Pada ulang tahun pernikahan kami yang ketiga, suami dan sahabat terbaikku menghilang pada saat yang hampir bersamaan. Mereka mengira aku masih berdiri di ballroom, tersenyum di hadapan ratusan tamu sambil menunggu acara bersulang dimulai.
Mereka tidak tahu aku sedang duduk hanya beberapa meter dari pintu kamar tempat mereka bersembunyi.
Dan malam itu, aku akhirnya mengetahui bahwa perselingkuhan bukanlah pengkhianatan terbesar yang mereka lakukan kepadaku.
Namaku Andrea. Usia dua puluh empat tahun. Tiga tahun lalu aku menikah dengan Mateo, seorang arsitek berusia dua puluh tujuh tahun yang saat itu sedang merintis kariernya di Jakarta.
Aku mengenalnya ketika perusahaan keluargaku mencari arsitek untuk proyek pembangunan sebuah kompleks komersial. Mateo masih muda, ambisius, dan tidak memiliki nama besar. Namun caranya menjelaskan desain membuat semua orang di ruang rapat terdiam.
Aku jatuh cinta bukan pada prestasinya, melainkan pada keyakinannya.

Setelah kami menikah, aku memperkenalkannya kepada banyak relasi bisnis keluarga. Kariernya melejit. Dalam waktu kurang dari tiga tahun, namanya mulai dikenal di kalangan pengembang properti.
Aku tidak pernah merasa berjasa.
Bagiku, begitulah pernikahan. Ketika satu orang naik, yang lain ikut mendorong.
Selain Mateo, ada Chloe.
Chloe sudah menjadi sahabatku sejak SMA. Dia tahu segala hal tentangku, termasuk ketakutanku, kelemahanku, sampai kata sandi lama yang pernah kugunakan ketika kami remaja.
Ketika ibuku meninggal dua tahun lalu, Mateo memelukku sepanjang malam dan Chloe tidur di sofa rumahku selama hampir seminggu karena takut aku merasa sendirian.
Mereka adalah dua orang yang paling kupercaya.
Karena itulah aku tidak pernah membayangkan bahwa merekalah yang sedang menghancurkan hidupku bersama-sama.
Malam perayaan ulang tahun pernikahan kami digelar di sebuah hotel mewah di pusat Jakarta. Ballroom dipenuhi kolega bisnis, keluarga, sahabat, dan sejumlah investor yang pernah bekerja sama dengan perusahaan keluargaku.
Aku mengenakan gaun hijau zamrud pilihan Mateo.
Sebelum pesta dimulai, dia menatapku cukup lama.
“Kamu cantik banget malam ini.”
Aku tersenyum. “Baru sadar?”
Dia tertawa dan mengecup keningku.
Sekarang, ketika mengingatnya, aku tidak tahu apakah kecupan itu tulus atau hanya bagian dari sandiwara.
Sekitar pukul delapan malam, Mateo menghampiriku.
“Sayang, aku harus angkat telepon investor. Penting. Sepuluh menit saja.”
“Jangan lama. Sebentar lagi toast.”
“Janji.”
Tidak sampai lima menit kemudian, Chloe datang sambil menggenggam lenganku.
“Pesta kalian keterlaluan mewahnya. Aku jadi minder kalau nanti nikah.”
“Kamu saja yang terlalu pilih-pilih.”
Dia tertawa.
“Aku ke toilet dulu. Makeup-ku kayaknya berantakan.”
Aku bahkan sempat membantunya merapikan sedikit maskara di sudut matanya.
“Sudah. Cantik.”
“Love you.”
“Love you too.”
Itulah kalimat terakhir yang kuucapkan kepadanya sebelum mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Tiga puluh menit berlalu.
Mateo tidak kembali.
Chloe juga tidak.
Aku menelepon keduanya. Tidak ada jawaban.
Karena khawatir, aku naik ke suite VIP yang kami pesan untuk malam itu.
Lorong lantai atas hotel sangat sepi. Saat mendekati kamar, aku melihat pintunya tidak tertutup sempurna.
Aku hendak masuk ketika mendengar suara Chloe tertawa.
Kemudian suara Mateo.
Aku duduk di kursi dekat pintu dan mendengarkan.
“Sebentar lagi saja, Sayang,” bisik Mateo. “Setelah Andrea memindahkan saham yang dijanjikan ayahnya ke atas namaku, semuanya selesai.”
Chloe terkikik.
“Dia benar-benar bodoh, ya?”
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
Namun Mateo justru tertawa.
“Bukan bodoh. Dia terlalu percaya.”
“Bedanya apa?”
“Aku butuh dia percaya sampai rapat pemegang saham minggu depan. Begitu namaku masuk dan aku punya akses ke dividen serta hak suara, kita pergi.”
“Dan rumah?”
“Sudah kuurus.”
“Rekening?”
“Aku sedang pindahkan pelan-pelan lewat perusahaan konsultasi.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Perselingkuhan itu mendadak terasa kecil.
Mereka bukan hanya tidur bersama.
Mereka sedang merencanakan untuk mengambil apa yang dibangun keluargaku selama puluhan tahun.
Kemudian Chloe mengatakan sesuatu yang membuat tubuhku benar-benar dingin.
“Bagaimana kalau Andrea sadar soal dokumen yang kita minta dia tanda tangani bulan lalu?”
“Dia tidak akan sadar. Aku bilang itu dokumen pajak proyek.”
Aku teringat sebuah map yang pernah Mateo letakkan di meja makan. Saat itu aku sedang terburu-buru menuju kantor.
Dia hanya berkata, “Tanda tangan di sini, ya. Dokumen administrasi.”
Aku memang menandatanganinya tanpa membaca.
Untuk pertama kalinya, aku membenci diriku sendiri karena begitu percaya.
Aku mengeluarkan ponsel dan mulai merekam.
Mateo kembali berbicara.
“Setelah saham pindah, aku cerai. Aku akan bilang kami sudah tidak cocok. Andrea terlalu menjaga reputasi keluarga untuk membuat skandal.”
Chloe tertawa kecil.
“Kasihan juga.”
“Jangan sok kasihan. Kamu yang pertama kali bilang aku harus menikah dengannya.”
Dunia di sekelilingku seperti berhenti.
Aku menatap pintu kamar.
Chloe yang menyuruh Mateo menikah denganku?
Berarti semua ini jauh lebih lama daripada yang kubayangkan.
“Waktu SMA dia selalu punya semuanya,” kata Chloe. “Nilai bagus, keluarga kaya, semua orang suka dia. Aku cuma ingin sekali saja mengambil sesuatu darinya.”
“Akhirnya kamu dapat aku.”
“Belum. Selama kamu masih pakai cincin itu, aku belum menang.”
Aku tidak tahu dari mana kekuatan itu datang, tetapi aku berdiri.
Aku tidak membuka pintu.
Aku kembali ke lift, turun ke ballroom, lalu masuk ke toilet perempuan.
Barulah di sana tubuhku gemetar.
Aku menatap wajahku di cermin.
Air mata akhirnya jatuh, tetapi hanya beberapa tetes.
Aku membasuhnya.
Kemudian aku menelepon satu orang.
Paman Adrian, adik almarhum ayahku sekaligus direktur legal perusahaan keluarga.
“Om, bisa datang ke ruang privat ballroom sekarang?”
“Andrea? Kamu kenapa?”
“Bawa laptop. Dan jangan bilang Mateo.”
Sepuluh menit kemudian, Paman Adrian masuk.
Aku memperdengarkan rekaman itu.
Wajahnya berubah.
“Dokumen apa yang kamu tanda tangani?”
“Aku tidak tahu.”
“Jangan panik. Untuk pengalihan saham utama, tanda tanganmu saja tidak cukup. Ada persetujuan dewan keluarga dan notaris.”
Aku menatapnya.
“Jadi dia belum dapat apa-apa?”
“Kalau yang dia incar saham warisanmu, belum.”
Untuk pertama kalinya malam itu aku bisa bernapas.
Namun Paman Adrian kemudian membuka sistem perusahaan.
“Ada yang lebih buruk.”
Dia menunjukkan beberapa transaksi.
Selama enam bulan terakhir, perusahaan konsultasi milik seorang kenalan Mateo menerima pembayaran dari dua proyek yang ia tangani.
Nilainya miliaran rupiah.
“Itu bukan dana perusahaan kita langsung,” kata Paman Adrian. “Tapi ada dugaan mark-up biaya desain dan konsultan.”
“Bisa dibuktikan?”
“Kalau kita dapat kontrak dan aliran dananya, bisa.”
Aku memandang jam.
Acara bersulang tinggal sepuluh menit lagi.
“Aku punya ide.”
“Andrea, jangan bertindak gegabah.”
“Aku tidak akan gegabah.”
Aku tersenyum tipis.
“Aku akan memberi mereka persis apa yang mereka inginkan.”
Aku kembali ke ballroom.
Beberapa menit kemudian, Mateo muncul.
Rambutnya rapi, kemejanya sempurna.
Tidak ada satu pun tanda bahwa lima belas menit sebelumnya ia sedang merencanakan kehancuranku.
“Maaf lama,” katanya sambil memeluk pinggangku. “Investor itu cerewet banget.”
Aku menatap matanya.
“Tidak apa-apa.”
Chloe juga muncul.
“Astaga, akhirnya! Aku antre toilet lama banget.”
Aku tersenyum kepadanya.
“Kupikir kamu hilang.”
Wajah Chloe berubah sepersekian detik.
Lalu dia tertawa.
“Mana mungkin aku meninggalkan sahabatku di hari spesial begini?”
Aku hampir kagum pada kemampuan mereka berbohong.
Pembawa acara kemudian memanggil kami ke panggung.
Lampu diredupkan.
Mateo menggenggam tanganku di depan ratusan tamu.
Ia menyampaikan pidato yang sangat indah tentang cinta, kepercayaan, dan bagaimana aku telah menjadi alasan kesuksesannya.
Beberapa tamu bertepuk tangan.
Bahkan ada yang menangis.
Ketika mikrofon diberikan kepadaku, aku menatap Mateo.
“Terima kasih. Tiga tahun terakhir memang mengajarkanku banyak hal tentang kepercayaan.”
Mateo tersenyum.
“Aku juga menyiapkan hadiah untuk suamiku.”
Matanya berbinar.
Sejak dua bulan lalu, Mateo memang terus membahas rencana menjadikannya salah satu pemegang saham.
Dia pasti mengira inilah saatnya.
Aku memberi isyarat kepada operator.
Layar besar di belakang kami menyala.
Tapi bukan dokumen saham yang muncul.
Melainkan tangkapan layar transaksi ke sebuah perusahaan konsultasi.
Mateo langsung pucat.
“Apa ini?” bisiknya.
Aku menatapnya.
“Hadiah.”
Ruangan menjadi hening.
Lalu rekaman suara terdengar melalui pengeras suara.
“Setelah Andrea memindahkan saham yang dijanjikan ayahnya ke atas namaku, semuanya selesai.”
Suara Mateo terdengar sangat jelas.
Beberapa tamu mulai berbisik.
Chloe berdiri kaku di dekat meja depan.
Kemudian terdengar suaranya.
“Dia benar-benar bodoh, ya?”
Wajah Chloe langsung kehilangan warna.
“Matikan!” Mateo membentak operator.
Tidak ada yang bergerak.
Rekaman berlanjut sampai bagian rencana perceraian, rekening, dokumen, dan percakapan tentang Chloe yang sejak awal mendorong Mateo mendekatiku.
Aku melihat ibu Mateo menutup mulutnya sambil menangis.
Mateo meraih lenganku.
“Andrea, dengar dulu. Ini bisa dijelaskan.”
Aku menarik tanganku.
“Jelaskan bagian mana? Bagian kamu tidur dengan sahabatku atau bagian kamu berencana mencuri dari keluargaku?”
“Aku tidak mencuri apa pun!”
“Bagus. Berarti kamu tidak keberatan kalau auditor dan pengacara memeriksa semuanya.”
Dia terdiam.
Chloe tiba-tiba naik ke panggung.
“Andrea, aku minta maaf.”
Aku menatapnya.
“Aku nggak tahu semuanya sejauh ini. Mateo yang merencanakan soal uang.”
Mateo menoleh tajam.
“Jangan bohong! Kamu yang kenalkan aku ke orang perusahaan konsultasi itu!”
Mereka mulai saling menyalahkan.
Ironis.
Orang-orang yang beberapa menit lalu menyebutku bodoh kini saling menghancurkan hanya karena merasa terpojok.
Namun kejutan malam itu belum selesai.
Paman Adrian naik ke panggung membawa sebuah map.
“Andrea,” katanya, “ada sesuatu yang perlu kamu tahu.”
Dia menyerahkan sebuah dokumen kepadaku.
Ternyata dokumen yang kutandatangani bulan sebelumnya memang bukan dokumen pajak.
Tetapi juga bukan pengalihan saham.
Mateo mencoba membuat surat kuasa yang memberinya akses untuk mewakiliku dalam transaksi tertentu.
Namun dokumen itu tidak pernah berlaku.
“Kenapa?” tanyaku.
Paman Adrian menatap Mateo.
“Karena ayah Andrea sudah memprediksi kemungkinan seperti ini.”
Aku membeku.
“Ayah?”
Ayahku meninggal setahun sebelum aku menikah.
Paman Adrian menjelaskan bahwa sebelum meninggal, ayah menyusun aturan khusus terhadap seluruh saham warisanku. Tidak ada pasangan, bahkan suami sah, yang dapat memperoleh kepemilikan atau kuasa atas saham tersebut hanya dengan tanda tanganku. Setiap perubahan harus mendapat persetujuan dua wali keluarga.
“Ayahmu bilang Andrea mudah mencintai orang sepenuh hati,” ujar Paman Adrian pelan. “Dan orang yang mencintai sepenuh hati kadang lupa bahwa tidak semua orang datang dengan niat yang sama.”
Aku tidak mampu menahan air mata.
Selama bertahun-tahun aku menganggap aturan warisan itu sebagai bentuk ketidakpercayaan ayah kepadaku.
Malam itu aku sadar, itu justru cara terakhirnya melindungiku.
Mateo pergi dari ballroom malam itu tanpa diriku.
Chloe juga.
Dalam beberapa minggu berikutnya, audit menemukan sejumlah transaksi mencurigakan dari proyek Mateo. Masalah itu kemudian ditangani pengacara dan perusahaan-perusahaan terkait.
Aku mengajukan perceraian.
Chloe berkali-kali menghubungiku.
Aku tidak pernah menjawab.
Enam bulan kemudian, aku mendengar Mateo dan Chloe sudah tidak bersama.
Ternyata hubungan yang dibangun dari pengkhianatan tidak memiliki cukup kepercayaan untuk bertahan ketika uang dan kenyamanan menghilang.
Suatu sore, aku menerima satu pesan terakhir dari Chloe.
“Aku tahu kamu mungkin nggak akan pernah memaafkanku. Tapi aku benar-benar menyesal kehilangan sahabat seperti kamu.”
Aku membaca pesan itu lama.
Lalu menghapusnya.
Aku tidak membencinya lagi.
Kebencian hanya membuat mereka tetap tinggal di dalam hidupku meskipun secara fisik sudah pergi.
Setahun setelah malam itu, aku kembali ke hotel yang sama untuk menghadiri acara bisnis.
Aku melewati lorong lantai VIP tempat dulu aku duduk diam sambil mendengar dua orang terdekatku merencanakan kehancuranku.
Kursi itu masih ada.
Aku berhenti sejenak.
Dulu aku mengira perempuan yang duduk di sana telah kehilangan semuanya.
Suami.
Sahabat.
Kepercayaan.
Masa depan.
Ternyata aku salah.
Malam itu aku tidak kehilangan hidupku.
Aku hanya kehilangan dua orang yang selama ini berpura-pura menjadi bagian terpenting darinya.
Dan untuk pertama kalinya, aku memahami sesuatu yang pernah dikatakan ayahku ketika aku masih kecil.
Kehilangan tidak selalu berarti sesuatu diambil dari kita.
Kadang-kadang, kehilangan adalah cara hidup mengembalikan kita kepada diri sendiri.
