Suamiku Menyeretku Keluar Rumah Saat Selingkuhannya Asyik Tidur di Kamar Utama Kami Sambil Berteriak “Rumah Mewah Ini Milikku Sekarang!” Tapi Satu Jam Kemudian Petugas Pengadilan Datang Membawa Surat Eksekusi Resmi yang Membuat Wajahnya Pucat Pasi Seketika

Pria berjas hitam itu belum sempat mengetuk ketika pintu utama tiba-tiba terbuka.

Aditya muncul dengan gelas minuman di tangan. Wajahnya yang tadi penuh kemenangan berubah bingung saat melihat tiga polisi dan dua petugas membawa map merah berdiri di teras.

“Ada apa ini?” tanyanya ketus. “Siapa yang mengizinkan kalian masuk ke properti saya?”

Petugas paling depan menatap Aditya beberapa detik, kemudian membuka mapnya.

“Saudara Aditya Pranata?”

“Iya. Saya pemilik rumah ini.”

Aku yang berdiri beberapa meter darinya hampir tersenyum mendengar kalimat itu.

Petugas tersebut justru menoleh kepadaku.

“Ibu Nabila, benar Sertifikat Hak Milik atas bangunan dan tanah ini tercatat atas nama Anda?”

“Benar.”

Wajah Aditya menegang.

“Jangan dengarkan dia,” potongnya cepat. “Dia istri saya. Kami sedang dalam proses perceraian. Rumah ini bagian dari harta bersama.”

“Aditya.”

Suara lain terdengar dari belakang rombongan.

Sebuah sedan berhenti di tepi jalan. Ibu Ratih turun sambil membawa tas dokumen hitam. Perempuan berusia hampir enam puluh tahun itu berjalan menembus hujan dengan wajah setenang biasanya.

Begitu melihatnya, Aditya langsung pucat.

“Bu Ratih?”

“Sudah lama, Dit.”

Aditya menelan ludah.

Ibu Ratih pernah menjadi notaris yang menangani hampir seluruh urusan hukum keluarga Nenek. Lebih penting lagi, dialah yang empat tahun lalu membacakan setiap klausul perjanjian perkawinan kami sebelum aku dan Aditya menandatanganinya.

Indah kini muncul di belakang Aditya dengan kimono milikku masih melekat di tubuhnya.

“Ada masalah apa, Mas?”

“Masuk!” bentak Aditya.

Indah terkejut.

Ibu Ratih mengeluarkan salinan dokumen.

“Rumah ini merupakan hibah dari almarhumah Ibu Rukmini kepada Nabila, dilakukan sebelum perkawinan dan secara eksplisit dikecualikan dari harta bersama dalam perjanjian perkawinan kalian.”

Aditya langsung menunjuknya.

“Saya punya pengacara!”

“Bagus,” jawab Ibu Ratih tenang. “Hubungi sekarang.”

“Apa maksud Ibu?”

“Karena sebentar lagi kamu akan sangat membutuhkannya.”

Keheningan terasa lebih dingin daripada hujan Bandung malam itu.

Petugas menyerahkan dokumen kepada Aditya.

“Berdasarkan penetapan yang kami bawa dan laporan dugaan penggunaan dokumen jaminan tanpa persetujuan pemilik sah, kami melakukan pengamanan dokumen dan aset tertentu yang berkaitan dengan pemeriksaan.”

“Apa?”

Gelas di tangan Aditya hampir terlepas.

Petugas dari pihak kreditur kemudian membuka berkas lain.

“PT Arunika Karya Properti mengajukan fasilitas pembiayaan dengan mencantumkan rumah ini sebagai salah satu objek jaminan.”

Aditya menatapku.

Tatapannya berubah.

Bukan lagi marah.

Takut.

“Itu cuma administrasi perusahaan.”

“Administrasi?” tanyaku pelan.

Aku mengeluarkan ponsel.

“Tanda tanganku kamu pindai dari surat kuasa pengurusan pajak. Setelah itu kamu tempel ke dokumen persetujuan penjaminan.”

“Apa-apaan kamu?”

Aku membuka satu gambar.

“Ini dokumen asli yang kamu berikan kepadaku tanggal dua belas Mei.”

Lalu gambar kedua.

“Ini dokumen yang kamu ajukan kepada kreditur tanggal delapan belas Mei.”

Aku memperbesar bagian tanda tangan.

“Bentuknya identik sampai noda tinta kecil di huruf terakhir. Karena memang hasil pindai dari dokumen pertama.”

Indah perlahan mundur.

Aditya menoleh kepadanya.

“Mas…” bisiknya.

“Diam!”

Aku menatap perempuan itu.

“Jangan buru-buru pergi, Indah. Namamu juga ada di beberapa dokumen.”

Tubuh Indah seketika kaku.

“Apa maksud Mbak?”

“Kamu tercatat menerima beberapa transfer dari rekening perusahaan Aditya.”

“Itu honor konsultasi!”

“Honor konsultasi hampir dua miliar rupiah dalam tujuh bulan?”

Wajahnya kehilangan warna.

Aditya melangkah cepat ke arahku.

“Kamu menyelidiki saya?”

Salah seorang polisi segera berdiri di antara kami.

“Saudara, mundur.”

Aditya berhenti.

Aku memandang laki-laki yang empat tahun lalu mengucapkan akad di depan keluargaku. Aku masih ingat bagaimana tangannya gemetar saat memasangkan cincin ke jariku. Aku masih ingat malam pertama kami tinggal di rumah ini, ketika dia berdiri di balkon sambil berkata bahwa dirinya tidak pernah menginginkan kekayaanku.

Ternyata manusia bisa berubah.

Atau mungkin aku saja yang terlalu lama menolak melihat siapa dirinya sebenarnya.

“Tiga bulan lalu aku masih mencoba menyelamatkan pernikahan kita,” kataku. “Bahkan ketika aku tahu tentang Indah.”

Indah menunduk.

Aditya membeku.

“Kamu sudah tahu?”

“Sejak perjalanan bisnis kalian ke Bali.”

Aku melihat perubahan kecil pada wajahnya.

“Aku tidak langsung menggugat cerai karena aku masih berharap kamu akan berhenti. Tapi kemudian kamu mulai memaksaku menjaminkan rumah Nenek. Setelah aku menolak, kamu mengancamku.”

“Itu karena perusahaan sedang kesulitan!”

“Jadi menurutmu kesulitan bisnis memberi hak untuk memalsukan persetujuan istrimu?”

Aditya kehilangan kata-kata.

Ibu Ratih menyerahkan tablet kepada petugas.

“Ada rekaman lain.”

Suara Aditya terdengar dari perangkat itu.

“Tanda tangan saja. Kalau proyek ini gagal, rumah itu juga tidak akan menyelamatkan kamu.”

Kemudian terdengar suaraku.

“Rumah itu bukan aset perusahaanmu.”

Lalu suara benturan.

Suara Aditya kembali terdengar.

“Jangan paksa saya melakukan sesuatu yang lebih buruk.”

Aku melihat rahangnya mengeras.

Rekaman berikutnya lebih jelas.

“Kalau kamu tidak mau tanda tangan, saya bisa cari cara lain. Sertifikat itu tetap akan masuk bank.”

Petugas mematikan rekaman.

Aditya tidak lagi membantah.

Ia hanya berdiri dengan wajah kosong.

Namun kejutan terbesar justru datang dari Indah.

Perempuan itu tiba-tiba berlari ke lantai atas.

“Indah!” teriak Aditya.

Dua petugas menyusul.

Beberapa menit kemudian mereka turun kembali. Salah satunya membawa laptop, sementara Indah berjalan di belakang mereka sambil menangis.

“Saya tidak tahu apa-apa,” katanya tergesa-gesa. “Semua ini urusan Mas Aditya!”

Aditya menatapnya tak percaya.

“Kamu bilang apa?”

“Saya cuma disuruh menerima transfer!”

“Indah!”

“Mas yang bilang uang itu aman!”

Aku menatap mereka tanpa bicara.

Cinta yang dibangun di atas pengkhianatan ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk berubah menjadi saling menyelamatkan diri.

Indah menunjuk Aditya.

“Dia yang menyuruh saya membuat invoice konsultasi palsu!”

“Bohong!”

“Saya punya chat-nya!”

Suasana seketika kacau.

Indah mengambil ponselnya dan menunjukkan percakapan kepada petugas.

Aditya mencoba merebutnya.

Polisi segera menahan tangannya.

“Jangan menyentuh barang bukti.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Aditya benar-benar kehilangan kendali.

“Ini rumah saya! Perusahaan itu milik saya! Kalian tidak bisa datang begitu saja dan memperlakukan saya seperti kriminal!”

Aku berjalan mendekatinya.

“Rumah ini bukan milikmu, Dit.”

Dia menatapku.

“Tidak pernah.”

Aku menunjuk pintu utama.

“Empat tahun aku membiarkanmu menyebutnya rumah kita karena aku menganggapmu keluarga. Tapi secara hukum, rumah ini tetap milikku. Dan satu jam lalu, kamu menyeret pemilik sahnya keluar.”

Aditya menatap lebam di lenganku.

Entah untuk pertama kalinya ia menyadari apa yang telah dilakukannya, atau untuk pertama kalinya ia menyadari konsekuensinya.

“Nabila…”

Nada suaranya berubah.

“Nabila, dengarkan saya.”

Aku hampir tidak mengenali kelembutan palsu itu.

“Kita bisa bicara.”

Aku diam.

“Semua ini salah paham. Saya sedang stres karena perusahaan. Investor menekan saya. Kontraktor mengejar pembayaran. Saya tidak bermaksud menyakiti kamu.”

Aku memandang lututku yang terluka.

“Lima belas menit lalu kamu menyuruhku membusuk di jalanan.”

Aditya terdiam.

“Sekarang kamu mau bicara?”

“Nabila…”

“Tidak.”

Hanya satu kata.

Namun rasanya seperti akhirnya aku menutup pintu yang selama berbulan-bulan takut kututup.

Pemeriksaan rumah berlangsung hampir dua jam.

Dari ruang kerja Aditya, petugas menemukan beberapa salinan dokumen perusahaan, dokumen pengajuan kredit, serta perangkat elektronik yang perlu diperiksa lebih lanjut. Aku tidak ikut menyentuh apa pun. Semua diserahkan kepada petugas agar prosesnya tercatat dengan benar.

Menjelang pukul sembilan malam, Aditya dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Saat melewatiku, langkahnya berhenti.

Hujan telah mereda.

“Nabila.”

Aku menoleh.

Matanya merah.

“Kamu merencanakan semua ini?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Lalu kenapa mereka bisa datang tepat malam ini?”

“Karena aku sudah melapor sebelum hari ini. Aku hanya tidak tahu kapan proses hukumnya bergerak.”

Ia menatapku lama.

“Jadi kamu memang ingin menghancurkan saya.”

Aku tersenyum getir.

“Aku hanya berhenti melindungimu dari akibat perbuatanmu sendiri.”

Aditya tidak menjawab.

Ia berjalan menuju kendaraan petugas.

Indah dibawa secara terpisah untuk dimintai keterangan.

Aku kembali memasuki rumah.

Untuk pertama kalinya, rumah itu terasa asing.

Kimono pemberian Nenek tergeletak di sofa. Dua gelas masih berada di kamar utama. Parfum Indah memenuhi udara.

Aku berdiri di depan cermin.

Perempuan di dalamnya terlihat kacau. Rambut basah, lutut terluka, mata bengkak.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda.

Ia tidak lagi takut.

Ibu Ratih berdiri di belakangku.

“Kamu yakin baik-baik saja?”

Aku mengangguk.

Lalu tiba-tiba aku teringat gelang Nenek.

Aku berlari ke ruang tamu.

Gelang perak itu masih berada di bawah meja konsol, tepat di tempat benda itu jatuh ketika Aditya menyeretku.

Aku memungutnya.

Air mataku akhirnya pecah.

Bukan karena Aditya.

Aku teringat Nenek.

Beberapa minggu sebelum meninggal, beliau pernah mengatakan sesuatu yang waktu itu tidak benar-benar kupahami.

“Rumah bisa dicuri, uang bisa habis, suami bisa berubah. Tapi jangan pernah menyerahkan hakmu hanya karena takut disebut istri yang tidak patuh.”

Saat itu aku tertawa dan menganggap Nenek terlalu curiga terhadap dunia.

Malam itu aku akhirnya mengerti.

Tiga minggu kemudian aku mengajukan gugatan perceraian.

Pemeriksaan terhadap transaksi perusahaan Aditya berkembang jauh lebih besar daripada dugaan awalku. Dokumen yang awalnya berkaitan dengan rumah ternyata membuka persoalan lain dalam pengelolaan PT Arunika Karya Properti. Beberapa investor ikut menyerahkan bukti. Kontraktor melaporkan tagihan yang belum dibayar. Auditor menemukan aliran dana yang harus dijelaskan.

Indah memilih bekerja sama dengan penyidik.

Ia menyerahkan percakapan, invoice, dan dokumen yang selama ini disimpannya.

Aku tidak pernah menganggap Indah sebagai korban dalam pernikahanku. Ia tahu Aditya sudah menikah ketika hubungan mereka dimulai.

Namun pada akhirnya, perempuan yang dibawa Aditya masuk ke rumahku untuk menggantikanku justru menjadi salah satu orang yang menyerahkan bukti paling memberatkan terhadapnya.

Enam bulan berlalu.

Aku tidak menjual rumah Dago itu.

Aku juga tidak tinggal di sana sendirian.

Aku mengubah lantai pertama menjadi kantor sebuah yayasan kecil yang memberikan konsultasi awal dan pendampingan rujukan bagi perempuan yang mengalami kekerasan ekonomi dalam rumah tangga.

Ide itu muncul ketika aku menyadari satu hal sederhana.

Aku bisa melawan karena memiliki akses kepada Ibu Ratih, dokumen, CCTV, dan pengetahuan mengenai asetku sendiri.

Tidak semua perempuan memilikinya.

Suatu sore, seorang perempuan muda datang membawa bayi dan sebuah map plastik lusuh. Tangannya gemetar ketika duduk di hadapanku.

“Suami saya meminta saya tanda tangan,” katanya.

“Dokumen apa?”

“Saya tidak tahu. Katanya cuma untuk usaha.”

Aku menatap map itu.

Untuk sesaat aku seperti melihat diriku sendiri beberapa bulan sebelumnya.

Aku mendorong segelas air kepadanya.

“Jangan tanda tangan apa pun sebelum kamu memahami isinya.”

Perempuan itu mulai menangis.

Aku menggenggam gelang Nenek yang kini selalu kupakai.

Di luar jendela, hujan Bandung turun perlahan.

Malam ketika Aditya menyeretku keluar rumah, ia berteriak bahwa rumah mewah itu akhirnya menjadi miliknya.

Ia salah.

Bukan hanya karena sertifikat rumah itu tidak pernah berpindah nama.

Ia salah karena mengira kemenangan berarti berhasil mengambil sesuatu dari orang lain.

Padahal malam itu, ketika tubuhku terjatuh di anak tangga dan pintu ditutup di depan wajahku, justru aku mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga daripada rumah lima belas miliar rupiah.

Diriku sendiri.

Ponselku tiba-tiba berbunyi.

Pesan dari Ibu Ratih.

Aku membukanya dan terdiam.

Ada satu dokumen lama yang baru ditemukan ketika arsip peninggalan Nenek diperiksa ulang.

Ternyata rumah Dago bukan satu-satunya hal yang beliau wariskan kepadaku.

Ada sebuah surat tulisan tangan yang disimpan bersama akta hibah.

Aku membuka hasil pindaiannya.

Tulisan Nenek masih sama seperti yang kuingat.

“Nabila, kalau suatu hari kamu membaca surat ini karena seseorang mencoba merebut rumahmu, berarti firasat Nenek benar. Jangan pertahankan rumah ini demi temboknya. Pertahankan karena Nenek ingin kamu belajar bahwa orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah meminta bukti cinta dalam bentuk penyerahan hak atas dirimu sendiri.”

Aku menutup mulut.

Air mataku jatuh ke layar.

Di bagian paling bawah terdapat satu kalimat lagi.

“Dan kalau suatu hari rumah ini berhasil menyelamatkan perempuan lain selain kamu, barulah warisan Nenek benar-benar sampai kepada pemiliknya.”

Aku menatap lantai bawah.

Perempuan muda tadi sedang berbicara dengan konsultan hukum kami. Bayinya tertidur di pelukannya. Untuk pertama kalinya sejak datang, wajahnya terlihat sedikit lebih tenang.

Aku tersenyum sambil menangis.

Ternyata selama ini Nenek tidak mewariskan rumah kepadaku agar aku memiliki tempat untuk berlindung.

Beliau mewariskannya agar suatu hari, ketika aku sudah cukup kuat berdiri sendiri, rumah itu bisa menjadi tempat berlindung bagi orang lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang