“Baik.”
Satu kata dari Bagas seharusnya membuatku lega. Bukankah sejak beberapa hari terakhir aku kesal karena dia terus bersikap aneh?
Tapi entah kenapa, saat dia benar-benar melepaskanku begitu saja, dadaku justru terasa seperti ditimpa batu.
Aku membawa tas pakaian itu ke kamar dan membanting pintu.
Malam itu aku tidak turun untuk makan.
Mama mengetuk pintu dua kali, tetapi aku pura-pura tidur. Sekitar pukul sebelas, terdengar ketukan ketiga.
“Alya.”

Suara Bagas.
Aku menarik selimut sampai kepala.
“Aku tidur.”
“Orang tidur nggak menjawab.”
“Berarti sekarang aku bangun. Pergi.”
Sunyi beberapa detik.
“Aku taruh susu hangat di depan pintu.”
“Nggak mau.”
“Ya sudah.”
Langkahnya menjauh.
Aku menunggu beberapa menit sebelum membuka pintu. Di lantai ada segelas susu dan sepiring roti panggang. Di bawah gelas terselip secarik kertas.
Jangan tidur dengan perut kosong. Lambungmu gampang sakit.
Aku langsung kesal lagi.
Kalau masih peduli, kenapa dia menjauh?
Kalau sudah tidak mau mengurusku, kenapa masih mengingat hal sekecil itu?
Aku membawa makanan masuk sambil mengomel sendiri.
Keesokan paginya, Bagas sudah tidak ada.
Papa bilang dia berangkat ke Jakarta untuk urusan kantor dan mungkin menginap beberapa hari.
Aneh.
Biasanya dia selalu memberitahuku kalau pergi ke luar kota.
Aku membuka chat kami.
Pesan terakhir masih foto kartu keluarga yang dia kirim beberapa hari lalu.
Aku mengetik panjang.
Menghapusnya.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
Akhirnya aku hanya mengirim dua kata.
[Hati-hati.]
Pesan itu dibaca lima menit kemudian.
Tidak dibalas.
Harga diriku langsung terluka.
Aku memutuskan tidak akan menghubunginya lagi.
Dua hari kemudian, Arvin datang ke rumah membawa buku yang tertinggal di mobilnya. Mama menyuruhnya masuk dan minum kopi.
Kami sedang tertawa membahas guru SMA ketika pintu depan terbuka.
Bagas pulang.
Begitu melihat Arvin duduk di ruang tamu, langkahnya berhenti.
Tatapannya berpindah dari Arvin kepadaku, lalu ke dua cangkir kopi di meja.
“Kak Bagas sudah pulang?” Arvin berdiri sopan.
Bagas tersenyum tipis.
“Sayangnya, iya.”
Aku menyipitkan mata.
Arvin tertawa canggung.
Bagas meletakkan koper, kemudian duduk tepat di antara kami.
Sofa itu sebenarnya cukup panjang, tetapi dia sengaja mengambil posisi yang membuat Arvin harus bergeser.
“Kalian sedang membicarakan apa?”
“Kenangan SMA,” jawabku.
“Oh.”
Bagas mengangguk serius.
“Berarti kakak nggak perlu ikut. Waktu SMA Alya belum punya kakak sebaik sekarang.”
Aku menendang kakinya.
Dia tidak bergerak.
Arvin akhirnya pamit setengah jam kemudian.
Begitu pintu tertutup, aku langsung berbalik.
“Kamu kenapa, sih?”
“Apa?”
“Kamu kasar sama tamu.”
“Aku cuma duduk.”
“Kamu sengaja mengusir Kak Arvin.”
Bagas mendadak menatapku.
“Kak Arvin?”
Aku menghela napas.
“Nah, mulai lagi.”
“Dulu kamu panggil dia Arvin.”
“Dia lebih tua.”
“Cuma dua tahun.”
“Kamu juga lebih tua tiga tahun dan aku panggil Kak.”
Bagas langsung kehilangan kata-kata.
Aku berbalik hendak naik ke kamar, tetapi dia memanggil.
“Alya.”
“Apa?”
“Kalau Arvin menyukaimu, kamu akan bagaimana?”
Pertanyaan itu membuatku berhenti.
Aku menatapnya curiga.
“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”
“Jawab saja.”
Aku memikirkannya sebentar.
“Entahlah. Aku belum kepikiran pacaran.”
Wajah Bagas terlihat sedikit lebih rileks.
Aku sengaja menambahkan, “Tapi Kak Arvin memang baik.”
Rahangnya langsung mengeras lagi.
Aku hampir tertawa.
Jadi benar.
Dia cemburu karena takut posisinya sebagai kakak tergantikan.
“Kamu tenang saja.” Aku menepuk bahunya. “Walaupun nanti aku menikah, kamu tetap kakakku.”
Ekspresinya berubah seketika.
Seolah aku baru saja menyiramnya dengan air es.
“Aku mandi dulu,” katanya pendek.
Dia berjalan pergi.
Aku menatap punggungnya sambil menggeleng.
Orang aneh.
Namun keanehan Bagas tidak berhenti di situ.
Malam berikutnya aku terbangun karena haus. Saat melewati ruang kerja, aku mendengar suaranya dari dalam.
Pintunya sedikit terbuka.
“Selamat pagi, calon adik ipar.”
Diam.
“Titip Alya baik-baik.”
Diam lagi.
“Kalau kamu bikin dia menangis, saya—”
Dia berhenti.
“Tidak. Kedengarannya seperti preman.”
Aku menahan tawa.
Ternyata dia sedang berlatih menghadapi calon pacarku.
Aku mendorong pintu.
Bagas hampir menjatuhkan ponselnya.
“Kamu ngapain?”
“Nggak ada.”
“Kamu latihan pidato?”
“Nggak.”
Aku menunjuk cermin.
“Terus siapa calon adik ipar yang kamu ajak bicara?”
Wajahnya memucat.
Beberapa detik kemudian dia menutup wajah dengan kedua tangan.
“Aku bisa gila.”
Aku malah tertawa.
“Kamu takut aku pacaran, ya?”
Bagas menurunkan tangan perlahan.
Tatapannya membuat tawaku berhenti.
“Aku takut banyak hal, Alya.”
Nada suaranya berbeda.
Tidak kesal. Tidak juga bercanda.
“Aku takut suatu hari ada orang yang lebih berhak menjagamu daripada aku. Aku takut harus berdiri di pernikahanmu dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Dan yang paling aku takutkan adalah aku mulai mempertanyakan kenapa semua itu terasa begitu berat.”
Aku tidak langsung memahami maksudnya.
“Karena kamu terlalu protektif?”
Bagas tersenyum hambar.
“Andai sesederhana itu.”
Dia berjalan melewatiku.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Untuk pertama kalinya, potongan-potongan kejadian beberapa minggu terakhir terasa seperti teka-teki yang mungkin memiliki jawaban berbeda dari yang selama ini kupikirkan.
Video call.
Wajahnya yang merah.
Foto kartu keluarga.
Kalimat Aku ini kakakmu yang terus diulang.
Caranya menghindariku.
Tatapannya kepada Arvin.
Aku duduk tegak di kasur.
“Tidak mungkin.”
Aku langsung menepuk pipiku sendiri.
“Jangan aneh-aneh, Alya.”
Besok paginya aku menemukan sebuah amplop besar di meja makan.
Nama Bagas tercetak pada dokumen di dalamnya.
Surat penawaran kerja.
Singapura.
Aku membaca tanggal keberangkatan.
Dua minggu lagi.
Tanganku mendadak dingin.
Saat Bagas turun, aku mengangkat surat itu.
“Kamu mau pindah?”
Dia berhenti.
“Siapa yang kasih izin kamu baca?”
“Jawab!”
Mama yang sedang membuat teh menoleh kaget.
Bagas berjalan mendekat dan mengambil surat itu.
“Cuma beberapa tahun.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Nanti juga kubilang.”
“Kapan? Setelah pesawatmu terbang?”
“Alya.”
Aku menatap Mama.
“Mama tahu?”
Mama tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
Tenggorokanku terasa panas.
“Semua orang tahu kecuali aku?”
Bagas mencoba memegang lenganku, tetapi aku mundur.
“Jangan sentuh aku.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan sekarang.”
Dia diam.
Aku tidak tahan lagi.
“Sejak video call itu kamu berubah. Kamu menghindariku, bicara aneh, mengirim foto kartu keluarga, lalu sekarang mau pindah negara. Aku melakukan apa?”
“Kamu nggak melakukan apa-apa.”
“Lalu kenapa?”
Bagas menatap Mama.
Mama meletakkan cangkirnya.
“Mama rasa kalian harus bicara.”
Lalu beliau pergi.
Kini hanya kami berdua.
Bagas mengusap wajah.
“Video call itu kecelakaan.”
“Aku tahu.”
“Masalahnya bukan kamu.”
“Terus?”
“Masalahnya aku.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
Bagas menarik kursi, tetapi tidak duduk.
“Aku melihatmu hari itu dan untuk beberapa detik aku lupa bagaimana seharusnya aku melihatmu.”
Aku membeku.
Dia buru-buru melanjutkan.
“Itu sebabnya aku marah pada diriku sendiri. Bukan padamu. Aku pikir kalau aku menjaga jarak, semuanya akan kembali normal.”
“Makanya kamu terus bilang kamu kakakku?”
“Aku sedang mengingatkan diriku sendiri.”
Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
Bagas tertawa kecil, pahit.
“Konyol, kan?”
“Lalu Singapura?”
“Aku butuh jarak.”
“Dari aku?”
“Iya.”
Jawaban itu menyakitkan lebih dari yang kuduga.
“Jadi solusi kamu kabur?”
“Aku tidak kabur. Aku mencoba melakukan hal yang benar.”
“Menurut siapa?”
“Menurut akal sehat.”
Aku mengepalkan tangan.
“Dan kamu pikir meninggalkan keluarga tanpa bicara denganku itu benar?”
“Alya, justru karena kamu keluarga.”
Aku menatapnya lama.
Kemudian sebuah pertanyaan keluar sebelum sempat kutahan.
“Kalau aku bukan adikmu, kamu akan tetap pergi?”
Bagas terdiam.
Jawabannya terlihat jelas di wajahnya.
Aku mundur satu langkah.
Dia langsung berkata, “Jangan salah paham. Aku tidak meminta apa pun darimu. Aku tidak akan membuat keadaan ini menjadi masalahmu.”
Untuk pertama kalinya aku memahami kenapa selama ini wajahnya terlihat seperti orang yang sedang bertengkar dengan dirinya sendiri.
Dan anehnya, aku tidak merasa marah.
Aku justru sedih.
Bukan karena dia memiliki perasaan yang tidak seharusnya muncul, tetapi karena dia menanggung semuanya sendirian sambil berpura-pura aku adalah penyebabnya.
“Aku benci kamu,” kataku.
Bagas mengangguk.
“Aku tahu.”
“Bukan karena itu.”
Dia menatapku.
“Aku benci karena kamu memutuskan semuanya sendiri.”
“Alya—”
“Pergilah ke Singapura kalau itu bagus untuk kariermu. Tapi jangan pergi karena merasa harus menghukum diri sendiri.”
Matanya memerah.
Aku melanjutkan, “Dan berhenti memperlakukanku seperti orang bodoh. Aku mungkin polos, tapi aku bukan anak kecil.”
Untuk beberapa saat kami hanya berdiri saling menatap.
Kemudian Bagas tertawa pelan.
“Kamu benar-benar sudah besar.”
“Jelas.”
“Berarti pakaianmu cuci sendiri.”
Aku langsung melotot.
“Bagas!”
Dia tertawa untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu.
Dua minggu kemudian, kami mengantarnya ke bandara.
Aku tidak menangis sampai dia melewati pemeriksaan keberangkatan.
Setelah itu aku menangis hampir satu jam.
Bagas tetap pergi.
Bukan karena membenciku.
Bukan juga karena berharap aku menunggunya.
Dia pergi karena kami berdua membutuhkan ruang untuk tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak bergantung pada hubungan yang sudah kami bangun sejak kecil.
Waktu bergerak lebih cepat daripada yang kubayangkan.
Aku menyelesaikan kuliah.
Bagas pulang beberapa kali setahun. Hubungan kami perlahan menjadi lebih sehat. Dia tidak lagi menanyakan lokasiku setiap dua jam. Aku juga berhenti menjadikannya tempat bergantung untuk semua hal kecil.
Arvin akhirnya benar-benar menyatakan perasaan kepadaku.
Aku menolaknya.
Bukan karena Bagas.
Aku hanya tidak mencintainya.
Tiga tahun kemudian, Bagas pulang ke Bandung untuk menghadiri ulang tahun pernikahan Mama dan Papa.
Saat pintu terbuka, aku hampir tidak mengenalinya.
Dia terlihat lebih dewasa dan jauh lebih tenang.
Dan dia tidak datang sendirian.
Di sampingnya berdiri seorang perempuan cantik bernama Nadine.
Aku tidak tahu kenapa, tetapi melihat mereka berdampingan membuat dadaku terasa aneh selama beberapa detik.
Lalu aku tersenyum.
Ternyata waktu benar-benar bisa mengubah banyak hal.
Malam itu Bagas menghampiriku di balkon.
“Kamu baik-baik saja?”
“Kenapa nggak?”
Dia mengangkat bahu.
“Aku cuma memastikan.”
Aku tersenyum jahil.
“Dia calon kakak iparku?”
Bagas terdiam.
Kemudian tertawa.
“Belum.”
“Bagus. Berarti latihanmu di depan cermin dulu sia-sia.”
Wajahnya langsung berubah.
“Kamu masih ingat?”
“Sayangnya.”
Kami tertawa bersama.
Lalu Bagas mengeluarkan sesuatu dari saku.
Sebuah foto kartu keluarga lama yang dulu pernah dia kirim kepadaku.
Lingkaran merah di bagian hubungan saudara tiri masih ada.
“Aku simpan ini tiga tahun,” katanya.
“Buat apa?”
“Buat mengingat satu hal.”
“Apa?”
Dia menatapku, kali ini tanpa rasa bersalah, tanpa ketakutan.
“Perasaan kadang muncul tanpa izin. Tapi tindakan tetap pilihan kita.”
Aku terdiam.
Bagas merobek foto itu menjadi dua, lalu memasukkannya ke tempat sampah.
“Sekarang aku nggak butuh pengingat lagi.”
Aku tersenyum.
“Sudah sembuh?”
Dia mengetuk kepalaku pelan.
“Sudah waras.”
Aku tertawa.
Dari ruang tengah, Nadine memanggil namanya.
Bagas menoleh.
Dan aku melihat sesuatu yang dulu tidak pernah ada dalam tatapannya.
Ketenangan.
Dia berjalan masuk, tetapi tiba-tiba berhenti.
“Oh iya, Alya.”
“Apa?”
“Besok jangan ada acara.”
“Kenapa?”
“Ada orang yang mau ketemu kamu.”
Aku langsung curiga.
“Siapa?”
Bagas tersenyum lebar.
“Temanku dari Singapura.”
“Jangan bilang kamu mau menjodohkan aku.”
“Dia lebih sabar daripada Arvin.”
“Bagas!”
Dia langsung kabur ke ruang tengah.
Aku mengejarnya sambil mengambil bantal sofa.
Mama berteriak agar kami berhenti berisik. Papa tertawa. Nadine kebingungan melihat dua orang dewasa berlarian mengelilingi meja seperti anak kecil.
Dan saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.
Tidak semua perasaan harus diperjuangkan hanya karena pernah hadir.
Ada perasaan yang justru membuktikan kedewasaan seseorang ketika ia tahu kapan harus berhenti, kapan harus menjaga jarak, dan kapan harus melepaskannya.
Bagas pernah berjanji akan menjagaku seumur hidup.
Ternyata menepati janji itu tidak berarti terus menggenggam tanganku.
Kadang, bentuk perlindungan terbesar adalah berani melepaskannya.
