“Dua ratus delapan puluh juta rupiah.”
Aku menatap Pak Hendra tanpa berkedip.
Suara kendaraan dari Jalan Pandanaran terdengar samar di balik pintu kaca toko, tetapi di kepalaku semuanya mendadak sunyi.
“Maaf, Pak?”
“Kalau kondisi mesinnya sesuai dugaan saya dan semua komponennya masih asli, nilai wajarnya sekitar dua ratus delapan puluh juta. Bisa lebih tinggi kalau bertemu kolektor yang tepat.”
Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.
Aku hanya tidak tahu bagaimana seharusnya bereaksi.
“Bapak yakin tidak salah lihat?”
Pak Hendra menggeser kaca pembesar ke arahku.
“Lihat ukiran kecil ini.”
Aku membungkuk.
Di bagian dalam mesin terdapat serangkaian angka yang bahkan tidak pernah kulihat sebelumnya.
“Jam ini buatan Swiss dari akhir tahun lima puluhan. Seri tertentu hanya diproduksi dalam jumlah terbatas. Yang membuatnya lebih langka adalah konfigurasi mesinnya. Nomor ini cocok dengan catatan lama yang saya punya.”
Aku kembali melihat benda yang dua hari lalu dihargai seratus ribu rupiah.
Talinya kusam.
Kacanya tergores.
Bahkan jarumnya mati.
Tanganku mendadak berkeringat.
“Kalau Bapak mau membelinya?”
Pak Hendra tersenyum tipis.
“Kalau saya menjawab iya, ayahmu mungkin akan marah kepada saya.”
Aku langsung menatapnya.
“Bapak kenal ayah saya?”
Ekspresinya berubah.
Ia menutup bagian belakang jam dengan hati-hati.
“Pulanglah. Tanyakan sendiri.”
“Tapi tadi Bapak sudah tahu nama saya.”
Pak Hendra diam.
“Siapa ayah saya sebenarnya?”
Ia menghela napas.
“Seseorang yang pernah mengajarkan saya bahwa harga dan nilai adalah dua hal yang berbeda.”
Aku masih ingin bertanya, tetapi Pak Hendra menyerahkan jam itu kepadaku.
“Dan satu lagi, Rizky. Jangan unggah foto jam ini ke internet. Jangan tunjukkan nomor mesinnya kepada sembarang orang.”
Aku memasukkannya ke saku terdalam tas.
Hari itu aku memang tidak langsung pulang.
Aku duduk hampir dua jam di sebuah warung kopi.
Dua ratus delapan puluh juta.
Aku menghitungnya berkali-kali.
Dengan uang sebanyak itu aku bisa melunasi utang pengobatan ayah. Aku bisa membeli motor. Aku bisa membuka usaha kecil. Bahkan kalau hidup hemat, aku tidak perlu memikirkan pekerjaan untuk beberapa tahun.
Untuk pertama kalinya setelah sepuluh kali ditolak kerja, aku merasa hidup memberiku jalan keluar.
Lalu aku teringat satu kalimat ayah.
Jangan dijual.
Menjelang magrib aku akhirnya pulang ke Ungaran.
Lampu kamar ayah menyala.
Ia terbaring dengan selimut sampai dada.
Aku masuk tanpa mengganti pakaian.
“Pak.”
Ayah membuka mata.
“Sudah ke Mahardika?”
Aku mengeluarkan jam itu.
“Dua ratus delapan puluh juta.”
Ayah tidak terkejut.
Tidak sedikit pun.
Justru reaksinya membuat dadaku terasa panas.
“Bapak sudah tahu?”
“Tahu.”
“Kenapa tidak bilang dari awal?”
Ayah menatap langit-langit.
“Kalau Bapak bilang jam itu nilainya ratusan juta sejak hari pertama, apa yang akan kamu lakukan?”
Aku tidak menjawab.
Aku tahu jawabannya.
Mungkin aku akan langsung percaya bahwa benda tua itu berharga karena ayah mengatakannya.
“Lalu untuk apa menyuruhku keliling?”
“Supaya kamu melihat sendiri.”
“Melihat apa?”
Ayah menoleh kepadaku.
“Barang yang sama. Pemilik yang sama. Kondisi yang sama. Tapi tiga tempat memberinya tiga nilai berbeda.”
Aku terdiam.
“Di pegadaian, kamu datang membawa jam rusak. Mereka melihat logam dan risiko. Di pasar barang lama, orang melihat kemungkinan untuk dijual lagi. Di tangan orang yang mengerti sejarahnya, benda yang sama bernilai ratusan juta.”
Ayah berhenti untuk menarik napas.
“Jamnya tidak berubah, Rizky. Tempatnya yang berubah.”
Aku mulai memahami arah pembicaraannya.
Ayah tersenyum lemah.
“Kamu sudah ditolak sepuluh perusahaan, lalu pulang setiap hari bertanya apa yang salah dengan dirimu.”
Tenggorokanku tercekat.
“Bapak dengar?”
“Rumah ini kecil.”
Ia tersenyum lagi.
“Kadang-kadang bukan kamu yang tidak punya nilai. Kadang kamu hanya terus mengetuk pintu yang tidak tahu bagaimana menilaimu.”
Aku menunduk.
Selama tiga bulan terakhir, aku memang perlahan percaya bahwa diriku tidak cukup baik.
Setiap surel penolakan terasa seperti penilaian terhadap seluruh hidupku.
Ayah menunjuk jam di tanganku.
“Bapak bukan menyuruhmu belajar tentang jam.”
“Lalu kenapa jam ini tidak dijual saja? Kita butuh uang.”
Senyumnya menghilang.
Ia memandangku lama.
“Karena jam itu bukan milik Bapak.”
Aku mengernyit.
“Katanya punya Kakek.”
“Benar.”
“Kalau begitu diwariskan ke Bapak.”
Ayah menggeleng.
“Tidak sesederhana itu.”
Ia menyuruhku membuka laci paling bawah lemari.
Di sana ada sebuah amplop cokelat.
“Ambil.”
Aku menyerahkannya.
Ayah tidak membukanya.
“Baca sendiri.”
Di dalamnya ada beberapa dokumen lama dan sebuah foto hitam putih.
Aku mengambil foto tersebut.
Seorang laki-laki muda berdiri di depan toko jam kecil. Di sampingnya ada Kakek.
Dan laki-laki itu adalah Pak Hendra saat masih muda.
Di belakang foto tertulis tahun 1987.
Aku membaca dokumen berikutnya.
Sebuah surat dengan tulisan tangan Kakek.
Isinya membuatku perlahan duduk.
Puluhan tahun lalu, Kakek ternyata memiliki bengkel reparasi jam di Semarang. Pak Hendra adalah salah satu anak muda yang belajar kepadanya.
Tetapi bukan itu bagian yang mengejutkanku.
Jam tua tersebut bukan sekadar barang koleksi.
Jam itu pernah diberikan seseorang kepada Kakek sebagai pembayaran utang.
Kakek menolak menjualnya karena mengetahui pemilik awalnya terpaksa menyerahkan benda tersebut saat keluarganya mengalami kesulitan.
Dalam suratnya, Kakek menulis bahwa jika suatu hari keluarga itu ditemukan, jam tersebut harus dikembalikan.
“Jadi dua ratus delapan puluh juta itu bukan milik kita?”
Ayah menggeleng.
“Bukan.”
Aku tidak tahu mengapa, tetapi ada rasa kecewa yang langsung muncul.
Ayah seolah membacanya dari wajahku.
“Kecewa?”
Aku jujur.
“Sedikit.”
“Itu wajar.”
“Kalau tidak pernah ada yang datang mencarinya?”
“Bapak sudah mencarinya.”
Aku mengangkat kepala.
“Apa?”
Ayah menarik napas panjang.
“Pak Hendra membantu Bapak selama beberapa tahun.”
“Sudah ketemu?”
Ayah mengangguk.
“Namanya Bima Santoso. Cucunya pemilik pertama jam itu.”
“Di mana?”
“Solo.”
Aku berdiri.
“Kalau begitu kenapa belum dikembalikan?”
Ayah tidak menjawab.
Tangannya meraih tanganku.
Dingin.
Sangat dingin.
“Karena Bapak ingin kamu yang mengembalikannya.”
Dadaku terasa sesak.
“Pak, Bapak sendiri saja nanti kalau sudah sehat.”
Ayah tersenyum.
Kami berdua tahu kalimat itu hanya kebohongan kecil.
“Dengar. Setelah jam itu dikembalikan, temui Pak Hendra lagi.”
“Untuk apa?”
“Dia akan menjelaskan.”
Malam itu kondisi ayah memburuk.
Sekitar pukul dua pagi aku membawanya ke rumah sakit.
Tiga hari kemudian, ayah meninggal.
Tidak ada kalimat terakhir yang dramatis.
Tidak ada rahasia yang dibisikkan menjelang napas terakhir.
Ia hanya menggenggam tanganku beberapa menit, kemudian perlahan berhenti bernapas.
Setelah pemakaman, rumah terasa terlalu sunyi.
Selama hampir seminggu jam tua itu tetap berada di laci.
Aku beberapa kali memegangnya.
Dan beberapa kali pula pikiran buruk muncul.
Tidak ada seorang pun yang tahu benda itu ada padaku.
Aku sedang menganggur.
Tagihan rumah sakit masih ada.
Ayah sudah meninggal.
Kalau kujual dua ratus juta saja, hidupku bisa berubah.
Suatu malam aku bahkan membuka pencarian di internet dan melihat harga jam-jam koleksi serupa.
Tanganku sudah memegang ponsel untuk menghubungi salah satu penjual.
Lalu aku melihat pantulan wajahku pada layar hitam.
Aku teringat ayah.
Jamnya tidak berubah. Tempatnya yang berubah.
Aku mematikan ponsel.
Dua hari kemudian aku naik kereta ke Solo.
Alamat Bima Santoso membawaku ke sebuah rumah sederhana di Laweyan.
Aku sempat berpikir salah alamat.
Seorang pria sekitar tujuh puluhan membuka pintu.
“Pak Bima?”
“Iya.”
“Saya Rizky. Anak Pak Darmawan.”
Wajahnya langsung berubah.
“Darmawan?”
Aku mengeluarkan kotak kecil dari tas.
“Bapak saya meninggal minggu lalu.”
Pria itu terdiam lama.
“Turut berduka.”
“Sebelum meninggal, beliau meminta saya menyerahkan ini.”
Ketika kubuka kotaknya, tangan Pak Bima langsung bergetar.
Ia tidak menyentuh jam tersebut.
Sebaliknya, ia duduk.
Matanya memerah.
“Dari mana kalian mendapatkannya?”
Aku menceritakan surat Kakek.
Pak Bima mendengarkan tanpa menyela.
Setelah selesai, ia menutup wajah dengan kedua tangan.
“Itu jam ayah saya.”
Ternyata pada 1965, ayah Pak Bima menyerahkan jam itu kepada Kakek untuk meminjam uang ketika keluarganya harus meninggalkan Semarang karena keadaan ekonomi yang sulit.
Ia berjanji akan menebusnya.
Namun beberapa tahun kemudian meninggal.
Keluarganya berpindah-pindah dan kehilangan kontak.
“Ayah saya selalu bilang satu hal sebelum meninggal,” ujar Pak Bima. “Ada utang kepada seorang tukang jam bernama Sastro.”
Sastro adalah nama Kakekku.
Pak Bima mengambil jam tersebut.
Air matanya jatuh.
Aku merasa aneh.
Benda yang selama beberapa hari kulihat sebagai dua ratus delapan puluh juta rupiah, di tangannya berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan angka.
“Berapa saya harus membayar?”
Aku langsung menggeleng.
“Tidak perlu.”
“Tapi keluarga kami berutang.”
“Bapak saya bilang jamnya harus kembali.”
Pak Bima menatapku.
“Dan kamu datang jauh-jauh hanya untuk mengembalikannya?”
Aku tersenyum kecil.
“Sebenarnya saya sempat berpikir untuk menjualnya.”
Pak Bima tertawa pelan.
“Setidaknya kamu jujur.”
Sebelum aku pergi, ia meminta nomor teleponku.
Aku memberikannya tanpa berpikir panjang.
Keesokan harinya aku kembali ke Toko Jam Mahardika.
Pak Hendra seperti sudah menungguku.
“Sudah?”
“Sudah.”
Ia mengangguk.
Kemudian mengeluarkan sebuah map.
“Ayahmu meninggalkan ini.”
Aku membuka map tersebut.
Bukan uang.
Bukan surat warisan.
Melainkan puluhan lembar foto jam, catatan mesin, sketsa komponen, dan buku kecil berisi tulisan tangan ayah.
Aku semakin bingung.
“Bapak saya tukang jam?”
“Dulu.”
Pak Hendra tertawa.
“Lebih tepatnya, dia salah satu teknisi terbaik yang pernah bekerja dengan saya.”
Aku terpaku.
Seumur hidup aku mengenal ayah sebagai pegawai administrasi yang kemudian membuka toko kelontong kecil setelah pensiun dini.
“Kenapa saya tidak pernah tahu?”
“Karena ibumu meninggal ketika kamu masih kecil. Setelah itu ayahmu memilih pekerjaan yang jam kerjanya lebih pasti supaya bisa mengurusmu.”
Pak Hendra menunjuk kursi.
“Darmawan berhenti memperbaiki jam bukan karena tidak mampu. Dia memilih menjadi ayah.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Beberapa bulan lalu dia datang menemui saya. Katanya kamu sedang kesulitan mencari kerja.”
Aku menunduk.
“Dia meminta saya menerima kamu?”
“Tidak.”
Jawaban Pak Hendra cepat.
“Justru dia melarang.”
Aku mengangkat kepala.
“Kenapa?”
“Katanya kalau saya langsung memberimu pekerjaan karena kamu anaknya, kamu tidak akan pernah tahu kemampuanmu sendiri.”
Pak Hendra menggeser sebuah jam mekanis rusak ke arahku.
“Dia hanya meminta satu hal. Kalau kamu kembali setelah mengembalikan jam itu, saya boleh memberimu kesempatan belajar.”
Aku melihat benda di meja.
“Saya tidak tahu apa-apa soal memperbaiki jam.”
“Bagus.”
“Bagus?”
“Berarti kita mulai dari nol.”
Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, aku tertawa sungguhan.
Aku mulai bekerja di Mahardika seminggu kemudian.
Gajinya tidak besar.
Bahkan lebih kecil daripada beberapa pekerjaan yang pernah kulamar.
Bulan pertama aku hanya belajar membuka casing tanpa menggoresnya.
Bulan kedua aku mulai mengenali mesin.
Bulan ketiga aku berhasil memperbaiki jam mekanis pertamaku.
Setiap kali merasa bodoh, Pak Hendra menunjukkan catatan ayah.
Ternyata tulisan tangannya penuh detail.
Ada diagram.
Ukuran roda gigi.
Catatan kesalahan.
Bahkan kalimat-kalimat kecil.
Jangan paksa komponen yang tidak mau bergerak. Cari dulu apa yang menahannya.
Entah kenapa, kalimat itu terasa seperti nasihat hidup.
Enam bulan berlalu.
Suatu sore seorang pelanggan datang membawa jam tua.
Pak Hendra sedang keluar.
Aku memeriksanya hampir satu jam sebelum menjelaskan kerusakannya.
Pelanggan itu terus memperhatikanku.
“Namamu Rizky?”
“Iya, Pak.”
Ia tersenyum.
Aku baru mengenalinya beberapa detik kemudian.
Pak Bima.
“Masih ingat saya?”
“Tentu.”
Ia meletakkan sebuah amplop di meja.
Aku langsung menggeleng.
“Kalau soal jam itu, saya tidak bisa menerima uang.”
“Bukan pembayaran jam.”
“Lalu?”
“Buka.”
Di dalamnya terdapat sebuah kartu nama dan dokumen perusahaan.
Keluarga Pak Bima ternyata memiliki perusahaan distribusi barang mewah yang dikelola anak-anaknya di Jakarta dan Surabaya.
Mereka sedang mengembangkan divisi restorasi dan autentikasi jam koleksi.
“Kami butuh orang yang bisa dipercaya.”
Aku tertawa gugup.
“Pak, saya baru belajar enam bulan.”
“Saya tidak bilang kamu langsung jadi ahli.”
Ia menatapku.
“Kami akan membiayai pelatihanmu dua tahun. Setelah itu, kalau kemampuanmu memenuhi standar, kamu bekerja bersama kami.”
Aku terdiam.
“Kenapa saya?”
Pak Bima menjawab tanpa ragu.
“Keahlian bisa diajarkan. Kejujuran jauh lebih mahal.”
Aku tidak langsung menerima.
Aku meminta waktu.
Malamnya aku pulang dan membuka laci ayah.
Di sana masih ada sapu tangan cokelat yang dulu membungkus jam tersebut.
Untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu.
Ayah sebenarnya bisa menjual jam itu bertahun-tahun lalu.
Ia tahu nilainya.
Ia tahu kami membutuhkan uang ketika ibu meninggal.
Ia tahu biaya sekolahku tidak murah.
Tetapi ia tidak pernah melakukannya.
Aku akhirnya memahami bahwa perjalanan ke tiga tempat itu bukan ujian tentang harga sebuah jam.
Bukan pula cara ayah menunjukkan bahwa aku memiliki bakat tersembunyi.
Ia sedang mengajarkanku dua hal sebelum pergi.
Jangan biarkan orang yang tidak mengenalmu menentukan nilai dirimu.
Dan jangan mengambil sesuatu hanya karena dunia tidak akan tahu bahwa itu bukan milikmu.
Dua tahun kemudian aku menyelesaikan pelatihan restorasi jam mekanis.
Hari pertama bekerja secara resmi, Pak Hendra datang ke tempat kerjaku membawa sebuah kotak kecil.
“Ini titipan.”
“Dari siapa?”
“Bima.”
Aku membuka kotaknya.
Di dalamnya ada jam tua yang sangat kukenal.
Jam yang dulu penuh karat itu kini sudah direstorasi.
Mesinnya bergerak.
Tik.
Tik.
Tik.
Aku langsung berdiri.
“Pak Hendra, saya tidak bisa menerima ini.”
Ia tersenyum.
“Balik jamnya.”
Di bagian belakang terdapat ukiran baru.
Untuk Rizky, dari keluarga yang akhirnya melunasi utangnya setelah enam puluh tahun.
Di bawahnya ada satu kalimat lagi.
Nilai tertinggi sebuah benda bukanlah harga yang bersedia dibayar orang lain, melainkan cerita yang sanggup kita jaga.
Aku memegang jam itu lama sekali.
Dua tahun sebelumnya aku hampir menjualnya karena mengira dua ratus delapan puluh juta rupiah bisa mengubah hidupku.
Ternyata jam itu memang mengubah hidupku.
Hanya saja bukan dengan cara menjadi milikku.
Ia harus lebih dulu kulepaskan.
Aku memasangnya di pergelangan tangan.
Jarum detiknya bergerak perlahan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, jam tua itu kembali menunjukkan waktu.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak lagi merasa terlambat.
