Suamiku tidak pernah menyentuhku, tetapi setiap malam aku mendengar seorang perempuan menangis dari ruangan terkunci di rumahnya.
Dan pada malam kelima pernikahan kami, aku akhirnya tahu bahwa tangisan itu bukan hal paling mengerikan yang disembunyikan Arman.
Aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi pintu kamar yang baru saja dikunci Arman dari dalam.
“Mulai besok, ponselmu tinggal di meja ruang kerja,” katanya.
“Kenapa?”

“Karena aku tidak suka rahasia di rumah ini keluar tanpa izinku.”
Nada suaranya tenang. Justru ketenangan itulah yang membuat tengkukku dingin.
Aku menatap lelaki yang baru lima hari menjadi suamiku. Di depan keluarga, teman, bahkan media, Arman dikenal sebagai pria santun dan berpendidikan. Tidak pernah meninggikan suara. Tidak pernah mempermalukan siapa pun.
Sekarang aku mengerti.
Arman tidak perlu berteriak untuk membuat orang takut.
“Aku lelah,” kataku.
Ia menatapku beberapa detik sebelum akhirnya membuka kunci pintu.
“Tidurlah.”
Setelah ia pergi, aku menunggu sampai suara langkahnya benar-benar menghilang.
Aku tidak tidur.
Sekitar pukul dua dini hari, tangisan itu terdengar lagi.
Pelan.
Terputus-putus.
Aku keluar tanpa membawa ponsel karena Arman telah mengambilnya. Lorong rumah gelap, hanya diterangi lampu dinding berwarna kekuningan.
Aku masuk ke perpustakaan dan menekan sisi rak yang kemarin kutemukan.
Rak bergeser.
“Nadia?” bisikku.
Tidak ada jawaban.
Aku menyusuri lorong sempit sampai tiba di depan pintu besi.
“Nadia, ini aku.”
Baru setelah beberapa detik terdengar suara dari balik pintu.
“Jangan bicara keras.”
“Aku akan mengeluarkanmu.”
“Tidak.”
Aku terdiam.
“Apa?”
“Jangan buka pintu ini sekarang.”
“Tapi kamu bilang Arman menahanmu.”
“Memang.”
“Kalau begitu kita harus pergi.”
Nadia menangis pelan.
“Kamu belum mengerti siapa yang sebenarnya sedang dia kurung.”
Aku merasakan jantungku berdetak lebih cepat.
“Apa maksudmu?”
Sebelum Nadia menjawab, terdengar bunyi pintu di ujung lorong.
Aku mematikan lampu.
Langkah kaki mendekat.
Aku berlari kembali ke perpustakaan, menutup rak, lalu bersembunyi di balik tirai.
Arman masuk.
Ia tidak menyalakan lampu.
Ia langsung membuka rak rahasia seolah tahu persis ke mana harus pergi.
Aku menahan napas.
Beberapa menit kemudian terdengar suaranya dari lorong.
“Kamu bicara dengannya?”
Suara Nadia menjawab, “Tidak.”
“Jangan bohong.”
“Aku tidak mengatakan apa pun.”
Arman terdiam cukup lama.
Lalu suaranya terdengar sangat pelan.
“Kalau dia tahu semuanya, kita bertiga akan hancur.”
Kita bertiga.
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Setelah Arman pergi, aku kembali ke kamar sebelum ia menyadari keberadaanku.
Pagi harinya, aku berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa.
Saat sarapan, Arman bahkan menuangkan kopi untukku.
“Ada rencana hari ini?”
“Aku ingin menemui ibuku.”
Sendok di tangannya berhenti.
“Nanti saja.”
“Aku sudah beberapa hari tidak bertemu beliau.”
“Supir akan mengantarmu akhir pekan.”
“Aku bisa pergi sendiri.”
Tatapannya berubah.
“Tidak.”
Hanya satu kata.
Namun cukup membuat semuanya jelas.
Aku memang tahanan.
Siang itu aku menemui Pak Darto di halaman belakang.
“Pak, saya perlu bantuan.”
Wajahnya langsung pucat.
“Saya tidak tahu apa-apa, Bu.”
“Saya bahkan belum bertanya.”
Ia menunduk.
Aku semakin yakin.
“Bapak tahu Nadia ada di rumah ini?”
Tangannya bergetar.
“Bu, jangan.”
“Sudah berapa lama?”
Pak Darto memandang ke arah rumah.
“Hampir empat belas bulan.”
“Kenapa tidak lapor polisi?”
Matanya berkaca-kaca.
“Karena saya pernah mencoba.”
Aku terdiam.
“Lalu?”
“Anak saya kehilangan pekerjaan. Istri saya mendapat teror. Semua rekening saya dibekukan selama beberapa minggu. Pak Arman tidak pernah mengancam secara langsung. Tapi dia selalu tahu bagaimana membuat orang mengerti.”
“Kenapa Nadia dikurung?”
Pak Darto menggeleng.
“Itu yang saya tidak tahu.”
Aku kembali ke kamar dengan pikiran kacau.
Saat itulah aku melihat sebuah amplop terselip di bawah pintu.
Tidak ada nama.
Di dalamnya hanya terdapat secarik kertas.
Jangan percaya semua yang dikatakan Nadia.
Aku langsung keluar.
Lorong kosong.
Malamnya Arman pergi menghadiri makan malam bisnis.
Aku memanfaatkan kesempatan itu.
Dari ruang kerjanya, aku menemukan lemari kecil dengan kunci digital. Aku mencoba tanggal lahirnya. Salah.
Tanggal pernikahan kami. Salah.
Kemudian aku teringat foto Nadia yang kulihat di internet.
Tanggal berdirinya yayasan keluarga mereka.
Kunci terbuka.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen, paspor Nadia, ponsel lama, serta sebuah map hitam.
Tanganku gemetar ketika membukanya.
Isinya bukan catatan medis.
Melainkan laporan keuangan.
Transfer miliaran rupiah dari yayasan sosial keluarga Arman ke beberapa perusahaan cangkang.
Di bagian bawah salah satu dokumen terdapat tanda tangan Nadia.
Aku memotret semuanya menggunakan kamera kecil dari laptopku.
Lalu menemukan sesuatu yang membuatku sulit bernapas.
Surat pernikahan.
Nama suami: Arman Wijaya.
Nama istri: Nadia Prameswari.
Tanggalnya tiga tahun lalu.
Aku membaca berulang kali.
Jika dokumen itu asli, berarti Arman menikah denganku ketika secara hukum masih menjadi suami Nadia.
Terdengar pintu depan dibuka.
Aku memasukkan semua dokumen kembali dan berlari keluar.
Malam itu aku langsung menemui Nadia.
“Kamu istrinya.”
Hening.
“Kamu masih istrinya.”
Nadia tidak menjawab.
“Aku menemukan surat pernikahan kalian.”
Akhirnya ia berkata, “Jadi kamu sudah tahu.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Karena aku ingin tahu seberapa jauh kamu akan mencari sendiri.”
Aku mengepalkan tangan.
“Berhenti mempermainkanku.”
“Aku tidak mempermainkanmu.”
“Arman menikahiku secara ilegal.”
“Tidak.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Surat yang kamu lihat bukan dokumen resmi.”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Karena aku yang membuatnya.”
Dunia seperti berhenti.
Nadia mulai menangis.
“Dua tahun lalu, aku dan Arman menjalankan yayasan bersama. Aku menemukan dia memindahkan uang ke perusahaan-perusahaan miliknya. Aku ingin melaporkannya.”
“Lalu?”
“Dia lebih cepat.”
Nadia menjelaskan bahwa Arman membuat bukti seolah-olah semua transaksi dilakukan atas persetujuannya. Ketika Nadia mencoba membawa dokumen asli kepada penyidik, mobilnya mengalami kecelakaan.
“Aku selamat. Tapi setelah itu Arman mengatakan semua orang akan percaya bahwa akulah pelakunya.”
“Kenapa dia mengurungmu?”
“Karena aku tahu lokasi dokumen asli.”
“Di mana?”
Nadia terdiam.
“Tidak ada di rumah ini.”
“Lalu di mana?”
“Orang yang menyimpannya adalah ayahmu.”
Aku merasa lantai di bawah kakiku menghilang.
“Ayahku sudah meninggal tiga tahun lalu.”
“Aku tahu.”
“Bagaimana kamu mengenal ayahku?”
Nadia menarik napas panjang.
“Ayahmu pernah menjadi auditor perusahaan keluarga Arman.”
Aku tidak sanggup berkata-kata.
Tiba-tiba semuanya terasa terlalu terencana.
Pertemuanku dengan Arman.
Pendekatannya.
Pernikahan kami.
“Dia tidak menikahiku karena mencintaiku,” bisikku.
“Tidak.”
“Dia menikahiku karena ayahku.”
Nadia menjawab pelan, “Arman percaya ayahmu meninggalkan sesuatu kepadamu.”
Aku teringat sebuah kotak besi peninggalan Ayah yang selama bertahun-tahun kusimpan di rumah Ibu. Aku tidak pernah membukanya karena tidak mengetahui kombinasi kuncinya.
Saat itulah aku memahami alasan Arman tidak pernah menyentuhku.
Ia tidak pernah menginginkan seorang istri.
Ia hanya membutuhkan akses kepada keluarga kami.
Aku segera kembali ke kamar.
Tetapi Arman sudah menungguku.
Ia duduk di kursi dekat jendela.
“Dari mana?”
Aku tidak menjawab.
“Dari Nadia?”
Aku mundur.
Arman berdiri.
“Aku sebenarnya berharap kamu tidak menemukan ruangan itu secepat ini.”
“Kenapa menikahiku?”
Ia tersenyum tipis.
“Akhirnya pertanyaan yang benar.”
“Karena Ayah?”
Senyumnya hilang.
“Dia mencuri sesuatu dari keluargaku.”
“Bukti kejahatanmu bukan milik keluargamu.”
Untuk pertama kalinya aku melihat kemarahan di wajahnya.
“Kamu tidak tahu apa yang dilakukan Nadia.”
“Aku tahu cukup banyak.”
Arman mendekat.
“Di mana kotak peninggalan ayahmu?”
Aku diam.
“Jawab.”
“Tidak tahu.”
Ia meraih pergelangan tanganku.
Itulah pertama kalinya suamiku menyentuhku.
Bukan dengan kasih sayang.
Melainkan untuk menyakitiku.
“Aku bisa membuat ibumu kehilangan semuanya.”
Aku menatap matanya.
“Seperti yang kamu lakukan kepada Pak Darto?”
Tangannya melemah sesaat.
Cukup.
Aku menarik diri dan berlari keluar.
Arman mengejarku.
Namun begitu kami tiba di ruang tengah, lampu rumah mendadak menyala terang.
Pak Darto berdiri di sana.
Bersama dua polisi.
Dan Nadia.
Pintu besi itu telah terbuka.
Arman berhenti.
Wajahnya berubah pucat.
Nadia tidak terlihat seperti perempuan ketakutan yang selama ini kukenal.
Ia berdiri tegak dengan sebuah ponsel di tangannya.
“Sudah cukup, Man.”
Arman menatapku.
“Kamu yang memanggil polisi?”
Aku menggeleng.
Nadia mengangkat ponselnya.
“Aku.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Tapi ponselmu diambil.”
Nadia tersenyum pahit.
“Ponsel yang dia tahu, iya.”
Ternyata selama berbulan-bulan Pak Darto diam-diam membantu Nadia menghubungi seorang penyidik. Mereka hanya membutuhkan satu hal yang belum mereka miliki.
Pengakuan Arman mengenai dokumen milik ayahku.
Dan beberapa menit sebelumnya, Arman telah mengatakannya sendiri.
Semua percakapan kami direkam.
Arman menatap Nadia dengan marah.
“Kamu menjebakku.”
“Tidak,” jawab Nadia. “Kamu hanya terlalu yakin semua orang takut kepadamu.”
Arman ditangkap malam itu.
Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan. Polisi menemukan bukti penggelapan dana, pemalsuan dokumen, intimidasi saksi, dan penyekapan.
Tetapi masih ada satu pertanyaan.
Kotak peninggalan Ayah.
Aku mengambilnya dari rumah Ibu seminggu kemudian.
Nadia ikut bersamaku.
Kami mencoba berbagai kombinasi tanpa hasil.
Sampai Ibu tiba-tiba berkata, “Coba tanggal lahirmu.”
Aku tertawa kecil.
“Ayah tidak mungkin sesederhana itu.”
Namun ketika angka terakhir kumasukkan, terdengar bunyi klik.
Kotak terbuka.
Di dalamnya tidak ada laporan keuangan.
Tidak ada flashdisk.
Hanya sebuah amplop.
Namaku tertulis di bagian depan.
Aku membukanya.
Tulisan tangan Ayah memenuhi selembar kertas.
Jika suatu hari Arman Wijaya datang mencarimu, jangan percaya kepadanya. Tetapi jangan pula langsung percaya kepada perempuan bernama Nadia.
Aku menoleh.
Nadia berdiri di sampingku.
Wajahnya mendadak pucat.
Aku melanjutkan membaca.
Karena orang yang pertama kali memindahkan uang yayasan itu bukan Arman.
Melainkan Nadia.
Tanganku membeku.
Di bawah surat terdapat sebuah flashdisk kecil.
Nadia perlahan mundur.
“Nadia?”
Ia tidak menjawab.
“Nadia, apa maksud surat ini?”
Matanya yang selama ini terlihat rapuh tiba-tiba berubah.
Dingin.
Sangat tenang.
Kemudian ia tersenyum.
“Ayahmu memang selalu terlalu teliti.”
Ia berbalik menuju pintu.
Namun dua polisi yang sejak awal menunggu di luar langsung masuk.
Nadia berhenti.
Aku menatapnya dengan dada sesak.
Ternyata Arman memang bersalah.
Ia menyekap, mengancam, memalsukan dokumen, dan menggunakan pernikahan kami untuk mencari bukti yang dapat menghancurkannya.
Tetapi Nadia juga bukan korban yang sepenuhnya tidak bersalah.
Bukti dalam flashdisk menunjukkan bahwa Nadia memulai penggelapan dana bertahun-tahun sebelumnya. Arman mengetahuinya, ikut mengambil keuntungan, kemudian berusaha menyingkirkannya ketika hubungan mereka memburuk.
Mereka saling menyimpan rahasia.
Saling mengancam.
Saling menghancurkan.
Dan tanpa sengaja, aku masuk ke tengah permainan mereka.
Beberapa bulan kemudian aku kembali ke rumah di Menteng untuk terakhir kalinya ditemani penyidik.
Perpustakaan itu masih sama.
Rak rahasia masih ada.
Aku berdiri di depan lorong tempat pertama kali mendengar Nadia menangis.
Dulu aku mengira rumah itu menyimpan seorang tahanan.
Sekarang aku tahu rumah itu menyimpan sesuatu yang lebih buruk.
Dua orang yang begitu takut rahasia mereka terbongkar hingga rela mengubah manusia lain menjadi alat.
Aku melepaskan cincin pernikahanku dan meletakkannya di atas meja perpustakaan.
Lalu aku pergi tanpa menoleh lagi.
Arman tidak pernah menyentuhku sebagai seorang suami.
Namun selama beberapa minggu, ketakutannya hampir mengambil seluruh hidupku.
Dan dari semua hal yang kupelajari, ada satu yang tidak pernah kulupakan.
Penjara tidak selalu memiliki jeruji.
Kadang-kadang bentuknya adalah rumah mewah, pasangan yang sempurna, senyum yang sopan, dan sebuah kehidupan yang dari luar terlihat begitu indah hingga tidak seorang pun berpikir untuk bertanya siapa yang sebenarnya sedang meminta pertolongan dari dalam.
