Aku tersenyum.
“Kalau begitu, sepertinya hari ini aku datang ke tempat yang salah.”
Aku meraih tas dan berdiri. Bu Ratih ikut bangkit.
“Kirana, duduk!”
Aku berhenti, tetapi tidak berbalik.
“Ada apa lagi, Bu?”
“Kamu pikir perceraian itu semudah melepas cincin? Keluarga kita punya nama. Ada bisnis, ada relasi, ada banyak orang yang akan terkena dampaknya.”
Aku akhirnya menoleh.

“Menarik. Ketika Arga masuk hotel bersama Nadine, tidak ada yang memikirkan nama keluarga. Tapi ketika aku ingin pergi, tiba-tiba nama keluarga menjadi sangat penting.”
Bu Ratih kehilangan kata-kata.
Arga berdiri.
“Kirana, cukup.”
“Belum.”
Aku mengeluarkan sebuah flashdisk dari tas dan meletakkannya di atas meja.
Wajah Arga berubah.
“Apa itu?”
“Salinan rekaman CCTV.”
Nadine langsung menatap Arga.
Aku melanjutkan dengan tenang.
“Rekaman saat kalian datang. Rekaman di lift. Rekaman saat Nadine menciummu. Rekaman saat kalian memesan satu kamar.”
Ruangan mendadak sunyi.
Pak Surya yang sejak tadi berusaha menjaga ketenangan mengangkat kepala.
“Mencium?”
Arga segera berkata, “Papa, Nadine mabuk. Itu cuma beberapa detik.”
Aku tertawa pendek.
Beberapa detik.
Begitulah orang selalu mengecilkan pengkhianatan. Bukan soal ciumannya, melainkan berapa detik. Bukan soal kebohongannya, melainkan alasan di balik kebohongan.
Pak Surya menatap Nadine.
“Benar?”
Nadine menunduk sambil menangis.
“Om, aku benar-benar nggak sadar.”
“Cukup.”
Suara Pak Surya kali ini keras.
Nadine terdiam.
Namun Bu Ratih justru mengambil flashdisk itu.
“Kalau memang cuma karena mabuk, buat apa diperpanjang? Hapus rekamannya. Kita selesaikan secara kekeluargaan.”
Aku memandang perempuan yang selama tiga tahun kupanggil Ibu itu.
Untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu.
Mungkin masalah dalam pernikahanku bukan hanya Arga.
Masalahnya adalah Arga tumbuh di sebuah keluarga yang selalu membersihkan kesalahannya sebelum dia sempat belajar bertanggung jawab.
Aku mengambil kembali flashdisk tersebut.
“Pengacara saya sudah punya salinannya.”
Arga menatapku tajam.
“Kamu sudah menghubungi pengacara?”
“Pukul enam pagi.”
“Kamu bahkan belum bicara denganku.”
“Apa yang harus dibicarakan? Kamu sudah memberikan penjelasan terbaikmu ketika meneleponku dari hotel dan bilang sedang bersama teman-teman kuliah.”
Wajahnya memerah.
Aku berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, Bu Ratih berkata dengan suara dingin.
“Kalau kamu keluar dari rumah ini sekarang, jangan berharap mendapatkan apa pun dari keluarga Pradana.”
Tanganku berhenti di gagang pintu.
Aku menoleh sambil tersenyum.
“Memangnya selama ini Ibu pikir saya menikahi Arga karena uang?”
“Studio kamu bisa berkembang karena siapa?”
Aku mengangguk perlahan.
“Bagus Ibu mengingatkan.”
Lalu aku pergi.
Tiga hari berikutnya, Arga tidak pulang ke apartemen kami.
Aku juga tidak mencarinya.
Aku mengemasi barang-barangnya, memasukkannya ke dalam enam koper besar, kemudian meminta sopir keluarga Pradana mengambil semuanya.
Sore itu Arga menelepon.
“Kamu benar-benar mengusirku?”
“Ini apartemenku.”
“Dibeli setelah kita menikah.”
“Dibeli menggunakan uang warisan dari nenekku. Dokumennya lengkap.”
Dia diam.
Aku menutup telepon.
Malamnya, Nadine mengirim pesan.
Kak Kirana, aku berharap suatu hari Kakak mengerti bahwa tidak semua kedekatan antara laki-laki dan perempuan berarti perselingkuhan.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Kemudian mengirim sebuah foto.
Tangkapan layar transaksi kartu kredit Arga.
Hotel Cendana Grand.
Bukan malam itu.
Empat bulan sebelumnya.
Aku menemukan transaksi tersebut setelah memeriksa laporan keuangan bersama yang selama ini tidak pernah benar-benar kuperhatikan.
Di bawah foto itu aku menulis satu kalimat.
Kalau begitu, jelaskan yang ini.
Nadine tidak membalas.
Aku mulai memeriksa semuanya.
Dan ketika seseorang mulai mencari kebenaran, masalahnya bukan apakah dia akan menemukannya.
Masalahnya adalah seberapa banyak kebenaran yang sanggup dia terima.
Ada pembayaran hotel lain.
Bandung.
Bali.
Surabaya.
Beberapa transaksi dilakukan saat Arga mengatakan sedang perjalanan dinas.
Aku menghubungi hotel-hotel itu melalui pengacaraku.
Sebagian tidak dapat memberikan informasi tamu karena privasi.
Namun kami tidak membutuhkan semuanya.
Satu hotel di Bandung memberikan dokumen transaksi setelah proses hukum dimulai.
Nama tamu kedua tercatat jelas.
Nadine Alesha.
Tanganku dingin ketika membacanya.
Jadi malam di Hotel Cendana Grand bukan kesalahan pertama.
Itu hanya pertama kalinya aku melihatnya sendiri.
Aku tidak menangis.
Anehnya, setelah menemukan bukti tersebut, justru ada bagian dalam diriku yang menjadi sangat tenang.
Selama beberapa bulan terakhir, aku sering merasa ada sesuatu yang salah.
Arga semakin sering pulang terlambat.
Ponselnya selalu diletakkan terbalik.
Dia mulai membawa ponsel ke kamar mandi.
Setiap kali nama Nadine muncul, ekspresinya berubah sedikit lebih lembut.
Namun setiap kali aku bertanya, jawabannya selalu sama.
“Kamu terlalu sensitif.”
“Nadine itu sudah seperti adikku sendiri.”
“Kamu jangan jadi istri posesif.”
Lama-lama aku mulai mempertanyakan naluriku sendiri.
Ternyata naluriku tidak salah.
Aku hanya terlalu lama mempercayai orang yang salah.
Seminggu kemudian, gugatan cerai resmi diajukan.
Hari itu juga Bu Ratih datang ke studioku.
Tanpa menelepon.
Tanpa membuat janji.
Dia masuk ketika aku sedang berdiskusi dengan tim desain.
“Kita bicara.”
Aku membawa beliau ke ruang kerjaku.
Begitu pintu tertutup, Bu Ratih melemparkan sebuah amplop ke meja.
“Cabut gugatan.”
Aku membuka amplop tersebut.
Ada cek senilai dua miliar rupiah.
Aku memandangnya.
“Ini apa?”
“Anggap kompensasi.”
Aku hampir tertawa.
“Untuk apa?”
“Untuk melupakan masalah hotel itu.”
Aku mendorong cek kembali.
“Tidak cukup?”
Aku menatapnya.
“Bu, masalahnya bukan jumlahnya.”
“Lalu apa?”
“Saya tidak menjual harga diri.”
Wajahnya berubah.
“Kamu pikir kamu siapa?”
Pertanyaan itu membuatku tersenyum.
Selama tiga tahun menjadi menantu keluarga Pradana, aku memang jarang membicarakan keluargaku sendiri.
Ayahku meninggal ketika aku masih kuliah. Ibuku tinggal lebih banyak di Singapura bersama kakakku. Studio yang kubangun dimulai dari ruangan kecil dengan tiga pegawai.
Arga pernah membantu mengenalkanku kepada dua klien.
Dari situlah keluarga Pradana menciptakan cerita bahwa seluruh keberhasilanku berasal dari mereka.
Aku membiarkannya.
Karena waktu itu aku tidak merasa perlu membuktikan apa pun.
“Aku Kirana Maheswari.”
Bu Ratih mendengus.
“Saya tahu nama kamu.”
“Sepertinya Ibu cuma tahu namanya.”
Aku membuka laptop.
Kemudian memutar layar menghadap beliau.
Di sana ada email yang kuterima pagi itu.
Aku baru saja menyelesaikan proses akuisisi mayoritas saham sebuah perusahaan media digital yang selama dua tahun terakhir berkembang sangat cepat.
Nilai transaksinya jauh lebih besar daripada cek yang ada di meja.
Bu Ratih membaca angka tersebut.
Wajahnya perlahan berubah.
“Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini?”
“Warisan nenek saya bukan cuma apartemen.”
Aku menutup laptop.
“Dan studio saya tidak pernah membutuhkan uang Arga.”
Bu Ratih pergi tanpa membawa kembali ceknya.
Aku menyuruh asistanku mengirim cek tersebut melalui kurir ke rumah keluarga Pradana.
Dua minggu kemudian, masalah lain muncul.
Kali ini bukan dari keluarganya.
Seorang perempuan bernama Maya menghubungiku melalui Instagram.
Mbak Kirana, saya minta maaf kalau mengganggu. Saya dulu bekerja sebagai sekretaris Pak Arga. Ada sesuatu yang mungkin perlu Mbak tahu.
Kami bertemu di sebuah kedai kopi di Kuningan.
Maya datang membawa laptop.
Dia terlihat gugup.
“Saya berhenti enam bulan lalu.”
“Kenapa?”
“Pak Arga meminta saya mengubah beberapa laporan pengeluaran perusahaan.”
Aku menatapnya.
Maya membuka sejumlah dokumen.
Ada biaya perjalanan dinas.
Hotel.
Restoran.
Tiket pesawat.
Sebagian besar perjalanan itu ternyata dilakukan bersama Nadine.
Tetapi dibebankan sebagai biaya perusahaan.
Aku mulai memahami mengapa Arga panik ketika fotonya masuk ke grup kerja.
Bukan hanya karena perselingkuhan.
Atasannya mungkin mulai bertanya.
“Kenapa kamu menunjukkan ini kepada saya?”
Maya menunduk.
“Karena dulu saya yang disalahkan ketika ada audit internal. Pak Arga bilang saya salah memasukkan data.”
Matanya memerah.
“Saya kehilangan pekerjaan.”
Aku tidak mengatakan apa pun selama beberapa detik.
Kemudian aku meminta izin menyalin dokumen tersebut.
Tiga hari kemudian, Arga diskors dari perusahaan.
Satu minggu setelahnya, dia diberhentikan.
Bu Ratih meneleponku berkali-kali.
Aku tidak mengangkat.
Pak Surya hanya mengirim satu pesan.
Papa minta maaf.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Sidang mediasi pertama berlangsung satu bulan setelah malam di hotel.
Arga terlihat jauh berbeda.
Wajahnya lebih kurus.
Tidak ada lagi jam mahal di pergelangan tangannya.
Kami duduk berhadapan.
Mediator bertanya apakah masih ada kemungkinan berdamai.
Aku menjawab tidak.
Arga menatapku.
“Aku ingin bicara berdua.”
Aku hampir menolak, tetapi akhirnya kami berdiri di koridor.
Untuk beberapa saat, dia hanya menatap lantai.
“Kirana.”
“Ya?”
“Aku salah.”
Itu pertama kalinya aku mendengar dua kata tersebut keluar dari mulutnya tanpa diikuti kata tetapi.
“Aku sama Nadine memang sudah terlalu jauh.”
Aku menunggu.
“Sejak kapan?”
“Hampir setahun.”
Dadaku terasa sesak meski aku sudah menduganya.
“Kenapa?”
Dia mengusap wajah.
“Aku nggak tahu.”
“Jawaban yang bagus.”
“Aku serius. Awalnya cuma ngobrol. Nadine sedang banyak masalah. Aku merasa dia membutuhkan aku.”
Aku tersenyum pahit.
“Sedangkan istrimu tidak?”
Arga tidak menjawab.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.
“Tapi Nadine hamil.”
Aku menatapnya.
Koridor pengadilan terasa tiba-tiba sunyi.
“Berapa bulan?”
“Delapan minggu.”
Aku mengangguk perlahan.
Akhirnya semuanya selesai.
Tidak ada lagi ruang untuk penjelasan.
Tidak ada lagi kemungkinan salah paham.
“Aku akan bertanggung jawab,” katanya.
“Bagus.”
“Kirana.”
Aku berbalik.
“Aku tetap nggak mau kehilangan kamu.”
Aku benar-benar tertawa kali itu.
Bukan karena lucu.
Karena akhirnya aku mengerti betapa egoisnya laki-laki di depanku.
Dia ingin perempuan yang membuatnya merasa dibutuhkan.
Dia juga ingin istri yang menjaga hidupnya tetap teratur.
Dia ingin kebebasan melakukan kesalahan sekaligus rumah yang selalu menerima kepulangannya.
“Arga, kamu sudah kehilangan aku malam ketika kamu mengirim lokasi hotel dan mengira aku cukup bodoh untuk tetap tidur di rumah.”
Aku pergi.
Perceraian selesai empat bulan kemudian.
Aku tidak meminta harta Arga.
Aku hanya mengambil apa yang memang milikku.
Apartemen.
Studioku.
Investasiku.
Dan kehidupan yang sempat hampir kulupakan sebagai milikku sendiri.
Enam bulan setelah perceraian, aku mendengar Nadine melahirkan.
Aku tidak mencari tahu.
Sampai suatu sore Pak Surya datang ke studioku.
Dia terlihat lebih tua.
“Kirana, Papa minta maaf datang tanpa kabar.”
Aku mempersilahkannya duduk.
Dia mengeluarkan sebuah amplop.
“Ada sesuatu yang mungkin seharusnya kamu tahu.”
Di dalamnya terdapat hasil tes DNA.
Aku membaca nama yang tertera.
Arga Pradana.
Probabilitas paternitas: 0 persen.
Aku mengangkat kepala.
Pak Surya tersenyum getir.
“Anak itu bukan anak Arga.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Nadine ternyata masih berhubungan dengan mantan pacarnya. Mereka sudah bersama bahkan sebelum dia dekat dengan Arga.”
Aku terdiam.
Ironis.
Laki-laki yang menghancurkan pernikahannya karena merasa dibutuhkan ternyata hanya menjadi tempat singgah dalam pengkhianatan orang lain.
“Bagaimana Arga?”
Pak Surya menatap jendela.
“Dia pergi dari Jakarta.”
Aku mengembalikan dokumen tersebut.
“Kenapa Papa memberitahu saya?”
Pak Surya diam cukup lama.
“Karena mungkin Papa berharap kamu merasa semuanya sudah terbalas.”
Aku memandang pria tua itu.
Lalu menggeleng.
“Saya tidak merasa senang.”
Dia tampak terkejut.
“Saya juga tidak merasa kasihan.”
Aku tersenyum kecil.
“Saya sudah tidak merasa apa-apa.”
Setelah Pak Surya pergi, aku berdiri di depan jendela.
Jakarta sedang diguyur hujan.
Hujan yang hampir sama seperti malam ketika semuanya dimulai.
Ponselku bergetar.
Pesan dari nomor yang sudah lama tidak kusimpan.
Arga.
Aku minta maaf. Sekarang aku baru tahu rasanya dibohongi oleh orang yang paling kita percaya.
Aku membaca pesan itu.
Dulu mungkin kalimat seperti itu akan membuatku menangis.
Sekarang tidak.
Aku mengetik balasan.
Semoga sekarang kamu belajar untuk tidak melakukan kepada orang lain sesuatu yang kamu sendiri tidak sanggup menerimanya.
Jempolku berhenti sebentar.
Lalu aku menghapus seluruh kalimat tersebut.
Aku tidak mengirim apa pun.
Aku memblokir nomornya.
Kemudian meletakkan ponsel di meja.
Di kaca jendela, aku melihat pantulan diriku sendiri.
Perempuan yang sama yang enam bulan lalu duduk semalaman di lobi hotel sambil menunggu jawaban.
Saat itu aku mengira aku sedang menunggu suamiku keluar dari lift.
Ternyata bukan.
Aku sedang menunggu diriku sendiri akhirnya berani keluar dari kehidupan yang selama bertahun-tahun membuatku merasa kecil.
Dan pagi ketika pintu lift itu terbuka, yang benar-benar berakhir bukan pernikahanku.
Yang berakhir adalah kebiasaanku memaafkan orang lain dengan mengorbankan diriku sendiri.
