“Jangan sentuh dia!”
Aku berdiri di depan Pak Kardi tepat ketika dua petugas keamanan masuk ke apotek. Jantungku berdetak begitu keras sampai telingaku terasa berdenging. Brenda masih menggenggam seikat uang milik Pak Kardi seolah-olah baru saja menemukan barang bukti kejahatan.
“Pak, orang ini mencurigakan,” kata Brenda cepat. “Penampilannya seperti pengemis, tapi membawa uang tunai puluhan juta. Saya yakin uang ini palsu atau hasil curian.”
Salah seorang satpam bernama Arif menatap Pak Kardi, kemudian menatapku.

“Benar begitu, Pak?”
Pak Kardi tidak menjawab dengan marah. Ia hanya menghela napas dan mengambil ponsel lama dari saku celananya.
“Saya cuma ingin membeli obat cucu saya.”
“Pak Arif, resepnya asli,” kataku. “Dan kita belum punya bukti apa pun bahwa uang beliau bermasalah.”
Brenda mendengus.
“Kamu masih membela dia?”
Aku menatapnya.
“Saya membela pelanggan yang diperlakukan tidak adil.”
Wajah Brenda langsung memerah.
Beberapa pelanggan mulai mengeluarkan ponsel. Rupanya keributan kami sudah menarik perhatian orang-orang di koridor mal.
Brenda mungkin menyadari dirinya sedang ditonton, tetapi bukannya berhenti, ia justru semakin keras.
“Baik! Kalau uangnya asli, kita periksa!”
Ia mengambil alat pendeteksi uang di dekat kasir dan memasukkan beberapa lembar uang milik Pak Kardi.
Lampu indikator menyala.
Asli.
Brenda mencoba lembar kedua.
Asli.
Lembar ketiga.
Tetap asli.
Suasana mendadak sunyi.
Pak Kardi menatap Brenda dan bertanya pelan, “Sekarang saya boleh membeli obat cucu saya?”
Seharusnya Brenda meminta maaf.
Namun kesombongannya rupanya lebih besar daripada rasa malunya.
“Uang asli tidak membuktikan Bapak mendapatkannya dengan cara yang benar.”
Aku sampai tidak percaya mendengarnya.
“Bu Brenda!”
“Apa?” bentaknya kepadaku. “Saya manajer di sini!”
Pak Kardi berdiri perlahan.
“Kalau begitu, kembalikan uang saya.”
Brenda meletakkan uang itu di meja dengan kasar.
“Silakan ambil dan pergi. Kami berhak menolak pelanggan.”
Aku langsung mengambil obat yang sudah kusiapkan.
“Tidak. Saya akan melayani beliau.”
“Maya, kalau kamu melakukan transaksi itu, mulai hari ini kamu tidak perlu bekerja lagi!”
Tanganku berhenti di atas mesin kasir.
Aku membutuhkan pekerjaan ini.
Gajiku membantu membayar pengobatan ibuku dan biaya sekolah adikku. Aku bahkan belum tiga bulan bekerja di Jakarta. Kehilangan pekerjaan berarti aku mungkin harus pulang ke kampung dengan membawa kegagalan.
Tetapi ketika melihat Pak Kardi, aku teringat ayahku.
Ayah juga seorang petani.
Tangannya kasar, kukunya sering menyimpan sisa tanah, dan pakaiannya tidak pernah mahal. Kalau suatu hari ayah datang ke tempat seperti ini untuk membeli obat bagiku, apakah aku rela seseorang memperlakukannya seperti Brenda memperlakukan Pak Kardi?
Aku menarik napas.
Lalu memasukkan obat ke dalam kantong.
“Kalau melayani pelanggan yang membutuhkan obat adalah alasan saya dipecat,” kataku, “saya terima.”
Brenda terdiam.
Aku menyelesaikan transaksi, menyerahkan obat dan uang kembalian kepada Pak Kardi.
Pria tua itu tidak langsung pergi.
Ia menatap kartu namaku yang terpasang di dada.
“Maya?”
“Iya, Pak.”
“Terima kasih.”
“Hati-hati di jalan, Pak. Kalau kondisi cucu Bapak memburuk, segera bawa ke rumah sakit.”
Pak Kardi mengangguk.
Sebelum pergi, ia menatap Brenda.
“Tidak semua orang yang bajunya kotor adalah orang miskin, Nona. Dan tidak semua orang yang memakai pakaian mahal memiliki harga diri yang tinggi.”
Brenda tertawa sinis.
“Sudah selesai ceramahnya?”
Pak Kardi hanya tersenyum.
“Sudah.”
Ia berjalan keluar.
Aku mengira semuanya berakhir di sana.
Aku salah.
Kurang dari lima menit kemudian, Brenda menyuruhku masuk ke ruangannya.
Ia melempar surat peringatan ke meja.
“Kamu diskors sampai manajemen memutuskan nasibmu.”
“Karena saya menjual obat kepada pelanggan?”
“Karena kamu melawan atasan.”
Aku melepas kartu identitasku dan meletakkannya di meja.
“Kalau begitu saya tidak perlu menunggu keputusan.”
Brenda mengangkat alis.
“Kamu mengundurkan diri?”
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya, wajahnya tampak puas.
“Bagus. Orang kampung memang biasanya tidak cocok bekerja di tempat seperti ini.”
Kalimat itu menyakitkan.
Namun aku tidak membalas.
Aku mengambil tas dan keluar dari apotek.
Malam itu aku menangis sendirian di kamar kos.
Aku menelepon ayah, tetapi tidak menceritakan kejadian sebenarnya. Aku hanya mengatakan pekerjaan itu mungkin tidak cocok untukku.
Ayah terdiam beberapa saat.
Kemudian ia berkata, “Maya, pekerjaan bisa dicari lagi. Tapi kalau kamu kehilangan keberanian untuk menjadi orang baik hanya demi mempertahankan pekerjaan, itu lebih sulit dicari kembali.”
Aku menutup telepon sambil menangis.
Keesokan paginya, pukul sembilan, ponselku berdering.
Nomor tidak dikenal.
“Apakah saya berbicara dengan Saudari Maya?”
“Iya.”
“Saya dari kantor pusat Aura Medica. Bisakah Anda datang ke mal pukul sebelas?”
Dadaku langsung sesak.
Kupikir mereka hendak meminta pertanggungjawaban karena aku mengundurkan diri tanpa prosedur.
Aku datang dengan kemeja putih sederhana.
Namun begitu tiba di depan Aura Medica, aku melihat sesuatu yang aneh.
Toko belum dibuka.
Brenda berdiri di depan pintu bersama beberapa pegawai. Di sana juga ada manajer area, direktur operasional Aura Medica, dan beberapa pria berjas yang tidak kukenal.
“Ada apa ini?” tanyaku kepada salah satu rekan.
Ia berbisik, “Aku juga tidak tahu. Katanya ada inspeksi mendadak.”
Brenda melihatku.
“Kamu ngapain datang?”
“Saya dipanggil kantor pusat.”
Wajahnya berubah.
Sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, kerumunan di koridor tiba-tiba terbelah.
Seorang pria tua berjalan ke arah kami.
Aku langsung mengenalinya.
Pak Kardi.
Namun kali ini ia tidak mengenakan kaus berlubang.
Ia memakai kemeja putih sederhana, celana bahan gelap, dan sepatu kulit. Tetap tidak mewah, tetapi rapi.
Di sampingnya berjalan seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun membawa map.
Direktur operasional Aura Medica segera maju.
“Selamat pagi, Pak Ricardo.”
Pak Kardi mengangguk.
Aku membeku.
Brenda juga.
Pria yang kemarin ia sebut pengemis ternyata bernama lengkap Ricardo Kardi Santoso.
Pria berjas di sebelahnya memperkenalkan diri sebagai pengacara keluarga.
Lalu penjelasan yang membuat seluruh tubuhku merinding dimulai.
Pak Kardi memang petani.
Ia tidak pernah berhenti menjadi petani.
Lebih dari tiga puluh tahun lalu, ia mewarisi lahan pertanian kecil dari ayahnya di Jawa Barat. Ia mengembangkan lahan tersebut menjadi perusahaan pemasok sayuran dan buah untuk hotel, restoran, serta supermarket.
Bisnisnya berkembang, tetapi Pak Kardi tetap turun langsung ke kebun.
Yang tidak diketahui Brenda adalah keuntungan perusahaan itu kemudian diinvestasikan dalam properti.
Salah satunya adalah perusahaan yang memiliki saham mayoritas gedung mal tempat kami berdiri.
Brenda pucat.
“Tapi… Aura Medica bukan milik Bapak.”
Pak Kardi mengangguk.
“Benar.”
Brenda terlihat sedikit lega.
Sampai pengacara Pak Kardi membuka map.
“Namun sejak pukul delapan pagi tadi, perusahaan Pak Ricardo telah menyelesaikan akuisisi saham pengendali Aura Medica Indonesia.”
Tak ada yang bersuara.
Brenda perlahan memegang meja kasir agar tidak kehilangan keseimbangan.
Pak Kardi menatapnya.
“Kemarin saya hanya datang membeli obat cucu saya. Saya bahkan tidak tahu apotek ini sedang dalam proses akuisisi oleh perusahaan anak saya.”
Ia berhenti sebentar.
“Lucu, ya? Kadang kita baru benar-benar mengenal sebuah perusahaan ketika datang sebagai orang yang dianggap tidak penting.”
Direktur operasional menundukkan kepala.
“Kami sudah memeriksa rekaman CCTV, Pak.”
Ternyata bukan hanya kejadian denganku yang ditemukan.
Dalam rekaman beberapa bulan terakhir, Brenda berkali-kali mengusir pelanggan yang dianggap miskin. Seorang kurir pernah dilarang membeli obat karena mengenakan jaket pengiriman. Seorang ibu tua pernah dipermalukan karena bertanya tentang obat generik. Bahkan ada laporan pegawai yang ditekan untuk memprioritaskan pelanggan tertentu berdasarkan penampilan.
Brenda mulai menangis.
“Pak, saya bisa menjelaskan.”
Pak Kardi tidak meninggikan suara.
“Silakan.”
“Saya cuma menjaga citra toko.”
“Dengan menghina manusia?”
Brenda tidak mampu menjawab.
“Saya minta maaf.”
Pak Kardi menggeleng.
“Jangan minta maaf kepada saya karena saya kaya.”
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
“Minta maaflah karena kemarin, ketika mengira saya miskin, Anda merasa berhak merendahkan saya.”
Brenda menatap lantai.
Akhirnya ia berjalan ke hadapanku.
“Maya… maaf.”
Aku mengangguk, tetapi tidak berkata apa-apa.
Hari itu Brenda diberhentikan setelah investigasi internal menyimpulkan adanya pelanggaran berulang terhadap standar pelayanan dan perlakuan terhadap karyawan.
Kupikir setelah itu aku akan pulang.
Namun Pak Kardi memanggilku.
“Maya, sebentar.”
Aku mendekatinya.
“Bapak mau mengatakan sesuatu?”
Ia tersenyum.
“Kamu kemarin kehilangan pekerjaan gara-gara saya.”
“Bukan karena Bapak. Itu keputusan saya.”
“Kenapa kamu berani melawan manajermu?”
Aku menceritakan tentang ayahku.
Tentang sawah.
Tentang bagaimana sejak kecil aku melihat ayah pulang dengan tubuh penuh lumpur tetapi tetap menyisihkan uang untuk pendidikan anak-anaknya.
Pak Kardi mendengarkan tanpa menyela.
Kemudian ia berkata, “Saya ingin kamu kembali bekerja.”
Aku terdiam.
“Sebagai apoteker?”
“Untuk sementara.”
Aku bingung.
Pak Kardi kemudian menjelaskan bahwa manajemen baru akan mengubah sistem pelayanan Aura Medica. Mereka membutuhkan orang yang memahami pekerjaan di lapangan sekaligus memiliki empati terhadap pelanggan.
Enam bulan kemudian, aku diangkat menjadi supervisor pelayanan pelanggan.
Dua tahun setelahnya, aku menjadi manajer cabang termuda di perusahaan.
Namun perubahan terbesar bukan jabatanku.
Atas usul Pak Kardi, Aura Medica membuka program obat bersubsidi untuk pekerja informal, petani, pengemudi, dan keluarga berpenghasilan rendah. Sebuah apotek yang dulu terkenal karena kemewahannya perlahan dikenal karena pelayanannya.
Aku masih sering bertemu Pak Kardi.
Anehnya, ia hampir selalu datang mengenakan pakaian sederhana.
Suatu hari aku bertanya kepadanya, “Pak, kenapa Bapak tidak berpakaian lebih rapi kalau pergi ke mal? Bapak tahu sendiri orang sering menilai dari penampilan.”
Pak Kardi tertawa.
“Justru itu gunanya.”
“Maksud Bapak?”
Ia menunjuk orang-orang yang berlalu-lalang.
“Kalau saya memakai jas mahal, semua orang akan baik kepada saya. Saya tidak akan pernah tahu siapa yang benar-benar menghormati manusia dan siapa yang hanya menghormati uang.”
Aku tersenyum.
Namun sebelum pergi, ia mengatakan sesuatu yang baru kuketahui bertahun-tahun kemudian.
“Maya, sebenarnya waktu pertama kali bertemu kamu, saya sudah mengenal nama keluargamu.”
Aku mengernyit.
“Maksud Bapak?”
Ia hanya tersenyum.
Tiga tahun kemudian, ketika ayah datang ke Jakarta untuk menghadiri pernikahanku, rahasia itu akhirnya terungkap.
Begitu melihat Pak Kardi, ayahku terpaku.
“Kardi?”
Pak Kardi langsung memeluknya.
Ternyata puluhan tahun sebelumnya, ketika usaha pertanian Pak Kardi hampir bangkrut akibat gagal panen, ayahku yang saat itu juga hanya petani kecil pernah meminjamkan benih dan sebagian tabungannya tanpa meminta jaminan.
Ayah bahkan tidak pernah menceritakannya kepadaku.
Pak Kardi tidak pernah melupakannya.
“Dulu ayahmu menolong saya ketika saya tidak punya apa-apa,” katanya kepadaku. “Bertahun-tahun saya mencari kesempatan untuk membalas kebaikannya. Tapi ternyata sebelum saya sempat membalas, anaknya lebih dulu menolong saya.”
Mataku langsung basah.
Ayah tertawa kecil dan menepuk bahu Pak Kardi.
“Kebaikan bukan utang, Kardi. Tidak perlu dikembalikan.”
Pak Kardi mengangguk.
“Benar. Karena kebaikan bukan untuk dikembalikan.”
Ia menatapku.
“Kebaikan harus diteruskan.”
Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh seragam mahal, jabatan, atau gedung mewah.
Hari ketika Pak Kardi masuk ke Aura Medica dengan pakaian berlumpur, Brenda melihat seorang pengemis.
Aku melihat seorang ayah yang membutuhkan pertolongan.
Tetapi kehidupan ternyata melihat sesuatu yang jauh lebih besar.
Ia melihat satu kebaikan lama yang ditanam puluhan tahun sebelumnya, tumbuh diam-diam, lalu kembali pada generasi berikutnya dalam bentuk yang tak pernah kami duga.
Sejak saat itu, setiap kali seorang pelanggan masuk ke apotekku dengan sandal usang, pakaian penuh debu, atau tangan kasar karena bekerja, aku selalu berdiri dan menyambutnya dengan cara yang sama.
“Selamat datang, Pak. Selamat datang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?”
Sebab aku sudah belajar bahwa pakaian bisa menyembunyikan kekayaan, jabatan bisa menyembunyikan keburukan, tetapi cara seseorang memperlakukan manusia yang dianggap tidak memiliki apa-apa akan selalu menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
