Tangan Ratna gemetar saat berdiri di depan dua peti mati putih berukuran kecil.
Di dalamnya terbaring Arka dan Arya, bayi kembar laki-lakinya yang baru berusia sembilan bulan.
Delapan belas hari telah berlalu sejak pagi paling mengerikan dalam hidup Ratna, tetapi ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana tubuh kedua putranya terasa dingin ketika ia mengangkat mereka dari tempat tidur.
Pagi itu tidak ada tangisan.
Tidak ada suara botol jatuh.
Tidak ada rengekan meminta digendong.

Hanya keheningan yang membuat Ratna merasa seluruh dunia berhenti bergerak.
Kini ruang duka di Jakarta Selatan dipenuhi sekitar tujuh puluh pelayat. Aroma bunga bercampur dengan udara pendingin ruangan yang terlalu dingin.
Ratna berdiri di antara kedua peti mati, merasa seolah sebagian tubuhnya ikut dikuburkan bersama anak-anaknya.
Di sampingnya, Siska, ibu mertuanya, berdiri dengan wajah keras.
“Tuhan tahu perempuan mana yang pantas menjadi seorang ibu,” katanya cukup keras hingga beberapa tamu menoleh.
Ratna menutup mata sesaat.
Selama sembilan tahun menikah dengan Bagas, ia sudah terbiasa dengan hinaan Siska. Perempuan itu tidak pernah menyukai Ratna karena menganggap menantunya berasal dari keluarga biasa dan tidak pantas masuk ke keluarga mereka.
Namun hari itu Ratna tidak sanggup lagi diam.
“Ibu, tolong jaga ucapan. Mereka cucu Ibu sendiri.”
Siska berbalik tajam.
“Kamu berani mengatur saya?”
Tangan perempuan itu mencengkeram bahu Ratna.
Sebelum Ratna sempat bereaksi, kepalanya didorong hingga membentur sisi peti mati Arka.
Suara benturan kayu terdengar jelas.
Para pelayat tersentak.
Siska lalu merapat ke telinga Ratna.
“Kalau kamu terlalu banyak bicara, tempatmu berikutnya ada di samping mereka.”
Tubuh Ratna membeku.
Bagas berlari mendekat.
Untuk sesaat Ratna berharap suaminya akan memeluknya.
Namun Bagas justru menarik kedua lengannya.
“Cukup, Ratna! Keluar dari sini!”
Ratna menatapnya seakan baru pertama kali melihat pria itu.
“Kamu mengusirku dari pemakaman anak-anak kita?”
“Kamu selalu menyalahkan Ibu sejak mereka meninggal!”
Di tengah pertengkaran itu, suara kecil tiba-tiba terdengar.
“Paman…”
Kayla, putri mereka yang berusia empat tahun, berdiri di dekat seorang petugas rumah duka.
“Kalau aku cerita soal bubuk putih yang Nenek masukkan ke botol susu Adik, Mama nanti dimarahi lagi?”
Semua orang terdiam.
Ratna merasa jantungnya berhenti.
Siska berubah pucat.
Petugas itu berjongkok di depan Kayla.
“Bubuk apa, Nak?”
Kayla menunjuk neneknya.
“Nenek ambil dari lemari di rumah Nenek. Terus dimasukkan ke susu Arka sama Arya.”
“Kayla!” jerit Siska.
Anak itu langsung berlari memeluk kaki Ratna.
Namun sambil menangis ia melanjutkan.
“Nenek bilang Adik akan tidur lama supaya Mama enggak bikin Papa repot lagi.”
Ratna menoleh perlahan kepada Bagas.
Kayla menarik ujung gaun ibunya.
“Papa juga ada waktu itu.”
Bagas mundur.
“Kayla masih kecil. Dia enggak tahu apa yang dia omongin.”
Kayla menggeleng cepat.
“Papa lihat botolnya.”
Kemudian ia mengucapkan kalimat yang membuat beberapa pelayat langsung mengeluarkan ponsel.
“Papa bilang ke Nenek, ‘Ibu kasih dosisnya terlalu banyak.'”
Ratna tidak menangis lagi.
Ia berjalan mendekati Bagas.
“Apa maksudnya dosis?”
“Ratna…”
“Dosis apa?”
“Aku bisa jelaskan.”
Siska tiba-tiba menarik lengan anaknya.
“Jangan bicara apa pun!”
Kalimat itu justru menjadi kesalahan terbesar mereka.
Seorang sepupu Ratna bernama Dimas yang bekerja sebagai pengacara segera menghubungi polisi.
Tak sampai tiga puluh menit kemudian, dua petugas datang ke rumah duka.
Pemakaman yang seharusnya berlangsung siang itu ditunda.
Polisi meminta agar jenazah Arka dan Arya tidak segera dimakamkan karena muncul dugaan baru terkait penyebab kematian.
Ratna duduk memeluk Kayla sementara Bagas dan Siska dibawa ke ruangan terpisah untuk dimintai keterangan awal.
Malamnya, polisi mendatangi rumah Siska di kawasan Kebayoran Baru.
Di sebuah lemari dapur, mereka menemukan beberapa wadah obat dan satu kantong kecil berisi serbuk putih.
Namun hasil pemeriksaan awal justru membuat kasus itu semakin aneh.
Serbuk tersebut bukan racun.
Itu adalah obat tidur yang biasa diresepkan untuk orang dewasa.
Jumlah yang ditemukan tidak cukup untuk membuktikan siapa pun sengaja membunuh kedua bayi itu.
Siska langsung menggunakan fakta tersebut untuk membela diri.
“Saya hanya ingin mereka tidur lebih lama,” katanya kepada penyidik.
Ratna menatapnya dari balik kaca ruang pemeriksaan.
“Hanya ingin mereka tidur?”
Pengacara keluarga Siska mengatakan mungkin terjadi kecelakaan akibat dosis yang salah.
Bagas pun mulai mengubah keterangannya.
Ia mengaku memang mengetahui ibunya pernah mencampurkan sedikit obat ke susu bayi karena Arka dan Arya sering menangis sepanjang malam.
“Aku sudah melarang Ibu,” kata Bagas kepada Ratna saat mereka dipertemukan oleh penyidik.
“Kalau kamu melarang, kenapa Kayla dengar kamu bicara soal dosis?”
“Aku baru tahu setelah Ibu memasukkannya.”
Ratna hampir percaya.
Hampir.
Sampai dokter forensik menghubunginya tiga hari kemudian.
Hasil toksikologi lengkap telah keluar.
Kadar obat dalam tubuh Arka dan Arya memang cukup tinggi, tetapi bukan itu satu-satunya temuan.
Ada zat lain.
Zat yang tidak ditemukan di rumah Siska.
Dokter menjelaskan dengan hati-hati bahwa kedua bayi kemungkinan menerima campuran zat tersebut secara berulang dalam beberapa hari sebelum meninggal.
Artinya, kejadian itu bukan sesuatu yang dilakukan sekali secara impulsif.
Seseorang telah memberikannya berkali-kali.
Ratna merasa seluruh tubuhnya dingin.
“Siapa yang punya akses setiap hari?”
Pertanyaan penyidik membuatnya terdiam.
Selain dirinya, hanya Bagas, Siska, dan pengasuh bernama Leni.
Namun Leni sudah pulang ke kampung dua hari sebelum kematian bayi karena ibunya sakit.
Siska tidak tinggal serumah.
Tinggal Bagas.
Malam itu Ratna tidak bisa tidur.
Ia membuka ponselnya dan menelusuri kembali foto serta video beberapa minggu sebelum kematian Arka dan Arya.
Pada sebuah video yang direkam Kayla, Ratna melihat sesuatu di latar belakang.
Bagas sedang berdiri di dapur.
Di tangannya terdapat botol susu.
Ia menuangkan sesuatu dari botol kecil berwarna cokelat.
Ratna memperbesar gambar.
Logo pada botol itu tidak terlihat jelas.
Namun ia mengenali bentuknya.
Ratna pernah melihat botol serupa di laci meja kerja Bagas.
Keesokan paginya polisi menggeledah rumah mereka.
Di balik panel palsu meja kerja ditemukan beberapa botol kecil dan satu map dokumen.
Isi map itu membuat penyidik akhirnya memahami motif yang sebenarnya.
Dua bulan sebelum kematian si kembar, Bagas diam-diam membeli polis asuransi jiwa tambahan atas nama Arka dan Arya.
Nilainya masing-masing lima miliar rupiah.
Penerima manfaat utama bukan Ratna.
Melainkan Bagas.
Ratna membaca dokumen itu dengan tangan gemetar.
“Aku bahkan tidak tahu polis ini ada.”
Penyidik kemudian menemukan fakta lain.
Perusahaan milik Bagas sedang tenggelam dalam utang.
Ia telah kehilangan hampir seluruh uang investasi dalam proyek properti gagal.
Beberapa kreditur menagihnya.
Rumah mereka bahkan sudah dijadikan jaminan.
Kini wajah sebenarnya mulai terlihat.
Namun masih ada satu pertanyaan.
Mengapa Siska terlibat?
Jawabannya muncul dari rekaman suara.
Ternyata selama berbulan-bulan Bagas merekam sebagian percakapannya dengan Siska untuk melindungi dirinya sendiri.
Dalam salah satu rekaman terdengar suara Siska berkata,
“Kalau cuma satu anak yang kenapa-kenapa, perusahaan asuransi akan curiga. Dua-duanya harus terlihat seperti penyakit bawaan.”
Suara Bagas menjawab,
“Jangan terlalu banyak. Kita cuma perlu kondisinya melemah dulu.”
Ratna hampir muntah ketika mendengarnya.
Polisi menangkap Bagas dan Siska pada sore itu.
Namun Bagas masih mencoba menyeret ibunya sebagai pelaku utama.
“Semuanya ide Ibu!”
Siska menatap anaknya dengan marah.
“Kamu yang butuh uang!”
Mereka saling menyalahkan di depan penyidik.
Ratna duduk diam.
Selama bertahun-tahun ia takut kehilangan suaminya.
Kini ia baru menyadari bahwa pria yang ia pertahankan ternyata mampu mempertaruhkan nyawa anak-anaknya sendiri demi menyelamatkan bisnis.
Tetapi kejutan terakhir datang dari Kayla.
Saat psikolog anak berbicara dengannya, Kayla mengatakan sesuatu yang belum pernah ia ceritakan sebelumnya.
“Mama sebenarnya mau dikasih susu juga.”
Ratna langsung menegang.
“Maksudnya?”
Kayla berkata beberapa malam sebelum Arka dan Arya meninggal, ia pernah melihat Bagas menyiapkan segelas susu untuk Ratna.
Namun Siska mencegahnya.
“Nenek bilang Mama jangan dulu, nanti polisi curiga kalau semuanya tidur.”
Penyidik kembali memeriksa seluruh bukti.
Di antara dokumen Bagas ditemukan polis lain.
Atas nama Ratna.
Nilainya lima belas miliar rupiah.
Bagas menjadi penerima manfaat.
Rencana itu ternyata jauh lebih besar.
Kematian Arka dan Arya hanyalah tahap pertama.
Ratna seharusnya menjadi korban berikutnya.
Tiga bulan kemudian persidangan dimulai.
Bagas dan Siska duduk sebagai terdakwa.
Bukti finansial, hasil toksikologi, rekaman percakapan, dokumen asuransi, serta kesaksian para ahli membuat pembelaan mereka runtuh satu demi satu.
Ratna hanya hadir sekali.
Saat hakim memberinya kesempatan berbicara, ia tidak menatap Bagas.
Ia menatap foto Arka dan Arya yang dibawanya.
“Kalian mengira mereka terlalu kecil untuk memiliki suara.”
Ruangan hening.
“Tapi ternyata orang yang paling kecil di rumah kami justru menyelamatkan nyawa saya.”
Ratna menggenggam tangan Kayla.
“Anak saya mungkin belum memahami arti keserakahan, utang, atau asuransi. Tapi dia tahu apa yang dilihatnya.”
Bagas menundukkan kepala.
Siska menangis.
Namun Ratna tidak lagi merasa iba.
Beberapa bulan kemudian Ratna pindah bersama Kayla ke sebuah apartemen kecil di Jakarta Barat.
Ia menjual barang-barang yang mengingatkannya pada kehidupan lamanya.
Tidak ada rumah besar.
Tidak ada mobil mewah.
Namun untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidur tanpa merasa takut.
Pada ulang tahun kelima Kayla, Ratna mengajak putrinya mengunjungi makam Arka dan Arya.
Kayla meletakkan dua mobil-mobilan kecil di atas pusara saudara kembarnya.
“Mama, Arka sama Arya sekarang bisa tidur tenang?”
Ratna berjongkok lalu memeluk putrinya.
“Iya.”
“Karena orang jahatnya sudah enggak bisa datang?”
Ratna menahan air mata.
“Iya.”
Kayla tersenyum kecil.
Saat mereka hendak pergi, Kayla tiba-tiba berhenti.
“Mama.”
“Apa?”
“Dulu Nenek bilang aku anak kecil, jadi kalau cerita enggak ada yang bakal percaya.”
Ratna menggenggam tangan putrinya lebih erat.
“Kayla dengar Mama baik-baik.”
Anak itu menatapnya.
“Kadang orang dewasa berbohong karena mereka takut pada kebenaran. Tapi kebenaran tidak menjadi lebih kecil hanya karena keluar dari mulut seorang anak.”
Kayla mengangguk.
Mereka berjalan meninggalkan makam.
Ratna tidak menoleh lagi.
Ia akhirnya mengerti satu hal yang selama ini gagal ia pahami.
Keluarga bukanlah orang yang memiliki nama belakang yang sama.
Keluarga adalah mereka yang membuatmu merasa aman ketika pintu rumah tertutup.
Dan hari itu, Ratna sadar bahwa dari seluruh orang dewasa yang pernah berjanji akan melindunginya, justru seorang anak berusia empat tahunlah yang benar-benar menyelamatkan hidupnya.
