Aku mengira pengkhianatan Arga adalah hal terburuk yang akan kutemukan malam itu.
Ternyata aku salah.
Ratih membuka laporan audit di hadapanku. Beberapa lembar pertama berisi tabel pembayaran, nomor rekening, nama vendor, dan rangkaian transaksi yang terjadi selama delapan bulan terakhir.
Aku mengenali nama proyeknya.
Enam pusat rehabilitasi terpadu.
Proyek yang baru saja membuat Arga menerima penghargaan.
“Jelaskan,” kataku.
Ratih menurunkan suaranya.
“Tim audit kami menemukan kejanggalan saat pemeriksaan akhir sebelum kontrak ditandatangani. Ada tiga perusahaan konsultan yang menerima pembayaran dari Sentra Medika untuk biaya pengembangan proyek.”
“Apa masalahnya?”

“Salah satunya baru didirikan sembilan bulan lalu.”
Ratih membalik halaman.
Nama sebuah perusahaan tercetak di sana.
PT Nadi Karya Konsultan.
Di bawahnya tercantum nama pemegang saham.
Nadira Maheswari.
Aku mengangkat kepala.
Nadira yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari Arga mendadak pucat.
Bima segera mendekat.
“Bu Ratih, mungkin sebaiknya kita membicarakan ini di ruangan lain.”
“Kenapa?” tanyaku.
Bima terdiam.
Aku menatapnya. “Tadi urusan rumah tangga saya dianggap pantas dipertontonkan di depan semua orang. Sekarang urusan perusahaan justru harus disembunyikan?”
Beberapa tamu mulai berbisik.
Arga meletakkan plakat penghargaan di atas meja.
“Rani, dengarkan aku dulu.”
“Aku sedang mendengarkan laporan audit.”
“Ini tidak seperti yang terlihat.”
Kalimat itu membuatku tersenyum tipis.
Aneh sekali.
Orang yang ketahuan berkhianat selalu mengatakan hal yang sama.
Aku kembali membaca dokumen.
PT Nadi Karya Konsultan menerima pembayaran hampir empat miliar rupiah untuk jasa kajian kelayakan, koordinasi lapangan, dan konsultasi pengembangan jaringan.
Masalahnya, sebagian besar pekerjaan tersebut sebenarnya dilakukan oleh tim internal Sentra Medika.
“Kenapa perusahaan Nadira menerima uang untuk pekerjaan yang dilakukan orang lain?”
Arga mendekat.
“Itu skema kerja sama sementara.”
“Disetujui siapa?”
Dia diam.
Ratih menunjuk salah satu halaman.
“Persetujuan pembayaran menggunakan otorisasi Pak Arga.”
Ballroom benar-benar sunyi.
Nadira akhirnya berdiri.
“Ini keterlaluan. Saya sedang hamil dan kalian mempermalukan saya di depan semua orang.”
Aku menatapnya.
“Kamu yang menyiram wajahku di depan semua orang.”
“Aku sedang emosional.”
“Kehamilan tidak mengubah fakta di laporan keuangan.”
Arga memotong dengan suara keras.
“Cukup, Rani.”
Aku menoleh kepadanya.
Wajah laki-laki itu merah.
Entah karena malu atau marah.
“Malam ini seharusnya menjadi malam terbaik dalam karierku. Kamu datang lalu membuat semuanya berantakan.”
Aku hampir tidak percaya.
“Kamu pikir aku yang membuatnya berantakan?”
“Kalau kamu tidak menghentikan kontrak, masalah audit ini bisa dibicarakan secara profesional besok.”
“Profesional?”
Aku menunjuk Nadira.
“Kamu berselingkuh dengan bawahanmu, menghamilinya, lalu mengalirkan miliaran rupiah ke perusahaan miliknya. Bagian mana yang ingin kamu sebut profesional?”
Arga menatapku tajam.
“Aku tidak mencuri uangmu.”
“Bukan uangku yang sedang kita bicarakan.”
“Lalu kenapa kamu bertindak seolah semuanya milikmu?”
Ratih tiba-tiba berkata, “Karena memang sebagian besar proyek itu berada di bawah kendali investasinya.”
Arga menoleh cepat.
Ratih melanjutkan.
“Enam fasilitas rehabilitasi itu dikembangkan oleh Arunika Health Capital. Bu Rani adalah pemegang saham pengendali sekaligus ketua komite investasi.”
Aku melihat ekspresi Arga berubah.
Selama enam tahun, dia tidak pernah sekali pun bertanya mengapa aku sering pergi ke Singapura untuk rapat, mengapa beberapa direktur rumah sakit meneleponku larut malam, atau mengapa aku memiliki kantor yang hampir tidak pernah kukunjungi bersamanya.
Baginya, aku hanya perempuan yang kebetulan lahir dari keluarga berada.
Pekerjaanku dianggap hobi mahal.
Kesuksesannya dianggap hasil kerja kerasnya sendiri.
“Tidak mungkin,” katanya.
Aku tidak menjawab.
Ratih yang menjawab.
“Rekomendasi awal Sentra Medika datang langsung dari Bu Rani. Bahkan ketika dua anggota komite menolak karena rekam jejak perusahaan belum cukup kuat, Bu Rani meminta kami memberi kesempatan.”
Arga memandangku.
“Kamu?”
Aku mengangguk.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Pertanyaan itu terasa ironis.
“Aku pernah mencoba.”
“Kapan?”
“Tiga tahun lalu, ketika aku mengajakmu menghadiri makan malam bersama tim investasi.”
Arga terdiam.
Aku masih mengingat malam itu.
Dia membatalkan lima belas menit sebelum kami berangkat karena Nadira mengajaknya bertemu calon klien.
Saat pulang, dia berkata pekerjaanku tidak akan ke mana-mana, sedangkan kariernya sedang membutuhkan perhatian.
Sejak saat itu aku berhenti mengajaknya.
Bukan karena ingin merahasiakan sesuatu.
Aku hanya lelah meminta suamiku tertarik pada kehidupanku.
Bima mengusap wajahnya.
“Pak Arga, saya perlu penjelasan mengenai PT Nadi Karya.”
Nadira buru-buru berkata, “Perusahaan itu milik keluarga saya.”
Ratih menggeleng.
“Dokumen legal menunjukkan delapan puluh lima persen saham atas nama Anda.”
“Itu investasi pribadi.”
“Dan menerima pembayaran dari proyek yang Anda kelola sebagai kepala hubungan klien?”
Nadira kehilangan kata-kata.
Arga tiba-tiba menarik Bima menjauh.
“Pak Bima, kita sudah bekerja bertahun-tahun. Jangan mengambil kesimpulan hanya berdasarkan laporan awal.”
Bima menatapnya dingin.
“Empat miliar bukan kesimpulan, Ga.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Besok pagi. Bersama tim legal.”
Arga membeku.
Bima kemudian memanggil kepala sumber daya manusia yang berada di dekat panggung.
“Mulai malam ini, akses Pak Arga dan Bu Nadira ke sistem perusahaan dinonaktifkan sementara sampai investigasi selesai.”
Nadira langsung berdiri.
“Pak Bima!”
Arga bahkan lebih keras.
“Bapak tidak bisa melakukan ini kepada saya. Saya baru saja membawa kontrak terbesar perusahaan.”
Bima memandang plakat di atas meja.
“Kontrak itu belum ada, Pak Arga.”
Kalimat tersebut menghantam lebih keras daripada teriakan.
Semua orang memandang Arga.
Laki-laki yang sepuluh menit sebelumnya menerima tepuk tangan kini berdiri sendirian di samping panggung.
Aku tidak merasa puas.
Yang kurasakan justru kosong.
Aku pernah mencintai laki-laki itu ketika dia belum memiliki jabatan, mobil perusahaan, atau jas mahal.
Aku mengenalnya ketika dia masih membawa laptop rusak ke kafe murah dan menghitung uang sebelum memesan kopi kedua.
Aku percaya ambisinya akan membawa kami tumbuh bersama.
Aku tidak menyadari bahwa suatu hari ambisi itu membuatnya menganggap semua orang hanya sebagai tangga.
Termasuk aku.
Aku mengambil tas.
“Aku pulang.”
Arga mengejarku sampai koridor hotel.
“Rani!”
Aku berhenti.
Pintu ballroom tertutup di belakang kami.
Untuk pertama kalinya malam itu kami benar-benar hanya berdua.
“Aku melakukan semua ini untuk masa depan,” katanya.
“Masa depan siapa?”
“Dengar dulu.”
Dia mendekat.
“Aku memang salah soal Nadira.”
Aku menatapnya.
“Hanya soal Nadira?”
Arga mengusap wajah.
“Perusahaan konsultannya bukan ideku. Dia yang mengusulkan. Kami membutuhkan dana untuk membangun jaringan sendiri setelah kontrak ini berhasil.”
Aku mulai memahami.
“Kalian mau keluar dari Sentra Medika?”
Arga diam beberapa detik.
“Kami berencana mendirikan perusahaan sendiri.”
“Kami?”
“Aku dan Nadira.”
Ada rasa sakit yang aneh ketika mendengarnya mengucapkan itu dengan begitu mudah.
Bukan hanya karena perselingkuhan.
Ternyata ketika aku masih merencanakan rumah baru bersama suamiku, dia sedang merencanakan kehidupan baru bersama perempuan lain.
“Jadi setelah menggunakan kontrak ini untuk meningkatkan reputasimu, kamu akan keluar?”
“Aku pantas punya sesuatu milikku sendiri.”
“Kamu selalu pantas mendapatkan sesuatu, ya?”
Arga mengeraskan rahangnya.
“Kamu tidak mengerti bagaimana rasanya hidup di bawah bayang-bayang keluarga kaya.”
Aku menatapnya lama.
“Aku tidak pernah meminta kamu hidup di bawah bayang-bayang siapa pun.”
“Tapi semua yang kamu punya selalu lebih besar. Rumah keluargamu, jaringanmu, investasimu. Aku harus membuktikan bahwa aku bisa berhasil tanpa bantuanmu.”
“Dengan mencuri kesempatan yang kuberikan diam-diam?”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan.
“Aku tidak pernah ingin kamu merasa kecil, Arga. Karena itu aku tidak pernah menyebut namaku ketika memperkenalkanmu kepada orang-orang. Aku membiarkanmu berdiri sendiri.”
“Justru itu masalahnya.”
Aku mengernyit.
“Aku selalu merasa kamu bisa mengambil semuanya kapan saja.”
Akhirnya aku memahami sesuatu.
Arga tidak berselingkuh karena aku kurang mencintainya.
Dia tidak merendahkanku karena aku gagal menjadi istri.
Dia melakukannya karena selama bertahun-tahun dia mengubah rasa tidak amannya menjadi kebencian terhadap orang yang paling dekat dengannya.
“Aku tidak pernah mengambil apa pun darimu,” kataku.
“Sekarang kamu mengambil kontrakku.”
“Bukan.”
Aku menggeleng.
“Kamu sendiri yang menghancurkannya.”
Aku meninggalkannya di koridor.
Tiga minggu berikutnya berlangsung seperti badai.
Audit menemukan bahwa pembayaran kepada PT Nadi Karya bukan satu-satunya transaksi bermasalah. Ada dua vendor lain yang ternyata memiliki hubungan dengan rekan lama Arga. Nilainya tidak sebesar pembayaran kepada perusahaan Nadira, tetapi cukup untuk menunjukkan pola konflik kepentingan yang sengaja disembunyikan.
Arga diberhentikan.
Nadira mengundurkan diri sebelum proses disipliner selesai.
Sentra Medika mengembalikan plakat penghargaan malam itu kepada panitia internal dan mengumumkan evaluasi menyeluruh atas proses pengadaan mereka.
Namun aku tidak langsung membatalkan kerja sama.
Banyak karyawan Sentra Medika tidak tahu apa-apa mengenai tindakan Arga.
Menghukum ratusan orang karena kesalahan dua orang bukanlah keputusan bisnis yang masuk akal.
Kami membuka kembali proses evaluasi.
Sentra Medika boleh mengikuti tender ulang, tetapi dengan tim kepemimpinan proyek yang berbeda dan sistem pengawasan baru.
Dua bulan kemudian, mereka memenangkan empat dari enam fasilitas.
Bukan karena aku.
Bukan karena Arga.
Melainkan karena proposal mereka memang layak.
Sementara itu, proses perceraianku berjalan lebih tenang daripada yang kubayangkan.
Arga tidak mendapatkan apartemen untuk diberikan kepadaku seperti yang pernah dia tawarkan dengan angkuh.
Justru dia harus menjual apartemen investasinya untuk menyelesaikan sejumlah kewajiban hukum.
Suatu sore, setelah sidang mediasi terakhir, dia menungguku di depan gedung pengadilan.
Penampilannya berubah.
Tidak ada jas mahal.
Tidak ada sopir.
Tidak ada Nadira.
“Rani.”
Aku berhenti.
“Aku cuma mau mengatakan sesuatu.”
Aku menunggu.
Arga menatap trotoar.
“Nadira pergi.”
Aku tidak bereaksi.
“Dia pindah ke Surabaya bersama keluarganya.”
“Semoga dia baik-baik saja.”
Arga menatapku seolah kecewa karena aku tidak bertanya lebih jauh.
Kemudian dia berkata, “Anaknya bukan anakku.”
Untuk pertama kalinya aku benar-benar terkejut.
“Apa?”
“Tes DNA.”
Dia tertawa pahit.
“Nadira sudah hamil ketika hubungan kami dimulai.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Dia bilang anak itu milikku karena dia tahu aku akan meninggalkan semuanya untuk membangun perusahaan bersamanya.”
Ironinya begitu sempurna sampai terasa kejam.
Arga meninggalkan istrinya demi perempuan yang memberinya gambaran tentang keluarga baru.
Nadira memilih Arga karena mengira dia akan segera menjadi direktur kaya dengan kontrak raksasa.
Keduanya jatuh cinta bukan kepada satu sama lain, melainkan kepada masa depan yang mereka bayangkan bisa diperoleh dari orang lain.
“Maaf,” katanya akhirnya.
Aku menatap wajahnya.
Dulu, satu kata itu mungkin bisa membuatku menangis.
Sekarang tidak lagi.
“Aku benar-benar minta maaf, Ran. Kalau aku bisa mengulang semuanya…”
“Kamu tidak bisa.”
“Aku tahu.”
Dia mengangguk.
“Aku baru sadar sesuatu setelah semuanya hilang.”
“Apa?”
“Selama ini aku pikir kamu berdiri di belakangku karena kamu tidak punya tempat lain.”
Aku diam.
“Ternyata kamu berdiri di belakangku karena kamu memilih melakukannya.”
Aku tersenyum kecil.
Setidaknya akhirnya dia mengerti.
“Terlambat, Ga.”
“Aku tahu.”
Aku berjalan menuju mobil.
Sebelum masuk, Arga memanggil sekali lagi.
“Rani.”
Aku menoleh.
“Apakah kamu pernah menyesal membantuku?”
Pertanyaan itu membuatku berpikir beberapa detik.
“Tidak.”
Dia terlihat terkejut.
“Aku menyesal kamu menyia-nyiakannya. Tapi aku tidak menyesal pernah percaya kepadamu.”
Aku masuk ke mobil dan pergi.
Enam bulan kemudian, pusat rehabilitasi pertama dibuka di Yogyakarta.
Aku berdiri di lantai dua bangunan itu ketika Ratih menghampiriku membawa sebuah map.
“Kontrak fasilitas terakhir sudah selesai.”
Aku menandatanganinya.
Ratih tersenyum.
“Lucu juga kalau mengingat semua ini dimulai dari pesta penghargaan.”
Aku melihat halaman depan gedung melalui jendela.
“Bukan dari pesta itu.”
“Lalu?”
Aku teringat diriku bertahun-tahun lalu, duduk di samping Arga yang frustrasi setelah ditolak calon klien ketiga. Aku yang menelepon kenalan pertama. Aku yang membuka pintu pertama. Aku yang memilih diam ketika dia mulai percaya semua pintu terbuka karena dirinya sendiri.
“Semua ini dimulai ketika aku mengira mencintai seseorang berarti mengecilkan diri agar dia bisa merasa lebih besar.”
Ratih tidak mengatakan apa-apa.
Aku menutup map.
Ponselku berbunyi.
Sebuah pesan dari nomor yang tidak kukenal masuk.
Bu Rani, saya Nadira. Saya tidak meminta Anda memaafkan saya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa malam itu saya menyiram Anda karena Arga mengatakan Anda tidak bekerja, tidak punya penghasilan sendiri, dan akan mempertahankan pernikahan apa pun yang terjadi. Saya percaya kepadanya. Sekarang saya tahu kami berdua sama-sama percaya pada kebohongan yang menguntungkan kami.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Kemudian menghapusnya.
Bukan karena aku membenci Nadira.
Aku hanya tidak membutuhkan penjelasan lain untuk menutup cerita yang sudah selesai.
Aku berdiri dan berjalan menuju ruang peresmian.
Di bawah, puluhan tenaga medis, investor, dan karyawan sudah menunggu.
Kali ini, ketika pembawa acara menyebut namaku sebagai orang yang memimpin proyek, aku tidak berdiri di belakang siapa pun.
Aku berjalan ke depan.
Tepuk tangan terdengar.
Namun anehnya, bukan tepuk tangan itu yang membuatku merasa menang.
Kemenangan sebenarnya terjadi jauh sebelumnya.
Pada malam ketika wajahku basah oleh segelas air dingin, suamiku memilih perempuan lain di depan ratusan orang, dan seluruh hidup yang kukira kubangun bersama seseorang runtuh dalam hitungan menit.
Karena malam itulah akhirnya aku memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani kuakui.
Cinta tidak seharusnya meminta seseorang menghilang agar pasangannya terlihat bersinar.
Dan orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan membutuhkanmu menjadi lebih kecil agar dirinya merasa lebih besar.
Aku pernah memberikan Arga kesempatan terbesar dalam kariernya tanpa meminta namaku disebut.
Dia menganggap diamku sebagai kelemahan.
Dia menganggap kesetiaanku sebagai ketergantungan.
Dia bahkan mengira aku tidak akan sanggup pergi.
Pada akhirnya, dia salah tentang semuanya.
Karena ketika aku akhirnya meninggalkan ballroom malam itu, aku tidak meninggalkan hidupku.
Aku hanya berhenti menyerahkan hidupku kepada seseorang yang tidak pernah benar-benar menghargainya.
