Pacarku Menggunakan Tiket Konserku untuk Membawa Mahasiswi Juniornya Masuk, Lalu Menyuruhku Bersikap Dewasa

Aku menatap punggung Sari yang menghilang ke ruang kerja, lalu menoleh kepada Rangga.

Aneh sekali. Selama tiga tahun tinggal bersama, aku selalu mengira rumah ini adalah milik kami berdua. Namun malam itu aku baru sadar, mungkin hanya aku yang menganggapnya demikian.

Aku yang mencari kontrakan ini. Aku yang membayar uang muka dan sewa tahunan karena saat itu beasiswa penelitian Rangga terlambat cair. Aku yang memilih meja makan, memasang tirai, membeli rak sepatu, bahkan mengingat kapan tabung gas harus diganti.

Rangga hanya datang dan tinggal.

Seperti malam ini, ketika dia membawa perempuan lain pulang tanpa merasa perlu bertanya apakah aku keberatan.

“Nia.”

Nada suaranya mulai terdengar tidak sabar.

“Kita bicara baik-baik. Jangan mengambil keputusan besar hanya karena masalah tiket.”

Aku tersenyum tipis.

“Menurutmu aku pergi karena tiket?”

“Lalu karena apa?”

Aku belum sempat menjawab ketika Sari keluar dari ruang kerja sambil membawa buku catatan hijau.

“Kak, yang ini?”

“Iya.”

Sari membuka beberapa halaman, kemudian wajahnya berubah.

“Kak Rangga, ini ada catatan penelitian Kak Nia juga.”

Aku langsung menoleh.

Buku hijau itu memang kubeli untuk Rangga dua tahun lalu. Namun beberapa bulan terakhir, aku menggunakan halaman belakangnya untuk mencatat hasil eksperimenku sendiri karena buku catatanku tertinggal di kampus.

“Tidak apa-apa,” kata Rangga santai. “Kalian satu bidang. Siapa tahu berguna buat presentasimu.”

Aku meletakkan gelas di meja.

“Jangan.”

Sari berhenti membalik halaman.

Aku berjalan mendekatinya dan mengambil buku itu dari tangannya.

“Itu data penelitianku yang belum dipublikasikan.”

Wajah Sari memerah.

“Aku tidak tahu, Kak.”

“Aku tahu kamu tidak tahu.”

Aku menatap Rangga.

“Tapi dia tahu.”

Rangga mengembuskan napas panjang.

“Nia, jangan dibesar-besarkan. Aku cuma mau membantu junior.”

Kalimat itu terdengar sangat familiar.

Membantu junior.

Karena membantu junior, Rangga menjemput Sari ketika hujan.

Karena membantu junior, dia menemani Sari makan malam setelah lembur.

Karena membantu junior, dia membelikan obat ketika Sari sakit.

Dan malam ini, karena membantu junior, dia menggunakan tiket konserku, memberikan kursiku, lightstick milikku, lalu membawanya pulang ke rumah yang kusewa.

Aku tiba-tiba merasa sangat lelah.

“Sari, kamu pulang saja.”

Sari menggigit bibir.

“Tapi presentasiku…”

“Aku akan memotret halaman yang memang milik Rangga dan mengirimkannya kepadamu. Data milikku tidak boleh keluar dari rumah ini.”

Dia mengangguk cepat.

Rangga langsung berdiri.

“Sudah malam. Aku antar dia.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Mungkin diamku dianggap izin karena beberapa menit kemudian mereka benar-benar pergi bersama.

Pintu tertutup.

Rumah menjadi sunyi.

Aku kembali ke kamar dan melanjutkan berkemas.

Tiga tahun hubungan kami ternyata bisa dimasukkan ke dalam dua koper besar dan satu kardus.

Aku tidak membawa sofa, televisi, meja makan, atau rak buku. Semua itu kubeli, tetapi aku tidak menginginkannya lagi.

Aku hanya mengambil barang-barang yang benar-benar penting.

Dokumen.

Pakaian.

Laptop.

Beberapa buku.

Dan sebuah kotak kecil berisi tiket konser pertama yang pernah kudatangi bersama Rangga.

Aku menatapnya sebentar, kemudian memasukkannya ke tempat sampah.

Rangga pulang hampir pukul dua pagi.

Dia membuka pintu kamar dan mendapati separuh lemari sudah kosong.

“Nia, serius?”

Aku melipat pakaian tanpa menoleh.

“Besok petugas pengelola datang pukul sembilan.”

“Terus aku tinggal di mana?”

Tanganku berhenti.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku benar-benar menatapnya.

Pertanyaan itu luar biasa.

Bukan kenapa aku pergi.

Bukan apakah hubungan kami masih bisa diselamatkan.

Tetapi dia tinggal di mana.

“Cari kontrakan.”

Wajahnya mengeras.

“Aku kira kita pasangan.”

“Aku juga dulu berpikir begitu.”

“Nia, aku cuma memberikan tiketmu kepada Sari karena dia panik. Kamu selalu lebih fleksibel.”

“Karena aku selalu mengalah.”

“Itu namanya dewasa.”

Aku tertawa kecil.

“Tidak, Rangga. Itu namanya kamu terbiasa mendapatkan apa yang kamu mau dariku.”

Dia terdiam.

Aku mengambil lightstick dari tas dan meletakkannya di meja.

Ada goresan kecil di permukaannya.

“Ini juga kamu berikan kepadanya tanpa bertanya.”

“Itu cuma lightstick.”

“Benar.”

Aku mengangguk.

“Cuma lightstick. Cuma tiket. Cuma kursi. Cuma sedotan yang kalian pakai bergantian. Cuma mengantar dia pulang. Cuma membawa dia ke rumah tengah malam. Selalu cuma hal kecil.”

Rangga membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

“Masalahnya,” lanjutku, “kalau semua hal kecil itu dikumpulkan, aku tidak tahu lagi di mana posisiku.”

Dia duduk di tepi ranjang.

Untuk sesaat wajahnya terlihat benar-benar panik.

“Nia, aku tidak selingkuh.”

“Aku tidak bilang kamu selingkuh.”

“Lalu?”

“Aku bilang kamu tidak menghormatiku.”

Kalimat itu membuat kamar mendadak sunyi.

Aku menutup koper.

“Dan aku tidak membutuhkan bukti perselingkuhan untuk meninggalkan hubungan yang membuatku terus merasa seperti pilihan kedua.”

Pagi berikutnya, petugas pengelola datang tepat pukul sembilan.

Rangga belum tidur. Dia duduk di ruang tamu dengan rambut berantakan, sementara aku menandatangani formulir serah terima.

Petugas menyerahkan amplop berisi sisa uang deposit.

“Karena kondisi rumah baik, deposit dikembalikan penuh.”

Rangga menatap amplop itu.

“Maksudnya kontrakan ini atas nama kamu?”

Petugas terlihat bingung.

“Iya, Pak. Sejak awal atas nama Mbak Nia.”

Aku memasukkan amplop ke tas.

Rangga mengikutiku sampai depan rumah.

“Nia, kita perlu bicara.”

“Aku sudah bicara semalam.”

“Kamu mau tinggal di mana?”

“Sudah ada tempat.”

“Dengan siapa?”

Aku menatapnya.

Dia tampak tersinggung seolah aku melakukan sesuatu yang salah.

“Sendiri.”

Wajahnya sedikit melunak.

“Nanti setelah kamu tenang, kita bicara lagi.”

Aku tidak menjawab.

Mobil sewaan datang beberapa menit kemudian. Sopir membantu memasukkan koperku.

Sebelum aku naik, Rangga memegang pintu mobil.

“Nia.”

Aku menoleh.

“Aku sayang kamu.”

Dulu kalimat itu mungkin cukup membuatku bertahan.

Sekarang tidak.

“Kalau begitu, seharusnya kamu belajar bahwa menyayangi seseorang dan menghargainya adalah dua hal yang berbeda.”

Aku menutup pintu.

Apartemen baruku jauh lebih kecil.

Hanya satu kamar dengan balkon sempit yang menghadap jalan raya. Suara kendaraan terdengar sampai malam, dan dapurnya bahkan tidak cukup luas untuk dua orang berdiri berdampingan.

Namun malam pertama di sana, aku tidur lebih nyenyak daripada beberapa bulan terakhir.

Rangga mengirim puluhan pesan.

Awalnya meminta maaf.

Kemudian menjelaskan.

Setelah itu menyalahkanku.

Katanya aku terlalu sensitif.

Katanya aku mempermalukannya.

Katanya teman-teman laboratorium bertanya kenapa dia tiba-tiba mencari kos.

Aku tidak membalas.

Tiga hari kemudian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Dosen pembimbingku, Bu Ratih, memanggilku ke kampus.

Begitu masuk ruangannya, aku melihat beberapa lembar dokumen di meja.

“Nia, duduk.”

Nada suaranya membuat perutku terasa dingin.

“Ada masalah?”

Bu Ratih mendorong satu lembar presentasi ke arahku.

Namaku tidak tertulis di sana.

Nama Sari ada di halaman pertama.

Namun grafik pada halaman ketujuh membuat tanganku membeku.

Aku mengenalnya.

Itu grafik hasil eksperimenku.

Bahkan kesalahan kecil pada label sumbu yang belum sempat kuperbaiki masih ada.

“Dari mana Ibu mendapat ini?”

“Sari mengirim draf presentasinya kepada saya tadi malam untuk meminta masukan.”

Aku menatap halaman-halaman berikutnya.

Tiga tabel.

Dua diagram.

Satu rangkaian analisis.

Semuanya berasal dari catatanku.

Buku hijau.

“Dia memotret buku saya.”

Bu Ratih melepas kacamatanya.

“Kamu yakin?”

“Yakin.”

Aku mengeluarkan laptop dan membuka berkas asli lengkap dengan riwayat penyimpanan.

Bu Ratih membandingkannya satu per satu.

Wajahnya semakin serius.

“Kamu jangan menghubungi siapa pun dulu.”

Namun ternyata aku tidak perlu melakukannya.

Sore itu, Rangga menelepon.

Aku membiarkannya berdering tiga kali sebelum menjawab.

“Nia, kamu bicara apa ke Bu Ratih?”

“Aku belum bicara apa-apa.”

“Sari dipanggil.”

“Bagus.”

“Nia, dengarkan dulu. Dia cuma mengambil beberapa data sebagai referensi.”

“Tanpa izin?”

“Dia panik karena sidang.”

Aku memejamkan mata.

Bahkan sekarang dia masih membelanya.

“Rangga, dari mana Sari tahu halaman mana yang harus dipotret?”

Dia diam.

Dan saat itulah aku memahami sesuatu.

“Rangga.”

Tidak ada jawaban.

“Kamu yang memberitahunya?”

“Nia…”

Dadaku terasa dingin.

“Jawab.”

“Aku cuma bilang ada beberapa hasil yang mungkin bisa membantunya membuat pembanding.”

Aku tidak langsung marah.

Justru seluruh emosiku seperti menghilang.

“Jadi ketika dia mengambil buku itu malam itu, kamu sudah tahu?”

“Aku tidak menyuruhnya mencuri data.”

“Tapi kamu memberitahunya bahwa dataku ada di sana.”

“Nia, dia mahasiswa tingkat akhir. Kalau sidangnya gagal, dia harus menunda kelulusan.”

“Dan kalau penelitianku bocor sebelum publikasi?”

Rangga terdiam.

Aku tertawa pendek.

Akhirnya semuanya menjadi sangat jelas.

Tiket konser bukan masalah terbesar.

Tiket itu hanya pertama kalinya aku melihat pola yang selama ini tidak ingin kuakui.

Apa pun yang kumiliki selalu dianggap Rangga tersedia untuk digunakan selama menurutnya ada orang lain yang lebih membutuhkan.

Waktuku.

Uangku.

Rumahku.

Barang-barangku.

Bahkan pekerjaanku.

“Nia, tolong jangan memperbesar masalah ini.”

“Aku tidak akan melakukan apa pun.”

Dia terdengar lega.

Namun aku melanjutkan.

“Bu Ratih yang akan menanganinya.”

“Nia!”

Aku memutus sambungan.

Investigasi internal berlangsung hampir dua minggu.

Sari akhirnya mengakui bahwa dia memotret beberapa halaman buku hijau malam setelah konser. Namun pengakuan yang paling mengejutkan bukan itu.

Dia menunjukkan percakapan dengan Rangga.

Rangga telah mengirim pesan sehari sebelum konser.

“Kalau data analisismu belum cukup, lihat catatan Nia. Dia punya hasil yang cocok untuk pembanding.”

Ada pesan lain.

“Nanti aku bantu cari kesempatan supaya kamu bisa lihat bukunya.”

Konser ternyata menjadi kesempatan itu.

Sari datang bukan hanya karena ingin menonton.

Rangga memang sudah berencana membawanya pulang setelah konser untuk menyelesaikan presentasi.

Aku membaca tangkapan layar itu di ruang Bu Ratih tanpa menangis.

Anehnya, yang kurasakan justru lega.

Untuk pertama kalinya aku tidak perlu mempertanyakan apakah perasaanku berlebihan.

Sari mendapat sanksi akademik dan sidangnya ditunda sampai dia menyerahkan penelitian yang benar-benar dikerjakan sendiri.

Rangga kehilangan posisi sebagai asisten proyek karena dianggap melanggar etika penelitian.

Seminggu kemudian dia menungguku di depan gedung laboratorium.

Wajahnya jauh lebih kurus.

“Nia.”

Aku berhenti.

“Aku kehilangan proyek.”

“Aku dengar.”

“Kamu puas?”

Aku memandangnya beberapa detik.

“Tidak.”

“Kalau kamu membelaku sedikit saja, mungkin tidak akan separah ini.”

Aku hampir tertawa.

Bahkan setelah semuanya terjadi, dia masih menganggap tugasku adalah menyelamatkannya.

“Rangga, kamu tahu apa yang paling menyedihkan?”

Dia diam.

“Selama tiga tahun, aku pikir aku sedang membangun masa depan denganmu. Ternyata aku cuma membuat hidupmu nyaman.”

Wajahnya berubah.

“Aku pernah mencintaimu.”

“Pernah?”

“Ya.”

Aku mengangguk perlahan.

“Dan mungkin itu sebabnya aku terlalu lama memaafkan hal-hal yang sebenarnya tidak pantas dimaafkan.”

Aku berjalan melewatinya.

“Nia.”

Aku berhenti sekali lagi.

“Kalau malam konser itu aku tidak memberikan tiketmu kepada Sari, apakah kita masih bersama?”

Pertanyaannya membuatku tersenyum.

“Mungkin.”

Rangga terlihat semakin terpukul.

“Tapi itu bukan berarti tiket itu menghancurkan hubungan kita.”

Aku menatapnya untuk terakhir kali.

“Tiket itu cuma membuatku melihat hubungan kita dengan jelas.”

Enam bulan kemudian, makalah penelitianku diterima di sebuah jurnal internasional.

Pada hari pengumuman, Bu Ratih memberiku sebuah amplop.

Di dalamnya ada tiket konser.

Grup yang sama akan kembali ke Jakarta untuk pertunjukan tambahan.

Baris kedua.

“Ada sponsor kampus yang memberi beberapa tiket,” katanya. “Saya ingat kamu pernah bilang gagal menikmati konser mereka.”

Aku tertawa.

Malam konser itu aku datang sendirian.

Aku membeli lightstick baru.

Bukan edisi langka.

Bukan barang mahal.

Hanya lightstick biasa yang kubeli di stan resmi.

Ketika lampu arena dipadamkan, ribuan cahaya menyala bersamaan.

Aku berdiri di kursiku dan mengangkat lightstick tinggi-tinggi.

Lagu yang dimainkan adalah lagu yang sama dengan lagu keempat pada malam aku meninggalkan konser bersama Rangga.

Namun kali ini aku tidak berjalan menuju pintu keluar.

Aku tetap berdiri di sana sampai lagu selesai.

Di tengah sorakan penonton, ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak kusimpan.

Rangga.

“Aku baru sadar. Selama ini kamu tidak pernah meminta terlalu banyak. Aku yang terlalu banyak mengambil.”

Aku membaca pesan itu sekali.

Kemudian menghapusnya.

Di atas panggung, vokalis meminta semua penonton menyalakan cahaya.

Aku mengangkat lightstick lebih tinggi.

Tiga tahun lalu aku mengira mendapatkan kursi terbaik berarti berdiri sedekat mungkin dengan panggung bersama orang yang kucintai.

Ternyata aku salah.

Tempat terbaik adalah tempat di mana aku tidak perlu mengecilkan diri agar orang lain merasa nyaman.

Dan malam itu, di tengah puluhan ribu cahaya, untuk pertama kalinya aku tidak menunggu siapa pun datang mencariku.

Aku sudah menemukan diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang