Aku tidak tidur malam itu.
Bukan karena kasur di kamar tamu rumah keluarga Mahendra terlalu empuk, melainkan karena satu kalimat Bima terus berputar di kepalaku.
Kalau aku tidak membersihkan jalan di depanmu, kamu pikir mereka akan berhenti mengejarmu begitu saja?
Selama tiga tahun, aku percaya akulah yang menyelamatkannya.
Aku masih ingat malam ketika menemukan Bima tergeletak di pinggir jalan setelah hujan deras. Kemejanya robek, pelipisnya berdarah, dan dompetnya kosong. Ketika sadar, ia hanya bisa menyebut namanya sendiri. Setidaknya itulah yang dikatakannya.
Aku membawanya ke klinik kecil, membayar obat dengan uang terakhirku, lalu memberinya tempat tinggal.
Beberapa bulan kemudian kami menikah sederhana.

Setahun setelah itu Nino lahir.
Dan sekarang aku baru mengetahui bahwa pria miskin yang kutolong ternyata pewaris keluarga Mahendra.
Lebih buruk lagi, mungkin sebagian besar hidup kami selama tiga tahun terakhir dibangun di atas kebohongan.
Pintu kamar terbuka pelan.
Bima masuk membawa segelas susu hangat.
“Minum.”
Aku melempar bantal ke arahnya.
Ia menangkapnya dengan satu tangan.
“Keluar.”
“Kamu belum makan malam.”
“Keluar.”
“Dokter bilang kamu tidak boleh stres.”
Aku mengambil bantal kedua.
“Penyebab stresku sedang berdiri di depan pintu.”
Bima terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak kami tiba di rumah itu, ekspresi tenangnya retak.
Ia meletakkan susu di meja.
“Aku memang berbohong.”
“Bagus. Akhirnya ada satu kalimat jujur.”
“Tapi aku tidak pernah berbohong soal perasaanku kepadamu.”
Aku tertawa pendek.
“Bagaimana aku tahu?”
Bima menatapku lama.
“Apa yang ingin kamu ketahui?”
“Semuanya.”
Ia menarik kursi dan duduk di hadapanku.
“Tiga tahun lalu aku tidak kehilangan ingatan.”
Dadaku langsung sesak.
Walaupun sudah menduganya, mendengar pengakuan itu tetap terasa seperti ditampar.
“Jadi sejak malam pertama?”
“Aku sadar siapa diriku.”
“Dan kamu membiarkanku menghabiskan uang untuk membayar klinik?”
“Aku menggantinya.”
“Kapan?”
“Keesokan harinya.”
Aku mengernyit.
Bima menjelaskan bahwa pemilik klinik menerima transfer anonim pagi setelah aku membayar. Uang yang kuberikan kemudian diam-diam dikembalikan melalui potongan biaya pengobatan berikutnya.
Aku semakin kesal.
“Kenapa berpura-pura miskin?”
Wajah Bima berubah serius.
“Tiga hari sebelum kamu menemukanku, mobilku mengalami kecelakaan.”
“Bukankah itu kecelakaan biasa?”
“Remnya dipotong.”
Aku membeku.
Bima melanjutkan dengan suara rendah.
“Ayahku meninggal dua tahun sebelumnya. Setelah itu terjadi perebutan kendali perusahaan. Ada orang di keluarga yang ingin memastikan aku tidak pernah kembali.”
Aku langsung teringat Tante Mira.
“Dia?”
“Aku belum punya bukti saat itu.”
“Jadi kamu bersembunyi denganku?”
“Awalnya, iya.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Berarti aku cuma tempat persembunyian?”
Bima menggeleng.
“Hari ketiga aku sudah bisa pergi.”
“Kenapa tidak pergi?”
Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat canggung.
“Karena kamu memasak sup ayam.”
Aku melotot.
“Jangan bercanda.”
“Aku serius.”
Ia menunduk sedikit.
“Selama bertahun-tahun semua orang di sekitarku memperlakukan Bima Mahendra sebagai nama keluarga, saham, dan warisan. Kamu satu-satunya orang yang memarahiku karena tidak mencuci piring.”
Aku ingin tetap marah.
Sayangnya, aku teringat bagaimana dulu ia berdiri kebingungan di depan wastafel sementara aku mengomel karena hanya ada dua piring tetapi ia membutuhkan hampir setengah jam untuk mencucinya.
“Lalu pernikahan kita?”
“Itu sah.”
“Kamu sengaja mengurus semuanya tanpa memberitahuku?”
“Aku ingin menikahimu.”
“Dengan identitas palsu?”
“Identitasku asli. Aku hanya tidak mengatakan siapa keluargaku.”
Aku menahan air mata.
“Itu tetap kebohongan, Bima.”
“Aku tahu.”
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada alasan.
Justru jawaban sederhana itu membuat amarahku kehilangan tempat untuk menghantam.
Aku memalingkan wajah.
“Besok aku pergi.”
Bima berdiri.
“Kamu boleh pergi setelah dokter mengizinkan.”
“Aku membawa Nino.”
“Nino ikut kamu.”
Aku menoleh cepat.
“Kamu tidak akan menahannya?”
“Dia anakmu.”
“Dia juga pewaris Mahendra.”
“Dia tetap anakmu sebelum menjadi apa pun.”
Aku tidak menyangka mendengar jawaban itu.
Bima berjalan menuju pintu, tetapi sebelum keluar ia berhenti.
“Laras.”
Aku tidak menjawab.
“Kalau setelah mengetahui semuanya kamu tetap ingin meninggalkanku, aku akan mengantarmu sendiri.”
Pintu tertutup.
Aneh sekali.
Seharusnya aku merasa lega.
Sebaliknya, malam itu aku menangis sampai tertidur.
Keesokan paginya, suara bentakan dari lantai bawah membangunkanku.
Aku keluar kamar dan melihat beberapa orang berdiri di ruang keluarga. Tante Mira berada di tengah mereka bersama seorang pria berjas abu-abu.
“Perempuan itu harus menandatangani perjanjian.”
Tante Mira meletakkan dokumen di meja.
“Lima miliar rupiah. Cukup untuk membuatnya pergi dan menyerahkan hak asuh anak-anak kepada keluarga Mahendra.”
Aku berhenti di tangga.
Bima berdiri membelakangiku.
“Ambil kembali dokumen itu.”
“Bima, pikirkan nama keluarga kita.”
“Justru karena aku memikirkan keluarga ini, aku masih berbicara sopan.”
Tante Mira mencibir.
“Kamu pikir perempuan seperti dia mencintaimu? Dia kabur begitu mengetahui identitasmu.”
Aku turun perlahan.
“Benar.”
Semua orang menoleh.
Aku mendekati meja.
“Aku memang kabur.”
Tante Mira tersenyum puas.
“Tapi saya kabur sebelum tahu dia kaya.”
Senyumnya hilang.
Aku mengambil dokumen itu, membaca angka yang tertera, lalu meletakkannya kembali.
“Lima miliar?”
“Kalau kurang, sebutkan harga.”
Aku tertawa kecil.
“Tiga tahun saya hidup dengan Bima ketika penghasilannya sebagai tukang kayu kadang bahkan tidak cukup untuk membayar kontrakan. Kalau saya mengejar uang, saya sudah meninggalkannya sejak tahun pertama.”
Bima menatapku.
Ada sesuatu dalam matanya yang membuatku buru-buru memalingkan wajah.
Tante Mira maju.
“Jangan sok suci. Anak dalam kandunganmu bisa bernilai puluhan kali angka itu.”
Tanganku refleks melindungi perut.
Saat itulah Bima berubah.
Ia berdiri di antara kami.
“Cukup.”
Suaranya tidak keras.
Namun seluruh ruangan langsung hening.
“Tante keluar dari rumah saya.”
“Rumahmu?”
Mira tertawa.
“Jangan lupa siapa yang memegang saham keluarga selama kamu menghilang.”
Fikri yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan akhirnya maju membawa tablet.
“Tidak lagi, Bu Mira.”
Wajah perempuan itu berubah.
Fikri menampilkan dokumen hasil rapat pemegang saham luar biasa. Sejak Bima kembali dan membuktikan identitasnya, kepemilikan saham peninggalan ayahnya kembali aktif. Bersama saham dari beberapa investor lama, Bima kini memegang suara terbesar.
Mira pucat.
Namun kejutan sebenarnya belum selesai.
Dua polisi memasuki rumah.
Salah seorang menunjukkan surat perintah pemeriksaan.
Mira mundur.
“Apa ini?”
Bima menatapnya tanpa ekspresi.
“Kecelakaan tiga tahun lalu.”
“Kamu menuduhku?”
“Bukan aku.”
Fikri meletakkan sebuah ponsel lama di meja.
“Rekaman pembayaran kepada mekanik yang merusak sistem rem ditemukan dari rekening perusahaan cangkang milik orang kepercayaan Ibu.”
Mira langsung berteriak bahwa semua itu fitnah.
Tetapi ketika polisi membawanya pergi, ia sempat menoleh kepadaku.
“Kamu pikir kamu menang?”
Aku diam.
“Suamimu jauh lebih berbahaya daripada yang kamu bayangkan.”
Kalimat itu kembali membuat dadaku dingin.
Dua hari kemudian aku memutuskan meninggalkan rumah keluarga Mahendra.
Bima menepati janjinya.
Ia sendiri yang mengantarku.
Namun ketika mobil berhenti, aku tercengang.
Kami berada di depan rumah kontrakan lama.
Cat temboknya masih sama.
Pot cabai yang kutanam masih berada di teras.
Bahkan sandal jepit Bima yang sudah putus sebelah masih terselip di dekat pintu.
“Aku kira kontrakannya sudah habis.”
“Aku membelinya.”
Aku menoleh tajam.
“Kapan?”
“Dua tahun lalu.”
“Kenapa?”
“Pemiliknya mau menjual.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
Bima terdiam sebentar.
“Karena kamu pasti marah kalau tahu tukang kayu bergaji pas-pasan tiba-tiba bisa membeli rumah.”
Aku hampir tertawa meskipun masih kesal.
Nino berlari masuk.
“Rumah Nino!”
Ia memeluk boneka dinosaurusnya dan langsung menuju kamar.
Aku berdiri di teras sementara Bima menurunkan koperku.
“Kamu mau tinggal di mana?” tanyaku.
“Hotel.”
“Rumahmu besar.”
“Rumah itu bukan rumahku.”
Ia menatap bangunan kecil di depan kami.
“Yang ini rumahku.”
Hatiku bergetar.
Tetapi aku belum siap memaafkannya.
“Bima.”
“Hmm?”
“Aku butuh waktu.”
“Aku tahu.”
Ia menyerahkan kunci rumah kepadaku.
“Berapa lama?”
“Entahlah.”
Ia mengangguk.
Kemudian benar-benar pergi.
Hari-hari berikutnya terasa aneh.
Tidak ada Bima yang membuat kopi terlalu pahit setiap pagi.
Tidak ada suara palu dari belakang rumah.
Tidak ada orang yang mengomel ketika aku lupa minum vitamin.
Namun setiap pukul tujuh pagi selalu ada kotak makanan di depan pintu.
Tidak pernah ada nama pengirim.
Aku tahu siapa pelakunya.
Seminggu kemudian, Nino demam.
Aku panik dan langsung menelepon Bima.
Belum sampai dua puluh menit, ia sudah tiba mengenakan kaus sederhana dan celana kerja lama.
“Papa!”
Nino langsung mengulurkan tangan.
Bima menggendongnya sepanjang perjalanan ke rumah sakit.
Untungnya hanya infeksi ringan.
Ketika Nino akhirnya tertidur, aku dan Bima duduk berdampingan di lorong rumah sakit.
“Aku masih marah,” kataku.
“Aku tahu.”
“Aku mungkin akan marah lama.”
“Tidak apa-apa.”
“Dan kalau kita kembali bersama, tidak boleh ada rahasia.”
“Tidak ada.”
“Rekening rahasia?”
“Tidak ada.”
“Identitas rahasia?”
“Tidak ada.”
“Keluarga rahasia?”
Bima terdiam.
Aku langsung menoleh.
“Bima.”
Ia menghela napas.
“Ada satu hal.”
Darahku langsung naik.
“Apa lagi?”
“Aku bukan pewaris tunggal Mahendra.”
Aku menatapnya curiga.
“Aku punya kakak perempuan.”
“Lalu?”
“Dia menghilang dua puluh tujuh tahun lalu ketika masih bayi.”
Aku terdiam.
Bima mengambil sebuah foto lama dari dompetnya.
“Setelah kasus Tante Mira dibuka, Fikri menemukan dokumen lama milik ayahku. Selama bertahun-tahun ayah ternyata mencari kakakku diam-diam.”
Aku melihat foto seorang bayi perempuan dengan gelang kecil di tangannya.
Entah mengapa dadaku terasa aneh.
“Kenapa kamu menunjukkan ini kepadaku?”
Bima menatapku.
“Karena nama ibu angkatmu muncul dalam dokumen pencarian itu.”
Aku merasa dunia berhenti.
“Apa?”
“Laras, aku tidak berani menyimpulkan sebelum tes selesai.”
Ia mengeluarkan amplop putih.
Tanganku gemetar saat menerimanya.
Hasil pemeriksaan DNA.
Aku membaca baris demi baris sampai huruf-huruf di kertas mulai kabur oleh air mata.
Probabilitas hubungan biologis saudara kandung lebih dari 99,9 persen.
Aku menatap Bima.
“Ini tidak mungkin.”
“Makanya waktu pertama kali melihatmu tiga tahun lalu, aku mengenal kalung yang kamu pakai.”
Tanganku refleks menyentuh leher.
Kalung kecil peninggalan ibu angkatku.
“Aku mendekatimu bukan karena kecelakaan?”
Bima menggeleng perlahan.
“Aku memang sedang diburu malam itu. Tapi aku memilih jatuh di depanmu karena sudah mencarimu selama hampir enam bulan.”
Seluruh tubuhku dingin.
“Jadi sejak awal kamu tahu aku siapa?”
“Aku menduga.”
“Lalu kamu menikahiku?”
Bima mengernyit.
“Menikahimu?”
Ia kemudian seperti memahami sesuatu.
Wajahnya berubah.
“Laras, kamu salah paham.”
Jantungku berdegup keras.
Bima mengambil dokumen DNA itu dan menunjuk bagian nama keluarga.
“Kakakku bernama Larasati Mahendra.”
Aku melihatnya.
Bukan namaku.
Nama di hasil tes juga bukan namaku.
Nama yang tercetak adalah Nabila Mahendra.
Aku semakin bingung.
“Siapa Nabila?”
Bima terdiam.
Kemudian suara seseorang terdengar dari belakang kami.
“Saya.”
Aku menoleh.
Seorang perempuan sekitar tiga puluh tahun berdiri di ujung lorong bersama Fikri.
Aku pernah melihat wajah itu.
Di rumah keluarga Mahendra.
Ia adalah dokter kandungan yang memeriksaku ketika pertama kali dibawa Bima ke rumah sakit.
Bima mengusap wajahnya.
“Fikri, kenapa kamu membawanya sekarang?”
“Karena ada hal lain yang harus kalian ketahui.”
Nabila berjalan mendekat dengan mata merah.
Ia menunjukkan foto lama ibu angkatku.
“Perempuan ini bukan hanya ibu angkat Laras.”
Aku menahan napas.
“Dia juga orang yang menyelamatkan saya saat bayi.”
Fikri kemudian menyerahkan berkas terakhir.
Ternyata ibu angkatku pernah bekerja sebagai perawat keluarga Mahendra. Ketika mengetahui ada rencana menculik bayi keluarga itu demi perebutan warisan, ia membawa Nabila pergi dan menitipkannya kepada kerabat jauh sebelum kembali ke Surabaya dengan identitas baru.
Bertahun-tahun kemudian, ia mengangkatku sebagai anak setelah orang tua kandungku meninggal dalam kecelakaan.
Aku bukan pewaris Mahendra.
Aku tidak memiliki hubungan darah dengan Bima.
Namun ibuku adalah orang yang menyelamatkan kakaknya.
Bima ternyata mencariku bukan untuk menemukan saudara kandungnya.
Ia mencariku karena percaya aku mungkin menyimpan petunjuk terakhir menuju Nabila.
“Lalu kenapa kamu tinggal bersamaku tiga tahun?” tanyaku dengan suara bergetar.
Bima menatapku lama.
“Rencanaku cuma tiga hari.”
“Lalu?”
“Pada hari ketiga kamu bilang kalau aku pergi tanpa memperbaiki atap, kamu akan menagih biaya makan.”
Aku tertawa di antara air mata.
“Bodoh.”
“Iya.”
“Pembohong.”
“Iya.”
“Manipulatif.”
“Kadang-kadang.”
Aku memukul lengannya.
Ia tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, aku melihat Bima yang kukenal.
Bukan pewaris Mahendra.
Bukan pria berjas yang menghentikan bus.
Hanya tukang kayu menyebalkan yang pernah membakar telur karena sibuk menimang Nino.
Aku menggenggam tangannya.
“Aku belum memaafkanmu.”
Bima membalas genggamanku.
“Aku bisa menunggu.”
Enam bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan.
Kami menamainya Aruna.
Bima tidak kembali tinggal di rumah besar keluarganya. Ia memilih rumah kecil kami, meskipun setiap pagi beberapa mobil perusahaan sering berhenti di ujung gang dan membuat tetangga bergosip.
Ia tetap bekerja mengelola Mahendra Group.
Tetapi pada akhir pekan, ia kembali ke bengkel kecil di belakang rumah.
Suatu sore aku melihatnya membuat sebuah ranjang bayi dari kayu.
“Padahal kamu bisa membeli yang paling mahal,” kataku.
Bima tidak mengangkat kepala.
“Yang mahal belum tentu dibuat papanya.”
Aku tersenyum.
Nino berlari membawa palu mainan, sementara Aruna tertidur di pelukanku.
Tiga tahun lalu aku mengira telah menyelamatkan seorang pria miskin di pinggir jalan.
Kemudian aku mengetahui bahwa ia pewaris keluarga kaya dan percaya bahwa selama ini justru dialah yang menyelamatkanku.
Pada akhirnya kami berdua salah.
Tidak ada seorang pun yang menjadi penyelamat dalam pernikahan kami.
Kami hanyalah dua orang yang sama-sama membawa rahasia, luka, dan ketakutan, lalu tanpa sengaja menemukan tempat pulang pada satu sama lain.
Dan mungkin itulah alasan Bima tetap menyimpan sandal jepitnya yang putus di depan pintu.
Bukan karena ia tidak mampu membeli yang baru.
Melainkan karena rumah tidak pernah ditentukan oleh seberapa mahal bangunannya.
Rumah adalah tempat seseorang akhirnya berani berhenti berlari.
