KUPIKIR CEO ITU TAK MENGENALI ISTRINYA, SAMPAI PESAN SEPUPUNYA MEMBONGKAR BAHWA PERNIKAHAN KAMI SUDAH DIRENCANAKAN

Adrian berdiri membeku di ambang pintu.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat seorang CEO yang sanggup membuat puluhan direktur diam hanya dengan satu tatapan benar-benar kehilangan kata-kata.

Matanya berpindah dari wajahku ke ponsel di tanganku.

“Alya, aku bisa menjelaskan.”

Aku tertawa pendek.

Kalimat paling klasik yang keluar dari mulut seseorang setelah ketahuan.

“Bagus. Aku punya waktu.”

Aku meletakkan ponselnya di meja.

“Mulai dari bagian mana? Saat kamu melihat fotoku di Instagram? Saat kamu menyuruh Nisa memberikan nomorku? Atau saat kalian berdua menyusun skenario supaya aku menikah dengan orang asing?”

Adrian berjalan mendekat.

Aku langsung mengangkat tangan.

“Jangan dekat-dekat.”

Langkahnya berhenti.

Entah kenapa, melihat dia benar-benar menurut justru membuat dadaku semakin sesak.

Selama ini aku mengira pernikahan kami memang dimulai secara aneh, tetapi setidaknya jujur. Dua orang yang sama-sama membutuhkan sesuatu lalu membuat kesepakatan.

Ternyata hanya aku yang tidak tahu aturan permainan.

“Enam bulan ke Jerman itu juga bohong?”

“Tidak sepenuhnya.”

“Jawaban yang sangat bagus.”

“Aku memang pergi ke Jerman.”

“Tapi?”

Adrian mengembuskan napas.

“Tiga minggu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Lalu lima bulan sisanya?”

“Jakarta.”

Aku hampir tertawa karena marah.

“Jadi ketika aku mengirim pesan dan bertanya apakah salju di Jerman sudah turun, kamu sebenarnya sedang di Jakarta?”

Dia diam beberapa detik.

“Waktu itu hujan.”

Aku meraih bantal sofa dan melemparkannya.

Adrian menangkapnya.

“Bukan waktunya bercanda!”

“Aku tahu.”

Wajahnya berubah serius.

“Aku memang salah.”

Aku menatapnya lama.

“Kenapa?”

Hanya satu kata.

Namun itulah pertanyaan yang paling ingin kuketahui jawabannya.

Adrian berjalan menuju meja, membuka laci paling bawah, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil.

Dia meletakkannya di depanku.

“Buka.”

“Aku sedang marah. Jangan coba menyogokku.”

“Kalau setelah melihatnya kamu masih mau memukulku, aku tidak akan menghindar.”

Aku membuka kotak itu dengan kesal.

Di dalamnya tidak ada perhiasan.

Hanya sebuah gelang kain berwarna biru yang sudah pudar dan sebuah foto lama.

Aku mengambil fotonya.

Seorang anak laki-laki berusia sekitar sebelas tahun berdiri di depan sebuah rumah sakit. Di sampingnya ada anak perempuan kecil dengan dua kepang, memegang dua es krim.

Aku menatap anak perempuan itu.

Kemudian menatap Adrian.

Darahku seakan berhenti mengalir.

“Itu… aku?”

Adrian mengangguk.

“Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Lima belas tahun lalu.”

Potongan ingatan samar muncul di kepalaku.

Ibuku pernah dirawat cukup lama. Aku sering menunggu sendirian di lorong rumah sakit sambil mengerjakan PR.

Aku memang pernah berteman dengan seorang anak laki-laki pendiam.

Tapi wajahnya sudah lama hilang dari ingatanku.

“Anak laki-laki itu kamu?”

“Namaku waktu kecil bukan Adrian Wijaya.”

Aku terdiam.

“Ayah dan ibuku baru menikah ketika aku berusia tiga belas tahun. Sebelumnya aku memakai nama keluarga ibuku.”

Dia menunjuk gelang kain itu.

“Kamu yang memberikannya.”

Aku mengangkat gelang tersebut.

Tulisan spidol di bagian dalamnya hampir hilang.

Namun masih terbaca.

Jangan takut. Besok pasti lebih baik.

Dadaku mendadak terasa berat.

Adrian duduk di kursi seberangku.

“Waktu itu ayah kandungku baru meninggal. Aku hampir tidak bicara dengan siapa pun. Kamu datang, memberiku es krim yang sudah setengah meleleh, lalu mengatakan kalau menangis sendirian itu tidak keren.”

Aku menutup mata sebentar.

Samar-samar aku mulai mengingatnya.

Seorang anak laki-laki yang selalu duduk di dekat jendela.

Aku memanggilnya Rian.

“Rian?”

Sudut bibir Adrian terangkat.

“Akhirnya ingat.”

Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk.

“Jadi kamu mengenalku sejak saat itu?”

“Tidak.”

Jawabannya mengejutkanku.

“Aku kehilangan kontak denganmu setelah ibumu keluar dari rumah sakit. Lima belas tahun kemudian, aku melihat foto Nisa. Kamu sedang makan tanghulu sambil kehujanan.”

Dia tersenyum kecil.

“Kamu memakai gelang yang sama.”

Aku spontan melihat pergelangan tanganku.

Gelang itu sudah tidak kupakai bertahun-tahun.

“Tapi tetap saja,” kataku. “Kamu bisa datang dan memperkenalkan diri secara normal.”

“Aku mencobanya.”

“Kapan?”

“Tiga kali.”

Aku mengernyit.

“Pertama di kafe dekat kantormu. Aku duduk di meja sebelahmu selama empat puluh menit.”

Aku mulai mengingat seorang pria berjas yang pernah kulirik sebentar.

“Kamu tidak bicara.”

“Aku mau bicara. Lalu kamu menelepon Nisa dan mengatakan laki-laki berjas di sebelahmu kelihatannya seperti debt collector.”

Aku terdiam.

Adrian melanjutkan.

“Kedua di supermarket. Aku membantumu mengambil mi instan di rak atas.”

Aku semakin pucat.

Aku ingat.

Aku bahkan mengatakan terima kasih tanpa melihat wajahnya.

“Ketiga?”

“Di parkiran.”

Aku langsung mengangkat telunjuk.

“Jangan bilang mobil hitam yang hampir kutabrak troli itu milikmu.”

“Itu mobilku.”

Aku menutup wajah.

Namun rasa malu itu hanya bertahan beberapa detik sebelum kemarahanku kembali.

“Semua itu tetap tidak membenarkan pernikahan palsu yang kamu rancang.”

“Aku tahu.”

Kali ini dia tidak membela diri.

“Aku pengecut.”

Aku menurunkan tangan.

“CEO Wijaya Group mengaku pengecut?”

“Dalam urusan bisnis, aku bisa menghitung risiko. Dalam urusanmu, tidak.”

Suaranya pelan.

“Aku tahu kamu sedang kesulitan membayar biaya pengobatan ayahmu waktu itu. Aku juga tahu kamu paling benci dikasihani. Jadi aku meminta Nisa membantuku menciptakan alasan agar kamu mau menerima uang tanpa merasa sedang menerima belas kasihan.”

Aku terdiam.

Enam bulan lalu, ayah memang membutuhkan operasi.

Saat itulah Nisa tiba-tiba mengenalkanku pada “seorang kenalan” yang membutuhkan istri kontrak untuk memenuhi permintaan neneknya.

Bayarannya cukup untuk operasi ayah.

Aku menerima.

“Jadi uang itu…”

“Bukan belas kasihan.”

Adrian segera memotong.

“Itu tetap bagian dari kesepakatan kita. Aku tidak pernah ingin membuatmu merasa berutang kepadaku.”

“Lalu kenapa pura-pura tidak mengenalku ketika aku masuk Wijaya Group?”

Wajah Adrian berubah sedikit aneh.

“Itu bukan rencana.”

Aku mengangkat alis.

“Hari pertama kamu masuk, aku sedang menunggu kamu datang ke ruanganku.”

“Untuk apa?”

“Memberitahumu semuanya.”

“Lalu?”

“Kamu masuk lift bersama dua karyawan dan berkata CEO perusahaan ini pasti pria tua botak dengan perut buncit karena tidak pernah ada fotonya di situs perusahaan.”

Aku membeku.

Astaga.

Aku memang pernah mengatakannya.

“Setelah itu?”

“Aku berdiri di belakangmu.”

Aku ingin menghilang dari dunia.

“Kamu menoleh, melihatku, lalu bertanya apakah aku anak magang.”

Adrian memijat pelipis.

“Pada saat itu harga diriku terluka.”

Aku menatapnya.

“Jadi kamu pura-pura tidak kenal?”

“Awalnya cuma ingin membalasmu satu hari.”

“Lalu jadi berminggu-minggu!”

“Karena menyenangkan melihat istriku mengumpat tentang suaminya sendiri di depan suaminya.”

Aku mengambil bantal kedua.

Kali ini tepat mengenai wajahnya.

Adrian tidak menghindar.

Namun ketika bantal jatuh, aku melihat dia tersenyum.

Itulah masalahnya.

Aku masih mencintai pria menyebalkan ini.

Dan justru karena itu, kebohongannya terasa lebih menyakitkan.

“Aku perlu waktu.”

Senyumnya menghilang.

“Alya.”

“Aku tidak bilang cerai.”

Adrian langsung diam.

“Tapi aku juga tidak bisa langsung tertawa dan menganggap semuanya romantis hanya karena ternyata kamu sudah menyukaiku sejak lama.”

Aku mengambil tas.

“Pernikahan itu bukan permainan strategi, Adrian.”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu seharusnya memberiku kesempatan memilih setelah mengetahui kebenarannya.”

Aku meninggalkan ruangan.

Adrian tidak mengejar.

Malam itu aku menginap di apartemen Nisa.

Begitu pintunya terbuka, sahabat pengkhianatku itu langsung berlutut.

“Alya, sebelum membunuhku, ingat kita sudah bersahabat delapan tahun.”

Aku melempar tas ke sofa.

“Berapa harga persahabatan kita?”

Nisa mengangkat tiga jari dengan wajah bersalah.

“Tiga persen saham vila resort.”

“Nisa!”

“Tapi belum ditransfer!”

Aku mengejarnya keliling ruang tamu.

Setelah sepuluh menit dan dua bantal terbang, kami akhirnya duduk terengah-engah di lantai.

Nisa lalu menyerahkan ponselnya.

“Ada satu hal yang belum kamu tahu.”

Aku langsung waspada.

“Masih ada?”

“Baca.”

Di layar terdapat percakapan lama mereka.

Namun bukan percakapan yang tadi kubaca.

Pesan pertama berasal dari Nisa.

“Kak, Alya sudah setuju menikah kontrak. Tapi jangan main-main. Kalau Kakak menyakitinya, aku sendiri yang akan bongkar semuanya.”

Balasan Adrian pendek.

“Aku tidak akan menceraikannya.”

Nisa menjawab,

“Kontraknya cuma setahun.”

Adrian membalas,

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Aku punya setahun untuk membuatnya memilih tinggal.”

Aku terdiam.

Nisa menyenggol bahuku.

“Dia memang manipulatif. Agak gila juga. Tapi dia tidak pernah merencanakan perceraian kalian.”

Aku menyerahkan kembali ponselnya.

“Itu tidak menghapus kesalahannya.”

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya Nisa tidak bercanda.

“Makanya keputusan tetap di kamu.”

Tiga hari berlalu.

Adrian tidak menelepon.

Tidak mengirim bunga.

Tidak muncul di depan apartemen.

Justru itu membuatku semakin gelisah.

Sampai Senin pagi, HR Wijaya Group mengirim email.

Permohonan pemindahanku kembali ke divisi proyek disetujui.

Aku menatap layar cukup lama.

Di bawahnya ada catatan singkat dari Direktur Utama.

Sesuai permintaan Saudari Alya Pramesti, tidak akan ada perlakuan khusus.

Aku mendengus.

“Saudari Alya Pramesti?”

Baik.

Kalau mau profesional, kita profesional.

Hari pertama kembali bekerja, Adrian benar-benar tidak mendatangiku.

Hari kedua juga tidak.

Hari ketiga, kami berpapasan di lift.

Dia hanya mengangguk.

“Pagi, Saudari Alya.”

Aku hampir menendang pintu lift.

“Pagi, Pak Adrian.”

Seminggu kemudian aku mulai menyadari sesuatu.

Tidak ada lagi sarapan di meja.

Tidak ada pesan mengingatkan makan siang.

Tidak ada orang yang diam-diam mengganti kopi keduaku dengan susu karena lambungku sensitif.

Aku mendapatkan kembali kehidupan normal yang kuinginkan.

Dan ternyata aku membencinya.

Pada Jumat malam, Nisa tiba-tiba menelepon.

“Alya, kamu di mana?”

“Rumah.”

“Kamu belum lihat berita?”

“Berita apa?”

Nisa mengirim sebuah tautan.

Judulnya membuat tubuhku menegang.

Direktur Utama Wijaya Group Mengundurkan Diri dari Posisi Eksekutif.

Aku membaca cepat.

Adrian menyerahkan jabatan operasional sementara kepada wakil direktur karena alasan pribadi.

Aku langsung meneleponnya.

Tidak aktif.

Aku menelepon lagi.

Tetap tidak aktif.

“Nisa, dia di mana?”

“Aku nggak tahu.”

Aku mengambil jaket dan berlari keluar.

Apartemen Adrian kosong.

Kantornya kosong.

Rumah keluarga Wijaya juga tidak ada.

Barulah aku teringat satu tempat.

Rumah sakit.

Aku sampai hampir tengah malam.

Bangunan lama tempat kami pernah bertemu sudah direnovasi, tetapi taman kecil di samping gedung masih ada.

Dan di bangku dekat jendela, seorang pria duduk sendirian.

Adrian.

Tidak ada jas.

Tidak ada mobil mewah.

Hanya kemeja putih sederhana.

Aku berjalan mendekat.

“Jadi sekarang hobimu kabur?”

Dia menoleh.

Matanya langsung berubah.

“Alya?”

“Kenapa mengundurkan diri?”

“Aku tidak mengundurkan diri permanen. Hanya cuti dari operasional.”

“Kenapa?”

Dia menatap ke depan.

“Karena aku menyadari sesuatu.”

“Apa?”

“Aku terbiasa mendapatkan apa yang kuinginkan dengan membuat rencana.”

Dia tersenyum pahit.

“Perusahaan, investasi, negosiasi. Semuanya bisa dihitung.”

Lalu dia menatapku.

“Tapi manusia bukan proyek.”

Dadaku terasa sesak.

“Aku mencintaimu, Alya. Tapi cara aku mendapatkanmu salah.”

Dia mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.

Aku membukanya.

Surat pembatalan perjanjian pernikahan kontrak.

Tidak ada tuntutan.

Tidak ada kewajiban mengembalikan uang.

Tidak ada syarat.

“Aku sudah menandatanganinya.”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu ingin pergi setelah kontrak selesai, kamu bebas.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan nyata di wajah Adrian.

“Sekarang kamu benar-benar bisa memilih.”

Aku memandang surat itu lama.

Kemudian merobeknya menjadi dua.

Mata Adrian membesar.

Aku merobeknya lagi.

“Alya?”

“Aku belum selesai marah.”

“Oke.”

“Mungkin lama.”

“Aku tunggu.”

“Dan saham vila untuk Nisa dibatalkan.”

“Sudah.”

Aku menatapnya tajam.

“Serius?”

“Aku ganti dengan satu unit ruko.”

“Adrian!”

Dia tertawa.

Aku memukul lengannya, tetapi kali ini dia menangkap tanganku.

Aku tidak menariknya.

“Ada satu syarat,” kataku.

“Apa saja.”

“Mulai sekarang tidak ada rahasia.”

Adrian mengangguk.

“Tidak ada manipulasi.”

“Ya.”

“Tidak ada jebakan.”

“Ya.”

Aku menyipitkan mata.

“Dan aku tetap kerja di divisi proyek.”

Wajahnya langsung berubah.

“Yang itu bisa dinegosiasikan.”

Aku menarik tanganku.

“Selamat malam.”

“Alya, tunggu.”

Untuk pertama kalinya malam itu aku tertawa.

Tiga bulan kemudian, aku menemukan sesuatu saat membersihkan lemari di rumah.

Sebuah map cokelat terselip di antara dokumen Adrian.

Aku langsung membawanya ke ruang kerja.

“Adrian!”

Dia muncul dengan wajah panik.

“Apa?”

Aku mengangkat map itu.

“Katanya tidak ada rahasia?”

Wajahnya mendadak pucat.

Aku membuka map.

Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan rumah sakit lama.

Namaku tercetak di sana.

Namun ada dokumen lain di belakangnya.

Surat tulisan tangan ibuku.

Aku membaca kalimat pertama dan langsung terdiam.

Untuk Rian. Kalau suatu hari Alya sudah dewasa dan kalian bertemu lagi, jangan bilang bahwa ibunya yang memintamu menjaganya. Biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri.

Tanganku gemetar.

Aku menatap Adrian.

“Kamu tahu tentang surat ini?”

Dia menggeleng perlahan.

“Baru kutemukan setelah kita menikah.”

Aku membaca bagian terakhir.

Dan air mataku jatuh.

Ibu menulis bahwa selama dirawat, dia sudah mengenal Adrian kecil. Dia tahu anak pendiam itu selalu menungguku datang membawa dua es krim. Sebelum kami berpisah, Ibu memberikan alamat rumah kami kepada ibu Adrian.

Namun keluarga Adrian pindah.

Hubungan terputus.

Selama bertahun-tahun, kami mengira pertemuan kembali itu kebetulan.

Adrian mengira dialah orang yang merancang semuanya.

Nisa mengira dialah mak comblang paling hebat.

Aku mengira diriku korban konspirasi dua manusia gila.

Ternyata jauh sebelum semua rencana mereka dimulai, dua orang ibu sudah pernah berharap anak-anak mereka suatu hari akan bertemu lagi.

Aku tertawa sambil menangis.

Adrian memelukku dari belakang.

“Jadi sebenarnya siapa yang paling licik?”

Aku menatap surat tulisan tangan ibu.

“Takdir.”

Adrian mencium pelipisku.

Aku menyikut perutnya.

“Tapi jangan senang dulu. Kesalahanmu tetap tidak terhapus.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu tetap tidur di sofa malam ini.”

Pelukannya langsung mengendur.

“Alya.”

“Katanya aku bebas memilih?”

Dia terdiam.

Aku tersenyum puas dan berjalan menuju kamar.

Baru tiga langkah, aku berhenti.

“Adrian.”

“Ya?”

Aku menoleh.

“Besok sarapan buat dua porsi.”

Wajahnya perlahan berubah cerah.

Aku segera menambahkan,

“Jangan salah paham. Aku cuma malas masak.”

“Tentu.”

“Dan jangan pakai daun bawang.”

“Aku ingat.”

Aku menutup pintu kamar sambil tersenyum.

Mungkin cinta kami memang dimulai dari serangkaian kebohongan, jebakan konyol, dan sebuah kontrak yang seharusnya berakhir setelah satu tahun.

Tetapi akhirnya aku memahami satu hal.

Takdir mungkin bisa mempertemukan dua orang.

Orang lain mungkin bisa menyusun seribu rencana agar mereka berada di tempat yang sama.

Namun tidak ada seorang pun yang berhak menentukan apakah mereka harus tetap bersama.

Bagian itu harus dipilih sendiri.

Dan kali ini, setelah mengetahui seluruh kebenaran, aku memilih Adrian.

Bukan karena kontrak.

Bukan karena uang.

Bukan karena rencana Nisa.

Bukan pula karena surat ibu.

Aku memilihnya karena sekarang pintu kandang sudah terbuka lebar, semua jebakan sudah dibongkar, dan aku tetap ingin tinggal bersama serigala licik itu.

Meski tentu saja, sesekali dia masih pantas tidur di sofa.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang