SUAMI SAYA MENINGGALKAN CATATAN KEJAM: “URUSI NENEK TUA ITU!” LALU PERGI BERSAMA SELINGKUHANNYA DAN IBU MERTUA SAYA. NAMUN, SAAT SAYA MASUK KE KAMAR WANITA TUA ITU, DIA TIBA-TIBA MENCENGKERAM PERGELANGAN TANGAN SAYA DAN MENGUNGKAP SEBUAH RAHASIA YANG BISA MENGHANCURKAN SELURUH KELUARGANYA.

Aku masih menatap layar monitor ketika suara Budi dalam rekaman itu terdengar lagi.

“Kalau Nenek mati saat cuma ada Rina di rumah, kita tinggal bilang dia salah kasih obat. Dia perawat. Polisi pasti curiga sama dia dulu.”

Tawa Bu Karmila menyusul.

Tawa pendek, ringan, seolah mereka sedang membicarakan cara membuang sampah, bukan nyawa seseorang.

Tanganku langsung dingin.

Selama lima tahun aku hidup bersama laki-laki itu. Tidur di sampingnya. Memasakkan makanan untuknya. Membayar kebutuhannya. Bahkan ketika tabunganku terkuras, aku masih membela Budi di depan teman-temanku.

Aku selalu berkata dia hanya sedang mengalami masa sulit.

Ternyata aku salah.

Budi bukan sedang mengalami masa sulit.

Dia memang memilih menjadi manusia seperti itu.

“Nenek sudah tahu rencana mereka sejak kapan?” tanyaku dengan suara hampir tak terdengar.

“Dua minggu lalu.”

“Kenapa Nenek tetap membiarkan mereka pergi?”

Nenek Suminah menatapku lama.

“Karena kalau aku menghentikan mereka sebelum malam ini, kau mungkin masih akan memaafkan Budi.”

Aku tercekat.

Kalimat itu menyakitkan karena benar.

Entah berapa kali aku menemukan pesan-pesan mencurigakan di ponsel Budi. Entah berapa kali uang rumah tangga hilang tanpa penjelasan. Setiap kali aku memergokinya berbohong, dia akan menangis, memelukku, lalu berjanji berubah.

Dan setiap kali itu pula aku memaafkan.

Nenek mematikan layar.

“Sekarang kau sudah melihat siapa dia sebenarnya.”

Aku menunduk.

“Aku bodoh.”

“Tidak.”

Suara Nenek tenang.

“Kau hanya terlalu lama menganggap kesabaran sebagai kewajiban.”

Aku menatap perempuan tua itu.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya tidak terlihat seperti seseorang yang sedang merencanakan balas dendam.

Dia terlihat lelah.

Sangat lelah.

“Aku juga pernah seperti kau,” katanya.

Aku terdiam.

Nenek menarik napas perlahan.

“Suamiku dulu laki-laki yang keras. Setelah dia meninggal, anakku satu-satunya, ayah Budi, mengambil alih usaha keluarga. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja. Tapi kemudian dia menikahi Karmila.”

Aku baru tahu Bu Karmila bukan anak kandung Nenek.

Selama ini Budi selalu mengatakan rumah, tanah, dan segala peninggalan keluarga berasal dari pihak ibunya.

“Setelah anakku meninggal dua belas tahun lalu, Karmila mulai memperlakukan semua yang kumiliki seperti warisan yang tinggal menunggu waktu. Dia pikir aku tidak tahu.”

Nenek tersenyum pahit.

“Aku tahu semuanya.”

“Kalau begitu, kenapa Nenek tinggal di rumah ini?”

“Karena aku ingin melihat sampai sejauh mana keserakahan bisa mengubah manusia.”

Aku melirik dokumen di pangkuanku.

Jumlah aset di dalamnya membuat kepalaku pening. Ada beberapa ruko di Jakarta, sebidang tanah luas di Bogor, saham perusahaan distribusi alat kesehatan, dan rekening investasi dengan angka yang bahkan sulit kubaca sekali lihat.

“Tapi kenapa harus pura-pura sakit selama tiga tahun?”

Wajah Nenek berubah muram.

“Tiga tahun lalu aku mendengar Karmila dan Budi membicarakan surat warisan.”

Dia berhenti sejenak.

“Mereka sedang menghitung berapa banyak yang akan mereka dapat kalau aku meninggal.”

Aku merinding.

“Waktu itu aku belum berniat melakukan semua ini. Tapi dua hari kemudian, aku jatuh di kamar mandi setelah minum susu yang dibuat Karmila.”

Aku langsung menatapnya.

“Nenek diracun?”

“Aku tidak bisa membuktikannya. Hasil pemeriksaan hanya menunjukkan tekanan darahku turun drastis. Setelah itu aku berpikir, kalau mereka ingin melihatku lemah, akan kuberikan apa yang mereka mau.”

Sejak saat itu, dengan bantuan dokter pribadinya dan seorang pengacara lama bernama Pak Surya, Nenek menciptakan sandiwara.

Dia berpura-pura mengalami gangguan saraf berat. Di depan Budi dan Bu Karmila, tangannya selalu bergetar. Cara bicaranya dibuat tidak jelas. Dia jarang berdiri dan sengaja terlihat semakin kurus.

Namun diam-diam, setiap beberapa minggu Pak Surya datang melalui pintu belakang saat rumah kosong.

Kamera dipasang satu per satu.

Semua transaksi dicatat.

Semua percakapan penting disimpan.

“Tapi ada sesuatu yang tidak pernah kuduga,” kata Nenek.

“Apa?”

“Kau.”

Aku mengerutkan kening.

“Awalnya kupikir kau sama saja. Menikah dengan Budi karena mengincar sesuatu.”

Aku hampir tertawa pahit.

“Kalau saya mengincar uang, saya salah pilih keluarga.”

Untuk pertama kalinya Nenek tersenyum.

“Itulah yang akhirnya kusadari.”

Dia bercerita tentang malam saat aku pulang dari rumah sakit setelah bekerja enam belas jam, lalu tetap membersihkan tubuhnya dan mengganti seprai karena Bu Karmila mengaku sakit kepala.

Tentang hari ketika gajiku belum masuk dan aku menjual gelang kecil pemberian ibuku demi membeli obat yang sebenarnya tidak pernah dia butuhkan.

Tentang bagaimana aku sering menyelipkan buah potong di samping tempat tidurnya karena takut dia kurang makan.

“Aku melihat semua itu,” katanya.

Air mataku mulai menggenang.

“Kenapa Nenek tidak pernah mengatakan apa-apa?”

“Karena aku harus yakin kebaikanmu tidak muncul karena kau tahu siapa aku.”

Malam semakin larut.

Namun kantukku hilang.

Sebagai gantinya, ada sesuatu yang pelan-pelan tumbuh di dalam dada.

Bukan kemarahan.

Melainkan keberanian.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang?”

Nenek menatapku.

“Kita tidak akan melakukan apa-apa malam ini.”

Aku terkejut.

“Bukankah Nenek bilang ingin menghancurkan mereka?”

“Aku tidak mengatakan kita harus terburu-buru.”

Dia mengambil ponsel lama dari kotak logam dan menelepon seseorang.

“Surya, waktunya sudah tiba.”

Hanya itu yang dia katakan.

Sekitar empat puluh menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun turun membawa tas kerja. Namanya Surya Pranoto. Dia memperkenalkan diri sebagai pengacara Nenek selama hampir tiga puluh tahun.

Pak Surya mendengarkan ceritaku tanpa banyak bicara.

Kemudian dia membuka laptop.

“Bu Rina, saya perlu menunjukkan sesuatu.”

Dia memperlihatkan daftar transfer bank.

Selama hampir empat tahun, Budi secara rutin memindahkan uang dari rekeningku ke beberapa rekening lain.

Sebagian menuju rekening pribadinya.

Sebagian ke Bu Karmila.

Sebagian lagi ke seorang perempuan bernama Maya Anindita.

Nama yang sama muncul berkali-kali.

Aku mengenali wajahnya dari kamera.

Selingkuhan Budi.

“Totalnya?” tanyaku.

Pak Surya diam sejenak.

“Hampir enam ratus juta rupiah.”

Aku merasa ruangan berputar.

Enam ratus juta.

Aku bekerja shift malam, lembur pada hari libur, menunda membeli pakaian, bahkan jarang pulang menemui ibuku di Semarang karena selalu merasa tidak punya cukup uang.

Ternyata uangku bukan habis untuk keluarga.

Uang itu membiayai kehidupan lain milik suamiku.

“Ada satu lagi,” kata Pak Surya.

Dia membuka dokumen berbeda.

Ternyata beberapa bulan terakhir Budi mencoba mengajukan pinjaman menggunakan data pribadiku.

Tanda tanganku dipalsukan.

Slip gajiku disalin.

Bahkan fotokopi KTP-ku digunakan tanpa izin.

Aku menatap layar tanpa mampu menangis lagi.

Ada titik ketika rasa sakit terlalu besar sampai tubuh tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Apa saya bisa melaporkan semua ini?”

“Bisa,” jawab Pak Surya. “Dan sebaiknya dilakukan dengan bukti yang lengkap.”

Nenek menyela.

“Belum.”

Aku menatapnya.

“Aku ingin Budi pulang lebih dulu.”

Tiga hari kemudian, aku tetap pergi bekerja seperti biasa.

Bu Karmila beberapa kali mengirim pesan, memerintahkanku memastikan Nenek makan dan menyuruhku membeli popok baru.

Budi bahkan sempat mengirim foto pantai.

Dalam foto itu hanya terlihat dia, ibunya, dan sebagian tangan seorang perempuan di sebelahnya.

Pesannya singkat.

Jangan ganggu. Lagi refreshing.

Aku hanya membalas satu kata.

Baik.

Mereka tidak tahu selama tiga hari itu Pak Surya telah memindahkan Nenek ke apartemen miliknya di Jakarta Selatan.

Mereka juga tidak tahu kamera rumah masih merekam.

Aku sengaja tetap tinggal di kontrakan seolah tidak terjadi apa-apa.

Pada malam keempat, suara mobil berhenti di depan rumah.

Aku sedang duduk di ruang tamu.

Pintu terbuka.

Bu Karmila masuk lebih dulu membawa koper dan tas belanja bermerek.

Budi mengikuti di belakang.

Kemudian Maya muncul.

Aku menatap mereka.

Tidak ada lagi usaha menyembunyikan perselingkuhan.

Maya bahkan mengenakan jaket milik Budi.

Bu Karmila terlihat kaget melihatku duduk sendirian.

“Nenek mana?”

Aku meletakkan cangkir teh.

“Tidak ada.”

Wajahnya langsung berubah.

“Maksudmu tidak ada?”

Budi melempar koper.

“Kamu apakan Nenek?”

Aku menatapnya tenang.

“Aneh. Kalian meninggalkan perempuan berusia delapan puluh dua tahun selama empat belas jam, tapi sekarang bertanya saya apakan dia?”

Budi mendekat.

“Jangan main-main, Rina.”

Maya berdiri di belakangnya sambil memainkan ponsel, seolah pertengkaran rumah tangga kami hanyalah tontonan.

Aku menatap perempuan itu.

“Kamu Maya?”

Dia sedikit tersentak.

Budi berhenti.

“Dari mana kamu tahu namanya?”

Aku tidak menjawab.

Bu Karmila mulai panik.

“Budi, cek kamar Nenek.”

Budi berlari ke belakang.

Beberapa detik kemudian terdengar teriakannya.

“Ibu!”

Mereka semua menuju kamar.

Aku mengikuti dengan langkah pelan.

Begitu masuk, mereka membeku.

Lemari jati sudah digeser.

Dinding palsu terbuka.

Empat monitor menyala.

Di layar pertama sedang diputar rekaman Budi mencium Maya.

Di layar kedua terlihat Bu Karmila mengambil uang dari tasku.

Di layar ketiga ada percakapan tentang rencana menjadikanku kambing hitam.

Wajah Budi pucat seperti mayat.

“Apa ini?”

Lalu sebuah suara terdengar dari pintu.

“Ini warisan kalian.”

Semua menoleh.

Nenek Suminah berdiri di sana.

Bukan di kursi roda.

Bukan dengan tubuh membungkuk.

Dia berdiri tegak mengenakan blus sederhana, ditemani Pak Surya dan dua orang lain yang tidak kukenal.

Bu Karmila sampai mundur menabrak dinding.

“Ibu?”

Nenek menatapnya dingin.

“Kecewa aku belum mati?”

Bibir Bu Karmila bergetar.

“Ini… ini tidak mungkin.”

Budi terlihat seperti kehilangan kemampuan bicara.

“Nenek bisa jalan?”

“Aku bisa lebih banyak daripada yang kalian kira.”

Maya tiba-tiba menarik tangan Budi.

“Kamu bilang nenekmu sudah pikun.”

Ruangan langsung sunyi.

Nenek tertawa kecil.

“Jadi ini perempuan yang menghabiskan uang Rina?”

Maya melepaskan tangan Budi.

“Saya tidak tahu apa-apa tentang uang dia.”

Aku mengeluarkan beberapa lembar bukti transfer.

“Rekening atas nama Maya Anindita. Mau lihat?”

Wajah Maya berubah.

Dia langsung menatap Budi.

“Kamu bilang itu uang bisnis.”

Budi mencoba meraih dokumen itu, tetapi salah satu pria yang datang bersama Pak Surya berdiri di depannya.

Pak Surya memperkenalkan mereka sebagai penyidik yang telah menerima laporan awal terkait dugaan pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan data pribadiku.

Untuk pertama kalinya aku melihat Budi benar-benar takut.

Dia menoleh kepadaku.

“Rina, dengar dulu.”

Aku hampir tertawa.

Lima tahun aku yang selalu diminta mendengar.

Sekarang dia ingin giliran bicara.

“Tidak ada lagi yang perlu saya dengar.”

Budi tiba-tiba berlutut.

Aku terkejut.

“Rina, aku salah. Aku memang salah. Tapi kita bisa selesaikan ini sebagai suami istri.”

Bu Karmila langsung ikut bicara.

“Benar. Jangan rusak keluarga hanya karena emosi.”

Aku menatap mereka berdua.

“Keluarga?”

Aku menunjuk layar.

“Kalian merencanakan kematian Nenek dan ingin menjadikan saya tersangka. Bagian mana dari itu yang kalian sebut keluarga?”

Bu Karmila kehilangan kendali.

Dia menunjuk Nenek.

“Semua ini gara-gara perempuan tua itu! Dia mempermainkan kita bertahun-tahun!”

Tatapan Nenek berubah.

“Tidak, Karmila. Aku tidak pernah memaksamu mencuri. Tidak pernah menyuruh anakmu berselingkuh. Tidak pernah memintamu merencanakan kematianku.”

Bu Karmila terdiam.

“Kalian hanya menunjukkan siapa diri kalian saat mengira tidak ada yang melihat.”

Kalimat itu membuat ruangan benar-benar sunyi.

Kemudian Nenek mengambil satu amplop dari tangan Pak Surya.

“Ada satu hal lagi.”

Budi menatap amplop itu.

“Surat warisan?”

Matanya berubah.

Aku melihatnya.

Bahkan dalam keadaan seperti ini, pikirannya masih menuju uang.

Nenek juga menyadarinya.

Dia tersenyum pahit.

“Ya. Surat warisan.”

Budi langsung berdiri.

“Nenek, saya cucu Nenek satu-satunya.”

“Secara biologis, benar.”

Nenek membuka dokumen.

“Tapi menjadi keluarga tidak hanya soal darah.”

Dia mengatakan surat warisan lama telah dicabut enam bulan sebelumnya.

Bu Karmila tidak mendapatkan apa pun.

Budi tidak mendapatkan rumah, tanah, saham, maupun uang.

Semua aset perusahaan akan dimasukkan ke yayasan yang membiayai perawatan lansia telantar dan beasiswa pendidikan tenaga kesehatan.

Aku mengira itu akhir kejutan.

Ternyata belum.

“Ada satu aset pribadi yang tidak masuk yayasan,” kata Nenek.

Dia menatapku.

Aku langsung menggeleng.

“Nenek, jangan.”

“Dengarkan dulu.”

Rumah tempat kami berdiri, beserta satu apartemen kecil di Jakarta Selatan dan dana pendidikan tertentu, telah dialihkan atas namaku melalui skema hibah yang disiapkan secara sah.

Budi menatapku dengan wajah penuh kebencian.

“Jadi kamu sudah kerja sama sama dia?”

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diriku akhirnya putus.

Aku mendekatinya.

“Tidak. Saya bahkan baru tahu tiga hari lalu.”

“Bohong!”

“Kalau dari awal saya tahu keluarga kamu punya uang, menurut kamu saya akan kerja sampai hampir pingsan untuk membayar kontrakan palsu?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengeluarkan cincin pernikahan dari jariku.

Lima tahun.

Cincin itu pernah menjadi benda paling berharga yang kumiliki.

Malam itu, beratnya terasa seperti sampah logam.

Aku meletakkannya di atas meja.

“Saya akan mengajukan perceraian.”

Budi langsung berubah panik.

“Rina.”

“Dan semua uang saya yang kamu ambil akan saya tuntut.”

Maya sudah bergerak menuju pintu.

Budi melihatnya.

“Maya, tunggu.”

Perempuan itu menoleh dengan wajah jijik.

“Kamu menipu istrimu, menipu aku, dan mau membunuh nenekmu demi warisan. Jangan pernah cari aku lagi.”

Dia pergi tanpa menoleh.

Ironisnya, saat itu aku hampir ingin tertawa.

Budi kehilangan istri dan selingkuhannya dalam malam yang sama.

Beberapa bulan berikutnya tidak mudah.

Perceraian berjalan.

Penyelidikan terhadap pemalsuan dokumen berlanjut.

Beberapa transaksi berhasil dibekukan dan sebagian uangku akhirnya kembali.

Bu Karmila pindah dari rumah itu setelah Nenek secara resmi mencabut izin tinggalnya.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, rumah itu benar-benar sunyi.

Tetapi bukan kesunyian yang menakutkan.

Kesunyian yang damai.

Aku tidak berhenti bekerja sebagai perawat.

Banyak orang bertanya kenapa aku masih bekerja setelah mendapat rumah dan bantuan dari Nenek.

Jawabannya sederhana.

Karena pekerjaanku bukan hukuman.

Aku mencintainya.

Yang membuatku menderita bukan pekerjaan, melainkan orang-orang yang memanfaatkan rasa tanggung jawabku.

Nenek kemudian mendirikan sebuah yayasan kecil.

Aku membantunya mengembangkan program perawatan lansia yang tinggal sendirian.

Setahun kemudian, pada suatu sore, kami duduk bersama di teras.

Nenek sudah tidak berpura-pura sakit lagi. Rambutnya tetap putih, tubuhnya tetap renta, tetapi tawanya jauh lebih hidup.

Aku membuatkan teh.

“Nek,” kataku, “saya masih sering berpikir. Kalau malam itu Budi tidak meninggalkan catatan, mungkin saya tidak akan masuk kamar Nenek secepat itu.”

Nenek tertawa.

“Catatan itu memang kejam.”

Aku tersenyum.

“Tapi justru menyelamatkan saya.”

Nenek menatap halaman.

“Kadang orang yang ingin menjatuhkan kita justru membuka pintu keluar tanpa sadar.”

Aku mengangguk.

Ponselku berbunyi.

Ada pesan dari nomor tidak dikenal.

Aku membukanya.

Budi.

Sudah hampir setahun aku tidak mendengar kabarnya.

Pesannya hanya satu kalimat.

Rina, aku sudah kehilangan semuanya. Aku cuma ingin tahu, pernahkah kamu benar-benar mencintaiku?

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Dulu, pesan seperti itu mungkin akan menghancurkanku.

Sekarang tidak.

Aku mengetik balasan.

Pernah. Itu sebabnya saya bertahan terlalu lama.

Aku menekan kirim.

Lalu memblokir nomornya.

Nenek melirikku.

“Siapa?”

“Masa lalu.”

Aku meletakkan ponsel.

Saat matahari perlahan turun di balik atap rumah-rumah Jakarta, aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku.

Kesetiaan tidak berarti membiarkan diri diperlakukan semena-mena.

Kesabaran bukan izin bagi orang lain untuk terus menyakiti kita.

Dan keluarga bukan mereka yang sekadar memiliki hubungan darah atau surat pernikahan.

Keluarga adalah orang yang tetap melihat kita sebagai manusia ketika kita tidak punya apa pun untuk diberikan.

Aku kira malam ketika Budi meninggalkanku bersama seorang nenek tua adalah malam terburuk dalam hidupku.

Ternyata aku salah.

Itulah malam ketika untuk pertama kalinya setelah lima tahun, hidupku benar-benar kembali menjadi milikku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang