MENJADI PERAWAT PRIBADI JUTAWAN LUMPUH DEMI MENYELAMATKAN ANAKKU YANG SAKIT KERAS, TAPI SAAT KUBUKA KEMEJANYA, AKU MELIHAT NAMAKU SENDIRI DITATTO DI DADANYA!

Di dada Aditya, tepat di sisi kiri dekat jantungnya, terukir satu nama dengan tinta hitam yang mulai memudar.

Maya.

Namaku.

Aku tidak tahu berapa lama aku menatap tulisan itu. Beberapa detik terasa seperti bertahun-tahun. Tanganku yang tadi hendak menarik kemejanya tiba-tiba kehilangan tenaga.

Aku terduduk di lantai.

Aditya menatapku tajam.

“Kenapa?”

Aku tidak mampu menjawab.

Sembilan tahun lalu, aku mengenal Aditya sebagai seorang pria sederhana bernama Adit. Dia datang ke desa tempatku tinggal di pinggiran Yogyakarta dengan sepeda motor tua, kaus polos, dan senyum yang selalu membuatku lupa bahwa hidupku saat itu penuh masalah.

Dia tidak pernah mengatakan bahwa keluarganya memiliki perusahaan properti besar di Jakarta.

Aku juga tidak pernah bertanya.

Kami hanya dua orang yang bertemu secara tidak sengaja, jatuh cinta terlalu cepat, lalu membuat terlalu banyak janji.

Tiga hari sebelum kepergiannya, di bawah hujan deras, Aditya menggenggam tanganku.

“Tunggu aku tiga hari, Maya. Aku akan kembali bersama keluargaku. Aku akan melamarmu.”

Aku menunggu.

Tiga hari.

Seminggu.

Sebulan.

Dia tidak pernah kembali.

Beberapa minggu kemudian, aku mengetahui bahwa aku hamil.

Sekarang nama yang selama bertahun-tahun kupikir sudah dilupakannya justru tertulis permanen di tubuhnya.

“Maya?”

Suara Aditya berubah.

Wajahnya yang semula penuh kemarahan mendadak pucat.

“Namamu… Maya?”

Aku berdiri perlahan.

“Kamu benar-benar tidak mengenaliku?”

Tatapan Aditya membeku.

Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada suara keluar.

Aku menarik rambutku ke belakang telinga. Kebiasaan kecil yang dulu selalu dia goda.

Mata Aditya langsung memerah.

“Tidak mungkin.”

“Kenapa tidak mungkin?”

“Maya sudah meninggal.”

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

“Apa?”

Dia menatapku seperti sedang melihat orang yang bangkit dari kubur.

“Ibuku bilang kamu meninggal sembilan tahun lalu.”

Langkah kaki terdengar dari luar.

Pintu terbuka.

Nenek Fatimah masuk bersama Indah.

Begitu melihatku berdiri di depan Aditya dengan kemejanya terbuka, wajah perempuan tua itu berubah.

Bukan terkejut.

Takut.

Dan saat itu aku tahu.

Dia mengenalku.

“Nenek,” suara Aditya bergetar. “Katakan padaku siapa perempuan ini.”

Fatimah tidak menjawab.

“Nenek!”

“Aku Maya,” kataku.

Aditya memejamkan mata.

Air mata mengalir dari sudut matanya.

Untuk pertama kalinya sejak aku memasuki kamar itu, aku tidak melihat jutawan pemarah yang membenci dunia.

Aku melihat Adit yang dulu.

“Aku kembali mencarimu,” katanya lirih. “Aku kembali ke desa.”

Aku tertawa pahit.

“Jangan bohong.”

“Aku kembali.”

“Kalau begitu, kenapa kamu tidak menemuiku?”

“Karena rumahmu kosong.”

Aku terdiam.

Aditya melanjutkan dengan suara serak.

“Aku datang bersama ayahku. Tetanggamu bilang keluargamu sudah pindah. Dua hari kemudian, Nenek menunjukkan surat kabar lokal tentang kecelakaan bus menuju Solo. Ada nama Maya Pratiwi dalam daftar korban.”

Aku menoleh kepada Fatimah.

Perempuan tua itu menundukkan kepala.

Aditya mulai memahami.

“Nenek?”

Fatimah menggenggam tasnya erat.

“Aku melakukannya demi kamu.”

“Melakukan apa?”

“Aku membayar seseorang untuk membuat berita itu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku merasa darahku mendidih.

“Kamu menghancurkan hidup kami hanya karena aku miskin?”

Fatimah menatapku.

“Saat itu Aditya adalah pewaris tunggal keluarga. Dia masih muda. Kamu perempuan desa tanpa pendidikan tinggi, tanpa keluarga terpandang. Aku takut dia meninggalkan semuanya.”

Aditya menatap neneknya dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Kamu bilang dia mati.”

“Aku pikir kamu akan melupakannya.”

“SEMBILAN TAHUN!”

Teriakannya mengguncang ruangan.

“Selama sembilan tahun aku datang ke makam kosong yang kalian buat untuknya!”

Aku menutup mulutku.

Makam?

Aditya tertawa getir.

“Setiap tahun aku datang ke Yogyakarta. Aku menaruh bunga di sebuah batu nisan yang ternyata bahkan tidak berisi tubuhmu.”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Fatimah mencoba mendekat.

“Aditya, dengarkan Nenek.”

“Keluar.”

“Tapi…”

“Keluar!”

Fatimah meninggalkan kamar dengan wajah hancur.

Aku segera mengancingkan kembali kemeja Aditya.

Aku ingin pergi.

Namun dia memanggilku.

“Maya.”

Aku berhenti.

“Kenapa kamu ada di sini?”

Aku tidak menjawab.

“Kenapa kamu mau menjadi perawatku?”

Aku menggigit bibir.

Aku tidak ingin memberitahunya.

Tetapi bayangan Rizky yang menggigil di kontrakan membuat pertahananku runtuh.

“Anakku sakit.”

Wajah Aditya berubah.

“Anakmu?”

“Ya.”

“Suamimu?”

“Aku tidak punya suami.”

Aku melangkah menuju pintu.

“Berapa umur anakmu?”

Tanganku berhenti di gagang pintu.

Aku tidak berbalik.

“Delapan tahun.”

Sunyi.

Kemudian terdengar suara Aditya.

“Berbaliklah.”

Aku tetap diam.

“Maya, lihat aku.”

Aku berbalik perlahan.

Wajahnya pucat.

“Delapan tahun?”

Aku mengangguk.

“Namanya siapa?”

“Rizky.”

Aditya menatapku lama.

Kemudian pertanyaan yang paling kutakuti akhirnya keluar.

“Dia anakku?”

Aku tidak sanggup berbohong.

“Ya.”

Aditya memejamkan mata.

Tangisnya pecah.

Bukan tangis keras.

Hanya air mata yang terus mengalir sementara tubuhnya yang lumpuh tidak mampu melakukan satu hal yang mungkin paling ingin dilakukannya saat itu.

Memelukku.

“Kenapa kamu tidak mencariku?”

“Aku mencarimu!” bentakku.

Aku mengeluarkan ponsel tua dari tas.

“Aku menelepon nomor yang kamu berikan. Tidak aktif. Aku mengirim surat ke alamat Jakarta yang pernah kamu tulis. Semua kembali. Ketika Rizky lahir, aku bahkan datang ke Jakarta membawa bayi berumur tiga bulan.”

Aditya menatapku tak percaya.

“Aku berdiri di depan rumah ini.”

Napasnya tercekat.

“Satpam mengatakan keluarga Mahendra tidak mengenal perempuan bernama Maya.”

Aku menoleh ke pintu yang tadi dilewati Fatimah.

Sekarang kami sama-sama memahami siapa yang memberi perintah itu.

Aku mengusap air mata.

“Aku berhenti mencarimu setelah itu.”

“Rizky sakit apa?”

Aku tidak langsung menjawab.

“Dokter menduga ada kelainan darah. Dia butuh pemeriksaan lengkap secepatnya. Aku tidak punya uang.”

“Bawa aku kepadanya.”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Maya, dia anakku.”

“Secara biologis, iya. Tapi selama delapan tahun, dia tidak pernah mengenalmu.”

“Karena aku bahkan tidak tahu dia ada!”

Aku menutup mata.

Dia benar.

Dan itulah bagian yang paling menyakitkan.

Beberapa menit kemudian, Aditya memanggil Indah dan memerintahkannya menyiapkan mobil.

Aku mencoba menolak, tetapi ketika ponselku berdering dan suara Ibu Ani terdengar panik, semua harga diriku runtuh.

“Maya, cepat pulang! Rizky kejang!”

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Aditya langsung berteriak.

“Ambulans. Sekarang!”

Kurang dari dua puluh menit kemudian, ambulans membawa Rizky menuju rumah sakit swasta di Jakarta Pusat.

Aku duduk di samping ranjangnya sambil menggenggam tangannya.

Putri berada bersama Ibu Ani.

Aditya mengikuti menggunakan kendaraan khusus.

Di rumah sakit, dokter segera melakukan pemeriksaan.

Beberapa jam kemudian, seorang dokter spesialis keluar.

“Kondisi Rizky cukup serius. Hasil awal menunjukkan gangguan pada sumsum tulang. Kami perlu pemeriksaan lanjutan dan kemungkinan transfusi.”

Aku merasa kakiku lemas.

“Berapa biayanya, Dok?”

Sebelum dokter menjawab, suara Aditya terdengar.

“Lakukan semua yang diperlukan.”

Aku menoleh.

“Tidak.”

“Maya.”

“Aku tidak mau berutang kepadamu.”

Wajah Aditya mengeras.

“Ini bukan utang. Dia anakku.”

Dokter memandang kami bergantian.

“Kami juga membutuhkan pemeriksaan kecocokan darah keluarga dekat.”

Aditya langsung menjawab.

“Ambil darah saya.”

Dokter terlihat ragu melihat kursi rodanya.

“Kondisi Bapak sendiri?”

“Saya lumpuh, bukan mati.”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku hampir tersenyum.

Dua hari kemudian, hasil pemeriksaan keluar.

Aditya memiliki kecocokan biologis yang sangat kuat dengan Rizky.

Tes DNA yang dilakukan bersamaan menghapus keraguan terakhir.

Probabilitas hubungan ayah dan anak lebih dari 99,9 persen.

Aditya meminta Indah meletakkan kertas hasil tes di pangkuannya.

Dia menatap angka itu lama.

Kemudian menangis lagi.

“Aku punya anak.”

Aku berdiri di belakangnya.

“Ya.”

“Aku punya anak selama delapan tahun dan tidak pernah sekali pun mendengar dia memanggilku Ayah.”

Tidak ada jawaban yang cukup untuk kalimat itu.

Hari-hari berikutnya mengubah semuanya.

Aditya tidak pernah memaksaku kembali ke mansion. Dia justru menghabiskan waktunya di rumah sakit.

Awalnya Rizky mengira dia hanya teman ibunya.

“Om kenapa pakai kursi roda?”

Aditya tersenyum.

“Karena kaki Om sedang malas bekerja.”

Rizky tertawa.

Itulah pertama kalinya aku melihat Aditya tertawa juga.

Suatu sore, Rizky bertanya kepadanya.

“Om punya anak?”

Aditya menatapku.

Aku tahu waktunya tiba.

Aku duduk di sisi ranjang.

“Rizky, ada sesuatu yang harus Ibu ceritakan.”

Aku menjelaskan semuanya dengan bahasa sederhana.

Rizky diam cukup lama.

Kemudian menatap Aditya.

“Jadi Om ayahku?”

Aditya mengangguk perlahan.

“Kalau kamu mengizinkan.”

Rizky mengerutkan kening.

“Kenapa Ayah baru datang sekarang?”

Pertanyaan polos itu menghancurkan kami.

Aditya tidak mencari alasan.

“Karena Ayah terlambat mengetahui bahwa kamu ada. Tapi kalau kamu mau, Ayah ingin mengenalmu mulai sekarang.”

Rizky mengulurkan tangannya.

Aditya tidak mampu mengangkat tangannya untuk menyambut.

Rizky menyadarinya.

Bocah itu turun dari ranjang, berjalan perlahan mendekati kursi roda, lalu memeluk tubuh ayahnya.

Aditya menangis tanpa suara.

Seminggu kemudian, kondisi Rizky mulai stabil setelah pengobatan.

Namun kejutan terbesar justru datang dari Indah.

Dia menemuiku di lorong rumah sakit membawa sebuah kotak tua.

“Saya menemukan ini di ruang penyimpanan Nenek Fatimah.”

Di dalamnya terdapat puluhan surat.

Surat-suratku.

Surat yang kukirim sembilan tahun lalu.

Semuanya belum pernah sampai kepada Aditya.

Ada satu surat dengan tulisan tanganku ketika sedang hamil tujuh bulan.

Adit, kalau kamu masih mengingatku, aku hanya ingin memberitahumu bahwa kita akan punya anak.

Tanganku gemetar.

Aditya membaca surat itu.

Wajahnya berubah.

Kemudian Indah mengeluarkan satu dokumen lain.

Catatan kecelakaan Aditya lima tahun lalu.

Menurut laporan lama, mobil Aditya kehilangan kendali setelah rem mengalami kerusakan.

Tetapi ada laporan pemeriksaan mekanik yang tidak pernah masuk ke berkas polisi.

Selang rem mobil itu sengaja dipotong.

Aku menatap Indah.

“Siapa yang melakukan ini?”

Indah menggeleng.

“Kami belum tahu.”

Dari belakang terdengar suara.

“Aku tahu.”

Fatimah berdiri beberapa meter dari kami.

Wajahnya pucat.

“Ayah Aditya.”

Aditya membeku.

Fatimah akhirnya menceritakan semuanya.

Setelah mengetahui Aditya diam-diam masih mencari Maya bertahun-tahun kemudian, ayahnya takut Aditya meninggalkan perusahaan keluarga. Pertengkaran besar terjadi. Malam kecelakaan itu, seseorang yang diperintah ayahnya merusak mobil Aditya untuk membuatnya gagal menghadiri pertemuan dengan seorang penyelidik swasta yang menemukan petunjuk bahwa Maya masih hidup.

Rencananya hanya membuat mobil mogok.

Namun kerusakan menyebabkan kecelakaan parah.

Ayah Aditya meninggal dua tahun kemudian membawa rahasia itu.

Fatimah mengetahui kebenarannya setelah kecelakaan tetapi memilih diam karena takut keluarganya hancur.

Aditya menatap neneknya.

“Keluarga kita sudah hancur sejak kalian memutuskan bahwa uang lebih penting daripada hidup orang lain.”

Fatimah menangis.

Beberapa bulan berlalu.

Rizky akhirnya keluar dari rumah sakit dalam kondisi jauh lebih baik.

Aku menolak pindah ke mansion.

Sebagai gantinya, Aditya membantuku menyewa rumah kecil yang layak tidak jauh dari rumah sakit. Aku menerima hanya karena dokter mengatakan Rizky masih membutuhkan kontrol rutin.

Aku juga tidak lagi bekerja sebagai perawatnya.

Hubungan kami terlalu rumit untuk itu.

Tetapi hampir setiap hari, sebuah mobil khusus berhenti di depan rumah.

Aditya datang menemui Rizky dan Putri.

Putri dengan cepat mulai memanggilnya Om Adit, lalu suatu hari tanpa sengaja memanggilnya Ayah juga.

Aditya tidak pernah mengoreksinya.

Sementara itu, dia menjalani rehabilitasi intensif.

Dokter mengatakan kerusakan sarafnya sangat berat dan kemungkinan berjalan kembali sangat kecil.

Aditya hanya menjawab, “Saya tidak perlu berjalan untuk menjadi ayah.”

Setahun setelah pertemuan kami kembali, aku berdiri bersamanya di halaman rumah rehabilitasi ketika hujan mulai turun.

Persis seperti sembilan tahun sebelumnya.

Aditya memandangku dari kursi rodanya.

“Aku pernah berjanji menjemputmu dalam tiga hari.”

Aku tersenyum pahit.

“Kamu terlambat sembilan tahun.”

“Delapan tahun, sebelas bulan, dua puluh tujuh hari.”

Aku tertawa.

Dia masih mengingatnya.

“Maya.”

“Ya?”

“Aku tidak akan meminta kamu melupakan semuanya.”

Tatapannya tenang.

“Aku cuma ingin bertanya apakah aku boleh tetap ada besok.”

Aku menatap ke arah Rizky dan Putri yang sedang tertawa di bawah teras.

Dulu aku mengira cinta berarti seseorang datang tepat waktu untuk menyelamatkan kita.

Ternyata tidak selalu begitu.

Kadang cinta datang terlambat, dalam keadaan rusak, membawa penyesalan yang tidak mungkin dihapus.

Yang menentukan bukan seberapa indah masa lalu, melainkan apa yang dilakukan seseorang setelah kebenaran terbuka.

Aku berjongkok di depan Aditya.

“Besok boleh.”

Dia tersenyum.

“Hanya besok?”

“Kita lihat lusa.”

Hujan turun semakin deras.

Aku hendak mendorong kursi rodanya menuju teras ketika tiba-tiba jemariku merasakan sesuatu.

Tangan kanan Aditya bergerak.

Sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

Aku membeku.

“Adit.”

“Apa?”

“Coba gerakkan jarimu.”

Dia menatap tangannya.

Dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, Aditya mencoba.

Telunjuknya bergerak lagi.

Air mata langsung memenuhi matanya.

Aku berteriak memanggil dokter.

Rizky dan Putri berlari mendekat.

Di tengah kepanikan dan kegembiraan itu, Aditya menatapku.

“Maya.”

Aku menoleh.

Dia tersenyum seperti pria muda yang pernah kutemui di Yogyakarta.

“Mungkin tubuhku juga sedang belajar bahwa belum semuanya terlambat.”

Aku menggenggam tangannya.

Untuk pertama kalinya, jemarinya membalas genggamanku, begitu lemah hingga nyaris tak terasa.

Namun itu cukup.

Karena setelah sembilan tahun kehilangan, kebohongan, kemiskinan, dan rasa sakit, aku akhirnya memahami satu hal.

Keajaiban terbesar bukanlah ketika seseorang yang lumpuh mulai menggerakkan tangannya.

Keajaiban terbesar adalah ketika orang-orang yang pernah kehilangan satu sama lain menemukan keberanian untuk memulai kembali, tanpa berpura-pura bahwa luka mereka tidak pernah ada.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang