SAYA PULANG SETELAH BEKERJA 12 JAM DAN MENEMUKAN ISTRI SAYA YANG SEDANG

Darah saya seakan mendidih hingga ke ubun-ubun. Rasa lelah yang tadinya menekan bahu saya seketika lenyap, digantikan oleh adrenalin murni yang dingin dan tajam. Saya tidak langsung meledak. Saya justru menutup pintu perlahan, suara “klik” kunci yang terdengar sangat keras di tengah tawa Karla yang cempreng.

Maya menoleh ke arah saya. Matanya yang sembab menatap penuh permohonan, bukan karena dia ingin saya menghajarnya, tapi karena dia tahu badai akan segera datang.

“Ardi…” bisiknya lirih, suaranya parau karena kelelahan.

Saya berjalan melewati tumpukan sampah yang mereka ciptakan. Saya tidak menyapa ibu saya, tidak pula Karla. Saya berlutut di samping Maya, mengambil kain pel dari tangannya, dan mencium keningnya yang basah oleh peluh. “Cukup, Sayang. Kamu masuk ke kamar. Kunci pintunya. Jangan keluar sampai aku memanggilmu.”

“Tapi, Ardi, mereka…”

“Masuk,” bisik saya lembut namun tegas. Maya menurut. Dengan tertatih, dia berdiri dan berjalan menjauh, meninggalkan saya sendirian dengan dua wanita yang merasa memiliki hak istimewa atas rumah saya.

Mama Rosa menaruh kakinya ke bawah, menatap saya dengan tatapan meremehkan yang sudah saya kenal sejak kecil. “Oh, akhirnya si perawat datang. Lihat istrimu itu, Ardi. Tidak becus mengurus rumah. Kami butuh teh, dan dia malah menangis.”

Saya berdiri perlahan, memunggungi mereka, menatap kekacauan di ruang tamu saya. Saya mengambil kotak pizza yang sudah berbau busuk, lalu melemparkannya tepat ke atas meja kopi, tepat di depan wajah Karla yang ternganga.

“Apa yang kamu lakukan, Ardi?!” teriak Karla, melompat dari sofa.

Saya berbalik. Senyum saya mungkin terlihat paling menakutkan yang pernah mereka lihat. “Kalian bicara tentang beban? Kalian bicara tentang kebersihan?”

Saya berjalan ke arah mereka, setiap langkah terasa seperti predator yang mengincar mangsanya. “Kalian tahu apa yang saya lakukan selama 12 jam terakhir? Saya menutup mata seorang pria berusia 20 tahun yang tewas karena kecelakaan mobil. Saya membersihkan darah, kotoran, dan rasa sakit orang lain. Dan ketika saya pulang, saya berharap bisa menemukan kedamaian.”

Mama Rosa mendengus. “Jangan dramatis. Kamu anakku, rumah ini—”

“Rumah ini milik Maya,” potong saya dingin. “Sertifikat rumah ini atas nama Maya. Semua perabotan ini dibeli dari gaji Maya sebelum dia cuti hamil. Kalian bukan tamu. Kalian adalah parasit.”

Karla tertawa meremehkan. “Kamu tidak akan mengusir darah dagingmu sendiri, Ardi.”

“Oh, tentu saja saya akan melakukannya,” jawab saya tenang. Saya mengeluarkan ponsel dan menunjukkan layar yang sudah merekam pembicaraan mereka selama satu minggu terakhir melalui sistem smart home kami. “Karla, kamu pikir saya tidak tahu kamu mencuri perhiasan Maya? Dan Mama… kamu pikir saya tidak tahu kamu telah membuang suplemen kehamilan Maya karena kamu ingin dia ‘lemah’ agar bisa kamu perintah?”

Wajah Mama Rosa memucat. Ternyata, kejahatan yang mereka anggap sepele itu sudah tersimpan rapi dalam folder digital saya.

“Keluar sekarang, atau saya akan memanggil polisi dan menunjukkan rekaman ini beserta bukti transaksi penjualan perhiasan Maya di toko barang bekas yang sudah saya lacak,” perintah saya.

Mereka akhirnya pergi dalam keheningan yang memalukan, menyeret koper mereka di tengah malam buta. Namun, cerita tidak berakhir di sana.

Setelah mereka pergi, saya masuk ke kamar. Maya sedang duduk di tepi tempat tidur, memegangi perutnya. “Ardi, apakah kita melakukan hal yang benar? Mereka keluarga.”

“Mereka bukan keluarga, Maya. Keluarga tidak menghancurkanmu.”

Namun, saat saya mendekatinya, saya melihat sesuatu yang aneh. Di lantai, di dekat kaki tempat tidur, ada sebuah amplop cokelat yang terbuka. Surat itu bukan dari Mama atau Karla. Itu adalah surat dari rumah sakit tempat saya bekerja.

Saya mengambilnya, jantung saya berdegup kencang. Surat itu berlogo departemen SDM.

Tuan Ardi, kami menyesal memberitahukan bahwa berdasarkan investigasi internal terkait kehilangan stok obat-obatan terlarang di unit Anda, kami menemukan bukti keterlibatan salah satu anggota keluarga Anda yang sering datang menjemput…

Tangan saya gemetar. Saya menatap Maya. Istri saya yang manis dan lembut itu menatap saya, namun tatapannya kini berubah. Dia tidak lagi terlihat lelah atau teraniaya. Dia tersenyum—sebuah senyum yang dingin, penuh perhitungan, dan sangat asing.

“Mereka memang parasit yang menyebalkan, Ardi,” bisik Maya, suaranya kini tenang dan stabil. “Tapi mereka sangat berguna untuk menutupi jejakku. Kamu terlalu sibuk menjadi perawat yang ‘baik’ hingga kamu tidak menyadari bahwa selama berbulan-bulan, aku adalah orang yang perlahan mengambil obat-obatan dari kantormu.”

Dunia saya seakan runtuh. “Apa… apa maksudmu?”

“Keluargamu yang bodoh itu memberiku alasan untuk terlihat seperti korban. Jika nanti polisi datang, mereka akan mencari Mama Rosa atau Karla sebagai tersangka. Mereka memiliki riwayat hidup yang buruk, mudah sekali untuk memfitnah mereka.”

Maya berdiri, mengusap perutnya yang ternyata… tidak berisi bayi. Itu adalah ganjalan karet yang selama ini dia gunakan untuk menahan saya agar tetap setia dan simpati.

“Terima kasih sudah mengusir mereka, Ardi. Sekarang tidak ada lagi saksi mata yang bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini.”

Saya mundur, jatuh terduduk. Semua kebaikan yang saya berikan, semua kerja keras saya selama 12 jam, hanya menjadi alat bagi wanita yang selama ini saya anggap sebagai dunia saya. Dia bukan istri saya yang hamil; dia adalah seorang profesional yang memanipulasi setiap inci hidup saya demi keuntungan pribadinya.

Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar di depan rumah. Bukan untuk menangkap Mama Rosa, tapi untuk saya. Di tangan Maya, ponselnya menyala, menunjukkan rekaman saya yang sedang marah-marah kepada ibu dan adik saya—sebuah rekaman yang sudah dia edit seolah-olah sayalah yang melakukan kekerasan fisik kepada mereka.

“Selamat malam, sayang,” bisiknya sambil mencium pipi saya sebelum dia berjalan keluar rumah dengan santai, meninggalkan saya dalam jebakan yang dia rancang dengan sangat rapi.

Di detik itu saya sadar, musuh terburuk bukan mereka yang kita benci, melainkan mereka yang kita cintai tanpa kita kenal siapa mereka sebenarnya. Hidup saya berubah selamanya; dari seorang perawat yang menyelamatkan nyawa, menjadi seorang kriminal yang dikhianati oleh cinta yang palsu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang