Suamiku Membawa Cinta Lamanya ke Ulang Tahun Ibu, tetapi Satu Piring Udang Membalikkan Segalanya

Tamparan itu begitu keras hingga kepala Raka terpaling ke samping.

Seluruh aula membeku.

Citra yang tadi sibuk membersihkan saus dari wajahnya bahkan berhenti menangis. Beberapa tamu menahan napas, sementara seorang pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja utama buru-buru menundukkan kepala, seolah takut ikut terseret ke dalam pertengkaran keluarga Wijaya.

Raka perlahan menoleh kembali kepada ibunya. Bekas merah mulai muncul di pipinya.

“Mama menampar aku demi Nadia?”

Bu Ratna menatap putranya tanpa berkedip.

“Bukan demi Nadia saja. Mama menampar kamu karena ternyata Mama gagal mendidik anak laki-laki untuk menghormati istrinya.”

“Mama tidak tahu apa-apa.”

“Justru Mama tahu lebih banyak daripada yang kamu kira.”

Kalimat itu membuat wajah Raka berubah.

Aku yang sejak tadi berdiri diam juga ikut menatap Bu Ratna.

Beliau kemudian menunjuk Citra.

“Dan kamu. Jangan pernah lagi datang ke rumah atau acara keluarga saya.”

Citra menggigit bibir. Matanya merah, entah karena malu atau marah.

“Tante salah paham. Saya dan Raka tidak melakukan sesuatu yang buruk.”

Bu Ratna tertawa pendek.

“Perempuan yang memakai hadiah yang dibeli laki-laki untuk istrinya masih berani bicara soal salah paham?”

Tanganku spontan mengepal.

Raka langsung menyela.

“Gelang itu aku beli pakai uangku sendiri.”

Bu Ratna menoleh tajam.

“Uangmu sendiri?”

Suasana semakin sunyi.

Beliau berjalan menuju tas tangannya, mengeluarkan sebuah map tipis, lalu melemparkannya ke atas meja.

Beberapa lembar dokumen meluncur keluar.

“Apa kamu yakin?”

Raka tidak menjawab.

Bu Ratna mengambil salah satu lembar.

“Pembelian gelang platinum senilai seratus delapan belas juta rupiah. Dibayar menggunakan kartu perusahaan.”

Wajah Raka seketika pucat.

Aku memandangnya tak percaya.

Selama ini aku memang tahu Raka bekerja sebagai direktur operasional di perusahaan keluarga. Tetapi aku tidak pernah ikut campur urusan bisnis keluarga Wijaya.

“Bukan cuma gelang,” lanjut Bu Ratna. “Hotel di Bali, tiket pesawat ke Surabaya, makan malam, transfer bulanan, apartemen yang kamu sewa di Jakarta. Semuanya dibayar dari rekening perusahaan.”

Bisik-bisik mulai terdengar dari meja para rekan bisnis.

Raka melangkah mendekati ibunya.

“Mama memeriksa rekeningku?”

“Rekening perusahaan,” koreksi Bu Ratna. “Bukan rekeningmu.”

Citra menoleh kepada Raka dengan gugup.

“Kamu bilang semua biaya itu dari uang pribadi.”

“Diam dulu, Cit.”

Untuk pertama kalinya malam itu, suara Raka kepada Citra terdengar tidak lembut.

Bu Ratna menarik napas panjang.

“Tiga bulan terakhir bagian keuangan menemukan transaksi yang tidak masuk akal. Awalnya Mama mengira hanya kesalahan pencatatan. Tapi jumlahnya terus bertambah.”

Beliau memandangku sebentar.

“Aku belum mengatakan apa pun kepada Nadia karena aku ingin memastikan semuanya.”

Dadaku terasa sesak.

Jadi selama tiga bulan terakhir, Bu Ratna telah mengetahui sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas di pikiranku.

Raka menggeleng cepat.

“Aku bisa mengembalikan semuanya.”

“Masalahnya bukan cuma uang.”

Bu Ratna mengeluarkan dokumen lain.

“Kamu juga menggunakan nama Nadia.”

Aku membeku.

“Apa?”

Bu Ratna menyerahkan kertas itu kepadaku.

Tanganku gemetar saat menerimanya.

Itu adalah dokumen pengajuan pinjaman atas nama sebuah perusahaan desain interior kecil milikku, Nadia Interior Studio.

Mataku langsung tertuju pada tanda tangan di bagian bawah.

Namaku tertulis di sana.

Tapi aku tidak pernah menandatanganinya.

Aku menatap Raka.

“Apa ini?”

Raka tidak menjawab.

“Raka, aku tanya, apa ini?”

“Aku bisa jelaskan.”

Kalimat itu justru membuat lututku terasa lemas.

Aku membaca halaman berikutnya. Ada jaminan aset, proyeksi pendapatan, dan persetujuan penggunaan rekening perusahaan milikku sebagai bagian dari pengajuan kredit sebesar dua miliar rupiah.

Dua miliar.

Aku merasa seperti baru saja ditampar lebih keras daripada Raka.

“Kamu memalsukan tanda tanganku?”

“Nadia, dengar dulu.”

“Kamu memalsukan tanda tanganku?”

Suara yang keluar dari mulutku terdengar asing.

Raka menatap sekeliling. Rasa malu akhirnya muncul di wajahnya, tetapi bukan karena telah menyakitiku. Dia malu karena kebohongannya terbongkar di depan banyak orang.

“Aku cuma butuh dana sementara.”

“Untuk apa?”

Dia diam.

Citra tiba-tiba berdiri.

“Raka bilang uang itu untuk proyek baru.”

Aku menoleh kepadanya.

“Proyek apa?”

Citra kelihatan ragu.

Raka langsung membentak.

“Citra, jangan ikut campur!”

Namun semuanya sudah terlambat.

Bu Ratna mengeluarkan satu dokumen terakhir.

“Proyek vila di Lombok.”

Wajah Citra semakin pucat.

Bu Ratna melanjutkan dengan suara datar.

“Properti atas nama Citra Lestari.”

Aula kembali gaduh.

Aku menatap suamiku, tetapi kali ini tidak ada rasa sakit seperti sebelumnya.

Yang muncul justru sesuatu yang lebih dingin.

Jijik.

Jadi bukan hanya hubungan mereka yang kembali terjalin.

Raka menggunakan perusahaan keluarganya, memalsukan tanda tanganku, lalu berusaha membeli properti untuk perempuan lain.

Dan selama semua itu terjadi, aku masih memasakkan sarapan untuknya setiap pagi.

Aku masih mengingatkan obat maag yang harus diminumnya.

Aku masih percaya ketika dia mengatakan sedang lembur.

Tiba-tiba semuanya terasa sangat ironis.

Citra mundur satu langkah.

“Raka, kamu bilang vila itu sudah lunas.”

“Cit, cukup!”

“Jadi kamu pakai pinjaman atas nama istrimu?”

“Citra!”

Nada suara Raka membuat perempuan itu tersentak.

Aku hampir ingin tertawa.

Beberapa menit lalu, dia memperlakukannya seperti benda paling berharga di dunia.

Sekarang, ketika posisinya terancam, kelembutan itu hilang begitu saja.

Bu Ratna mendekat kepadaku.

“Nadia, Mama minta maaf.”

Aku menatapnya.

Itulah pertama kalinya perempuan itu memanggil dirinya sendiri Mama ketika berbicara langsung kepadaku.

Selama tiga tahun, hubungan kami selalu formal dan kaku.

“Kenapa Mama minta maaf?”

“Karena Mama melihat terlalu banyak hal tapi terlalu lama menganggap itu bukan urusan Mama.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Mama pikir selama kamu tidak mengeluh berarti kamu baik-baik saja.”

Aku menelan ludah.

“Aku memang tidak pernah mengeluh.”

“Itu kesalahan Mama. Orang yang diam belum tentu tidak terluka.”

Raka mendekati kami.

“Nadia, kita bicara di rumah saja.”

Aku memandangnya.

“Rumah?”

“Ya. Ini urusan kita.”

Aku hampir tidak percaya dia masih mampu mengatakan itu.

“Rumah yang mana, Raka? Rumah tempat kamu tidur bersamaku sambil merencanakan vila untuk perempuan lain?”

“Nadia.”

“Jangan sentuh aku.”

Tangannya yang hendak meraih pergelangan tanganku langsung berhenti.

Aku melepas cincin pernikahan dari jari.

Gerakan itu sederhana, tetapi rasanya seperti mencabut sesuatu yang telah melekat terlalu lama.

Aku meletakkan cincin tersebut di atas meja.

Raka menatap benda kecil itu.

“Jangan berlebihan.”

Aku tersenyum.

Kalimat itulah yang akhirnya benar-benar mematikan sesuatu di dalam diriku.

Selama tiga tahun aku selalu takut dianggap berlebihan.

Ketika dia pulang dini hari, aku diam.

Ketika hari ulang tahunku dilupakan, aku berkata tidak apa-apa.

Ketika dia membatalkan perjalanan ulang tahun pernikahan kami karena pekerjaan, aku percaya.

Bahkan ketika melihat gelang yang katanya untukku berada di tangan perempuan lain, aku masih berusaha menjaga ketenangan.

Dan sekarang, setelah mengetahui tanda tanganku dipalsukan untuk membiayai kehidupan perempuan lain, dia masih menyebut reaksiku berlebihan.

“Aku akan menghubungi pengacara besok.”

Raka terdiam.

“Nadia.”

“Aku juga akan melaporkan pemalsuan tanda tangan itu.”

Wajahnya berubah.

“Kamu mau menyeret suamimu sendiri ke polisi?”

“Mantan suami.”

Aku mengucapkannya tanpa ragu.

Saat itulah Citra tiba-tiba meraih tasnya.

“Aku mau pergi.”

Raka menahannya.

“Citra, tunggu.”

“Jangan pegang aku.”

Raka terkejut.

Citra menatapnya dengan penuh kemarahan.

“Kamu bilang hubunganmu dengan Nadia sudah selesai. Kamu bilang tinggal menunggu waktu sampai kalian bercerai. Kamu juga bilang vila itu dibeli dari bagian keuntungan perusahaanmu.”

Raka menurunkan suaranya.

“Kita bisa membicarakannya nanti.”

“Tidak ada nanti.”

Citra melepas gelang platinum dari tangannya dan melemparkannya ke meja.

Benda itu jatuh tepat di samping cincin pernikahanku.

“Aku memang salah karena datang ke sini dan mempermalukan istrimu. Aku juga salah karena percaya semua cerita yang kamu katakan tentang dia.”

Citra menatapku.

Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada senyum merendahkan di wajahnya.

“Maaf.”

Aku tidak menjawab.

Permintaan maaf tidak bisa menghapus apa yang dia lakukan.

Tapi setidaknya kini aku melihat satu hal dengan jelas.

Raka tidak mencintai siapa pun selain dirinya sendiri.

Bahkan Citra, perempuan yang selama ini kuanggap sebagai cinta terbesarnya, ternyata hanya menjadi bagian lain dari kebohongannya.

Raka memandang Citra pergi meninggalkan aula.

“Citra!”

Dia hendak mengejar, tetapi dua pria dari tim keamanan hotel berdiri di depan pintu.

Bu Ratna mengangkat tangan.

“Biarkan dia pergi.”

“Mama tidak punya hak mengatur hidupku!”

“Benar.”

Bu Ratna tersenyum tipis.

“Mulai malam ini, Mama tidak akan mengatur hidupmu lagi.”

Raka mengernyit.

Bu Ratna mengambil mikrofon dari meja pembawa acara.

Para tamu langsung terdiam.

“Agar tidak ada kesalahpahaman,” katanya, “mulai besok Raka Wijaya dinonaktifkan dari seluruh jabatan di Wijaya Development sampai audit internal selesai.”

Raka menatap ibunya seolah baru saja mendengar vonis hukuman.

“Mama serius?”

“Sangat serius.”

“Perusahaan itu juga milikku!”

“Tidak.”

Bu Ratna mengucapkannya begitu tenang hingga justru terdengar lebih menghancurkan.

“Perusahaan itu milik keluarga. Dan saham yang kamu kira akan diwariskan kepadamu sudah Mama ubah kepemilikannya dua minggu lalu.”

Raka membeku.

Begitu juga aku.

“Maksud Mama?”

Bu Ratna menatapku.

“Nadia mungkin belum tahu. Tapi proyek renovasi hotel Wijaya di Yogyakarta tahun lalu berhasil mendapat penghargaan desain nasional karena konsep yang dibuat studionya.”

Aku terkejut.

Aku memang pernah mengerjakan proyek tersebut melalui pihak ketiga, tetapi kontraknya dilakukan tanpa menggunakan nama keluarga Wijaya untuk menghindari konflik kepentingan.

Bu Ratna melanjutkan.

“Selama ini Raka selalu mengatakan kepada keluarga bahwa keberhasilan proyek itu berkat tim internalnya.”

Aku perlahan menoleh kepada Raka.

Dia menghindari tatapanku.

Bu Ratna tersenyum pahit.

“Tapi Mama sudah menemukan kontrak asli, korespondensi proyek, dan laporan konsultan.”

Tiba-tiba aku memahami kenapa beberapa bulan terakhir Bu Ratna sering bertanya tentang pekerjaanku.

Bukan untuk mengkritikku.

Beliau sedang menyelidiki putranya sendiri.

“Saham Mama tidak diberikan kepada siapa pun,” lanjut Bu Ratna. “Tapi Mama sudah membuat wasiat baru. Orang yang kelak dipercaya mengelola aset keluarga bukan lagi ditentukan berdasarkan nama belakang, melainkan kemampuan dan integritas.”

Raka tertawa sinis.

“Jangan bilang Mama mau memberikannya kepada Nadia.”

Bu Ratna menatap putranya.

“Bahkan kalau suatu hari Mama memilih Nadia, dia lebih pantas daripada kamu.”

Wajah Raka seketika merah.

Aku justru menggeleng.

“Aku tidak menginginkan saham keluarga.”

Semua mata beralih kepadaku.

Aku mengambil tas.

“Aku cuma ingin sesuatu yang seharusnya kumiliki sejak tiga tahun lalu.”

Bu Ratna bertanya pelan, “Apa?”

Aku menatap cincin yang masih tergeletak di atas meja.

“Harga diriku.”

Malam itu aku meninggalkan aula seorang diri.

Tidak ada Raka di sampingku.

Tidak ada keluarga Wijaya.

Anehnya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa kesepian.

Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi diputuskan.

Audit perusahaan membuktikan Raka menggunakan dana perusahaan tanpa izin dan memalsukan sejumlah dokumen. Keluarganya memilih menyelesaikan kerugian internal secara hukum, sementara laporan atas pemalsuan tanda tanganku tetap berjalan.

Citra tidak pernah kembali kepadanya.

Aku mendengar vila di Lombok batal dibeli dan uang muka yang sempat dibayarkan menjadi bagian dari proses penyitaan aset untuk mengembalikan kerugian perusahaan.

Sementara itu, Nadia Interior Studio mendapat proyek terbesar sejak didirikan.

Bukan dari keluarga Wijaya.

Aku sengaja menolak tawaran pertama Bu Ratna karena tidak ingin ada seorang pun mengatakan keberhasilanku terjadi karena belas kasihan mantan ibu mertua.

Tiga bulan kemudian, aku memenangkan tender terbuka untuk mendesain sebuah hotel butik di Jakarta.

Hari penandatanganan kontrak, resepsionis kantorku datang membawa sebuah kotak kecil.

“Bu Nadia, ada kiriman.”

Tidak ada nama pengirim.

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah gelang platinum.

Gelang yang pernah dipakai Citra.

Di bawahnya ada secarik kertas.

Tulisan tangan Bu Ratna langsung kukenal.

“Nadia, benda ini dibeli dari uang yang akhirnya dikembalikan Raka kepada perusahaan. Mama membelinya kembali dalam pelelangan aset. Dulu gelang ini menjadi bukti bahwa seseorang merendahkanmu. Sekarang Mama ingin kamu menjualnya, menyimpannya, atau membuangnya. Keputusan ada di tanganmu. Jangan pernah lagi membiarkan benda, laki-laki, atau keluarga mana pun menentukan nilai dirimu.”

Aku membaca surat itu dua kali.

Kemudian aku tersenyum.

Sore itu aku membawa gelang tersebut ke sebuah rumah lelang amal.

Seluruh hasil penjualannya kusumbangkan untuk program pelatihan kerja bagi perempuan yang ingin kembali mandiri setelah keluar dari pernikahan bermasalah.

Beberapa minggu kemudian, Bu Ratna menelepon.

“Kamu benar-benar menjual gelangnya?”

“Iya.”

“Tidak sayang?”

Aku melihat sekeliling studio baruku. Para staf sedang berdiskusi, contoh material memenuhi meja, dan di dinding terpasang papan nama perusahaan yang kubangun dengan jerih payah sendiri.

Aku tersenyum.

“Tidak, Ma.”

Untuk pertama kalinya, kata itu keluar begitu saja dari mulutku.

Di ujung telepon, Bu Ratna terdiam.

Kemudian terdengar suara tangis kecil yang segera disamarkannya dengan batuk.

Aku tertawa.

Hari itu aku akhirnya mengerti.

Sepiring udang memang telah mempermalukan Citra dan membuka kebohongan Raka.

Namun bukan udang itu yang benar-benar membalikkan hidupku.

Yang mengubah segalanya adalah saat aku berhenti menunggu seseorang memilihku, lalu untuk pertama kalinya memilih diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang