Toh Galang tidak akan pernah tahu.
Setidaknya, itulah keyakinanku malam itu.
Tiga hari kemudian, aku mulai curiga bahwa semesta punya selera humor yang sangat buruk.
Sejak pertemuan pertama kami, aku beberapa kali berpapasan dengan Galang di lorong. Anehnya, sikapnya berubah drastis. Kalau melihatku dari kejauhan, dia akan mempercepat langkah. Kalau kami menunggu lift bersama, dia memilih menatap angka di atas pintu seolah angka enam sampai satu punya makna filosofis yang mendalam.

Pernah suatu pagi aku keluar untuk mengambil paket tepat ketika pintu unit 602 terbuka.
Galang sudah berpakaian rapi dengan kemeja biru gelap dan tas kerja.
“Pagi, Dok.”
Dia berhenti.
Matanya bertemu denganku.
“Pagi.”
Hanya itu.
Dia langsung berjalan menuju lift.
Aku menatap punggungnya dengan kesal.
Padahal tiga hari lalu dia masih berani mengendusku dari jarak dekat dan bilang aromaku enak.
Sekarang menyapa saja seperti sedang membayar utang.
Aku mulai mempertanyakan banyak hal.
Mungkin dia memang tidak menyukaiku.
Mungkin setelah melihatku dalam kondisi normal, dia menyadari aku tidak semenarik yang dia kira.
Atau lebih buruk lagi, mungkin aroma khas yang dia maksud sebenarnya memang bau badan dan dia terlalu sopan untuk mengatakannya.
Pikiran terakhir itu menghantuiku sampai aku membeli tiga jenis sabun mandi sekaligus.
Namun masalah terbesar sebenarnya bukan Galang.
Masalah terbesar adalah deadline.
Kak Intan mengirim pesan pada Jumat sore.
“Episode baru harus masuk Senin pagi. Jangan pura-pura mati.”
Aku menjawab dengan stiker orang menangis.
Malam itu aku bekerja sampai lewat tengah malam. Karakter dokter yang terinspirasi Galang kini sudah menjadi tokoh utama bernama Arga.
Sayangnya, adegan yang harus kugambar adalah adegan romantis.
Aku berkali-kali menggambar wajah Arga, menghapusnya, menggambar lagi, lalu berakhir menatap dinding.
“Kurang panas,” gumamku.
Aku menelepon Maya.
Seperti biasa, kami menggunakan speaker karena kedua tanganku sibuk menggambar.
“Apa yang kurang?” tanya Maya.
“Tatapannya. Dia harus kelihatan seperti menahan sesuatu.”
“Bayangkan dokter sebelahmu.”
Aku melirik dinding yang memisahkan unit kami.
“Sudah.”
“Terus?”
“Justru itu masalahnya. Kalau aku bayangkan dia, otakku malah ke mana-mana.”
Maya tertawa.
“Ke mana?”
Aku menggigit ujung stylus.
“Misalnya kalau orang sekalem dia cemburu, ekspresinya seperti apa?”
“Dingin.”
“Kalau marah?”
“Lebih dingin.”
“Kalau mencium seseorang?”
Maya terdiam sesaat.
Lalu dia berkata, “Laras, kamu membutuhkan pacar.”
Aku menjatuhkan tubuh ke kasur.
“Secara teoritis saja.”
“Secara teoritis apanya?”
Aku menatap langit-langit.
“Menurutku orang seperti Galang kalau mencium pasti tidak banyak bicara. Mungkin awalnya pelan, terus kalau sudah kehilangan kendali…”
BRAK.
Suara keras kembali terdengar dari sebelah.
Aku langsung duduk.
“Maya.”
“Hm?”
“Itu suara yang sama seperti malam pertama.”
“Mungkin tetanggamu suka menjatuhkan barang.”
Aku mendekati dinding.
“Jam satu pagi?”
“Dokter juga manusia.”
Aku mengangkat bahu lalu kembali bekerja.
Yang tidak kuketahui saat itu adalah satu fakta sederhana.
Dinding kamar tidur kami ternyata bukan dinding beton utama.
Di antara unit 601 dan 602 terdapat jalur servis lama yang ditutup panel gypsum ketika gedung direnovasi.
Suara televisi biasa mungkin tidak terlalu terdengar.
Namun suara seseorang yang berbicara keras tengah malam?
Terdengar cukup jelas.
Aku baru mengetahui fakta itu seminggu kemudian dengan cara paling memalukan dalam hidupku.
Hari Minggu, listrik di beberapa unit mati karena gangguan panel.
Aku keluar membawa ponsel untuk mencari petugas gedung. Pada saat bersamaan, Galang keluar dari unitnya.
Kami akhirnya berdiri berdua di lorong gelap.
“Listrikmu mati juga?” tanyaku.
“Iya.”
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, dia tidak langsung kabur.
Cahaya darurat membuat wajahnya terlihat lebih pucat. Dia memakai kaus hitam sederhana dan celana panjang abu-abu. Tanpa kemeja dan jas dokter, penampilannya justru terasa lebih berbahaya bagi kestabilan mental seorang ilustrator romansa.
Aku mencoba membuka percakapan.
“Dok, aku boleh tanya sesuatu?”
“Galang saja.”
“Baiklah. Galang.”
Dia menatapku.
“Kenapa kamu menghindariku?”
Ekspresinya langsung kaku.
“Aku tidak menghindar.”
“Bohong.”
“Aku sibuk.”
“Setiap melihatku kamu seperti melihat penagih utang.”
Sudut bibirnya bergerak sedikit.
Aku menangkapnya.
“Kamu hampir ketawa.”
“Tidak.”
“Kamu ketawa.”
“Tidak.”
“Dokter tidak boleh bohong kepada pasien.”
“Kamu bukan pasienku.”
“Calon pasien.”
Dia akhirnya tertawa kecil.
Dan sialnya, Galang yang tersenyum ternyata jauh lebih berbahaya daripada Galang yang dingin.
Aku ikut tersenyum.
Ketegangan di antara kami mulai mencair sampai petugas gedung datang dan mengatakan listrik akan kembali dalam sekitar tiga puluh menit.
Saat hendak masuk, Galang tiba-tiba memanggilku.
“Laras.”
Aku menoleh.
“Ya?”
Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya menggeleng.
“Tidak jadi.”
Malam berikutnya aku menemukan jawabannya.
Aku sedang menelepon Maya lagi.
Kali ini kami membahas adegan ketika Arga akhirnya mengaku kepada tokoh perempuan.
“Aku ingin adegannya terasa intens,” kataku.
“Seintens apa?”
Aku berdiri di depan cermin sambil mempraktikkan ekspresi karakter.
“Misalnya dia mendekat, terus menahan tangan si perempuan di samping kepala…”
Aku mempraktikkannya pada dinding.
“Terus?”
“Dia bilang…”
Aku menurunkan suara, mencoba meniru Galang.
“Jangan memancing kesabaranku kalau kamu tidak siap menghadapi akibatnya.”
Maya menjerit dari telepon.
Aku tertawa sampai perutku sakit.
Lalu dari balik dinding terdengar suara sangat jelas.
“Ya Tuhan…”
Aku membeku.
Maya masih tertawa.
Aku menempelkan telinga ke dinding.
Sunyi.
“May.”
“Apa?”
“Barusan ada suara orang.”
“Dari mana?”
“Sebelah.”
Aku mematikan speaker.
Jantungku mulai berdetak cepat.
Aku mengetuk dinding pelan.
Tok.
Tidak ada jawaban.
Aku mengetuk lagi.
Tok tok.
Tiga detik kemudian terdengar balasan.
Tok.
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
Maya masih tersambung.
“Laras?”
Aku berbisik, “Dia bisa dengar.”
“Siapa?”
“Galang.”
“Dengar apa?”
Aku menatap dinding.
Seluruh percakapan kami selama seminggu terakhir berputar kembali di kepalaku.
Dokter dingin.
Ciuman agresif.
Tangan di samping kepala.
Kehilangan kendali.
Aku ingin pindah apartemen malam itu juga.
Keesokan paginya aku menunggu sampai mendengar pintu 602 tertutup sebelum berani keluar.
Strategi itu berhasil selama dua hari.
Hari ketiga, nasib buruk mengejarku di lift.
Pintu hampir tertutup ketika sebuah tangan menahannya.
Galang masuk.
Aku menatap lantai.
Dia menekan tombol lobi.
Lift turun.
Enam.
Lima.
Empat.
Aku berharap bumi menelan tubuhku.
Tiba-tiba Galang berkata, “Aku tidak sengaja mendengar.”
Aku ingin mati.
“Aku tahu.”
“Dindingnya tipis.”
“Aku tahu sekarang.”
“Aku sebenarnya sudah mencoba tidak memperhatikan.”
“Terima kasih.”
“Tapi kamu bicara cukup keras.”
Aku menutup wajah.
“Tolong berhenti.”
Dia berdeham, jelas sedang menahan tawa.
Aku menatapnya tajam.
“Kamu menikmati ini?”
“Sedikit.”
“Jahat.”
Pintu lift terbuka.
Aku hendak kabur, tetapi Galang berkata, “Karakter itu aku?”
Langkahku berhenti.
Aku berbalik perlahan.
“Karakter apa?”
“Dokter berkacamata yang kelihatannya tenang tetapi kalau mencium orang katanya agresif.”
Wajahku terbakar.
Galang berjalan melewatiku dengan ekspresi nyaris datar.
Nyaris.
Sudut bibirnya terangkat.
Sejak hari itu, hubungan kami berubah.
Galang tidak lagi menghindar.
Justru sebaliknya.
Kadang aku menemukan kopi tergantung di gagang pintuku setelah begadang. Kadang ketika kami bertemu di lift, dia bertanya dengan wajah tenang, “Bagaimana perkembangan karakter dokter mesummu?”
“Dia bukan mesum.”
“Katamu dia suka menahan perempuan di dinding.”
“Itu romantis.”
“Itu berpotensi menjadi kasus hukum.”
Aku memukul lengannya dengan kantong belanja.
Semakin mengenalnya, semakin kusadari Galang tidak sedingin penampilannya.
Dia bekerja di IGD sebuah rumah sakit swasta. Jadwalnya berantakan. Kadang pulang menjelang subuh dengan wajah kelelahan, tetapi masih sempat membantu tetangga lansia membawa belanjaan.
Suatu malam aku menemukan dia duduk di lantai depan unitnya.
“Galang?”
Dia mengangkat kepala.
Wajahnya pucat.
“Aku lupa bawa kunci.”
Aku tertawa.
Dia terlalu lelah untuk protes.
Aku membawanya masuk ke unitku sambil menunggu petugas membawa kunci cadangan.
Untuk pertama kalinya Galang melihat meja kerjaku secara langsung.
Dan layar komputerku sedang menampilkan Arga.
Dia berdiri di belakang kursiku.
Aku berkeringat dingin.
“Mirip aku.”
“Tidak.”
“Kacamatanya sama.”
“Kebetulan.”
“Rambutnya sama.”
“Semua orang Indonesia punya rambut hitam.”
“Ada tahi lalat kecil di bawah telinga.”
Aku terdiam.
Galang menyentuh titik kecil di bawah telinga kirinya.
Aku menutup laptop.
“Keluar.”
Dia tertawa.
Namun malam itu, setelah tawanya reda, Galang mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuduga.
“Aku tahu komikmu.”
Aku mengira salah dengar.
“Apa?”
“Kastanye Gosong.”
Dunia berhenti.
Aku menatapnya.
“Bagaimana kamu tahu nama pena itu?”
Dia tampak salah tingkah untuk pertama kalinya.
“Adikku suka membacanya.”
“Adikmu?”
Dia mengangguk.
“Awalnya.”
Aku menyipitkan mata.
“Awalnya?”
Galang mengalihkan pandangan.
Aku langsung mengerti.
“Kamu baca juga?”
“Kadang.”
“Kadang itu berapa episode?”
Diam.
“Galang.”
“Semua.”
Aku berteriak sambil menutup wajah dengan bantal.
Dia tertawa begitu keras sampai petugas gedung mengetuk pintu.
Setelah malam itu, sesuatu di antara kami tumbuh tanpa pernah dibicarakan.
Sampai Maya datang berkunjung.
Galang kebetulan baru pulang kerja ketika Maya keluar dari unitku.
Aku memperkenalkan mereka.
Maya memandang Galang, lalu memandangku.
Ekspresinya seperti baru menemukan potongan puzzle terakhir.
“Oh.”
Aku langsung curiga.
“Oh apa?”
“Tidak ada.”
Setelah Galang masuk ke unitnya, Maya menyeretku ke dalam.
“Dia suka kamu.”
Aku tertawa.
“Jangan mengarang.”
“Cara dia melihatmu berbeda.”
“Dia memang matanya begitu.”
“Laras, aku sudah menikah. Aku mengenali tatapan laki-laki yang sedang jatuh cinta.”
Aku tidak mempercayainya.
Sampai tiga malam kemudian.
Aku sedang menggambar ketika terdengar ketukan di pintu.
Galang berdiri di luar.
Wajahnya serius.
“Ada waktu?”
Aku membiarkannya masuk.
Dia tidak duduk.
“Rumah sakit menawariku program fellowship di Singapura.”
Tanganku berhenti.
“Berapa lama?”
“Setahun.”
Entah mengapa dadaku langsung terasa kosong.
“Itu bagus.”
“Ya.”
“Kapan berangkat?”
“Bulan depan.”
Aku tersenyum, tetapi rasanya sulit.
“Selamat.”
Galang menatapku cukup lama.
“Cuma itu?”
Aku bingung.
“Terus aku harus bilang apa?”
Dia menarik napas.
“Tidak ada.”
Galang berbalik.
Entah dorongan dari mana, aku meraih pergelangan tangannya.
Dia berhenti.
Aku langsung melepaskannya.
“Galang.”
Dia menoleh.
“Kalau aku bilang jangan pergi, apa kamu akan tinggal?”
Tatapannya berubah.
Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain pendingin ruangan.
Dia berjalan mendekat.
“Kenapa aku harus tinggal?”
Aku membuka mulut.
Tidak ada suara.
Galang berdiri begitu dekat sampai aku bisa mencium aroma antiseptik yang sama seperti hari pertama kami bertemu.
“Aku sudah mendengar semua teorimu tentang pria tenang,” katanya pelan. “Tapi anehnya, kamu tidak pernah membicarakan apa yang terjadi kalau perempuan cerewet jatuh cinta kepada tetangganya.”
Jantungku hampir berhenti.
“Siapa yang jatuh cinta?”
“Kamu.”
“Sombong.”
“Kalau begitu aku pergi.”
Dia berbalik lagi.
Aku menarik ujung kausnya.
“Jangan.”
Galang berhenti.
Aku menunduk.
“Aku mungkin… sedikit suka.”
“Sedikit?”
“Lumayan.”
“Laras.”
“Banyak.”
Dia berbalik.
Aku belum sempat mengangkat kepala ketika tangannya menyentuh pipiku.
Aku otomatis mundur satu langkah sampai punggungku menyentuh dinding.
Kami sama-sama membeku.
Situasinya terlalu familiar.
Aku menatap posisi kami.
Galang juga menyadarinya.
Lalu dia tertawa pelan.
“Sepertinya ilustrasimu cukup akurat.”
“Jangan macam-macam.”
“Aku belum melakukan apa-apa.”
“Bagus.”
“Tapi kalau aku melakukannya?”
Aku menelan ludah.
“Galang.”
“Ya?”
“Jangan banyak bicara.”
Kali ini dia benar-benar tertawa.
Namun dia tidak menciumku.
Dia hanya menyentuhkan dahinya ke dahiku.
“Aku tidak jadi pergi.”
Aku menjauh sedikit.
“Apa?”
“Aku sudah menolak fellowship itu kemarin.”
Aku melotot.
“Kenapa kamu membuatku hampir mengaku dulu?”
“Aku ingin tahu apakah aku punya alasan untuk menyesal.”
Aku memukul dadanya.
“Kamu menyebalkan!”
Dia menangkap tanganku.
“Ternyata tidak.”
Aku masih kesal ketika dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah amplop kecil.
Di dalamnya ada hasil pemeriksaan laboratorium.
Aku membaca nama di bagian atas.
Galang Pradipta.
“Apa ini?”
Dia terdiam beberapa detik.
“Aku punya hiperosmia ringan sejak kecil. Indra penciumanku jauh lebih sensitif daripada kebanyakan orang.”
Aku teringat pertemuan pertama kami.
Aromanya enak.
“Jadi waktu itu…”
“Aku benar-benar mencium aroma tubuhmu.”
Aku langsung malu.
“Tapi kenapa kamu terlihat aneh?”
Galang tersenyum kecil.
“Karena aku mengenal aroma itu.”
Aku mengernyit.
“Maksudnya?”
Dia mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya.
Buku cetak edisi terbatas komikku.
Aku mengenalinya.
Dua tahun lalu, aku pernah mengirim seratus paket khusus kepada pembaca yang memenangkan undian. Setiap paket kutandatangani sendiri dan kusemprot sedikit dengan parfum ruangan aroma kastanye dan vanila yang selalu kupakai di studio lama.
Galang membuka halaman pertama.
Ada tanda tanganku.
Untuk Galang P.
Aku menatapnya tanpa mampu bicara.
“Jangan bilang…”
“Aku bukan mulai membaca komikmu karena adikku.”
Mulutku terbuka.
Galang terlihat sedikit malu.
“Adikku yang memperkenalkannya. Tapi akun yang memenangkan paket itu milikku.”
Aku hampir tidak percaya.
“Jadi sebelum aku pindah…”
“Aku sudah menjadi pembacamu hampir tiga tahun.”
Aku menatap buku itu, lalu wajahnya.
Semua kejadian aneh akhirnya masuk akal.
Tatapannya ketika pertama kali mencium aromaku.
Sikapnya yang langsung menjauh.
Kebiasaannya mendengarkan kegilaanku dari balik dinding tanpa pernah menegur.
“Kenapa kamu menghindariku?”
Galang tersenyum.
“Bayangkan penulis favoritmu tiba-tiba pindah ke sebelah rumah, lalu pada malam pertama kamu mendengar dia mengatakan bahwa wajahmu cocok dijadikan karakter pria yang agresif saat mencium.”
Aku menutup wajah.
“Tolong jangan diulang.”
“Aku menjatuhkan gelas malam itu.”
“Jadi suara brak itu…”
“Gelas.”
“Yang kedua?”
“Buku.”
“Yang ketiga?”
Galang diam.
Aku menyipitkan mata.
“Apa?”
“Timbangan.”
“Kenapa timbangan?”
“Aku sedang mencoba menjauh dari dinding.”
Aku tertawa sampai air mataku keluar.
Galang ikut tertawa.
Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi rahasia di antara unit 601 dan 602.
Beberapa bulan kemudian, episode baru komikku terbit.
Tokoh dokter dingin bernama Arga akhirnya mengaku cinta kepada ilustrator berisik yang tinggal di sebelah apartemennya.
Pembaca menyukai episode itu.
Komentarnya mencapai ribuan.
Salah satu komentar teratas berbunyi, “Pria seperti ini cuma ada di komik.”
Aku menunjukkan komentar itu kepada Galang.
Dia sedang duduk di sofaku sambil membaca naskah episode berikutnya.
“Kasihan mereka,” katanya.
“Kenapa?”
“Mereka tidak tahu penulisnya mencuri karakter dari dunia nyata.”
Aku mengambil bantal dan melemparkannya.
Galang menangkapnya.
Lalu ponselku berbunyi.
Pesan dari Maya.
Aku membukanya dan langsung terdiam.
Maya mengirim tangkapan layar sebuah komentar lama dari akun pembaca bernama GalangP, tertanggal hampir tiga tahun lalu.
Komentarnya hanya satu kalimat.
“Kalau suatu hari aku bertemu Kastanye Gosong, aku ingin bilang bahwa ceritanya membuat malam-malam setelah jaga rumah sakit terasa sedikit lebih ringan.”
Aku menatap Galang.
Dia belum melihat layar ponselku.
Saat itu aku akhirnya mengerti sesuatu.
Aku selalu mengira kisah kami dimulai ketika dia menangkap kardusku di depan lift.
Ternyata tidak.
Jauh sebelum aku mengetahui namanya, sebelum kami tinggal bersebelahan, bahkan sebelum dia pernah mendengar semua omong kosongku menembus dinding tipis apartemen, aku sudah pernah menemani malam-malam paling melelahkan dalam hidupnya melalui cerita yang kugambar sendirian di kamar.
Dan mungkin itulah bagian paling aneh sekaligus paling indah dari semuanya.
Kadang-kadang orang yang kita kira baru saja masuk ke dalam hidup kita sebenarnya sudah lama berdiri di salah satu sudutnya.
Kita hanya belum sempat saling mengenali.
