AKU PULANG LEBIH AWAL UNTUK MEMBERI KEJUTAN KEPADA SUAMIKU, TETAPI YANG KUTEMUKAN JUSTRU IBUKU YANG HAMPIR MEREGANG NYAWA SETELAH DIJADIKAN PEMBANTU DI RUMAHKU SENDIRI. DAN RUMAH MEWAH DI SEBERANG JALAN MENYIMPAN SEBUAH RAHASIA YANG AKAN MENGHANCURKAN SELURUH DUNIAKU.

Aku berdiri membeku di ujung lorong.

Ibuku, Bu Ratih, yang seharusnya berbaring dan beristirahat karena kondisi paru-parunya, sedang berlutut di atas lantai marmer yang dingin.

Di hadapannya ada ember berisi air keruh, kain pel, dan tumpukan piring kotor.

Tubuhnya tampak jauh lebih kurus dibandingkan ketika terakhir kali aku melihatnya empat hari lalu. Rambutnya basah oleh keringat. Wajahnya pucat seperti kehilangan darah. Kedua tangannya gemetar saat mencoba memeras kain pel.

Lalu dia batuk.

Sekali.

Dua kali.

Pada batuk ketiga, tubuhnya terhuyung dan tangannya mencengkeram dada.

“Ibu!”

Aku berlari.

Bu Ratih menoleh. Matanya membesar ketika melihatku.

“Alya?”

Aku berhasil menangkap tubuhnya sebelum kepalanya menghantam lantai.

“Ya Allah, Bu. Kenapa Ibu di sini? Mana perawat? Kenapa Ibu mengepel?”

Ibuku justru terlihat ketakutan.

Bukan lega.

Ketakutan.

Tangannya yang dingin mencengkeram lenganku.

“Kamu pulang sekarang?”

Aku tercekat mendengar pertanyaan itu.

“Memangnya kenapa kalau aku pulang sekarang?”

Bu Ratih menoleh ke arah tangga.

“Alya, kamu pergi dulu.”

“Apa?”

“Pergi dari rumah ini.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Belum sempat aku bertanya lagi, terdengar suara langkah kaki dari lantai atas.

Sepatu hak tinggi.

Perlahan menuruni tangga.

Aku menoleh.

Seorang perempuan sekitar tiga puluh tahun berdiri di anak tangga terakhir.

Aku mengenalnya.

Namanya Selina.

Dia pernah diperkenalkan Arga sebagai konsultan interior yang bekerja dengannya dalam beberapa proyek.

Selina mengenakan pakaian santai mahal yang pernah kulihat tergantung di lemari utama rumahku.

Lebih buruk lagi, perempuan itu memakai sandal rumah milikku.

Dia menatapku seolah akulah tamu yang datang tanpa undangan.

“Kok kamu sudah pulang?”

Darahku terasa mendidih.

“Di mana Arga?”

Selina tidak langsung menjawab.

Matanya beralih kepada Bu Ratih.

Ekspresinya berubah dingin.

“Saya sudah bilang Ibu harus selesai membersihkan dapur sebelum sore.”

Aku berdiri.

“Apa katamu?”

Selina tersentak sedikit.

“Alya, mungkin kamu salah paham.”

“Aku tanya apa yang barusan kamu katakan kepada ibuku.”

Dia mencoba tersenyum.

“Bu Ratih memang suka membantu pekerjaan rumah.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Membantu?

Ibuku bahkan kesulitan berdiri.

Aku membuka mantel yang kupakai, menyelimuti tubuh Bu Ratih, lalu mengambil ponsel.

“Aku telepon ambulans.”

Namun Bu Ratih buru-buru menahan tanganku.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Arga akan marah.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam diriku.

Selama ini aku mengira Arga menjaga ibuku.

Ternyata ibuku takut kepadanya.

“Apa yang dia lakukan kepada Ibu?”

Bu Ratih menunduk.

Selina tiba-tiba menyela.

“Kita bisa bicara setelah Arga pulang.”

Aku menatapnya.

“Kamu keluar dari rumahku.”

Wajah Selina menegang.

“Rumahmu?”

Aku terdiam.

Dia tertawa kecil.

“Kamu benar-benar tidak tahu, ya?”

Jantungku berdetak semakin cepat.

“Tahu apa?”

Namun sebelum Selina menjawab, pintu depan terbuka.

Arga masuk sambil menutup payung.

Begitu melihatku, wajahnya langsung berubah.

“Alya?”

Aku melihat reaksinya.

Bukan bahagia.

Bukan terkejut karena mendapat kejutan.

Panik.

Tatapanku berpindah dari Arga kepada Selina.

“Jelaskan.”

Arga melepas jas hujannya perlahan.

“Kamu seharusnya di Surabaya.”

“Aku pulang karena khawatir dengan Ibu.”

Aku menunjuk Bu Ratih.

“Dan ternyata aku memang harus khawatir.”

Arga mengembuskan napas panjang.

“Jangan membuat drama.”

Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Drama?”

“Dokter memang bilang ibumu sakit, tapi bukan berarti dia tidak boleh bergerak sama sekali.”

“Bergerak dan mengepel seluruh rumah adalah dua hal yang berbeda.”

Arga menatap Bu Ratih.

“Aku sudah menyuruh Ibu untuk tidak menceritakan hal-hal yang bisa membuat Alya salah paham.”

Aku langsung berdiri di depannya.

“Jangan bicara kepada ibuku seperti itu.”

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku melihat wajah Arga yang tidak kukenal.

Tidak ada kelembutan.

Tidak ada kesabaran.

Yang ada hanyalah kejengkelan karena sesuatu yang selama ini disembunyikannya akhirnya terbongkar.

Aku kembali menatap Selina.

“Kenapa perempuan ini tinggal di rumahku?”

Arga diam.

Selina justru menjawab.

“Karena kami akan segera menikah.”

Ruangan itu seakan kehilangan udara.

Aku memandang Arga.

“Katakan dia bohong.”

Arga memijat pelipis.

“Alya, pernikahan kita memang sudah lama tidak berjalan.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

“Kapan tepatnya kamu memutuskan itu? Sebelum atau sesudah mengambil alih asetku?”

Wajah Arga berubah.

Aku menangkap perubahan itu.

Dan pada saat itulah aku sadar persoalannya jauh lebih besar daripada perselingkuhan.

Aku menggenggam tangan Ibu.

“Kita pergi.”

Arga bergerak menghadang.

“Tidak ada yang pergi sebelum kita bicara.”

“Menjauh.”

“Alya.”

“Menjauh dari kami.”

Nada suaraku membuatnya berhenti.

Aku membawa Ibu ke garasi. Tapi ketika hampir sampai ke mobil, Bu Ratih tiba-tiba memegang dadanya.

Tubuhnya limbung.

“Ibu!”

Aku segera membaringkannya di kursi belakang dan menelepon ambulans.

Sambil menunggu, Bu Ratih berbisik dengan suara nyaris tak terdengar.

“Rumah seberang.”

Aku mendekatkan telinga.

“Apa?”

“Rumah besar seberang jalan.”

Aku melihat melalui kaca mobil.

Di seberang rumah kami berdiri sebuah rumah mewah berwarna abu-abu yang selama bertahun-tahun kukira kosong.

Lampunya padam.

Tirai-tirainya selalu tertutup.

“Ada apa dengan rumah itu?”

Bu Ratih menelan ludah.

“Setiap malam Arga ke sana.”

Aku menatapnya.

“Dengan Selina?”

Ibu menggeleng perlahan.

“Bukan cuma dia.”

Ambulans tiba sebelum Ibu sempat menjelaskan.

Di rumah sakit, dokter mengatakan kondisi paru-paru Bu Ratih memburuk akibat kelelahan berat dan paparan bahan pembersih.

Aku duduk di koridor sambil memegang hasil pemeriksaannya.

Kemarahanku berubah menjadi rasa bersalah.

Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya?

Telepon yang semakin singkat.

Suara Ibu yang selalu terdengar lelah.

Alasan Arga bahwa Ibu sedang tidur setiap kali aku ingin melakukan panggilan video.

Semua petunjuk itu sebenarnya ada.

Aku hanya terlalu percaya.

Malam itu, saat Ibu tertidur karena obat, aku menghubungi Dimas, kepala divisi legal perusahaanku.

“Aku butuh kamu memeriksa semua aset atas namaku dan semua surat kuasa yang pernah kuberikan kepada Arga.”

Dimas terdiam beberapa detik.

“Ada masalah?”

“Anggap saja aku baru sadar aku menikah dengan orang yang mungkin tidak pernah kukenal.”

Kurang dari satu jam kemudian, Dimas menelepon kembali.

Nada suaranya serius.

“Alya, kita punya masalah besar.”

Beberapa aset memang masih atas namaku, tetapi terdapat pengajuan pemindahan kepemilikan terhadap rumah utama dan dua properti investasi.

Ada tanda tanganku.

Masalahnya, aku tidak pernah menandatanganinya.

“Tanda tangannya dipalsukan?”

“Kemungkinan besar.”

Aku menutup mata.

“Rumah di seberang rumahku. Cari tahu siapa pemiliknya.”

Dimas meminta waktu beberapa menit.

Ketika dia menelepon kembali, suaranya terdengar semakin aneh.

“Rumah itu dimiliki PT Mutiara Karya Sentosa.”

“Siapa direktur perusahaan itu?”

“Arga Pratama.”

Tanganku membeku.

“Sejak kapan?”

“Empat tahun lalu.”

Empat tahun.

Kami baru menikah tiga tahun.

Artinya perusahaan itu sudah ada sebelum pernikahan kami.

“Cari semuanya.”

Keesokan paginya, Bu Ratih sudah sedikit lebih stabil.

Aku duduk di samping tempat tidurnya.

“Ibu harus cerita semuanya.”

Air mata memenuhi matanya.

“Maafkan Ibu.”

“Jangan minta maaf.”

“Arga mengancam kalau Ibu bicara, dia akan membuat perusahaanmu hancur.”

Aku membeku.

“Bagaimana?”

“Dia bilang banyak surat perusahaan ada di tangannya.”

Ibu kemudian menceritakan semuanya.

Dua bulan setelah aku mulai sering bepergian untuk urusan bisnis, Arga memecat perawat pribadi Bu Ratih tanpa sepengetahuanku.

Kemudian satu per satu asisten rumah tangga juga diberhentikan.

Arga mengatakan kepadaku mereka mengundurkan diri.

Setelah rumah kosong, dia mulai menyuruh Bu Ratih membersihkan rumah, memasak, mencuci, bahkan melayani tamu-tamunya.

Jika Ibu menolak, Arga mengancam akan mengusirnya.

“Tamu siapa?”

Ibu menatapku.

“Orang-orang dari rumah seberang.”

Aku memutuskan kembali ke Pondok Indah malam itu bersama Dimas dan dua petugas keamanan perusahaan.

Kami tidak masuk ke rumahku.

Kami menuju rumah di seberang jalan.

Dimas sudah menemukan bahwa rumah tersebut sebenarnya memiliki akses belakang yang tersambung ke gang kecil di balik kompleks.

Pintu samping tidak terkunci.

Kami masuk.

Ruang tamunya kosong.

Namun di lantai dua terdapat ruangan seperti kantor.

Di sanalah duniaku benar-benar runtuh.

Dinding dipenuhi dokumen perusahaan kosmetikku.

Proyeksi keuangan.

Rencana peluncuran produk.

Daftar pemasok.

Bahkan strategi ekspansi yang hanya diketahui oleh jajaran direksi.

Di atas meja terdapat beberapa stempel perusahaan dan berkas dengan tanda tanganku.

Palsu.

Dimas mengambil satu dokumen.

“Ini rancangan pengalihan saham.”

Aku membacanya.

Jika berhasil disahkan, sebagian besar kepemilikan perusahaanku akan dipindahkan kepada perusahaan milik Arga.

Selina tercatat sebagai komisaris.

Tapi ada satu nama lain.

Seseorang bernama Hendra Mahardika.

Aku tidak mengenalnya.

Kami mendengar suara mobil berhenti di depan.

Arga datang.

Bersama seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun.

Aku dan Dimas bersembunyi di ruangan sebelah.

Suara mereka terdengar jelas.

“Kenapa Alya pulang lebih cepat?” pria itu bertanya.

“Aku tidak tahu.”

“Dan ibunya?”

“Masuk rumah sakit.”

Pria itu mengumpat pelan.

“Kamu seharusnya menyingkirkan perempuan tua itu sejak dulu.”

Aku menutup mulut agar tidak bersuara.

Arga menjawab,

“Aku butuh dia tetap di sana supaya Alya percaya semuanya normal.”

“Transfer saham harus selesai minggu depan.”

“Aku tahu.”

“Setelah itu, kita tidak membutuhkan Alya lagi.”

Darahku terasa dingin.

Lalu pria itu mengatakan sesuatu yang membuat napasku terhenti.

“Sama seperti dulu kita tidak membutuhkan ayahnya.”

Aku menatap Dimas.

Ayahku?

Aku keluar dari persembunyian.

“Ulangi.”

Arga dan pria itu membeku.

Wajah Arga langsung pucat.

Pria tua itu memandangku lama.

Untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya dengan jelas.

Ada sesuatu yang terasa familiar.

Bentuk mata.

Garis rahang.

Aku pernah melihat wajah seperti itu dalam foto lama milik Ibu.

“Siapa kamu?”

Pria itu tersenyum tipis.

“Hendra Mahardika.”

“Kenapa kamu menyebut ayahku?”

Arga melangkah mendekat.

“Alya, jangan dengarkan dia.”

“Diam!”

Aku menatap Hendra.

“Jawab.”

Hendra memandang Arga sejenak, lalu berkata,

“Karena ayahmu dulu bekerja untukku.”

Aku mengerutkan kening.

Ibu selalu mengatakan ayah meninggalkan kami.

Ternyata itu hanya sebagian dari cerita.

Hendra mengungkapkan bahwa ayahku, Farid Maharani, pernah menjadi rekan bisnisnya dalam perusahaan distribusi kosmetik kecil lebih dari dua puluh tahun lalu.

Farid menemukan bahwa Hendra melakukan penggelapan.

Ia berencana melaporkannya.

Namun sebelum laporan dibuat, Farid menghilang.

“Ibumu diberi pilihan,” kata Hendra. “Diam dan membesarkanmu, atau ikut kehilangan semuanya.”

Aku merasa mual.

“Di mana ayahku?”

Hendra tidak menjawab.

Arga tiba-tiba berkata,

“Dia meninggal.”

Ruangan sunyi.

Aku memandang suamiku.

“Kamu tahu?”

Arga menunduk.

Dan saat itulah aku memahami hubungan sebenarnya.

Hendra adalah ayah Selina.

Arga mendekatiku bukan karena kebetulan.

Pertemuan kami telah dirancang.

Pernikahan kami adalah jalan masuk menuju perusahaan yang kubangun.

Tetapi mereka tidak mengetahui satu hal.

Dimas sudah merekam seluruh percakapan.

Petugas keamanan yang bersama kami juga sudah menghubungi polisi.

Beberapa menit kemudian, rumah itu dipenuhi petugas.

Arga panik.

“Alya, dengarkan aku. Aku memang melakukan kesalahan, tapi aku pernah mencintaimu.”

Aku memandangnya.

“Orang yang mencintai seseorang tidak membuat ibunya hampir mati.”

Arga mencoba mendekat.

Polisi segera menahannya.

Hendra dan Selina juga ditangkap setelah penyelidikan menemukan dokumen pemalsuan, pengalihan aset ilegal, dan bukti transaksi keuangan.

Kasus hilangnya ayahku pun dibuka kembali.

Tiga bulan kemudian, polisi menemukan fakta yang tidak pernah kubayangkan.

Ayahku ternyata tidak meninggal.

Ia masih hidup.

Selama lebih dari dua puluh tahun, ia tinggal dengan identitas berbeda di Semarang setelah berhasil melarikan diri dari ancaman Hendra.

Dia tidak pernah kembali karena percaya Bu Ratih dan aku akan dibunuh jika dia muncul.

Ketika kami bertemu, ayahku berdiri beberapa meter dariku dengan rambut yang sudah hampir seluruhnya putih.

Dia tidak langsung memelukku.

Dia hanya menangis.

“Alya?”

Aku pun menangis.

Selama bertahun-tahun aku membenci lelaki yang kukira meninggalkan kami.

Ternyata dia hidup dalam ketakutan sambil mengawasi pertumbuhanku dari jauh.

Bu Ratih akhirnya mengakui bahwa ia mengetahui ayah masih hidup.

Itulah rahasia terakhir yang selama ini disimpannya.

“Kenapa Ibu tidak pernah bilang?”

“Karena Ibu ingin kamu hidup tanpa ketakutan yang kami rasakan.”

Aku menggenggam tangannya.

Hari itu aku sadar bahwa kebohongan tidak selalu lahir dari kebencian.

Kadang-kadang, kebohongan tumbuh dari ketakutan dan keinginan untuk melindungi orang yang paling kita cintai.

Setahun kemudian, Bu Ratih sudah jauh lebih sehat.

Ayah perlahan kembali menjadi bagian dari kehidupan kami.

Perusahaanku selamat karena seluruh proses pengalihan saham berhasil dibatalkan.

Rumah di seberang jalan disita sebagai bagian dari perkara.

Sedangkan rumah yang dulu kutinggali bersama Arga akhirnya kujual.

Aku tidak sanggup tinggal di tempat yang menyimpan begitu banyak luka.

Dengan sebagian hasil penjualannya, aku membeli sebuah rumah yang lebih kecil untuk Ibu dan Ayah.

Bukan rumah mewah.

Tidak ada marmer mahal.

Tidak ada gerbang besar.

Hanya sebuah rumah hangat dengan taman kecil tempat Ibu menanam melati setiap pagi.

Suatu sore, aku melihat Ibu duduk di teras bersama Ayah.

Mereka sedang tertawa membicarakan sesuatu.

Aku berdiri di balik pintu sambil memperhatikan mereka.

Dulu aku berpikir cara membalas semua pengorbanan Ibu adalah dengan memberinya rumah besar, uang, dan kehidupan mewah.

Aku salah.

Yang paling dia butuhkan bukan kemewahan.

Dia membutuhkan rasa aman.

Keluarga.

Dan seseorang yang benar-benar mendengarkan ketika dia mengatakan bahwa dirinya tidak baik-baik saja.

Aku kehilangan seorang suami pada hari aku pulang lebih cepat dari Surabaya.

Namun pada hari yang sama, tanpa kusadari, aku sedang memulai perjalanan untuk mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga.

Ibuku.

Ayahku.

Dan diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang