SUAMIKU MENYURUH PUTRI KAMI BERMAIN DI LUAR SAAT GURU LES MASUK KAMAR, TAPI SATU REKAMAN MEMBUKA RENCANA YANG MEREKA SEMBUNYIKAN SELAMA BERBULAN-BULAN DI BELAKANGKU SENDIRI

Dua hari setelah mendengar percakapan Ardi dan Nadya dari balik pintu kamar, aku duduk di sebuah kedai kopi kecil di kawasan Tebet sambil memegang salinan sertifikat rumah dengan tangan gemetar.

Di depanku duduk Pak Surya, notaris yang dulu membantu proses pembelian rumah kami.

Wajahnya berubah serius sejak melihat dokumen yang kubawa.

“Bu Rina, Ibu yakin tidak pernah menandatangani surat kuasa untuk menjual rumah ini?”

“Tidak pernah.”

“Tidak pernah datang ke kantor notaris lain?”

Aku menggeleng.

“Tidak pernah memberi kuasa kepada Pak Ardi?”

“Tidak.”

Pak Surya menarik napas panjang.

“Kalau begitu, Ibu harus bergerak cepat.”

Kalimat itu membuat tengkukku dingin.

Ia memutar layar laptop ke arahku. Sehari sebelumnya aku menghubunginya secara diam-diam karena namanya masih tersimpan dalam dokumen pembelian rumah. Setelah memeriksa beberapa data, dia menemukan bahwa ada permintaan pengecekan sertifikat rumah kami dari sebuah kantor notaris lain.

Rumah itu sedang dipersiapkan untuk proses jual beli.

Lebih buruk lagi, nama calon pembelinya bukan orang asing.

Nama itu membuatku menatap layar beberapa detik tanpa berkedip.

Nadya Prameswari.

Guru les putriku.

Perempuan berusia dua puluh enam tahun yang selama hampir delapan bulan datang ke rumah kami tiga kali seminggu.

Perempuan yang pernah makan malam bersama kami.

Perempuan yang pernah kubelikan obat ketika sakit.

Perempuan yang sering berkata kepadaku, “Mbak Rina beruntung banget punya keluarga seperti ini.”

Aku hampir tertawa mengingatnya.

Ternyata dia tidak sedang memuji keluargaku.

Dia sedang menunggu untuk mengambil tempatku di dalamnya.

“Bagaimana bisa rumah ini dijual kepada dia?” tanyaku.

Pak Surya menunjuk beberapa bagian dokumen.

“Secara hukum, prosesnya belum selesai. Tapi seseorang sudah menyiapkan surat kuasa yang seolah-olah ditandatangani oleh Ibu. Ada juga fotokopi KTP dan beberapa dokumen pendukung.”

Jantungku berdegup keras.

Fotokopi KTP.

Tiba-tiba aku teringat dua bulan sebelumnya.

Ardi pernah berkata kartu keluarga kami perlu diperbarui untuk administrasi sekolah Sari. Dia meminta KTP-ku, lalu memotretnya.

Aku tidak pernah menanyakan lagi.

“Kalau sampai Kamis?”

“Kalau tidak ada masalah dalam pemeriksaan, mereka mungkin mencoba melanjutkan proses. Tapi tanpa kehadiran Ibu, banyak hal tetap harus diverifikasi.”

Aku menatap Pak Surya.

“Kalau tanda tangannya dipalsukan?”

“Justru itu masalah besar.”

Aku terdiam.

Selama dua hari terakhir aku hampir tidak tidur.

Tapi untuk pertama kalinya, ketakutanku berubah menjadi sesuatu yang lain.

Marah.

Bukan marah karena Ardi berselingkuh.

Perselingkuhan terasa kecil dibandingkan kenyataan bahwa dia berencana mengambil rumah yang kubangun dari uang peninggalan ibuku.

Rumah yang kupikir akan menjadi tempat Sari tumbuh.

“Pak,” kataku, “saya tidak mau mereka tahu saya sudah tahu.”

Pak Surya menatapku lama.

“Kenapa?”

“Karena saya ingin tahu seberapa jauh mereka sudah merencanakan semuanya.”

Malam itu aku pulang seperti biasa.

Ardi sedang makan bersama Sari.

“Ayah bikin telur kecap,” kata Sari ceria.

Aku tersenyum dan mencium rambutnya.

“Wah, hebat.”

Ardi memandangku.

“Gimana migrainnya?”

“Sudah lumayan.”

“Besok masuk kantor?”

“Iya.”

Dia mengangguk.

Begitu mudah baginya bersikap normal.

Itulah bagian yang paling mengerikan.

Seorang manusia bisa duduk satu meja denganmu, menyendokkan nasi untuk anak kalian, bertanya apakah kepalamu masih sakit, sambil menyimpan rencana untuk menghancurkan hidupmu.

Malam itu, setelah Sari tidur, aku membuka laptop pribadiku.

Aku mulai memeriksa rekening bersama.

Awalnya semuanya terlihat normal.

Kemudian aku melihat transaksi kecil yang berulang selama enam bulan terakhir.

Tiga juta.

Lima juta.

Dua juta lima ratus.

Semua dikirim ke rekening yang sama.

Aku mencatat nomor rekening itu.

Keesokan harinya aku meminta bantuan seorang teman lama yang bekerja di bank.

Aku tidak meminta informasi rahasia.

Aku hanya menunjukkan nama penerima yang akhirnya terlihat setelah aku mencoba melakukan transfer kecil.

Nadya Prameswari.

Total uang yang Ardi kirim selama enam bulan mencapai hampir delapan puluh juta rupiah.

Aku menatap angka itu cukup lama.

Ardi sering mengeluh ketika aku membeli sepatu sekolah baru untuk Sari.

Dia pernah mengatakan biaya listrik terlalu tinggi.

Dia bahkan memintaku berhenti berlangganan aplikasi belajar karena menurutnya “uangnya bisa dipakai buat hal yang lebih penting”.

Ternyata “hal yang lebih penting” adalah membiayai kehidupan perempuan lain.

Aku mulai menyimpan semuanya.

Rekaman suara.

Foto notifikasi laptop.

Mutasi rekening.

Dokumen rumah.

Aku membuat salinan digital dan menyimpannya di akun penyimpanan yang tidak diketahui Ardi.

Namun ada satu hal yang masih menggangguku.

Percakapan mereka di kamar.

“Setelah beres, kita enggak perlu sembunyi terus.”

Aku mengira maksudnya mereka akan tinggal bersama setelah rumah dijual.

Ternyata aku salah.

Pada Rabu malam, Maya mengetuk pintuku.

Wajahnya terlihat tidak nyaman.

“Rin, aku sebenarnya enggak tahu harus ngomong atau enggak.”

“Ngomong apa?”

Dia melihat ke arah rumahku, memastikan Ardi belum pulang.

“Beberapa minggu lalu aku lihat Ardi sama Nadya di klinik.”

Aku merasa perutku langsung menegang.

“Klinik apa?”

“Klinik kandungan.”

Aku diam.

Maya buru-buru melanjutkan.

“Aku pikir mungkin aku salah lihat. Makanya aku enggak ngomong. Tapi setelah kemarin kamu kelihatan aneh…”

“Dia hamil?”

Maya tidak menjawab.

Tapi ekspresinya cukup.

Malam itu Ardi pulang hampir pukul sebelas.

Aku masih duduk di ruang tamu.

“Belum tidur?” tanyanya.

“Belum.”

Dia meletakkan tas.

“Besok aku ada urusan pagi. Mungkin pulang agak sore.”

“Kamis?”

“Iya.”

Aku menatapnya.

“Urusan apa?”

Dia membuka kulkas.

“Ketemu klien.”

Aku hampir tersenyum.

“Semoga lancar.”

Dia menoleh.

“Kenapa?”

“Enggak apa-apa.”

Keesokan paginya aku berpura-pura berangkat kerja seperti biasa.

Tapi aku tidak menuju kantor.

Aku menitipkan Sari kepada Maya dengan alasan ada rapat panjang.

Lalu aku pergi ke kantor notaris yang alamatnya tercantum dalam dokumen.

Aku datang lebih dulu.

Pak Surya sudah menghubungi notaris tersebut dan menjelaskan bahwa ada dugaan pemalsuan dokumen.

Kami sepakat tidak langsung membuat keributan.

Aku duduk di ruangan kecil di belakang, ditemani Pak Surya dan seorang staf.

Sekitar pukul sepuluh lewat dua puluh, suara Ardi terdengar dari ruang depan.

Beberapa menit kemudian Nadya datang.

Aku mendengar mereka berbicara dengan seseorang.

“Bu Rina tidak bisa hadir?” tanya seorang pria.

Ardi menjawab tenang.

“Istri saya sedang di luar kota. Tapi sudah memberikan kuasa penuh.”

“Dokumen asli?”

“Ada.”

Aku mengepalkan tangan.

Seorang staf kemudian masuk dan menyerahkan sebuah map kepada Pak Surya.

Di dalamnya ada surat kuasa.

Namaku tertulis dengan jelas.

Dan di bawahnya ada tanda tangan yang mirip sekali dengan milikku.

Bahkan aku sendiri mungkin akan tertipu kalau melihatnya sekilas.

Pak Surya menatapku.

“Ini bukan tanda tangan Ibu?”

“Bukan.”

Tak lama kemudian aku mendengar suara Nadya.

“Kalau sudah selesai hari ini, balik namanya berapa lama?”

Ardi menjawab lebih dulu.

“Tenang saja.”

Kemudian Nadya tertawa kecil.

“Aku cuma takut bayi kita keburu lahir sebelum semuanya selesai.”

Dunia seakan berhenti.

Bayi kita.

Walaupun sudah menduga, mendengarnya langsung tetap terasa seperti seseorang memukul dadaku.

Tapi aku tidak menangis.

Aneh.

Aku hanya merasa sangat dingin.

Lalu sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Notaris yang berada di ruangan depan bertanya,

“Pak Ardi, ada satu hal lagi. Mengenai uang muka yang disebutkan dalam perjanjian ini. Seratus lima puluh juta sudah dibayarkan oleh calon pembeli?”

Ardi menjawab,

“Sudah.”

Nadya langsung menyela.

“Lho, uang muka apa?”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku menatap Pak Surya.

Dia juga terlihat terkejut.

Suara Nadya terdengar lagi.

“Mas, katanya rumahnya nanti langsung atas namaku. Kenapa ada uang muka?”

Ardi berbisik sesuatu yang tidak jelas.

Nadya meninggikan suara.

“Uang seratus lima puluh juta dari mana?”

Notaris menjawab hati-hati.

“Dalam dokumen disebutkan Ibu Nadya telah membayar uang muka kepada penjual melalui Pak Ardi.”

“Aku enggak pernah bayar.”

Aku berdiri.

Saatnya selesai.

Aku membuka pintu dan berjalan ke ruang depan.

Wajah Ardi berubah pucat begitu melihatku.

Nadya berdiri dari kursinya.

“Mbak Rina?”

Aku tidak memandangnya.

Mataku hanya tertuju pada Ardi.

“Katanya aku di luar kota?”

Ardi tidak menjawab.

“Rin, aku bisa jelasin.”

Aku meletakkan salinan surat kuasa di atas meja.

“Jelaskan tanda tangan ini dulu.”

Dia menelan ludah.

“Itu…”

“Bukan tanda tanganku.”

Nadya menatap Ardi.

“Mas?”

Aku akhirnya memandang perempuan itu.

Wajahnya pucat.

Tangannya refleks menyentuh perutnya.

“Dan kamu,” kataku, “kamu tahu rumah ini mau dijual tanpa persetujuanku?”

Nadya membuka mulut.

“Aku kira…”

“Kamu kira apa?”

Dia menatap Ardi.

“Aku kira rumah ini milik Mas Ardi.”

Aku tertawa pelan.

Bukan karena lucu.

Karena semuanya semakin absurd.

“Rumah ini dibeli setelah kami menikah, dan sebagian besar uang mukanya berasal dari warisan ibuku.”

Nadya kembali menatap Ardi.

“Mas bilang rumah ini pemberian orang tuamu.”

Ardi tiba-tiba membentak.

“Nadya, diam dulu!”

Itulah kesalahannya.

Wajah Nadya berubah.

Bukan takut.

Marah.

“Kamu bohong ke aku?”

Ardi berdiri.

“Kita bahas nanti.”

“Seratus lima puluh juta itu apa?”

Ardi tidak menjawab.

Nadya menatapnya beberapa detik, lalu seperti baru menyadari sesuatu.

“Tabungan aku?”

Aku mengerutkan kening.

Nadya menarik napas cepat.

“Mas Ardi bilang dia mau bantu investasi uang tabunganku. Totalnya seratus lima puluh juta. Katanya buat modal usaha.”

Kini gantian aku menatap Ardi.

Satu ruangan membisu.

Tiba-tiba semuanya menjadi jelas.

Ardi bukan hanya mencoba menipu istrinya.

Dia juga menipu selingkuhannya.

Dia menggunakan uang Nadya seolah-olah sebagai uang muka pembelian rumah, lalu menyiapkan transaksi palsu agar rumah berpindah tangan.

“Apa rencanamu sebenarnya?” tanyaku.

Ardi mulai kehilangan ketenangan.

“Rina, ini enggak seperti yang kamu pikir.”

“Kalau begitu jelaskan.”

Tidak ada jawaban.

Aku mengeluarkan ponsel dan memutar rekaman dari dua hari sebelumnya.

Suara Ardi memenuhi ruangan.

“Tanda tangannya gimana?”

“Aku punya contohnya.”

Wajahnya langsung berubah.

Aku mematikan rekaman.

“Aku juga punya foto pesan soal surat kuasa. Mutasi rekeningmu. Semua transfer ke Nadya.”

Nadya mulai menangis.

Bukan karena aku.

Dia menatap Ardi seolah baru pertama kali melihat siapa pria itu sebenarnya.

“Aku hamil anak kamu.”

Ardi mengusap wajah.

“Nadya…”

“Kamu bilang setelah rumah itu jadi milikku, kita jual dan pindah ke Bandung.”

Aku memandang mereka.

Jadi itulah rencananya.

Rumah dipindahkan atas nama Nadya menggunakan surat kuasa palsu, lalu dijual kembali.

Setelah itu Ardi berencana membawa uangnya.

Namun satu hal masih terasa janggal.

“Kalau rumahnya jadi atas nama Nadya,” tanyaku, “kenapa kamu yakin uangnya tetap bisa kamu kuasai?”

Nadya menatapku.

Lalu wajahnya semakin pucat.

Dia membuka tasnya dengan tangan gemetar dan mengeluarkan beberapa kertas.

“Dia pernah minta aku tanda tangan ini.”

Pak Surya mengambilnya.

Setelah membaca beberapa saat, dia menghela napas.

“Ini surat kuasa pengelolaan aset dan rekening.”

Nadya menutup mulut.

Ardi tidak mengatakan apa-apa.

Rencana itu ternyata lebih kejam daripada yang kami bayangkan.

Dia berniat mengambil rumah dariku dengan tanda tangan palsu.

Memindahkannya kepada Nadya.

Kemudian menggunakan kuasa dari Nadya untuk menjualnya dan mengendalikan uang hasil penjualan.

Pada akhirnya, mungkin bukan hanya aku yang akan kehilangan semuanya.

Nadya juga.

Aku menelepon polisi hari itu.

Prosesnya tidak selesai dalam semalam. Ada pemeriksaan dokumen, saksi, rekaman, dan dugaan pemalsuan tanda tangan yang harus dibuktikan.

Tapi Ardi tidak pernah kembali ke rumah kami.

Beberapa minggu kemudian aku mengajukan gugatan cerai.

Nadya juga berhenti menjadi guru les Sari.

Sebelum pergi dari hidup kami, dia pernah datang menemuiku sekali.

Perutnya belum terlalu terlihat.

Dia berdiri di depan pagar dengan mata sembap.

“Aku enggak minta Mbak maafin aku.”

Aku diam.

“Aku tahu aku salah.”

Aku tetap tidak menjawab.

Dia menunduk.

“Aku cuma mau bilang terima kasih karena kalau Mbak enggak datang ke kantor itu, mungkin aku masih percaya semua omongannya.”

Aku menatap perempuan yang beberapa bulan sebelumnya kupikir sedang mencoba mengambil hidupku.

Ternyata kami berdua hampir menjadi korban pria yang sama.

Tapi itu tidak membuat kesalahannya hilang.

“Aku tidak membencimu, Nadya,” kataku akhirnya. “Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura kamu tidak tahu dia suamiku.”

Air matanya jatuh.

“Aku tahu.”

“Jaga anakmu.”

Dia mengangguk.

Kemudian pergi.

Enam bulan setelah semuanya terjadi, aku dan Sari masih tinggal di rumah yang sama.

Suatu sore dia duduk di teras sambil menggambar.

“Ibu.”

“Hmm?”

“Kenapa Ayah sekarang enggak tinggal sama kita?”

Pertanyaan itu akhirnya datang.

Aku duduk di sampingnya.

Karena dia masih terlalu kecil untuk mengetahui semua kebenaran, aku hanya berkata,

“Kadang orang dewasa membuat keputusan yang salah. Dan kalau kesalahannya terlalu besar, mereka harus bertanggung jawab.”

Sari berpikir sebentar.

“Ayah masih sayang aku?”

Dadaku terasa sesak.

Aku memeluknya.

“Itu pertanyaan yang cuma Ayah yang bisa jawab. Tapi Ibu sayang Sari. Selalu.”

Dia mengangguk lalu kembali menggambar.

Aku melihat rumah kami.

Dulu aku mengira hal terburuk yang bisa terjadi dalam pernikahan adalah menemukan pasangan bersama orang lain.

Aku salah.

Perselingkuhan memang menyakitkan.

Tapi pengkhianatan yang sebenarnya adalah ketika seseorang menggunakan kepercayaanmu sebagai alat untuk menghancurkanmu.

Ardi tahu aku jarang memeriksa dokumen.

Dia tahu aku percaya ketika dia meminta tanda tangan.

Dia tahu aku tidak pernah membuka laptopnya.

Dia tahu aku menganggap rumah ini sebagai tempat paling aman di dunia.

Dan justru karena itulah dia hampir berhasil.

Namun ada satu hal yang tidak pernah dia perhitungkan.

Sari.

Kalau sore itu putriku tidak berkata bahwa ayahnya menyuruhnya bermain di luar karena Kak Nadya datang lebih cepat, mungkin aku tidak akan pulang dengan rasa curiga.

Aku tidak akan berdiri di balik pintu.

Aku tidak akan menyalakan perekam.

Aku tidak akan melihat notifikasi di laptop.

Dan mungkin pada suatu Kamis pagi, rumah peninggalan masa depan anakku sudah berpindah tangan tanpa pernah kusadari.

Aku memandang Sari yang sedang menggambar tiga orang di atas kertas.

Aku, dirinya, dan seekor kucing besar yang bahkan tidak kami miliki.

“Ini siapa?” tanyaku sambil menunjuk kucing itu.

“Penjaga rumah kita.”

Aku tertawa untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.

“Kenapa harus kucing?”

“Karena kucing kalau dengar suara aneh langsung bangun.”

Aku memandangnya beberapa detik.

Kemudian aku tersenyum.

Mungkin dia benar.

Kadang hidup tidak menyelamatkan kita dengan tanda besar.

Kadang penyelamatan datang lewat satu kalimat sederhana dari seorang anak yang kepanasan di halaman.

Dan sejak hari itu aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku selama sembilan tahun menjadi istri.

Mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan seluruh kewaspadaan kepadanya.

Kepercayaan memang penting.

Tapi kepercayaan tanpa batas bisa menjadi pintu yang sengaja kita biarkan terbuka bagi orang yang berniat masuk dan mengambil semuanya.

Rumah itu masih atas namaku.

Sari masih tidur di kamar yang sama.

Dan aku masih memiliki hidupku.

Hanya satu hal yang berubah.

Sekarang, ketika seseorang berkata, “Percaya saja sama aku,” aku tidak lagi menganggap pertanyaan sebagai tanda kurang cinta.

Karena terkadang, satu pertanyaan sederhana adalah satu-satunya hal yang berdiri di antara kita dan kehilangan seluruh hidup yang sudah kita bangun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang