SETIAP MALAM ANAKKU MEMOHON DIJEMPUT, TAPI SAAT AKU TIBA DI RUMAH MERTUANYA, DUA PETI MATI MENUNGGU DI HALAMAN

Setiap kali mengingat dua peti mati yang berjajar di halaman rumah itu, tubuhku masih terasa dingin. Namun yang paling menghantuiku bukan peti-peti itu. Bukan kain putih yang menutupinya. Bukan pula wajah pucat Bu Sari.

Melainkan kalimat Arman.

Kalau Ibu ingin anak Ibu tetap selamat, jangan buka pintu itu.

Aku menatap menantuku tanpa berkedip.

Tangisan bayi kembali terdengar dari balik pintu kamar. Lebih keras kali ini.

“Arman, minggir.”

“Bu, dengarkan saya dulu.”

“Aku datang dari Bandung karena anakku menelepon setiap malam sambil menangis. Sekarang ada dua peti mati di halaman dan kamu melarangku menemui dia. Kamu pikir aku masih mau mendengarkan?”

Aku mendorong bahunya.

Arman menahan pintu.

Pak Budi datang dari belakang dan menarik lengannya.

“Cukup, Man. Buka pintunya.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan sungguhan di wajah Arman.

Bukan kemarahan.

Ketakutan.

“Pak, kalau pintu ini dibuka sebelum semuanya jelas, Nadira bisa dalam bahaya.”

“Bahaya dari siapa?”

Arman melirik ke ruang tamu.

Bu Sari langsung menunduk.

Aku mengikuti arah pandangannya.

Ada empat orang yang sejak tadi duduk di ruang tamu. Dua laki-laki paruh baya yang tidak kukenal, seorang perempuan tua, dan seorang pria berkemeja hitam yang terus memegang ponselnya.

“Siapa mereka?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku berbalik dan membuka pintu kamar dengan paksa.

Pemandangan di dalam membuat dadaku sesak.

Nadira duduk di sudut tempat tidur sambil memeluk bayinya. Rambutnya berantakan. Wajahnya pucat. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Tubuhnya jauh lebih kurus dibanding sepuluh hari sebelumnya ketika aku melihatnya di rumah sakit.

Begitu melihatku, bibirnya bergetar.

“Ibu.”

Aku langsung memeluknya.

Tubuhnya dingin.

“Ya Allah, Nak. Kenapa kamu seperti ini?”

Nadira menangis di bahuku.

“Bawa aku pulang.”

“Iya. Sekarang juga.”

Aku mengambil tas bayi di dekat ranjang.

Namun Nadira menggenggam tanganku.

“Bukan cuma aku.”

Aku menatapnya.

“Apa maksudmu?”

Dia memandang ke arah lemari.

“Buka.”

Aku berjalan mendekati lemari kayu itu. Ketika pintunya kubuka, tidak ada pakaian.

Hanya sebuah koper hitam.

Aku menariknya keluar.

“Jangan di sini,” bisik Nadira. “Kita harus keluar dulu.”

Arman masuk.

“Kalian tidak bisa pergi sekarang.”

Aku berdiri di depan Nadira.

“Coba hentikan aku.”

“Bu, saya bukan mau menahan Nadira.”

“Lalu apa?”

Arman mengusap wajahnya.

“Saya sedang berusaha menyelamatkan dia.”

Nadira tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar pahit.

“Kalau benar ingin menyelamatkanku, kenapa kamu diam selama ini?”

Arman tidak mampu menjawab.

Pak Budi membawa koper itu.

“Kita pulang.”

Kami baru melangkah menuju ruang tamu ketika pria berkemeja hitam berdiri.

“Tidak ada yang boleh membawa koper itu.”

Aku menatapnya.

“Kamu siapa?”

“Urusan keluarga.”

“Ini keluarga saya.”

Pria itu berjalan mendekati Pak Budi.

“Taruh kopernya.”

Pak Budi mundur selangkah.

Arman tiba-tiba berdiri di antara mereka.

“Pakde, cukup.”

Aku akhirnya mengerti.

Pria itu keluarga Arman.

Namanya Harun.

Belakangan aku mengetahui dia kakak mendiang ayah Arman dan orang yang paling berpengaruh di keluarga tersebut.

Harun tersenyum tipis.

“Kamu lupa siapa yang membesarkanmu setelah bapakmu meninggal?”

“Saya tidak lupa.”

“Lalu kenapa kamu membiarkan istrimu mempermalukan keluarga?”

Nadira menggigil.

Aku memeluk cucuku lebih erat.

“Apa sebenarnya isi koper ini?”

Harun menatap Nadira.

“Barang yang bukan miliknya.”

“Bohong,” kata Nadira.

Ruangan mendadak sunyi.

Nadira berjalan mendekati koper dan membukanya.

Di dalamnya terdapat beberapa map, sebuah laptop, dua telepon genggam lama, buku catatan, dan tumpukan fotokopi dokumen.

Aku tidak memahami semuanya.

Tetapi Pak Budi mengambil salah satu map.

Wajahnya langsung berubah.

“Surat tanah?”

Nadira mengangguk.

“Bukan cuma itu.”

Dia mengeluarkan buku catatan.

“Selama aku tinggal di sini setelah melahirkan, setiap malam aku mendengar orang masuk ke gudang belakang. Awalnya aku pikir mereka menyimpan hasil kebun.”

Nadira menarik napas.

“Tiga malam lalu aku melihat Pakde Harun dan dua orang membakar dokumen.”

Harun membentak.

“Jaga mulutmu!”

Bayiku menangis.

Aku memeluknya sambil menatap Harun.

“Lanjutkan, Dira.”

“Aku menemukan berkas ini sebelum semuanya dibakar.”

Ternyata keluarga Arman memiliki sebidang tanah luas di pinggir desa yang sedang dibeli perusahaan pengembang untuk proyek kawasan wisata. Tanah itu bukan sepenuhnya milik keluarga mereka.

Sebagian merupakan tanah milik puluhan warga yang selama bertahun-tahun dititipkan pengurusannya kepada mendiang ayah Arman.

Setelah ayah Arman meninggal, Harun mengambil alih semua dokumen.

Beberapa tanda tangan dipalsukan.

Beberapa surat kepemilikan diubah.

Nilainya miliaran rupiah.

“Aku mau melapor,” kata Nadira. “Tapi malam itu mereka melihatku.”

Aku menatap Arman.

“Kamu tahu?”

Arman mengangguk perlahan.

“Sejak tiga hari lalu.”

“Dan kamu membiarkan istrimu ketakutan?”

“Saya mencoba mencari jalan keluar.”

“Dengan mengurung dia?”

“Saya tidak mengurungnya.”

Nadira menatap suaminya.

“Kamu mengambil kunci mobilku.”

“Karena Pakde mengikuti kamu!”

“Seharusnya kamu membawaku pergi!”

Arman menunduk.

Kalimat berikutnya keluar begitu pelan.

“Saya takut.”

Aku melihat sesuatu runtuh di wajah Nadira.

Bukan cinta.

Kepercayaan.

Harun tiba-tiba merebut koper dari tangan Pak Budi.

“Cukup.”

Arman menahannya.

Terjadi dorong-mendorong.

Salah satu map jatuh. Kertas berserakan di lantai.

Aku menarik Nadira menuju pintu depan.

“Pergi ke mobil!”

Namun ketika kami keluar, dua peti mati itu kembali terlihat.

Aku berhenti.

“Siapa yang ada di dalamnya?”

Nadira menatap peti tersebut.

“Tidak ada.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Peti itu kosong.”

Bu Sari yang mengikuti kami mulai menangis.

Aku menoleh kepadanya.

“Kenapa ada peti kosong di halaman?”

Bu Sari menutup mulut.

Harun keluar dari rumah.

“Karena perempuan itu tidak tahu kapan harus berhenti.”

Darahku terasa mendidih.

Nadira menggenggam tanganku.

“Tadi malam mereka membawa dua peti itu.”

“Untuk apa?”

Nadira menatapku.

“Untuk menakutiku.”

Aku tidak percaya seseorang bisa melakukan hal sekejam itu kepada perempuan yang baru melahirkan.

Namun Harun justru tertawa.

“Kamu terlalu banyak menonton film.”

Nadira menunjuk salah satu peti.

“Mereka bilang kalau aku membawa dokumen itu keluar rumah, satu peti untukku.”

Aku menatap peti kedua.

Tidak perlu bertanya.

Aku sudah tahu jawabannya.

Tanganku gemetar.

Bu Sari tiba-tiba berteriak.

“Cukup, Kang!”

Semua orang menoleh.

Perempuan itu berjalan ke tengah halaman sambil menangis.

“Sudah cukup. Jangan bawa bayi itu ke dalam urusan kalian.”

Harun membentaknya.

“Diam!”

“Tidak!”

Untuk pertama kalinya sejak kami datang, suara Bu Sari terdengar tegas.

“Dua puluh tahun saya diam. Waktu surat tanah orang-orang diambil, saya diam. Waktu tanda tangan dipalsukan, saya diam. Waktu suami saya meninggal setelah bertengkar dengan Kang Harun, saya juga diam.”

Arman menatap ibunya.

“Ibu?”

Bu Sari memandang anaknya.

“Ayahmu tidak meninggal karena serangan jantung seperti yang Ibu katakan.”

Wajah Arman kehilangan warna.

“Apa maksud Ibu?”

“Dia menemukan semuanya.”

Harun maju.

“Sari!”

“Dia mau menyerahkan bukti ke polisi.”

Bu Sari menangis semakin keras.

“Malam sebelum meninggal, dia bertengkar dengan Kang Harun di gudang. Besok paginya dia ditemukan tidak sadar.”

“Diam!”

Harun berlari ke arahnya.

Namun sebelum mencapai Bu Sari, suara sirene terdengar dari ujung jalan.

Satu mobil polisi masuk ke halaman.

Disusul mobil lainnya.

Harun berhenti.

Aku sendiri terkejut.

Pak Budi menatapku seolah bertanya apakah aku yang menghubungi polisi.

Aku menggeleng.

Seorang polisi turun.

“Siapa Ibu Nadira?”

Nadira mengangkat tangan.

“Saya.”

“Kami menerima laporan dan salinan dokumen tadi malam.”

Harun langsung menoleh kepadanya.

“Kamu?”

Nadira menggeleng.

Polisi itu melanjutkan.

“Laporan dikirim oleh Saudara Arman Pratama.”

Semua mata beralih kepada Arman.

Nadira bahkan tidak mampu berkata-kata.

Arman mengeluarkan ponsel dari sakunya.

“Saya kirim semuanya pukul tiga lewat dua puluh pagi.”

Aku teringat telepon Nadira terputus sekitar pukul dua.

Arman menatap istrinya.

“Saya memang pengecut karena tidak langsung membawa kamu pergi. Saya takut Pakde melakukan sesuatu kepada kamu di jalan.”

Dia menunjuk dua peti itu.

“Setelah melihat itu tadi malam, saya tahu diam tidak akan menyelamatkan siapa pun.”

Harun mencoba masuk ke rumah, tetapi dua polisi langsung menghentikannya.

Pria-pria yang tadi duduk di ruang tamu ikut diperiksa.

Salah satu peti dibuka.

Kosong.

Peti kedua juga kosong.

Tetapi di bawah lapisan kain peti kedua, polisi menemukan sesuatu.

Sebuah jeriken kecil berisi bahan bakar.

Bu Sari langsung terduduk.

Nadira memeluk bayinya erat.

Harun masih berteriak bahwa semuanya fitnah ketika tangannya diborgol.

Penyelidikan setelah hari itu berlangsung berbulan-bulan.

Dokumen yang diselamatkan Nadira membuka perkara yang jauh lebih besar daripada yang kami bayangkan. Beberapa warga yang selama bertahun-tahun percaya tanah mereka masih aman akhirnya mengetahui bahwa kepemilikannya telah dialihkan secara ilegal.

Kasus kematian ayah Arman juga dibuka kembali.

Tidak semua dugaan terbukti. Tetapi cukup banyak bukti ditemukan untuk membawa beberapa orang ke pengadilan.

Nadira pulang bersama kami ke Bandung pada hari itu.

Arman tidak ikut.

Bukan karena aku melarangnya.

Nadira sendiri yang meminta waktu.

“Aku masih sayang sama dia, Bu,” katanya suatu malam.

“Lalu?”

“Tapi sayang tidak selalu berarti aku harus langsung memaafkan.”

Aku mengangguk.

“Kepercayaan tidak kembali hanya karena seseorang meminta maaf.”

Arman datang hampir setiap minggu.

Tidak pernah memaksa Nadira pulang.

Dia membawa susu, popok, makanan, lalu duduk di teras bersama Pak Budi. Kadang hanya lima belas menit. Kadang satu jam.

Tiga bulan kemudian, Nadira akhirnya mengizinkannya menggendong bayi mereka lagi.

Enam bulan kemudian, mereka mulai mengikuti konseling pernikahan.

Aku pikir cerita itu sudah selesai.

Ternyata belum.

Hampir setahun setelah kejadian tersebut, Bu Sari datang ke rumah kami membawa sebuah amplop tua.

Dia menyerahkannya kepada Arman.

“Ini milik bapakmu.”

Di dalamnya ada surat yang ditulis beberapa hari sebelum ayah Arman meninggal.

Sebagian besar berisi daftar nama warga dan nomor sertifikat tanah.

Namun di halaman terakhir terdapat satu kalimat yang membuat Arman menangis.

Kalau suatu hari anakku menemukan semua ini, jangan ajari dia menjaga nama keluarga. Ajari dia menjaga kebenaran, karena keluarga yang dibangun di atas ketakutan sebenarnya sudah mati sejak lama.

Aku teringat dua peti kosong di halaman rumah itu.

Saat itu aku mengira peti-peti tersebut adalah ancaman kematian untuk anak dan cucuku.

Sekarang aku memahami sesuatu yang berbeda.

Peti itu memang kosong.

Tetapi hari itu tetap ada sesuatu yang dikuburkan.

Ketakutan Bu Sari yang dipendam selama dua puluh tahun.

Kepatuhan Arman kepada keluarga yang salah.

Dan keyakinan Nadira bahwa seorang istri harus bertahan hanya demi menjaga rumah tangga terlihat utuh.

Setahun kemudian, Nadira dan Arman pindah ke rumah kontrakan kecil di Bandung. Bukan rumah besar. Bukan pula rumah dengan halaman luas.

Tetapi ketika aku datang untuk pertama kalinya, pintunya terbuka lebar.

Nadira sedang memasak di dapur.

Arman menggendong putri mereka sambil berjalan mondar-mandir di ruang tamu.

Anakku menatapku dan tersenyum.

“Ibu.”

“Ya?”

“Sekarang kalau aku menelepon tengah malam, jangan langsung panik.”

Aku tertawa.

“Kenapa?”

Dia menunjuk cucuku yang mulai rewel.

“Mungkin cuma karena anak ini tidak mau tidur.”

Aku tertawa, tetapi mataku basah.

Karena hampir setahun sebelumnya, pada pukul dua lewat tiga belas menit dini hari, anakku menelepon dengan suara gemetar dan berkata bahwa dia ingin pulang.

Dulu aku hampir membiarkan pagi datang sebelum menjemputnya.

Sejak hari itu aku mengerti bahwa ketika seseorang yang kita cintai berkata, “Aku takut,” kita tidak selalu membutuhkan penjelasan lengkap sebelum mempercayainya.

Kadang-kadang, mendengarkan adalah bentuk pertolongan pertama.

Dan pulang bukan selalu berarti kalah.

Kadang-kadang, keberanian terbesar justru dimulai ketika seseorang akhirnya berani berkata, “Jemput aku.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang