbatuk. Aku menutup hidung dengan ujung kerudung, lalu mendongak ketika suara Nyonya Diana terdengar dari balkon.

“Singkirkan itu, Sumi!”

Ia berdiri di balik pagar kaca dengan pakaian rumah putih yang tampak lebih mahal daripada seluruh isi gubukku. Di tangannya ada segelas jus dingin. Wajahnya datar, seolah benda berat yang baru saja dilemparkannya tidak hampir mengenai kepalaku.

“Kasur itu sudah bau. Dua kali dicuci tetap tidak bersih. Di gudang masih ada yang baru.”

“Baik, Nyonya.”

“Jangan taruh dekat rumah utama. Buang saja kalau tidak mau dipakai.”

Ia berbalik dan masuk.

Aku menatap kasur kusam itu. Kainnya robek di beberapa tempat dan bagian tengahnya mengeluarkan bau apek. Namun selama bertahun-tahun aku tidur di atas tikar pandan yang digelar langsung di lantai, sehingga bagiku kasur bekas tetap terasa seperti kemewahan.

“Bawa ke gubuk saja, Mbah,” kata Laras.

Cucuku yang berusia empat belas tahun membantu menarik ujungnya. Sejak ibunya meninggal, hanya kami berdua yang saling memiliki. Aku bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Diana, sementara Laras bersekolah dengan biaya dari tabunganku yang sedikit demi sedikit kukumpulkan.

Malam itu, untuk pertama kalinya punggungku tidak menyentuh lantai dingin.

Namun menjelang tengah malam, aku mendengar suara dari dalam kasur.

Krek.

Aku membuka mata.

Krek. Krek.

Aku bangkit dan menyalakan lampu kecil. Laras masih tertidur.

Ketika tanganku menekan bagian kasur yang terasa keras, sebuah benang hitam putus dari balik sobekan kain. Ada benda berwarna perak di dalamnya.

Aku mengambil gunting.

Beberapa menit kemudian, aku menemukan sebuah kunci kecil, kartu memori yang dibungkus plastik, dan secarik kertas.

Tanganku langsung gemetar ketika melihat tulisan di sana.

Aku mengenal tulisan itu.

Tulisan Pak Rendra, mendiang suami Nyonya Diana.

Jangan percaya Diana. Jika ini ditemukan, cari ruang kerja lama.

Belum sempat aku memahami maksudnya, sebuah mobil berhenti di halaman rumah utama.

Kemudian langkah kaki mendekati gubuk.

“Sumi.”

Suara Nyonya Diana.

“Buka pintunya.”

Aku menyelipkan kertas dan kartu memori ke balik bajuku.

Laras terbangun dan menatapku dengan bingung.

Nyonya Diana mengetuk lagi.

“Kau menemukan sesuatu di kasur itu?”

Darahku seperti berhenti mengalir.

Aku menggenggam kunci kecil erat-erat.

“Tidak, Nyonya.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu pintu didorong.

Kayunya berderit.

Pada saat bersamaan, sesuatu jatuh dari sobekan kasur.

Bukan satu benda.

Puluhan lembar uang seratus ribuan berhamburan ke lantai.

Laras menutup mulut.

Aku membeku.

Nyonya Diana masuk bersama dua petugas keamanan. Begitu melihat uang itu, wajahnya berubah pucat.

“Keluar kalian,” katanya kepada kedua petugas.

“Nyonya?”

“Keluar!”

Mereka segera meninggalkan gubuk.

Diana menutup pintu.

Tatapannya beralih kepadaku.

“Berikan semua yang kau temukan.”

“Saya hanya menemukan uang ini.”

“Jangan bohong.”

Ia mendekat.

“Pak Rendra menyembunyikan sesuatu di kasur itu sebelum meninggal. Aku tahu.”

Aku baru menyadari sesuatu.

Kalau Diana sudah mengetahui adanya barang tersembunyi, mengapa kasur itu justru dibuang?

Seolah membaca pikiranku, ia berkata, “Aku sudah membongkarnya dua kali. Tidak menemukan apa-apa. Aku kira Rendra hanya menggertakku.”

Tangannya terulur.

“Berikan kepadaku.”

Aku mundur.

“Kenapa Pak Rendra menulis supaya saya tidak percaya kepada Nyonya?”

Wajah Diana langsung kaku.

Laras menggenggam lenganku.

Diana menatapku lama sebelum tertawa kecil.

“Jadi kau menemukannya.”

Aku tidak menjawab.

“Apa lagi?”

“Tidak ada.”

Tamparannya datang begitu cepat hingga kepalaku berpaling.

Laras menjerit.

“Jangan pukul Mbah!”

Diana menatapnya tajam.

“Diam!”

Laras berdiri di depanku.

Tubuhnya gemetar, tetapi ia tidak mundur.

Aku menariknya ke belakang.

“Nyonya boleh memecat saya,” kataku, “tetapi jangan sentuh cucu saya.”

Untuk pertama kalinya selama dua puluh tiga tahun bekerja di rumah itu, aku menatap majikanku tanpa menundukkan kepala.

Diana mengembuskan napas panjang.

“Besok pagi, kau dan cucumu keluar dari sini.”

Ia mengambil uang yang berserakan, lalu meninggalkan gubuk.

Aku menunggu hingga langkahnya benar-benar menghilang.

Laras langsung berbisik, “Kartu memorinya masih ada?”

Aku mengeluarkannya.

“Ada.”

Kami tidak tidur malam itu.

Pagi-pagi sekali, sebelum Diana bangun, aku membawa Laras ke sebuah warung internet dekat jalan raya. Kami memasukkan kartu memori ke komputer.

Ada tujuh belas file di dalamnya.

Rekaman suara.

Foto dokumen.

Salinan rekening bank.

Dan sebuah video.

Tanganku gemetar ketika menekan tombol putar.

Wajah Pak Rendra muncul di layar.

Ia terlihat jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali aku melihatnya hidup.

“Jika seseorang menemukan rekaman ini, kemungkinan besar aku sudah meninggal.”

Aku menahan napas.

“Aku tidak mengalami kecelakaan biasa.”

Laras menoleh kepadaku.

Dalam video itu, Pak Rendra menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun Diana diam-diam memindahkan aset perusahaan ke beberapa perusahaan cangkang. Jumlahnya bukan jutaan.

Ratusan miliar rupiah.

Pak Rendra mengetahuinya tiga bulan sebelum kecelakaan mobil yang merenggut nyawanya.

Ia berniat menyerahkan bukti kepada pengacara.

Namun ada sesuatu yang lebih mengejutkan.

“Aku tidak takut kehilangan perusahaan,” katanya. “Yang kutakutkan adalah apa yang akan Diana lakukan ketika mengetahui siapa ahli warisku sebenarnya.”

Video berhenti.

Aku menatap layar.

“Ahli waris?”

Laras membuka file berikutnya.

Sebuah akta kelahiran muncul.

Nama ayah tercantum jelas.

Rendra Wijaya.

Nama ibu membuat tubuhku seketika dingin.

Maya Pratiwi.

Anakku.

Ibu Laras.

Aku hampir jatuh dari kursi.

“Tidak mungkin.”

Laras menatap layar, lalu kepadaku.

“Mbah…”

Aku tidak sanggup menjawab.

Empat belas tahun sebelumnya, Maya bekerja sebagai staf administrasi di salah satu perusahaan Pak Rendra. Ia pulang dalam keadaan hamil tanpa pernah mengatakan siapa ayah anaknya.

Aku marah besar saat itu.

Maya hanya berkata laki-laki tersebut sudah menikah dan ia tidak ingin menghancurkan keluarganya.

Dua tahun kemudian, Maya meninggal karena sakit.

Sejak saat itu Laras menjadi tanggung jawabku.

Aku tidak pernah bertanya lagi siapa ayahnya.

Ternyata jawabannya selama ini berada tepat di depan mataku.

Kami pulang menjelang siang.

Rumah besar sudah gaduh.

Diana berdiri di halaman bersama seorang pria berkemeja hitam yang kukenal sebagai pengacaranya.

“Kau dari mana?”

“Saya mengantar Laras.”

“Kemasi barangmu. Pergi hari ini.”

Aku mengangguk.

Tidak ada gunanya melawan sekarang.

Kami memasukkan pakaian ke dua tas tua. Sebelum pergi, aku menatap rumah tempat aku bekerja selama lebih dari dua dekade.

Diana berdiri di teras.

“Jangan pernah kembali.”

Aku menatapnya.

“Saya tidak akan kembali sebagai pembantu, Nyonya.”

Senyumnya menghilang.

Aku pergi bersama Laras.

Tiga hari berikutnya kami tinggal di rumah seorang teman lama di Tangerang. Dengan bantuan guru Laras, kami menemui seorang pengacara bantuan hukum.

Awalnya ia mengira aku sedang menceritakan kisah yang terlalu luar biasa untuk dipercaya.

Sampai ia melihat file-file tersebut.

Dalam waktu dua minggu, penyidik mulai memeriksa transaksi perusahaan keluarga Wijaya.

Diana panik.

Ia menghubungiku puluhan kali.

Aku tidak pernah menjawab.

Sampai suatu malam ia mengirim pesan.

Temui aku. Kita selesaikan sebagai keluarga.

Aku akhirnya setuju.

Pertemuan dilakukan di sebuah restoran di Jakarta Selatan dengan pengacaraku berada di meja lain.

Diana datang sendirian.

Ia meletakkan sebuah map di hadapanku.

“Lima miliar.”

Aku menatapnya.

“Untuk apa?”

“Ambil uangnya. Serahkan kartu memori dan buat Laras melepaskan hak apa pun atas keluarga Wijaya.”

Aku hampir tertawa.

“Nyonya pikir semuanya bisa dibeli?”

“Jangan sok suci, Sumi. Kau bekerja puluhan tahun karena membutuhkan uang.”

“Benar.”

Aku menatap matanya.

“Tapi saya bekerja untuk mendapatkan uang. Bukan menjual cucu saya.”

Wajahnya mengeras.

“Laras bukan keluarga Rendra.”

Aku mengeluarkan salinan hasil tes DNA yang baru kami terima pagi itu.

“Laboratorium mengatakan sebaliknya.”

Diana menatap kertas tersebut.

Tangannya mulai gemetar.

Namun kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.

“Aku tahu sejak dia lahir.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Aku tahu Maya melahirkan anak Rendra.”

“Lalu kenapa Nyonya membiarkan saya bekerja di rumah itu?”

Diana tersenyum pahit.

“Karena selama kalian berada dekat denganku, aku tahu apa yang kalian lakukan.”

Dadaku sesak.

Semua kebaikan kecil yang pernah ia berikan mendadak memiliki arti berbeda.

Bukan belas kasihan.

Pengawasan.

“Tapi Nyonya gagal,” kataku.

Diana berdiri.

“Kau belum menang.”

Ternyata ia benar.

Tiga hari kemudian, gubuk tempat kami tinggal selama bertahun-tahun terbakar.

Polisi menyebut ada indikasi kebakaran disengaja.

Untungnya kami sudah tidak tinggal di sana.

Kasur bekas itu habis menjadi abu.

Namun bukti sudah berada di tangan penyidik.

Penyelidikan berkembang cepat.

Beberapa direktur perusahaan diperiksa. Rekening dibekukan. Dokumen dari kartu memori cocok dengan transaksi perbankan.

Kemudian polisi menemukan fakta terakhir tentang kecelakaan Pak Rendra.

Rem mobilnya telah dirusak.

Orang yang melakukannya mengaku menerima bayaran dari seorang perantara yang bekerja untuk Diana.

Berita penangkapannya memenuhi televisi.

Wanita yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu pengusaha terkaya di Jakarta keluar dari rumahnya dengan tangan diborgol.

Aku menonton dari ruang kontrakan kecil bersama Laras.

Tidak ada rasa puas.

Hanya kelelahan.

Beberapa bulan kemudian, pengadilan mengesahkan Laras sebagai anak biologis sekaligus salah satu ahli waris sah Pak Rendra berdasarkan dokumen pengakuan yang ternyata telah dibuatnya sebelum meninggal.

Nilai warisan itu sangat besar.

Namun ketika pengacara bertanya apa yang pertama kali ingin kami beli, Laras tidak meminta mobil.

Tidak meminta tas mahal.

Tidak meminta rumah mewah.

Ia menggenggam tanganku.

“Rumah kecil saja, Mbah.”

“Kenapa kecil?”

“Supaya kita tidak perlu berteriak kalau mau memanggil satu sama lain.”

Aku tertawa sambil menangis.

Setahun kemudian kami pindah ke rumah sederhana di pinggir Jakarta.

Laras tetap bersekolah di sekolah yang sama.

Aku berhenti menjadi pembantu, tetapi tidak pernah terbiasa duduk tanpa melakukan apa-apa. Akhirnya aku membuka warung makan kecil di depan rumah.

Suatu sore, sebuah mobil berhenti.

Seorang pria tua turun membawa kotak kayu.

Ia memperkenalkan diri sebagai mantan sopir Pak Rendra.

“Pak Rendra menitipkan ini kepada saya lima belas tahun lalu,” katanya. “Beliau bilang saya hanya boleh memberikannya kalau suatu hari Laras mengetahui siapa ayahnya.”

Kotak itu diberikan kepada cucuku.

Di dalamnya tidak ada emas.

Tidak ada uang.

Hanya sebuah foto lama.

Pak Rendra berdiri di samping Maya yang sedang mengandung.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan.

Untuk anakku, maaf karena Ayah terlalu pengecut untuk berdiri di sampingmu sejak awal.

Laras menangis lama.

Aku memeluknya.

Kemudian pria tua itu mengeluarkan sebuah amplop terakhir.

Isinya membuatku terdiam.

Surat itu ditujukan kepadaku.

Bu Sumi, jika Ibu membaca ini, berarti saya gagal memperbaiki semuanya dengan tangan saya sendiri. Saya tidak meminta Ibu memaafkan saya. Saya hanya ingin Ibu tahu bahwa kasur itu sengaja saya pilih karena saya yakin, dari semua orang di rumah itu, Diana pada akhirnya akan memberikannya kepada orang yang dianggapnya paling tidak berharga.

Saya tahu orang itu adalah Ibu.

Dan justru karena itulah saya mempercayakan rahasia ini kepada Ibu.

Tanganku gemetar.

Air mata jatuh ke atas surat.

Tiba-tiba aku teringat hari ketika kasur itu dilempar dari balkon.

Debu yang memenuhi wajahku.

Nada menghina Diana.

Barang bagus tidak pernah sampai ke rumah kita, kataku kepada Laras malam itu.

Ternyata aku salah.

Kadang sesuatu yang paling berharga memang datang dalam keadaan kotor, rusak, dan dibuang oleh orang lain.

Laras menggenggam tanganku.

“Mbah masih ingat aku pernah bilang mau punya rumah sendiri?”

Aku mengangguk.

“Sekarang kita punya.”

Aku melihat rumah kecil kami, warung sederhana di depannya, dan cucuku yang tersenyum di sampingku.

Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, aku mengerti bahwa kekayaan tidak selalu tentang berapa banyak yang seseorang miliki.

Kadang kekayaan adalah memiliki tempat di mana tidak seorang pun bisa menyuruhmu pergi.

Dan semuanya bermula dari sebuah kasur bau yang dibuang seorang wanita kaya karena ia mengira tidak ada lagi sesuatu yang berharga di dalamnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang