Kakakku Menyerah Mengajariku Matematika, Lalu Sahabatnya yang Dingin Menjadikan Setiap Jawaban Benar sebagai Hadiah

Aku membeku.

Kalimat Arga barusan seharusnya terdengar seperti lelucon. Masalahnya, Arga Mahendra bukan tipe manusia yang bercanda.

Dia bahkan pernah menatap Bagas selama hampir satu menit hanya karena kakakku mengirim stiker kucing menari ke grup kerja mereka.

Aku menelan ludah.

“Kak Arga sadar nggak sih kalimat tadi terdengar seperti lamaran?”

“Tidak.”

“Syukurlah.”

“Itu peringatan.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Arga menarik kursi di sebelahku, lalu mengetuk soal berikutnya dengan ujung pena.

“Kerjakan.”

Sejak hari itu, sistem hadiah benar-benar dimulai.

Dan ternyata, aku jauh lebih mudah disuap daripada yang kukira.

Soal pertama yang kujawab benar membuatku meminta es krim.

Soal kedua membuat Arga harus menemaniku membeli novel.

Soal ketiga memberiku hak untuk mengganti playlist jazz membosankan di apartemennya dengan lagu-lagu pilihanku selama satu malam.

Arga menerima semuanya tanpa protes.

Masalah baru muncul ketika aku mulai semakin pintar.

Dalam dua minggu, satu jawaban benar berubah menjadi tiga. Tiga menjadi lima. Lima menjadi delapan.

Dan setiap kali aku berhasil, Arga selalu menepati janjinya.

“Aku mau makan seblak.”

“Kamu sakit perut minggu lalu.”

“Itu bukan bagian dari perjanjian.”

Arga menatapku beberapa detik.

Tiga puluh menit kemudian, seorang pria yang biasanya makan malam di restoran mahal duduk di warung seblak pinggir jalan bersamaku sambil berkeringat karena kepedasan.

Aku tertawa sampai perutku sakit.

“Kak Arga ternyata bisa kepedasan juga.”

“Saya manusia.”

“Kadang aku meragukannya.”

Dia mengulurkan tisu kepadaku.

“Lap mulutmu.”

Aku menerimanya sambil masih tertawa.

Entah sejak kapan, belajar matematika tidak lagi terasa seperti hukuman.

Aku mulai menunggu pukul tujuh malam.

Menunggu suara pintu apartemen terbuka.

Menunggu Arga meletakkan laptopnya, menggulung lengan kemeja, kemudian duduk di seberangku sambil bertanya, “Hari ini mau dapat berapa hadiah?”

Kadang aku sengaja datang lebih awal.

Kadang Arga pulang membawa roti favoritku tanpa pernah kutanyakan.

Kadang aku tertidur di sofa setelah mengerjakan latihan dan bangun dengan selimut menutupi tubuhku.

Hal-hal kecil itu perlahan menjadi berbahaya.

Karena aku mulai menyukai guruku sendiri.

Bukan sebagai sahabat kakakku.

Bukan sebagai pria menyebalkan yang mengancamku dengan soal integral.

Aku benar-benar menyukainya.

Suatu malam, setelah berhasil menjawab sepuluh soal berturut-turut, aku mengangkat kedua tangan seperti baru memenangkan Olimpiade.

“Sepuluh!”

Arga memeriksa jawabanku sekali lagi.

“Semuanya benar.”

Aku hampir melompat.

“Berarti sepuluh hadiah?”

“Satu sesi hanya satu hadiah.”

“Penipu.”

“Aturannya sejak awal begitu.”

Aku menyandarkan dagu ke meja sambil memikirkan permintaan.

Kemudian sebuah ide bodoh muncul.

“Aku mau tahu tipe perempuan Kak Arga.”

Tangannya yang sedang merapikan kertas berhenti.

“Itu hadiahmu?”

“Iya.”

“Tidak berguna.”

“Buatku berguna.”

Arga menatapku lama sebelum menjawab.

“Berisik.”

Aku mengerutkan dahi.

“Serius?”

“Serius.”

“Suka makan?”

“Ya.”

“Ceroboh?”

“Lumayan.”

“Benci matematika?”

Sudut bibirnya bergerak tipis.

“Sangat.”

Jantungku seperti terjatuh.

Aku berusaha tertawa.

“Wah, terdengar seperti perempuan yang merepotkan.”

“Memang.”

“Kenapa disukai?”

Arga tidak langsung menjawab.

Tatapannya turun ke lembar latihan di antara kami.

“Karena dia membuat tempat yang terlalu tenang terasa seperti rumah.”

Aku tidak sanggup bercanda lagi.

Malam itu, aku pulang sambil memeluk tas dan tersenyum sendirian sepanjang perjalanan.

Sampai tiga hari kemudian semuanya berubah.

Aku datang ke apartemen Arga lebih awal karena ingin mengejutkannya dengan hasil simulasi ujian. Nilai matematikaku naik drastis.

Namun ketika lift terbuka, aku melihat seorang perempuan berdiri di depan unit Arga.

Cantik. Tinggi. Elegan.

Arga membukakan pintu.

Perempuan itu langsung memeluknya.

Aku berhenti.

“Kamu benar-benar susah dicari,” katanya sambil tertawa. “Mama sudah menanyakan kapan kita membicarakan pertunangan lagi.”

Pertunangan.

Satu kata itu cukup membuat seluruh kebodohanku selama berminggu-minggu terasa memalukan.

Aku mundur sebelum mereka melihatku.

Malam itu aku mengirim pesan kepada Arga.

Aku sakit. Nggak bisa belajar.

Besoknya aku menggunakan alasan yang sama.

Hari ketiga, aku mematikan ponsel.

Hari keempat, Bagas masuk ke kamarku tanpa mengetuk.

“Kamu bertengkar sama Arga?”

“Nggak.”

“Dia menelepon Kakak enam kali.”

Aku pura-pura membaca buku.

“Suruh cari murid lain.”

Bagas duduk di tepi kasur.

“Dinda.”

“Aku bisa belajar sendiri.”

“Kamu menangis?”

Aku langsung menutup wajah dengan buku.

“Nggak.”

“Bukunya terbalik.”

Aku melihatnya.

Benar.

Sial.

Bagas menarik buku dari tanganku.

“Apa yang terjadi?”

Aku menggigit bibir.

“Kak Arga punya tunangan?”

Wajah Bagas berubah aneh.

“Siapa bilang?”

“Aku dengar sendiri.”

Bagas menghela napas panjang.

Namun sebelum sempat menjelaskan, bel rumah berbunyi.

Beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki.

Aku bahkan tidak perlu melihat.

Arga muncul di depan pintu kamar.

Wajahnya tetap tenang, tetapi dasinya sedikit longgar dan rambutnya tidak serapi biasanya.

“Keluar.”

Aku memeluk bantal.

“Nggak mau.”

“Dinda.”

“Aku bukan karyawan Kak Arga.”

“Benar. Kalau kamu karyawan saya, empat hari menghilang tanpa kabar sudah saya pecat.”

Bagas berdiri.

“Kayaknya aku harus pergi.”

“Kak!”

“Semoga selamat.”

Pengkhianat.

Bagas menutup pintu.

Aku dan Arga saling menatap.

“Apa masalahmu?” tanyanya.

“Nggak ada.”

“Lihat saya.”

Aku justru memalingkan wajah.

Arga mendekat.

“Dinda.”

“Kenapa Kak Arga nggak bilang punya tunangan?”

Hening.

Akhirnya keluar juga.

Arga berkedip.

“Tunangan?”

“Perempuan yang datang ke apartemen.”

Untuk beberapa detik dia hanya menatapku.

Lalu, sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.

Arga tertawa.

Bukan senyum tipis.

Benar-benar tertawa.

Aku semakin kesal.

“Lucu?”

“Itu sepupu saya.”

Aku diam.

“Apa?”

“Namanya Nadia. Dia akan bertunangan dengan rekan bisnis saya. Keluarga meminta saya membantu mengatur pertemuan kedua keluarga.”

Dunia rasanya berhenti.

Arga melipat tangan di dada.

“Kamu menghilang empat hari karena cemburu kepada sepupu saya?”

“Siapa yang cemburu?”

“Baik.”

“Aku cuma salah paham.”

“Baik.”

“Jangan senyum begitu!”

“Saya tidak tersenyum.”

“Kak Arga jelas-jelas senyum!”

Aku melempar bantal.

Dia menangkapnya dengan satu tangan.

Malu luar biasa membuatku ingin menghilang dari Bandung.

Namun Arga tiba-tiba berhenti tersenyum.

“Sekarang giliran saya bertanya.”

“Apa?”

“Kenapa kamu cemburu?”

Aku terdiam.

“Karena…”

“Karena?”

Aku menunduk.

“Aku suka Kak Arga.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tidak dramatis.

Tidak romantis.

Hanya jujur.

Arga tidak menjawab.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Aku mulai menyesal.

“Lupakan. Anggap saja aku demam.”

Aku hendak melewatinya ketika tangannya menahan pergelangan tanganku.

“Ujianmu tinggal tiga minggu.”

Aku tertawa pahit.

“Itu jawaban penolakan paling matematis yang pernah kudengar.”

“Dengarkan dulu.”

Aku berhenti.

“Selesaikan ujianmu. Masuk universitas yang kamu inginkan. Setelah itu, kalau perasaanmu masih sama, katakan lagi.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena sekarang saya gurumu. Dan saya tidak mau kamu suatu hari bertanya apakah kamu belajar keras karena masa depanmu atau karena ingin menyenangkan saya.”

Untuk pertama kalinya, aku memahami sisi Arga yang selama ini tidak pernah kulihat.

Dia bukan dingin.

Dia hanya sangat berhati-hati.

“Aku boleh minta satu hadiah terakhir?”

“Kamu belum menjawab soal hari ini.”

“Pelit.”

Dia melepaskan tanganku.

“Belajar.”

Tiga minggu berikutnya menjadi periode paling melelahkan dalam hidupku.

Arga tidak menurunkan standar sedikit pun.

Bagas bahkan ikut membantu.

Aku belajar sampai tengah malam, mengerjakan ratusan soal, gagal dalam simulasi, menangis dua kali, hampir menyerah tiga kali.

Setiap kali aku berkata tidak mampu, Arga hanya mengembalikan kertas kepadaku.

“Baca lagi.”

“Aku bodoh.”

“Tidak.”

“Aku gagal.”

“Belum.”

“Aku takut.”

“Kamu boleh takut. Tetap kerjakan.”

Hari ujian akhirnya datang.

Sebelum memasuki gedung, ponselku berbunyi.

Pesan dari Arga.

Jangan panik sebelum membaca pertanyaannya.

Hanya itu.

Aku tertawa kecil.

Lalu masuk.

Sebulan kemudian, hasil seleksi diumumkan.

Tanganku gemetar ketika membuka laman pengumuman.

Aku membaca namaku.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Lalu menjerit begitu keras sampai Bagas berlari keluar dari kamar mandi dengan sampo masih memenuhi rambutnya.

“AKU LOLOS!”

Bagas ikut berteriak.

Aku menangis sambil memeluknya.

Aku diterima di universitas negeri yang selama ini kuimpikan.

Malamnya, Bagas mengadakan makan malam kecil.

Namun Arga tidak datang.

Pesanku hanya dibalas singkat.

Selamat. Saya bangga padamu.

Aneh.

Aku seharusnya bahagia, tetapi ada ruang kosong yang mengganggu.

Dua hari kemudian, Bagas memberiku sebuah kotak.

“Dari Arga.”

Di dalamnya ada pena hitam yang selama ini selalu kupakai belajar di apartemennya.

Juga sebuah tiket pesawat.

Jakarta.

Aku menatap Bagas.

“Ini apa?”

“Arga pindah.”

Jantungku mencelos.

“Pindah?”

“Perusahaannya membuka kantor pusat baru di Jakarta.”

“Kenapa dia nggak bilang?”

Bagas mengangkat bahu.

“Katanya sekarang kamu sudah tidak membutuhkan guru matematika.”

Aku berdiri begitu cepat sampai kursi hampir jatuh.

Dua jam kemudian aku sudah berada di bandara.

Aku menemukan Arga di dekat pintu keberangkatan.

“Kak Arga!”

Dia berbalik.

Untuk pertama kalinya, wajah tenangnya terlihat benar-benar terkejut.

Aku berlari menghampirinya.

“Kak Arga jahat.”

“Itu kalimat pertama setelah kamu mengejar saya sampai bandara?”

“Kenapa pergi tanpa pamit?”

“Saya sudah meninggalkan hadiah.”

“Hadiah macam apa tiket pesawat?”

“Supaya kalau suatu hari kamu benar-benar ingin menemui saya, kamu tidak punya alasan soal ongkos.”

Aku terdiam.

Arga menatapku.

“Sekarang kenapa kamu datang?”

Aku menarik napas.

“Aku sudah lulus ujian.”

“Saya tahu.”

“Aku masuk universitas yang aku mau.”

“Saya tahu.”

“Dan perasaanku masih sama.”

Tatapan Arga berubah.

Aku menatap matanya.

“Jadi sekarang aku mau mengulang permintaan hadiah yang dulu.”

“Apa?”

Aku tersenyum meski jantungku hampir meledak.

“Jadi pacarku.”

Arga diam cukup lama hingga aku mulai gugup.

Kemudian dia membuka tas kerjanya.

Dia mengeluarkan sebuah kertas.

Aku mengenalinya.

Lembar latihan pertamaku.

Kertas penuh coretan dengan hampir semua jawaban salah.

“Kak Arga masih menyimpan itu?”

“Ya.”

“Kenapa?”

Dia menunjuk satu soal.

Satu-satunya jawaban yang benar malam itu.

“Karena sebenarnya kamu sudah mendapatkan satu hadiah sejak hari pertama.”

Aku terdiam.

“Dan kamu belum pernah menagihnya.”

Aku tersenyum perlahan.

“Kalau begitu sekarang aku tagih.”

“Apa permintaanmu?”

“Jangan pergi.”

Arga menatap papan keberangkatan.

Lalu kembali menatapku.

“Tidak bisa.”

Senyumku menghilang.

Namun dia melanjutkan.

“Pesawat saya berangkat empat puluh menit lagi. Tiket tidak bisa dibatalkan.”

Aku memukul lengannya.

“Kak Arga!”

Dia tertawa kecil, lalu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.

Sebuah kartu akses.

“Bagas sudah tahu sejak dua bulan lalu saya akan pindah. Dia juga tahu perusahaan saya memberikan beasiswa untuk mahasiswa baru di kampusmu.”

Aku menatap kartu itu.

Nama perusahaan Arga tercetak di sana.

“Terus?”

“Saya akan berada di Bandung setiap Jumat sampai Minggu untuk program tersebut.”

Aku membeku.

“Jadi selama ini Kak Bagas tahu?”

“Ya.”

“Dan dia membiarkan aku mengejar Kak Arga sampai bandara?”

Arga mengangguk.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari Bagas masuk.

Kalau sudah jadian, jangan pulang sambil senyum-senyum. Jijik.

Aku menutup wajah.

Arga tertawa.

Kemudian dia mengambil pena hitam dari tanganku dan menulis sesuatu di belakang lembar latihan lama itu.

Aku membacanya.

Hadiah pertama: satu kesempatan.

Di bawahnya dia menambahkan:

Hadiah terakhir: tidak ada lagi hubungan guru dan murid. Mulai hari ini, kita belajar menjadi dua orang yang berjalan sejajar.

Aku menatapnya.

“Jadi?”

Arga mengulurkan tangan.

“Jadi, Dinda, mulai sekarang kalau kamu salah menjawab matematika, saya tidak akan menghukummu.”

Aku tersenyum dan menggenggam tangannya.

“Kalau benar?”

“Tidak ada hadiah.”

“Curang.”

“Karena hadiahnya sudah kamu ambil.”

“Apa?”

Untuk pertama kalinya, pria paling dingin yang pernah kukenal tersenyum tanpa menyembunyikannya.

“Saya.”

Dan saat itu aku akhirnya mengerti.

Matematika yang selama bertahun-tahun kubenci ternyata mengajariku satu hal yang tidak pernah ada di buku pelajaran.

Tidak semua jawaban benar ditemukan dengan menghafal rumus.

Kadang kita harus berani menghadapi sesuatu yang membuat kita takut, mengerjakannya perlahan, salah berkali-kali, lalu mencoba lagi.

Karena beberapa jawaban terbaik dalam hidup baru muncul setelah kita berhenti melarikan diri dari pertanyaannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang