SETIAP HARI PRIA KAYA ITU MAKAN DI WARUNGKU, SAMPAI ANAKKU BERTANYA APAKAH DIA AYAHNYA DAN SURAT LAMA MEMBUKA KEBOHONGAN TUJUH BELAS TAHUN YANG DISIMPAN KELUARGA KAMI

“Surat balasan yang kuterima selama ini ditulis siapa?”

Pertanyaan Arman menggantung di udara seperti sesuatu yang terlalu tajam untuk disentuh.

Aku menatapnya tanpa berkedip. Raka berdiri di sampingku, wajahnya tegang. Suara kendaraan dari jalan besar terdengar jauh, seolah gang sempit di depan warung kami tiba-tiba terpisah dari seluruh Jakarta.

“Surat apa?” tanyaku.

Arman membuka tas kulit yang dibawanya. Tangannya gemetar ketika mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal.

“Aku menyimpan semuanya.”

Dia menyerahkannya kepadaku.

Di dalamnya ada belasan surat.

Kertasnya sudah menguning.

Aku mengambil surat paling atas.

Tulisan tangan di sana membuat tengkukku dingin.

Arman,

Berhentilah menghubungi Ratna. Dia sudah memulai hidup baru. Dia tidak mau Raka tumbuh dengan ayah yang cacat dan tidak punya masa depan.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Di bagian bawah tertulis namaku.

Ratna.

Namun itu bukan tulisan tanganku.

“Siapa yang memberikan ini kepadamu?”

“Pak Hadi.”

Aku langsung mengangkat kepala.

Pak Hadi adalah kakak kandung ibuku.

Orang yang mengurus hampir semua dokumen setelah kecelakaan Arman.

Orang yang menemaniku ke kantor perusahaan.

Orang yang membawa surat kematian Arman ke rumah.

Arman melanjutkan dengan suara berat.

“Kapal kami mengalami kecelakaan di perairan dekat Johor. Aku selamat, tapi kepalaku cedera parah. Aku dirawat berbulan-bulan. Saat sadar penuh, ingatanku kacau. Aku bahkan butuh waktu untuk mengingat alamat rumah.”

“Lalu?”

“Aku menghubungi perusahaan. Mereka bilang keluargaku sudah diberi tahu bahwa aku termasuk korban hilang. Aku meminta mereka menghubungimu.”

Dadaku terasa sesak.

“Tidak pernah ada yang menghubungiku.”

“Aku tahu sekarang.”

Arman menatap surat-surat itu.

“Beberapa bulan kemudian Pak Hadi datang menemuiku.”

Aku hampir tidak percaya.

“Ke Malaysia?”

Arman mengangguk.

“Dia bilang kamu tidak mau melihatku.”

“Bohong.”

“Aku juga tidak percaya. Jadi aku menulis surat.”

Dia menunjuk amplop di tanganku.

“Dua minggu kemudian aku menerima balasan pertama.”

Aku membuka surat berikutnya.

Tulisan tangan berbeda, tetapi tanda tangannya tetap menggunakan namaku.

Isinya lebih kejam.

Jangan pulang. Raka sudah mulai melupakanmu. Jangan hancurkan hidup kami lagi.

Tanganku gemetar.

Raka mengambil surat itu.

Wajahnya berubah saat membaca.

“Kenapa Om Hadi melakukan ini?”

Aku tidak tahu.

Tetapi sebuah kenangan lama tiba-tiba muncul.

Beberapa bulan setelah Arman dinyatakan meninggal, perusahaan membayar santunan.

Jumlahnya cukup besar untuk ukuran kami saat itu.

Namun sebagian besar uang itu tidak pernah sampai kepadaku.

Pak Hadi mengatakan ada utang Arman kepada perusahaan dan biaya administrasi yang harus diselesaikan.

Aku mempercayainya.

Karena dia keluarga.

“Uang santunan,” bisikku.

Arman mengernyit.

“Santunan apa?”

Aku menatapnya.

“Perusahaan membayar santunan kematianmu.”

Wajah Arman kehilangan warna.

“Aku tidak pernah meninggal secara resmi di perusahaan.”

“Aku punya suratnya.”

“Ratna, setelah ditemukan hidup, statusku diperbaiki.”

Kami saling menatap.

Seketika aku mengerti.

Ini bukan hanya tentang memisahkan kami.

Ada uang di balik semuanya.

Raka langsung mengeluarkan ponselnya.

“Kita temui Om Hadi.”

“Tidak.”

Aku memegang lengannya.

“Kalau kita datang sekarang, dia bisa menghilangkan bukti.”

Raka menatapku, lalu Arman.

“Ayah punya bukti lain?”

Aku tersentak mendengar kata itu.

Ayah.

Arman pun terlihat terpukul.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

“Ada,” jawab Arman akhirnya. “Aku punya bukti transfer dan surat dari Pak Hadi.”

“Kenapa Ayah baru datang sekarang?”

Pertanyaan itu jauh lebih menyakitkan.

Arman menatap anak laki-laki yang terakhir dilihatnya ketika masih berumur empat tahun.

“Aku pengecut.”

Raka terdiam.

“Aku percaya surat-surat itu karena aku takut mengetahui kebenaran. Setelah sembuh, wajahku rusak cukup parah. Kakiku juga sempat tidak bisa berjalan. Aku berpikir mungkin ibumu benar-benar malu memiliki suami seperti aku.”

Aku menahan air mata.

“Bodoh.”

Arman tersenyum getir.

“Iya.”

“Kenapa tidak datang sendiri?”

“Aku pernah datang.”

Aku membeku.

“Kapan?”

“Empat belas tahun lalu.”

Arman menatapku.

“Aku berdiri di seberang kontrakan kita. Aku melihatmu pulang bersama Raka.”

“Lalu?”

“Ada seorang laki-laki mengantarmu.”

Aku langsung mengingatnya.

“Itu pemilik katering tempatku bekerja.”

“Aku tidak tahu.”

Arman menunduk.

“Aku pikir kamu benar-benar sudah punya kehidupan baru.”

Amarahku akhirnya meledak.

“Kamu melihatku dari seberang jalan lalu membuat kesimpulan sendiri? Kamu tidak berpikir untuk menyeberang?”

“Aku takut.”

“Aku menunggumu hampir dua tahun!”

Suaraku pecah.

“Aku pergi ke kantor perusahaan berkali-kali. Aku menelepon nomor Malaysia sampai uangku habis. Setiap ada orang mengetuk pintu malam-malam, aku berharap itu kamu!”

Arman tidak membela diri.

Air matanya jatuh.

“Aku tahu aku tidak bisa mengembalikan tujuh belas tahun itu.”

“Memang tidak bisa.”

Aku masuk ke warung.

Aku tidak ingin menangis di depannya.

Namun beberapa menit kemudian Raka masuk sendirian.

Dia duduk di hadapanku.

“Aku marah sama Ayah.”

Aku mengusap wajah.

“Tapi aku lebih marah kepada orang yang sengaja membuat kalian saling membenci.”

Malam itu kami menyusun semua dokumen.

Arman ternyata tidak datang ke warung secara kebetulan.

Tiga bulan sebelumnya, Pak Hadi meninggalkan sebuah perusahaan properti tempat dia bekerja sebagai konsultan.

Saat audit dilakukan, ditemukan beberapa transaksi lama yang mencurigakan.

Salah satunya menggunakan nama Arman.

Arman yang kini memiliki perusahaan logistik sendiri di Surabaya dihubungi untuk verifikasi.

Dari sanalah dia mulai menyelidiki masa lalu.

Dan menemukan alamat warungku.

“Ada satu hal lagi,” katanya.

Dia mengeluarkan dokumen.

Aku langsung mengenali nama perusahaan yang tercetak di atasnya.

Perusahaan pemilik gedung warung.

“Jangan bilang…”

“Aku membeli bangunan ini enam bulan lalu.”

Aku berdiri.

“Jadi surat pengosongan itu dari kamu?”

“Tidak.”

“Nama perusahaanmu ada di sini!”

“Aku memang pemilik barunya, tapi aku tidak pernah memerintahkan penyewa keluar.”

Raka mengambil surat pengosongan yang masih kusimpan.

Arman membacanya.

Rahangnya mengeras.

“Tanda tangan ini palsu.”

Aku terduduk.

“Siapa yang punya akses?”

Arman tidak langsung menjawab.

Lalu dia berkata,

“Pak Hadi.”

Dua hari kemudian kami menemui Pak Hadi di rumahnya di Depok.

Kami tidak datang untuk berteriak.

Arman membawa pengacara dan seorang auditor.

Pak Hadi yang kini berusia lebih dari enam puluh tahun langsung pucat ketika melihat kami bertiga berdiri bersama.

“Ratna…”

Aku meletakkan surat-surat lama di mejanya.

“Paman kenal ini?”

Dia tidak menjawab.

Raka menyalakan rekaman suara di ponselnya tanpa banyak bicara.

Arman meletakkan bukti transfer.

“Dulu perusahaan mengirim kompensasi dan dana asuransi hampir empat ratus juta rupiah melalui rekening perantara yang Anda kelola.”

Pak Hadi menelan ludah.

“Itu sudah lama.”

“Sebagian besar tidak pernah diterima Ratna.”

“Aku menggunakannya untuk membantu keluarga.”

“Keluarga siapa?” tanyaku.

Dia menatapku.

Matanya mulai merah.

“Aku terdesak utang.”

Kalimat itu begitu sederhana sehingga membuatku semakin marah.

Pak Hadi akhirnya mengaku.

Ketika Arman dinyatakan hilang, perusahaan mengirim dana santunan sementara. Pak Hadi yang saat itu membantu mengurus dokumen mengambil sebagian uang untuk melunasi utangnya.

Ketika kemudian diketahui Arman selamat, dia panik.

Jika Arman pulang dan memeriksa dokumen, semuanya akan terbongkar.

Jadi dia melakukan satu kebohongan.

Lalu kebohongan berikutnya.

Dia memberi tahu Arman bahwa aku tidak menginginkannya.

Dia memberi tahu aku bahwa Arman sudah meninggal.

Dia memalsukan surat.

Dia bahkan membayar seseorang di Malaysia untuk meneruskan surat-surat palsu selama beberapa tahun.

“Kenapa sampai sekarang?” tanyaku.

Pak Hadi menangis.

“Aku tahu Arman mulai mencari kalian. Aku takut.”

“Jadi Paman mencoba menutup warungku?”

“Aku hanya ingin kamu pindah sebelum dia menemukanmu.”

Raka berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Tujuh belas tahun!”

Aku memegang tangannya.

Bukan untuk melindungi Pak Hadi.

Aku hanya tidak ingin anakku melakukan sesuatu yang akan disesalinya.

Pak Hadi menutupi wajahnya.

“Aku minta maaf.”

Aku memandang laki-laki yang sejak kecil kupanggil Paman.

“Ada kesalahan yang bisa selesai dengan permintaan maaf.”

Aku mengambil semua surat.

“Tapi ada juga kesalahan yang harus dipertanggungjawabkan.”

Kasus itu akhirnya dibawa ke jalur hukum.

Penyelidikan menemukan pemalsuan dokumen, penggelapan dana, dan sejumlah transaksi lain yang bahkan tidak berkaitan dengan keluarga kami.

Namun setelah semuanya terbongkar, muncul masalah yang jauh lebih sulit.

Aku dan Arman.

Kami bukan pasangan muda yang bisa melanjutkan percakapan dari tujuh belas tahun lalu.

Aku sudah berubah.

Dia juga.

Suatu sore, Arman datang ke warung.

Tidak memakai kemeja mahal.

Tidak ada sopir.

Dia duduk di meja pojok seperti biasa.

“Mau pesan apa?”

Dia tersenyum.

“Nasi, sayur asem, ayam kecap, tempe orek tanpa cabai.”

Aku menulis pesanannya.

“Tidak bosan?”

“Sudah tujuh belas tahun aku merindukannya.”

Aku tahu dia tidak hanya bicara soal makanan.

Namun aku pura-pura tidak mengerti.

Raka mulai sering berbicara dengannya.

Awalnya canggung.

Kemudian mereka mulai menonton pertandingan sepak bola bersama.

Kadang bertengkar soal klub.

Kadang diam selama satu jam.

Hubungan mereka tidak tiba-tiba menjadi seperti ayah dan anak dalam film.

Mereka membangunnya dari awal.

Perlahan.

Suatu malam Raka bertanya kepadaku,

“Ibu masih cinta Ayah?”

Aku lama menjawab.

“Cinta tidak selalu menunggu kita dalam bentuk yang sama.”

“Artinya?”

“Ada bagian dari Ibu yang mencintai Arman yang pergi tujuh belas tahun lalu. Tapi laki-laki yang sekarang harus Ibu kenal lagi.”

Raka tersenyum.

“Berarti masih ada kesempatan.”

“Jangan ikut campur.”

Dia tertawa.

Empat bulan kemudian, warungku tidak tutup.

Justru direnovasi.

Aku menolak ketika Arman menawarkan tempat gratis.

Kami akhirnya membuat perjanjian sewa resmi.

“Aku tidak mau berutang padamu,” kataku.

“Aku tahu.”

“Dan jangan beri harga khusus.”

“Baik.”

“Tapi atap bocor tanggung jawab pemilik gedung.”

Arman tertawa.

“Siap, Bu Ratna.”

Hari pembukaan kembali warung, pelanggan memenuhi ruangan.

Di dinding dekat kasir masih ada foto keluarga lama.

Namun sekarang ada satu foto baru di sebelahnya.

Aku, Raka, dan Arman berdiri di depan warung setelah renovasi.

Bukan foto keluarga sempurna.

Belum.

Mungkin tidak akan pernah seperti dulu.

Malamnya, setelah pelanggan terakhir pulang, Arman membantuku mengangkat kursi.

Tiba-tiba Raka muncul membawa sebuah kotak kayu kecil.

“Aku menemukan ini di rumah Nenek.”

Aku mengenali kotak itu.

Milik ibuku yang meninggal lima tahun lalu.

Di dalamnya ada beberapa dokumen dan satu amplop yang belum pernah kubuka.

Namaku tertulis di bagian depan.

Tulisan tangan Ibu.

Aku membuka surat itu.

Ratna, kalau suatu hari Arman kembali, maafkan Ibu.

Napas kami bertiga seolah berhenti.

Aku membaca lanjutannya.

Ibu tahu Arman masih hidup.

Tanganku langsung dingin.

Raka menatapku.

Arman berdiri kaku.

Surat itu menjelaskan bahwa Pak Hadi ternyata tidak bekerja sendirian.

Ibuku mengetahui Arman selamat setahun setelah kecelakaan.

Pak Hadi mengaku kepadanya tentang uang yang telah digunakan.

Namun alih-alih memberitahuku, Ibu memilih diam.

Dia takut Pak Hadi dipenjara.

Dia juga percaya aku akan lebih mudah melanjutkan hidup jika menganggap Arman sudah meninggal daripada menunggu laki-laki yang saat itu belum jelas kapan bisa pulang.

Air mataku jatuh ke kertas.

Kalimat terakhir membuat dadaku seperti diremas.

Ibu mengira kebohongan itu akan melindungi keluarga kita. Ternyata Ibu hanya mengubah luka menjadi warisan.

Aku menutup surat.

Tidak ada yang bicara cukup lama.

Selama berbulan-bulan aku berpikir hanya satu orang yang telah mencuri tujuh belas tahun hidup kami.

Ternyata kebohongan itu bertahan karena lebih dari satu orang memilih diam.

Arman duduk di sampingku.

Dia tidak menyentuhku.

Hanya duduk.

Seperti memahami bahwa ada kesedihan yang tidak perlu segera diperbaiki.

Raka kemudian menarik kursi dan duduk di hadapan kami.

“Aku baru sadar sesuatu.”

“Apa?” tanyaku.

“Selama ini semua orang mengambil keputusan atas nama orang lain. Om Hadi memutuskan apa yang Ayah harus percaya. Nenek memutuskan apa yang terbaik untuk Ibu. Ayah memutuskan sendiri bahwa Ibu sudah tidak menginginkannya.”

Arman menunduk.

Raka melihat kami bergantian.

“Jadi mulai sekarang, jangan begitu lagi.”

Aku menghapus air mata.

“Lalu?”

“Kalau mau marah, bilang. Kalau mau pergi, bilang. Kalau masih sayang…”

Dia sengaja berhenti.

Aku melempar serbet ke arahnya.

Raka tertawa sambil menghindar.

Untuk pertama kalinya, Arman ikut tertawa bersama kami.

Aku memandang dua laki-laki itu.

Tujuh belas tahun memang tidak bisa dikembalikan.

Raka tidak akan pernah menjadi anak empat tahun lagi.

Aku tidak akan menjadi perempuan muda yang setiap malam menunggu suara motor suaminya di depan kontrakan.

Arman tidak akan pernah mendapatkan kembali tahun-tahun ketika putranya belajar membaca, masuk sekolah, patah hati pertama kali, atau tumbuh menjadi laki-laki dewasa.

Tetapi mungkin hidup bukan soal mendapatkan kembali apa yang hilang.

Mungkin hidup adalah keberanian untuk tidak membiarkan kehilangan itu mengambil hari-hari yang masih tersisa.

Aku berdiri dan mengambil tiga piring.

“Nasi masih ada.”

Raka langsung mengangkat tangan.

“Ayam kecap?”

“Masih.”

Aku menatap Arman.

“Tempe orek tanpa cabai?”

Dia tersenyum.

“Kalau boleh.”

Aku meletakkan piring di depannya.

Arman menatap makanan itu beberapa detik sebelum akhirnya berkata,

“Aku pulang, Ratna.”

Dulu aku mungkin akan menangis mendengar kalimat itu.

Sekarang aku hanya menarik kursi dan duduk di hadapannya.

“Jangan buru-buru,” kataku.

Dia terlihat bingung.

Aku tersenyum kecil.

“Kalau memang mau pulang, kali ini kita cari jalan pulangnya bersama.”

Di luar, Jakarta masih bising seperti biasa.

Tidak ada keajaiban.

Tidak ada tujuh belas tahun yang tiba-tiba kembali.

Hanya ada tiga orang di sebuah warung sederhana, makan malam di meja yang sama, mencoba mengenal satu sama lain lagi.

Dan untuk pertama kalinya setelah tujuh belas tahun, tidak ada satu pun kebohongan yang duduk di antara kami.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang