AKU MENOLONG IBU HAMIL YANG DIKEJAR DI TERMINAL, NAMUN TAS BAYINYA MENYIMPAN GELANG PUTRIKU YANG DINYATAKAN MENINGGAL TIGA TAHUN LALU.

Tanganku gemetar begitu hebat sampai gelang bayi itu hampir terlepas dari jemariku.

Aku membaca tulisan di belakang foto berkali-kali, berharap mataku salah.

Nama ibu: Wulan Prameswari.

Nama bayi: Kirana Bayu.

Status: dipindahkan.

Identitas baru: Naya.

Tiga tahun.

Selama tiga tahun aku dan Wulan hidup dengan keyakinan bahwa putri kami sudah meninggal. Selama tiga tahun istriku menyalahkan dirinya sendiri karena merasa gagal melindungi anak yang bahkan tidak sempat ia peluk. Dan sekarang, selembar foto di tanganku mengatakan bahwa Kirana mungkin masih hidup.

Suara langkah kaki terdengar dari ujung tangga darurat.

Aku buru-buru memasukkan semua dokumen ke dalam tas bayi.

Dua pria berseragam Klinik Bunga Hati muncul dari balik pintu.

Salah satunya adalah pria yang mengejar Laras di terminal.

“Itu dia.”

Aku langsung berlari menuruni tangga.

“Berhenti!”

Aku tidak menoleh. Aku turun dua anak tangga sekaligus, keluar melalui pintu parkir belakang, lalu berlari menuju angkot.

Mesin belum benar-benar panas ketika aku menginjak gas.

Sebuah mobil putih keluar dari parkiran beberapa detik kemudian.

Mereka mengejarku.

Bandung pagi itu mulai ramai. Aku sengaja masuk ke Jalan Astana Anyar, menyelip di antara kendaraan, lalu berbelok ke gang sempit yang hanya cukup dilewati satu mobil.

Mobil putih itu tidak bisa mengikuti.

Aku baru berhenti hampir dua puluh menit kemudian di depan sebuah warung yang ramai.

Tanganku masih menggenggam setir.

Aku ingin menelepon polisi.

Namun di dalam amplop Laras terdapat foto beberapa petugas berseragam bersama orang-orang dari klinik. Aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.

Aku akhirnya pulang.

Wulan sedang menyapu teras ketika melihat wajahku.

“Mas, kamu kenapa?”

Aku tidak menjawab.

Aku masuk, menutup pintu, lalu meletakkan gelang itu di atas meja.

Wulan menatapnya.

Sapu di tangannya jatuh.

Dia tidak bergerak selama beberapa detik.

Kemudian lututnya melemas.

“Itu…”

Aku memegang bahunya.

“Wulan.”

“Itu gelang Kirana.”

Suaranya hampir tidak terdengar.

Dia mengambil gelang itu dengan tangan gemetar.

“Aku ingat. Aku ingat tulisan ini.”

Air matanya jatuh.

“Mas, dari mana kamu dapat ini?”

Aku menceritakan semuanya.

Tentang Laras.

Tentang pengejaran di terminal.

Tentang tas bayi.

Tentang foto anak perempuan bernama Naya.

Ketika aku menunjukkan foto itu, Wulan menutup mulutnya.

Tanda lahir berbentuk bulan sabit terlihat jelas di dekat telinga kiri anak itu.

“Aku melihat tanda itu ketika dia lahir,” bisiknya.

Aku mengangguk.

Wulan tiba-tiba berdiri.

“Kita ke Lembang sekarang.”

“Tidak.”

Dia menatapku seperti aku baru saja mengkhianatinya.

“Kalau itu Kirana, aku sudah kehilangan tiga tahun hidupnya.”

“Justru karena itu kita tidak boleh gegabah. Orang-orang itu mengejar Laras. Mereka juga mengejarku.”

“Aku tidak peduli.”

“Aku peduli.”

Suasana mendadak sunyi.

Aku menggenggam kedua tangannya.

“Aku tidak mau kehilangan kamu juga.”

Wulan menangis tanpa suara.

Kami akhirnya memeriksa kuitansi yang ada di tas Laras. Itu adalah kuitansi penyimpanan barang di sebuah loker otomatis dekat Stasiun Bandung.

Sore harinya aku pergi sendiri.

Di dalam loker terdapat sebuah flashdisk dan buku catatan kecil.

Aku membuka flashdisk di komputer warnet.

Isinya membuat darahku terasa dingin.

Ada puluhan data kelahiran dari Klinik Bunga Hati selama hampir tujuh tahun.

Sebagian bayi tercatat meninggal karena gangguan pernapasan, kelainan jantung, atau komplikasi persalinan.

Tetapi di file lain, nama-nama yang sama muncul bersama kode pembayaran.

Beberapa bayi dipindahkan ke yayasan.

Beberapa mendapatkan identitas baru.

Beberapa dikirim ke luar Jawa.

Aku menemukan nama Kirana.

Tanggal lahirnya tepat.

Di samping namanya tertulis kode BH17 dan pembayaran sebesar dua ratus delapan puluh juta rupiah.

Aku hampir muntah.

Anakku diberi harga.

Malam itu, nomor tak dikenal menelepon.

“Pak Bayu?”

Suara perempuan.

“Laras?”

“Saya cuma punya waktu sebentar.”

“Kamu di mana?”

“Jangan datang ke rumah sakit. Mereka sudah tahu tas itu ada pada Bapak.”

“Anak saya masih hidup?”

Hening beberapa detik.

“Kalau nama anak Bapak ada di daftar yang saya ambil, kemungkinan besar hidup.”

Dadaku sesak.

“Siapa mereka?”

Laras menarik napas.

“Direktur klinik bekerja sama dengan jaringan adopsi ilegal. Mereka mencari bayi dari keluarga yang dianggap mudah dibohongi. Orang tua diberi tahu bayinya meninggal, sementara dokumen kematian dibuat.”

“Kenapa kami?”

“Saya tidak tahu.”

“Lalu rumah singgah di Lembang?”

“Itu bukan rumah singgah biasa. Tempat transit sebelum anak dipindahkan.”

Aku langsung berdiri.

“Naya masih di sana?”

“Saya tidak yakin.”

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dari telepon.

Laras berbisik cepat.

“Pak Bayu, dengarkan. Jangan percaya dokter yang menangani persalinan istri Bapak.”

Telepon terputus.

Aku teringat satu nama.

Dokter Adrian.

Orang yang tiga tahun lalu keluar dari ruang persalinan dengan wajah tenang dan berkata, “Kami sudah berusaha.”

Aku dan Wulan berangkat ke Lembang sebelum matahari terbit.

Rumah dalam foto ternyata berada di pinggir kawasan perkebunan, jauh dari jalan utama. Dari luar tampak seperti tempat penitipan anak biasa.

Aku meminta Wulan menunggu di warung seberang.

Aku masuk sendiri.

Seorang perempuan paruh baya menyambutku.

“Mau cari siapa?”

“Naya.”

Wajahnya berubah.

“Naya siapa?”

“Anak perempuan tiga tahun. Ada tanda lahir di dekat telinga.”

Perempuan itu menatapku lama.

“Tidak ada anak bernama itu.”

Aku mengeluarkan foto.

Tangannya langsung menutup pintu.

Aku menahannya.

“Saya ayahnya.”

“Pergi.”

“Saya cuma mau tahu dia hidup atau tidak.”

“Pergi sebelum saya panggil polisi.”

“Silakan.”

Dia terdiam.

Mungkin dia tidak menyangka aku akan menjawab begitu.

Aku menatap matanya.

“Tiga tahun saya datang ke makam kosong setiap ulang tahunnya. Kalau anak saya pernah tinggal di sini, saya berhak tahu.”

Wajah perempuan itu perlahan berubah.

“Siapa nama ibunya?”

“Wulan Prameswari.”

Dia memejamkan mata.

Kemudian membuka pintu.

“Masuk.”

Namanya Bu Ratih.

Ia mengaku pernah menjadi perawat Klinik Bunga Hati. Rumah itu awalnya digunakan sebagai tempat penampungan ibu dan anak dari keluarga bermasalah.

Namun beberapa tahun terakhir semuanya berubah.

“Anak-anak datang membawa dokumen baru,” katanya.

“Naya?”

Bu Ratih mengambil album dari lemari.

Di salah satu halaman ada foto yang sama.

“Naya tinggal di sini sekitar delapan bulan.”

“Di mana sekarang?”

“Diadopsi.”

Dunia seperti runtuh lagi.

“Oleh siapa?”

“Saya tidak tahu nama lengkapnya. Pasangan dari Jakarta.”

Aku memukul meja.

“Bagaimana mungkin Ibu tidak tahu?”

“Karena saya juga dibohongi!”

Bu Ratih meninggikan suara.

Matanya berkaca-kaca.

“Saya diberi tahu anak-anak ini ditinggalkan orang tuanya. Baru kemudian saya sadar ada yang salah.”

Dia mengambil sebuah kotak.

“Naya selalu membawa ini.”

Di dalamnya ada kain bayi kecil berwarna merah muda.

Wulan yang sejak tadi ternyata mengikuti masuk langsung menangis.

“Itu selimut Kirana.”

Bu Ratih menatapnya.

Wulan memeluk kain itu ke dada.

“Anak saya masih hidup.”

Bu Ratih mengangguk pelan.

“Terakhir kali saya melihatnya, dia sehat.”

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Wulan tersenyum sambil menangis.

Kami membawa semua bukti yang diberikan Bu Ratih dan menemui seorang pengacara bantuan hukum yang direkomendasikan teman lama. Ia menyarankan kami tidak bergerak sendiri.

Laporan dibuat ke kepolisian dengan bukti digital yang sudah disalin ke beberapa tempat.

Dua hari kemudian, Klinik Bunga Hati diperiksa.

Namun Dokter Adrian menghilang.

Begitu pula beberapa pegawai.

Laras ditemukan di rumah sakit lain. Dia berhasil meminta bantuan seorang perawat setelah dipindahkan secara paksa dengan alasan administrasi.

Yang paling mengejutkan, Laras ternyata bukan sekadar pegawai klinik.

Kakaknya pernah kehilangan bayi dengan pola yang sama.

Itulah alasan dia bekerja di sana selama hampir dua tahun.

“Saya mencari keponakan saya,” katanya ketika kami bertemu.

“Apakah ketemu?”

Laras menggeleng.

“Tapi saya menemukan Kirana.”

Kalimat itu membuat Wulan langsung menggenggam tangannya.

Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.

Setiap hari terasa seperti menunggu vonis.

Sampai suatu sore, pengacara kami menelepon.

“Kami menemukan pasangan yang mengadopsi Naya.”

Wulan hampir menjatuhkan ponselnya.

“Mereka di mana?”

“Jakarta.”

“Anak saya?”

“Sehat.”

Kami menangis berpelukan di lantai ruang tengah.

Namun masalah belum selesai.

Pasangan yang membesarkan Naya ternyata tidak mengetahui bahwa proses adopsi itu ilegal. Mereka membayar melalui sebuah yayasan dan menerima dokumen yang terlihat sah.

Ketika polisi mendatangi rumah mereka, mereka juga hancur.

Perempuan yang selama tiga tahun dipanggil Mama oleh Kirana bernama Maya.

Dia dan suaminya sudah menunggu anak selama sebelas tahun.

Pertemuan pertama kami dilakukan dengan pendamping psikolog.

Aku melihat Kirana dari balik kaca ruang bermain.

Rambutnya sebahu.

Dia sedang menyusun balok.

Wulan menutup mulut agar tangisnya tidak terdengar.

“Itu anakku.”

Kirana tiba-tiba menoleh.

Aku melihat tanda bulan sabit itu.

Tidak ada lagi keraguan.

Tes DNA kemudian memastikan kecocokan.

99,99 persen.

Kirana adalah putri kami.

Tetapi bagian tersulit justru datang setelah kebenaran terbukti.

Kami tidak bisa begitu saja membawa Kirana pulang.

Bagi Kirana, kami orang asing.

Maya adalah ibunya.

Suaminya adalah ayahnya.

Ketika Wulan pertama kali mencoba mendekat, Kirana bersembunyi di belakang Maya.

“Mama, siapa mereka?”

Wulan membeku.

Aku melihat hatinya hancur untuk kedua kalinya.

Namun Wulan tidak memaksa.

Dia berjongkok beberapa meter dari Kirana.

“Nama Tante Wulan.”

Kirana mengintip.

“Kamu suka menggambar?”

Kirana mengangguk.

“Aku juga.”

Pertemuan berikutnya berlangsung sedikit lebih lama.

Kemudian seminggu sekali.

Lalu dua kali seminggu.

Kami belajar menjadi orang tua bagi anak kami sendiri dari awal.

Maya juga perlahan menerima kenyataan.

Suatu hari dia berkata kepada Wulan, “Saya takut kehilangan dia.”

Wulan menatapnya lama.

“Saya sudah kehilangan dia tiga tahun.”

Maya menangis.

Wulan kemudian menggenggam tangannya.

“Tapi saya tidak mau Kirana kehilangan ibu untuk kedua kalinya.”

Tidak ada seorang pun yang siap mendengar kalimat itu.

Termasuk aku.

Kami akhirnya membuat kesepakatan dengan pendampingan hukum dan psikolog. Hak pengasuhan biologis dikembalikan kepada kami secara bertahap, tetapi Maya dan suaminya tetap menjadi bagian dari kehidupan Kirana.

Sementara itu, kasus Klinik Bunga Hati semakin besar.

Puluhan keluarga datang melapor.

Beberapa anak berhasil ditemukan.

Beberapa belum.

Dokter Adrian akhirnya ditangkap di Surabaya ketika hendak menggunakan identitas palsu untuk pergi ke luar negeri.

Aku datang ke persidangan bersama Wulan.

Untuk pertama kalinya aku melihat orang yang mengatakan putriku meninggal tiga tahun lalu berdiri sebagai terdakwa.

Dia tidak berani menatap kami.

Aku pikir aku akan merasa puas.

Ternyata tidak.

Aku hanya merasa lelah.

Setelah sidang, Laras menghampiriku.

Perutnya sudah jauh lebih besar.

“Pak Bayu.”

Aku tersenyum.

“Kapan perkiraannya?”

“Dua minggu lagi.”

Kemudian dia menyerahkan sebuah amplop.

“Apa ini?”

“Dokumen terakhir yang saya temukan.”

Aku membukanya.

Ada salinan formulir persalinan Kirana.

Di bagian bawah terdapat tanda tangan seseorang yang menyetujui pemindahan bayi.

Aku membaca namanya.

Tubuhku membeku.

Wulan melihat wajahku.

“Mas?”

Aku menyerahkan kertas itu.

Tanda tangan itu bukan milik dokter.

Bukan milik pegawai klinik.

Nama yang tercetak di bawahnya adalah ayah Wulan.

Bambang Prameswari.

Wulan pucat.

“Ayah?”

Ayah mertuaku meninggal setahun setelah Kirana dinyatakan meninggal.

Kami kemudian menemukan rekaman transaksi lama.

Saat itu keluarga Wulan terlilit utang besar yang tidak pernah kami ketahui. Klinik menawarkan uang dengan dalih bahwa Kirana mengalami penyakit berat dan kemungkinan hidupnya kecil.

Bambang menandatangani dokumen tanpa sepengetahuan kami.

Dia menerima tiga puluh juta rupiah.

Namun jaringan itu kemudian menjual identitas Kirana dengan nilai berkali-kali lipat.

Wulan tidak bicara selama berhari-hari.

Kebenaran yang kami cari ternyata memiliki lapisan yang lebih menyakitkan daripada kebohongan.

Beberapa bulan kemudian, Kirana akhirnya tidur untuk pertama kalinya di rumah kami.

Kamar kecil yang selama tiga tahun dibiarkan kosong kini penuh gambar dan mainan.

Malam itu aku melewati pintunya dan mendengar suara Wulan.

Dia sedang menyanyikan lagu tidur yang sama.

Lagu yang selama tiga tahun dinyanyikannya di depan foto kosong.

Bedanya, kali ini ada suara kecil yang menyela.

“Mama, jangan berhenti.”

Aku berdiri di ambang pintu.

Wulan menoleh kepadaku dengan mata basah.

Kirana kemudian mengangkat tangannya.

“Ayah, sini.”

Aku masuk dan berbaring di samping mereka.

Untuk beberapa saat, tidak ada masa lalu.

Tidak ada klinik.

Tidak ada persidangan.

Tidak ada gelang bayi.

Hanya kami bertiga.

Aku pernah berpikir keajaiban terbesar dalam hidupku adalah menemukan bahwa anakku ternyata masih hidup.

Aku salah.

Keajaiban terbesar adalah mengetahui bahwa setelah kebohongan, kehilangan, dan tiga tahun yang dirampas dari kami, seorang anak kecil masih mampu membuka tangannya dan memberi kami kesempatan menjadi keluarganya lagi.

Dan sejak malam itu, Wulan tidak pernah lagi menyanyikan lagu tidur di depan foto kosong.

Karena Kirana akhirnya pulang untuk mendengarnya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang