Sahabatku Membenciku karena Suaminya Menyukaiku, tetapi di Hidup Kedua Aku Menolak Datang ke Kencan Mereka

Aku pernah mati karena suamiku menghancurkan kedua kakiku agar aku tidak bisa meninggalkannya.

Karena itu, ketika hidup memberiku kesempatan kedua, hal pertama yang kupelajari bukan bagaimana membalas dendam.

Melainkan bagaimana pergi tanpa membuat orang yang berbahaya sadar bahwa aku sedang melarikan diri.

Sejak Maya gagal dalam kencan butanya dengan Rangga, aku mulai menjalani hari-hariku seperti biasa.

Setidaknya di depan Bima.

Aku masih memasak bersamanya. Masih menjawab ketika dia bertanya aku pulang jam berapa. Masih tersenyum ketika tangannya merangkul pinggangku di depan orang lain.

Namun diam-diam, aku mulai mempersiapkan jalan keluar.

Aku membuka rekening baru di bank yang berbeda. Dokumen penting kusalin dan kusimpan di loker sanggar. Aku juga mulai mencatat setiap ledakan emosi Bima, sekecil apa pun.

Aku tahu orang seperti Bima.

Selama merasa memiliki kendali, dia bisa menjadi laki-laki paling lembut di dunia.

Bahaya baru muncul ketika dia merasa kehilangan kendali itu.

Maka aku harus membuatnya percaya bahwa semuanya baik-baik saja.

Sampai suatu sore, rencana yang kususun hampir berantakan.

Aku baru selesai mengajar ketika resepsionis sanggar memanggilku.

“Mbak Intan, ada yang mencari.”

Aku mengira Bima datang menjemput.

Namun ketika keluar, aku melihat seorang pria tinggi mengenakan kemeja putih berdiri dekat pintu kaca.

Rangga.

Jantungku seakan berhenti.

Wajah itu tidak mungkin kulupakan.

Pria yang di kehidupan sebelumnya menyimpan lebih dari seratus fotoku.

Pria yang menikahi sahabatku hanya agar punya alasan berada di dekatku.

Aku langsung berbalik.

“Intan?”

Langkahku berhenti.

Rangga mendekat dengan ekspresi ragu.

“Kita pernah bertemu?”

“Tidak.”

Jawabanku terlalu cepat.

Dia tampak bingung.

“Maaf. Saya pikir Anda temannya Maya.”

Aku menggenggam tali tas lebih erat.

“Benar. Tapi saya sedang buru-buru.”

Aku hendak pergi ketika dia berkata, “Maya meninggalkan sesuatu waktu kami bertemu.”

Tangannya mengangkat sebuah gelang tipis.

Aku mengenalinya.

Gelang pemberianku pada ulang tahun Maya beberapa tahun lalu.

“Kalau bisa, tolong berikan padanya.”

Aku tidak mengambilnya.

“Hubungi Maya langsung.”

“Nomor saya diblokir.”

Bagus, pikirku.

“Kalau begitu titipkan ke resepsionis.”

Aku pergi tanpa menoleh lagi.

Namun baru beberapa langkah, suara Rangga terdengar.

“Intan.”

Untuk pertama kalinya dia menyebut namaku.

Aku membeku.

Aku belum memperkenalkan diri.

Perlahan aku menoleh.

Rangga terlihat baru menyadari kesalahannya.

“Nama Anda ada di papan jadwal pengajar,” katanya cepat.

Aku melihat ke arah dinding.

Memang ada namaku di sana.

Seharusnya aku lega.

Entah mengapa, aku justru semakin tidak nyaman.

Malam itu aku tidak menceritakan pertemuan tersebut kepada Bima.

Ternyata itu sebuah kesalahan.

Dua hari kemudian, ketika aku sedang memotong buah di dapur, Bima tiba-tiba bertanya, “Kamu kenal Rangga?”

Pisau di tanganku berhenti.

Aku memaksakan wajah tenang.

“Rangga siapa?”

“Pengacara.”

Aku meletakkan pisau.

“Kenal dari mana?”

“Dia datang ke kantor.”

Bima bekerja sebagai manajer operasional sebuah perusahaan properti. Aku tidak tahu urusan apa yang membawa Rangga ke sana.

Bima menatapku sambil tersenyum.

Senyum itu membuat tengkukku dingin.

“Katanya pernah ketemu kamu di sanggar.”

Aku tahu satu jawaban yang salah bisa mengubah segalanya.

“Oh, dia.”

Aku mengambil potongan apel dan memasukkannya ke mulut.

“Orang yang kencan sama Maya. Dia mau menitipkan gelang Maya.”

“Kenapa kamu nggak cerita?”

Aku menatapnya.

“Memangnya penting?”

Bima diam.

Lalu dia tertawa kecil.

“Nggak.”

Dia mendekat dan mencium keningku.

“Aku cuma penasaran.”

Malam itu aku tidak tidur.

Di kehidupan sebelumnya, kecemburuan Bima berkembang perlahan.

Sekarang Rangga muncul jauh lebih cepat.

Seolah-olah takdir sedang mencari jalan lain untuk mengulang tragedi yang sama.

Keesokan paginya aku mengambil keputusan.

Aku menemui seorang pengacara perempuan bernama Ratih yang direkomendasikan salah satu ibu murid.

Aku menceritakan semuanya.

Bukan tentang kehidupan sebelumnya, tentu saja.

Aku mengatakan bahwa Bima pernah merusak barang ketika marah, mengancam melukai dirinya sendiri saat aku membicarakan perceraian, dan mengontrol hubunganku dengan orang lain.

Ratih mendengarkan tanpa menyela.

Setelah selesai, dia berkata, “Jangan memberi tahu suami Anda tentang rencana perceraian sebelum Anda berada di tempat aman.”

Kalimat itu membuat tenggorokanku tercekat.

Di kehidupan sebelumnya, tidak ada yang pernah mengatakan itu kepadaku.

Aku selalu berpikir meninggalkan pernikahan cukup dengan keberanian.

Ternyata kadang-kadang keberanian harus ditemani strategi.

Selama tiga minggu berikutnya aku mempersiapkan semuanya.

Aku mencari apartemen kecil dengan keamanan dua puluh empat jam. Aku memindahkan sebagian pakaian sedikit demi sedikit. Aku meminta sanggar merahasiakan jadwal baruku.

Aku bahkan membeli ponsel kedua.

Maya tidak mengetahui apa pun.

Hubungan kami justru menjadi semakin dekat karena dia tidak pernah menikahi Rangga.

Suatu malam kami makan bersama setelah aku mengajar.

“Aku harus berterima kasih sama kamu,” katanya tiba-tiba.

“Kenapa?”

“Karena waktu itu kamu nggak ikut.”

Aku menatapnya.

Maya mengaduk es tehnya.

“Setelah kupikir-pikir, aku memang terlalu terburu-buru ingin menikah. Kalau kamu ikut, mungkin aku bakal maksa hubungan itu berjalan hanya karena pengin kelihatan berhasil.”

Aku tersenyum pahit.

Dia tidak tahu betapa benarnya perkataannya.

Lalu Maya mengangkat wajah.

“Tapi aneh juga.”

“Apa?”

“Rangga.”

Tanganku berhenti.

“Kenapa?”

“Dia menghubungi sepupuku. Katanya cuma mau mengembalikan gelang. Tapi dia juga nanya soal kamu.”

Darahku terasa turun ke kaki.

“Nanya apa?”

“Tempat kerjamu. Kamu sudah menikah atau belum.”

Aku langsung berdiri.

Maya terkejut.

“Tan?”

“Aku harus pulang.”

“Lho, kenapa?”

Aku tidak menjawab.

Karena aku akhirnya memahami sesuatu.

Takdir mungkin berubah.

Namun ketertarikan Rangga kepadaku ternyata tidak.

Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan ketertarikan seorang pria menghancurkan hidup dua perempuan.

Aku mengirim pesan kepada Rangga malam itu.

Jangan menghubungi saya lagi. Jangan datang ke tempat kerja saya. Saya sudah menikah dan tidak tertarik mengenal Anda dalam bentuk apa pun.

Balasannya datang beberapa menit kemudian.

Maaf kalau membuat Anda tidak nyaman. Saya mengerti.

Kupikir selesai.

Ternyata Bima membaca pesan itu.

Aku baru pulang dari kamar mandi ketika melihatnya duduk di tepi ranjang memegang ponselku.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

“Kenapa dia menghubungi kamu?”

Aku merasa seluruh tubuhku menegang.

“Dia tidak menghubungiku. Aku yang meminta dia berhenti.”

“Kenapa harus berhenti kalau sebelumnya nggak ada apa-apa?”

Aku terdiam.

Bima berdiri.

“Jawab.”

“Aku nggak nyaman karena dia menanyakan aku ke Maya.”

“Kenapa dia tertarik sama kamu?”

Pertanyaan itu.

Pertanyaan yang sama seperti kehidupan sebelumnya.

Aku mundur selangkah.

“Aku nggak tahu.”

Bima mendekat.

“Kamu senyum sama dia?”

“Tidak.”

“Kamu kasih harapan?”

“Tidak.”

“Terus kenapa?”

Suaranya mulai meninggi.

Aku melihat tangannya mengepal.

Tubuhku mengingat sesuatu yang belum terjadi di kehidupan ini.

Suara tulang retak.

Rasa sakit.

Kursi roda.

Aku mundur lagi.

Bima menyadarinya.

Tatapannya berubah.

“Kamu takut sama aku?”

Aku tidak menjawab.

Dia tertawa pendek.

“Intan, aku suamimu.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa kamu mundur?”

Aku menatap pintu kamar.

Bima mengikuti arah pandanganku.

Kemudian dia berdiri tepat di depan pintu.

Jantungku berdetak semakin cepat.

“Kasih ponselku.”

“Kenapa?”

“Bima.”

“Kasih tahu password rekeningmu dulu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Apa?”

“Kalau nggak ada yang kamu sembunyikan, kenapa takut?”

Saat itulah aku tahu.

Waktuku habis.

Aku tidak bisa menunggu rencana sempurna.

Aku harus pergi malam itu.

Aku meraih tas di kursi.

Bima langsung menangkap pergelangan tanganku.

“Mau ke mana?”

“Lepaskan.”

“Kita belum selesai bicara.”

“Lepaskan aku.”

Genggamannya semakin keras.

Rasa takut yang selama berminggu-minggu kutahan tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lain.

Marah.

Aku sudah pernah kehilangan kakiku karena laki-laki ini.

Aku sudah pernah kehilangan karierku.

Aku bahkan sudah pernah kehilangan hidupku.

Aku tidak akan memberikan semuanya untuk kedua kalinya.

“Bima, lepaskan.”

Dia menarikku lebih dekat.

“Kamu istriku.”

Aku menatap matanya.

“Bukan berarti aku milikmu.”

Wajahnya berubah.

Tangannya terangkat.

Aku refleks menutup kepala.

Namun pukulan itu tidak pernah sampai.

Suara keras terdengar dari luar.

“Intan!”

Maya.

Kemudian pintu depan digedor.

Bima menoleh.

Aku memanfaatkan satu detik itu untuk melepaskan tangan dan berlari.

Dia mengejarku sampai ruang tamu.

Ketika aku membuka pintu, Maya berdiri bersama Ratih dan dua petugas keamanan kompleks.

Wajah Bima langsung pucat.

Aku hampir menangis.

Tiga minggu sebelumnya, Ratih sudah memintaku membuat sistem darurat. Jika aku mengirim satu kata tertentu kepada Maya, dia harus datang bersama bantuan.

Aku mengirim kata itu saat berada di kamar mandi.

Bima menatapku.

“Kamu merencanakan ini?”

Aku tidak menjawab.

“Intan!”

Dia hendak maju, tetapi petugas keamanan menghalanginya.

“Kamu mau ninggalin aku cuma gara-gara laki-laki itu?”

Aku berbalik.

“Bukan karena Rangga.”

Suaraku gemetar, tetapi aku memaksanya tetap jelas.

“Aku pergi karena kamu membuatku takut.”

Wajah Bima kehilangan warna.

Aku berjalan keluar.

Setiap langkah terasa seperti mengambil kembali bagian hidupku.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Kakiku masih utuh.

Aku bisa berjalan.

Dan untuk pertama kalinya setelah kembali ke kehidupan ini, aku benar-benar percaya bahwa masa depanku bisa berubah.

Proses perceraian tidak mudah.

Bima menelepon puluhan kali. Dia datang ke sanggar. Dia mengirim bunga, surat, bahkan meminta keluarganya membujukku.

Ketika semuanya gagal, dia mulai menyebarkan cerita bahwa aku berselingkuh.

Namun kali ini aku sudah memiliki catatan, saksi, pesan, dan bantuan hukum.

Aku tidak sendirian.

Beberapa bulan kemudian perceraian kami selesai.

Aku pindah ke apartemen baru dan kembali mengikuti audisi untuk kelompok tari profesional.

Tubuhku masih cukup kuat.

Pada hari aku diterima, aku menangis hampir satu jam.

Maya menjadi orang pertama yang kupeluk.

“Aku bangga sama kamu,” katanya.

Aku tertawa sambil menangis.

“Aku juga.”

“Bangga sama aku?”

“Bangga sama diriku sendiri.”

Maya memukul bahuku pelan.

Beberapa waktu kemudian dia mulai berkencan dengan seorang dokter hewan bernama Ardi yang dikenalnya secara tidak sengaja ketika membawa kucingnya ke klinik.

Aku tidak ikut pada pertemuan pertama mereka.

Aku tidak memilihkan pakaiannya.

Aku tidak menilai laki-lakinya.

Maya memilih sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat sahabatku dicintai oleh seseorang yang benar-benar datang untuknya.

Rangga tidak pernah menghubungiku lagi.

Setidaknya begitulah yang kukira.

Hampir setahun setelah perceraian, sebuah amplop tiba di sanggar.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.

Aku mengenali nama di bagian bawah.

Rangga.

Isinya pendek.

Dia meminta maaf karena pernah membuatku tidak nyaman. Setelah melihat berita kecil mengenai proses hukum perceraianku, dia baru menyadari bahwa pertanyaannya tentang diriku mungkin ikut memperburuk keadaan.

Dia juga menulis satu kalimat yang membuatku lama terdiam.

Saya pernah mengira perasaan yang kuat adalah alasan untuk mengejar seseorang. Sekarang saya tahu, kalau perasaan itu membuat orang lain takut, hal paling benar adalah berhenti.

Aku melipat surat itu.

Tidak membalasnya.

Tidak menyimpannya.

Aku merobeknya dan membuangnya.

Karena hidup keduaku bukan tentang Rangga.

Bukan juga tentang Bima.

Bahkan bukan tentang mengubah nasib Maya.

Hidup keduaku adalah tentang memahami sesuatu yang gagal kupahami pada kehidupan pertama.

Cinta tidak pernah memberi seseorang hak untuk memiliki manusia lain.

Beberapa tahun kemudian, pada malam pertunjukan terbesarku, aku berdiri di balik panggung sebuah gedung pertunjukan di Jakarta.

Lampu auditorium mulai diredupkan.

Ratusan penonton menunggu.

Aku mengenakan sepatu balet dan berdiri di depan cermin.

Untuk sesaat, aku teringat perempuan di kehidupan sebelumnya.

Perempuan yang duduk sendirian di kursi roda.

Perempuan yang menatap kedua kakinya setiap hari sambil mengingat panggung yang tidak akan pernah bisa diinjaknya lagi.

Aku menunduk melihat kakiku.

Sehat.

Kuat.

Bebas.

Maya muncul dari balik pintu.

“Lima menit lagi.”

Aku mengangguk.

Dia hendak pergi, tetapi kemudian berbalik.

“Oh iya, aku belum bilang.”

“Apa?”

“Aku hamil.”

Aku membeku.

Maya tersenyum lebar.

Air mataku langsung jatuh.

Aku memeluknya erat.

Dalam kehidupan sebelumnya, perempuan ini membenciku.

Dalam kehidupan ini, dia berdiri di sisiku pada malam paling penting dalam karierku.

Bukan karena aku berhasil merebut seseorang dari takdir.

Melainkan karena aku akhirnya berhenti mengambil tanggung jawab atas pilihan laki-laki yang tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.

Suara musik pembuka terdengar.

Aku melepaskan pelukan Maya.

“Pergilah,” katanya sambil menghapus air mata. “Panggungmu menunggu.”

Aku berjalan menuju cahaya.

Langkah pertamaku menyentuh panggung.

Kemudian langkah kedua.

Ketiga.

Tidak ada rasa sakit.

Tidak ada tangan yang menahanku.

Tidak ada suara yang mengatakan bahwa aku milik seseorang.

Aku mulai menari.

Dan saat tubuhku berputar di bawah cahaya, akhirnya aku memahami alasan sebenarnya aku diberi kesempatan hidup sekali lagi.

Bukan supaya aku bisa mengetahui masa depan.

Bukan supaya aku bisa membalas orang-orang yang pernah menghancurkanku.

Melainkan supaya ketika pintu menuju tragedi yang sama terbuka sekali lagi, aku memiliki keberanian untuk tidak masuk ke dalamnya.

Pada kehidupan pertama, aku mengira takdir adalah sesuatu yang terjadi kepadaku.

Pada kehidupan kedua, aku akhirnya tahu bahwa terkadang takdir hanyalah sebuah pintu.

Dan aku tetap punya hak untuk memilih apakah akan membukanya atau berjalan pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang