Aku menatap foto dokumen itu sampai huruf-huruf di layar ponsel terasa kabur.
Di bagian atas tertulis nama sebuah kantor notaris di Jakarta Selatan. Di bawahnya ada nama lengkap Raka Pradipta dan Dinda Maharani. Tanggal yang tercetak jelas menunjukkan dokumen itu dibuat tiga bulan sebelum aku melahirkan.
Yang membuat darahku terasa berhenti mengalir adalah dua kata di bagian tengah halaman.
Perjanjian pengakuan utang.
Aku memperbesar foto itu.
Bukan surat nikah. Bukan dokumen kepemilikan bersama seperti yang sempat kutakutkan.
Namun jumlah uang yang tercantum di sana membuatku langsung duduk tegak.

Delapan ratus lima puluh juta rupiah.
Ponselku kembali bergetar.
Nadya, tolong angkat. Aku harus menjelaskan semuanya.
Aku menatap putraku yang sedang tidur di samping Ibu. Wajahnya begitu tenang, seolah dunia orang dewasa tidak sedang runtuh di sekelilingnya.
Aku membawa ponsel ke teras sebelum akhirnya menerima panggilan berikutnya.
“Halo.”
“Nad.”
Suara Raka terdengar serak.
Aku tidak menjawab.
“Aku tahu aku salah karena pergi.”
“Kalau hanya itu yang mau kamu katakan, aku tutup.”
“Jangan. Tolong.”
Aku memejamkan mata.
“Jelaskan dokumen itu.”
Beberapa detik hanya terdengar napasnya.
“Dinda berutang kepadaku.”
“Delapan ratus lima puluh juta?”
“Iya.”
“Dari mana kamu punya uang sebanyak itu?”
Raka kembali diam.
Saat itulah aku tahu masalah sebenarnya jauh lebih besar daripada mantan kekasih yang membutuhkan pertolongan di terminal.
“Raka.”
“Aku mengambil pinjaman.”
“Atas nama siapa?”
“Atas namaku.”
“Jaminannya?”
Tidak ada jawaban.
Aku berdiri.
“Raka, apa jaminannya?”
“Apartemen.”
Dunia seakan berhenti.
Aku hampir tertawa karena jawaban itu terdengar terlalu gila untuk dipercaya.
Apartemen kami memang terdaftar atas nama kami berdua setelah menikah, tetapi uang muka dan sebagian besar cicilan awal berasal dari tabunganku sebelum pernikahan. Aku sengaja memasukkan nama Raka karena saat itu aku berpikir pernikahan berarti membangun sesuatu bersama.
“Kamu menjaminkan apartemen tanpa persetujuanku?”
“Nggak persis begitu.”
“Jangan bermain kata denganku.”
“Aku nggak menjaminkan seluruh apartemen. Aku menggunakan dokumen kepemilikan dan beberapa dokumen perusahaan sebagai bagian dari pengajuan pembiayaan. Ada prosedur yang belum selesai.”
Aku menahan napas.
“Kenapa?”
“Dinda punya usaha katering. Tahun lalu usahanya hampir bangkrut. Dia pinjam uang dari orang yang salah.”
“Lalu kamu menyelamatkannya.”
“Aku pikir aku bisa membantu tanpa membuat semuanya jadi begini.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu selalu berpikir begitu kalau menyangkut Dinda.”
“Nadya, dengarkan dulu.”
“Aku sedang mendengarkan. Itu masalahnya. Selama dua tahun aku terus mendengarkan alasanmu.”
Raka terdiam.
Aku bertanya, “Kenapa dia meneleponmu pada hari aku melahirkan?”
Suara Raka berubah.
“Karena orang yang memberi pinjaman kepada Dinda menemukannya.”
Aku mengernyit.
“Katanya dia kehilangan dompet.”
“Itu bohong.”
“Tentu saja.”
“Dinda panik. Dia baru turun dari bus ketika dua orang menunggunya. Mereka menuntut pembayaran.”
“Dan hanya kamu pahlawannya.”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
“Karena utang itu sekarang juga melibatkan namaku.”
Kalimat itu akhirnya menjelaskan sebagian kegilaan tersebut.
Raka mengatakan setelah membantu Dinda membayar utang pertama, dia meminta Dinda menandatangani pengakuan utang di hadapan notaris. Namun usaha Dinda kembali bermasalah. Beberapa cek yang seharusnya digunakan untuk mengembalikan uang ternyata tidak bisa dicairkan.
Orang-orang yang sebelumnya memberi pinjaman mulai menagih lagi.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang kepadaku?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Kamu tahu Dinda mantanku. Aku tahu bagaimana kedengarannya.”
“Jadi solusi terbaikmu adalah berbohong?”
“Aku pikir aku bisa menyelesaikannya sebelum kamu tahu.”
Aku tersenyum pahit.
“Dan pada hari anakmu lahir, kamu memilih menyelesaikan masalah mantanmu.”
“Nadya, malam itu aku benar-benar berniat kembali.”
“Tapi kamu tidak kembali selama tiga belas hari.”
Raka mengembuskan napas berat.
“Setelah aku sampai, situasinya lebih buruk. Ada laporan polisi. Ada masalah dengan dokumen usaha Dinda. Aku harus menemui pengacara dan beberapa orang yang terlibat.”
“Hotel?”
“Itu bukan kamar untuk aku dan Dinda.”
“Lalu?”
“Aku membayar kamar untuk Dinda karena dia takut pulang ke tempat tinggalnya. Aku sendiri menginap di rumah Arman dua malam.”
“Dan sebelas malam lainnya?”
“Hotel yang berbeda, kantor, rumah Arman. Aku bisa kasih semua buktinya.”
Aku menggigit bibir.
Ada satu pertanyaan yang lebih penting.
“Kamu sempat pulang ke apartemen.”
Raka terdiam.
“Sepupuku melihat kopermu hilang.”
“Iya.”
“Kapan?”
“Malam setelah kamu melahirkan.”
Dadaku terasa jauh lebih sakit daripada ketika mendengar tentang utang delapan ratus lima puluh juta.
“Jadi kamu pulang ke rumah.”
“Iya.”
“Kamu mengambil pakaian.”
“Iya.”
“Dan kamu tidak datang ke rumah sakit.”
“Nad…”
“Jawab.”
“Aku takut menghadapi kamu.”
Aku menutup mata.
Akhirnya, untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, aku mendengar sesuatu yang terdengar seperti kebenaran.
Bukan Dinda yang menahannya.
Bukan utang.
Bukan orang-orang yang mengejar mereka.
Raka membuat pilihan.
“Aku harus pergi,” kataku.
“Nadya, boleh aku melihat anak kita?”
“Nanti aku pikirkan.”
Aku menutup telepon.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Bukan karena aku ingin memercayai Raka, melainkan karena beberapa bagian ceritanya memang bisa dibuktikan.
Keesokan paginya aku menghubungi teman pengacaraku, Siska. Aku mengirimkan foto dokumen dari Raka.
Dua jam kemudian, Siska menelepon.
“Dokumennya kelihatannya asli.”
“Jadi Raka nggak bohong?”
“Aku bilang dokumennya kelihatannya asli. Aku nggak bilang semua ceritanya benar.”
Kalimat itu membuatku kembali waspada.
Siska meminta salinan lengkap perjanjian tersebut. Raka mengirimkannya tanpa protes. Dia juga mengirim bukti transfer, percakapan dengan pengacara, kuitansi hotel, dan laporan polisi.
Hampir semuanya mendukung ceritanya.
Hampir.
Karena Siska menemukan satu kejanggalan.
“Nadya, tanggal transfer pertama ke Dinda bukan tahun lalu.”
“Lalu?”
“Empat bulan lalu.”
Aku terdiam.
Empat bulan lalu berarti ketika kehamilanku sudah besar.
“Ada lagi,” lanjut Siska. “Nilai uang yang benar-benar ditransfer Raka hanya tiga ratus lima puluh juta.”
Aku menatap layar laptop.
“Tapi surat utangnya delapan ratus lima puluh juta.”
“Nah. Lima ratus juta sisanya dari mana?”
Aku langsung menelepon Raka.
Kali ini dia mengangkat pada dering pertama.
“Lima ratus juta itu apa?”
Dia tidak bertanya apa maksudku.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
“Nadya…”
“Jangan bohong lagi.”
Raka terdengar menarik napas.
“Lima ratus juta itu bukan uangku.”
“Uang siapa?”
“Dinda.”
Aku hampir kehilangan kesabaran.
“Kalau uangnya milik Dinda, kenapa dia berutang kepadamu?”
“Karena uang itu seharusnya bukan milik dia.”
Aku membeku.
Raka akhirnya mengaku.
Tiga bulan sebelumnya, Dinda mendatanginya dengan membawa bukti transfer lima ratus juta rupiah yang masuk ke rekening bisnisnya. Menurut Dinda, uang tersebut dikirim oleh seorang investor yang ingin membeli sebagian saham usahanya.
Namun beberapa hari kemudian, pengirim uang meminta dana itu dikembalikan karena mengaku terjadi kesalahan transfer.
Masalahnya, sebagian uang sudah digunakan Dinda untuk membayar utang.
Raka mencurigai ada sesuatu yang tidak beres dan mencoba membantu menyelesaikan masalah secara hukum. Untuk melindungi dirinya, dia memasukkan seluruh kewajiban Dinda ke dalam perjanjian utang.
“Tapi kenapa kamu sampai segitunya?” tanyaku.
Tidak ada jawaban.
“Kenapa, Raka?”
Kemudian dia mengatakan kalimat yang membuat seluruh cerita berubah lagi.
“Karena dulu aku pernah menikah dengan Dinda.”
Aku tidak langsung memahami ucapannya.
“Apa?”
“Pernikahan itu cuma sebelas bulan. Kami menikah muda. Sudah bercerai hampir lima tahun sebelum aku mengenalmu.”
Tanganku menjadi dingin.
“Kamu bilang kalian hampir menikah.”
“Aku bohong.”
“Kenapa?”
“Karena aku takut kamu nggak mau menikah denganku kalau tahu.”
Aku menutup telepon tanpa berkata apa-apa.
Kebohongan itu terasa lebih besar daripada perselingkuhan.
Raka bukan sekadar menyembunyikan masalah keuangan.
Dia telah mengubah masa lalunya agar aku mau membangun masa depan bersamanya.
Tiga hari kemudian, aku meminta bertemu dengannya di kantor Siska.
Raka datang lebih kurus. Matanya cekung. Untuk pertama kalinya aku melihatnya tanpa rasa rindu.
Dia meletakkan sebuah kotak kecil di meja.
“Ini hadiah untuk anak kita.”
Aku tidak menyentuhnya.
Siska duduk di sampingku.
“Ada beberapa dokumen yang perlu kami tanyakan,” katanya.
Raka mengangguk.
Lalu pintu ruang rapat terbuka.
Seorang perempuan masuk.
Dinda.
Wajah Raka langsung berubah.
“Kamu ngapain di sini?”
Dinda menatapku, bukan Raka.
“Aku yang minta datang,” katanya.
Aku menoleh kepada Siska.
Siska mengangguk kecil.
Ternyata sejak kemarin Dinda menghubunginya.
“Ada sesuatu yang Mbak Nadya harus tahu,” ujar Dinda.
Raka berdiri.
“Din, jangan.”
“Sudah cukup, Ka.”
Dinda mengeluarkan ponsel dan meletakkannya di meja.
Ada rekaman percakapan.
Suara Raka terdengar jelas.
Kalau Nadya tahu aku pernah menikah sama kamu, semuanya bisa hancur.
Kemudian suara Dinda.
Aku nggak pernah minta kamu bohong ke istrimu.
Rekaman berlanjut.
Tanggalnya dua bulan sebelum persalinanku.
Namun bagian berikutnya membuatku menatap Raka.
Aku sudah pakai sebagian dana rekening bersama. Setelah masalah ini selesai, aku balikin sebelum Nadya sadar.
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.
“Rekening bersama?”
Wajah Raka pucat.
Aku segera membuka aplikasi bank.
Selama berada di rumah sakit dan setelah melahirkan, aku hanya memeriksa transaksi kartu. Aku tidak pernah memeriksa rekening investasi bersama yang jarang kami gunakan.
Saldo terakhir membuat lututku lemas.
Enam ratus dua puluh juta rupiah telah hilang.
Raka mengambil uang itu dalam beberapa transaksi selama empat bulan.
“Katanya kamu mengambil pinjaman,” bisikku.
“Aku memang ambil pinjaman.”
“Dan uang kita juga?”
Raka tidak mampu menatapku.
Dinda mulai menangis.
“Aku baru tahu uang itu milik kalian setelah Raka datang ke terminal. Aku kira semuanya uang pinjaman.”
Aku menatap perempuan yang selama hampir dua minggu kubenci.
Tiba-tiba aku menyadari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Dinda memang bagian dari masalah.
Tetapi dia bukan orang yang mengkhianati janji pernikahan denganku.
Raka-lah orangnya.
“Kenapa kamu mengirim pesan kepadaku seolah-olah Raka sedang menemanimu?” tanyaku kepada Dinda.
“Aku panik. Raka bilang Mbak baru masuk rumah sakit, bukan sedang melahirkan. Aku baru tahu anak kalian sudah lahir setelah Mbak membalas.”
Raka mencoba bicara.
“Nadya, aku bisa mengembalikan semuanya.”
Aku menatapnya.
“Kamu masih belum mengerti.”
“Aku akan jual mobil. Aku akan kerja apa saja. Kasih aku waktu.”
“Ini bukan tentang enam ratus juta.”
Matanya memerah.
“Ini tentang setiap kali kamu punya kesempatan mengatakan kebenaran, kamu memilih kebohongan yang menurutmu paling nyaman.”
Ruangan menjadi sunyi.
Aku kemudian mengeluarkan sebuah map baru.
Kali ini bukan map cokelat yang kutinggalkan di apartemen.
Map itu berwarna biru.
Aku mendorongnya ke depan Raka.
Di dalamnya terdapat surat dari pengacara mengenai pemisahan aset, permintaan pertanggungjawaban dana rekening bersama, serta dokumen awal proses perceraian.
Tangannya gemetar ketika membacanya.
“Nadya, jangan begini.”
Aku tersenyum tipis.
“Tiga belas hari lalu, aku memohon agar kamu memilih aku.”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Raka.
Aku melanjutkan, “Hari ini aku tidak meminta kamu memilih siapa pun.”
Aku berdiri.
“Karena aku sudah memilih diriku sendiri.”
Enam bulan kemudian, perceraian kami belum sepenuhnya sederhana. Ada uang yang harus dikembalikan, aset yang harus diperiksa, dan banyak kebohongan yang harus diurai satu per satu.
Raka tetap diperbolehkan menemui putranya melalui pengaturan yang kami sepakati. Aku tidak ingin kemarahanku sebagai istri berubah menjadi hukuman bagi seorang anak yang tidak mengerti apa pun.
Dinda menjual usaha kateringnya dan mengembalikan sebagian dana. Setelah itu kami tidak pernah berhubungan lagi.
Suatu sore, ketika aku sedang membereskan lemari di rumah Ibu, aku menemukan kotak hadiah yang dulu dibawa Raka.
Selama berbulan-bulan aku tidak pernah membukanya.
Di dalamnya ada gelang kecil dengan nama putra kami terukir di bagian belakang.
Di bawah gelang itu terselip secarik kertas.
Tulisan tangan Raka.
Ayah minta maaf karena tidak ada saat kamu datang ke dunia.
Aku membaca kalimat itu sekali.
Lalu menutup kotaknya.
Aku tidak membuangnya.
Suatu hari, ketika putraku cukup dewasa, mungkin aku akan memberikannya kepadanya.
Bukan untuk membuatnya membenci ayahnya.
Melainkan agar dia memahami sesuatu yang baru kupelajari setelah malam paling sepi dalam hidupku.
Cinta tidak selalu berakhir ketika seseorang berhenti mencintai.
Kadang cinta berakhir ketika kepercayaan sudah terlalu sering diminta bertahan hidup di antara kebohongan.
Dan keluarga bukan tentang siapa yang paling keras meminta kesempatan kedua.
Keluarga adalah tentang siapa yang tetap tinggal ketika hidup sedang berada pada titik paling sulit.
Pada malam ketika putraku lahir, Raka membuat pilihannya.
Tiga belas hari kemudian, ketika dia menemukan map cokelat di meja, tanpa sadar dia memberiku kesempatan untuk membuat pilihanku sendiri.
Ternyata kehilangan seorang suami bukanlah hal yang paling menakutkan.
Yang lebih menakutkan adalah kehilangan diriku sendiri hanya demi mempertahankan seseorang yang sudah berkali-kali memilih meninggalkanku.
Untungnya, kali ini aku berhenti menunggu di depan pintu.
Aku memilih berjalan pergi.
