“Dan berkas itu diajukan atas nama Indah Permatasari.”
Kalimat Bu Maya membuat udara di ruang tamu seolah berhenti bergerak.
Saya menatap Indah. Perempuan yang enam hari lagi seharusnya menjadi istri saya itu berdiri beberapa meter di depan saya dengan tas menggantung di bahunya. Wajahnya pucat, tetapi matanya bergerak cepat seperti sedang mencari jalan keluar.
“Itu bohong,” katanya akhirnya. “Budi, jangan percaya begitu saja. Pengacara kamu pasti salah baca dokumen.”

Dari pengeras suara, Bu Maya menjawab tenang, “Saya tidak salah baca. Pengajuan dilakukan tiga hari lalu pukul 14.17 WIB. Sistem mencatat alamat IP dari jaringan rumah Menteng.”
Saya menoleh ke arah router di sudut ruangan.
Tiga hari lalu saya masih berada di Surabaya.
“Indah,” suara saya nyaris berbisik, “kamu menggunakan identitas saya?”
“Tidak!”
“Lalu siapa?”
Dia membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
Ibu Ratih tiba-tiba menggenggam lengan saya.
“Budi,” katanya lirih, “ada sesuatu yang belum Ibu ceritakan.”
Saya berbalik.
Dari wajah Ibu, saya tahu masalah ini jauh lebih besar daripada yang baru saja saya saksikan.
“Dua minggu lalu Indah meminta sertifikat rumah lama milik Ibu.”
Saya mengernyit. “Sertifikat yang mana?”
“Tanah peninggalan kakekmu.”
Dada saya langsung terasa sesak.
Selain rumah yang kami tempati, Ibu memang memiliki sebidang tanah warisan keluarga di Menteng. Lokasinya tidak jauh dari rumah kami dan nilainya melonjak tajam selama belasan tahun terakhir. Sertifikat asli selalu disimpan di safe deposit box.
“Bagaimana dia tahu?”
Ibu menunduk.
“Dia bilang kamu yang menyuruhnya.”
Indah langsung memotong, “Saya cuma membantu mengurus aset keluarga!”
Saya menatapnya.
“Dengan mengajukan pinjaman empat koma delapan miliar?”
Indah terdiam.
“Jawab!”
Suara saya membuatnya tersentak.
“Saya akan mengembalikannya!” teriaknya tiba-tiba. “Itu cuma pinjaman sementara!”
Akhirnya.
Pengakuan pertama keluar dari mulutnya sendiri.
Saya mematikan pengeras suara sejenak dan menatap perempuan yang selama dua tahun saya cintai.
“Apa yang kamu lakukan dengan uang itu?”
Indah menggeleng.
“Tidak ada urusannya dengan kamu.”
Saya hampir tertawa mendengarnya.
“Kamu memakai identitas saya, mencoba menjaminkan tanah Ibu saya, lalu bilang itu bukan urusan saya?”
Indah melempar tasnya kembali ke sofa.
“Karena saya butuh uang!”
“Untuk apa?”
Dia diam.
Bu Maya kembali terdengar dari ponsel.
“Budi, ada satu hal lagi. Jangan biarkan Saudari Indah meninggalkan rumah sebelum tim kami tiba. Saya sedang menuju ke sana bersama auditor.”
Indah langsung meraih tasnya lagi.
“Saya tidak mau ikut permainan gila ini!”
Dia berjalan menuju pintu.
Saya tidak menghalanginya secara fisik.
Saya hanya berkata, “Kalau kamu pergi sekarang, seluruh rekaman ini langsung saya serahkan kepada polisi.”
Langkah Indah berhenti.
Bahunya naik turun.
Beberapa detik kemudian dia berbalik dan menatap saya penuh kebencian.
“Kamu pikir kamu hebat karena punya uang?”
Saya menggeleng.
“Tidak. Saya hanya akhirnya sadar saya hampir menikahi orang yang salah.”
Kalimat itu membuat wajahnya berubah.
Untuk pertama kalinya, bukan kesombongan yang saya lihat.
Melainkan ketakutan.
Sekitar empat puluh menit kemudian, Bu Maya datang bersama seorang auditor bernama Pak Reza. Matahari mulai muncul di balik gedung-gedung Jakarta ketika laptop dibuka di meja makan.
Ibu sudah saya bawa ke kamar dan meminta Mbak Sari, pengasuh yang biasa menemani Ibu pada siang hari, datang lebih cepat.
Indah duduk di seberang kami.
Bu Maya meletakkan map tebal di meja.
“Kami sebenarnya sudah memantau anomali keuangan selama tiga minggu.”
Saya terkejut.
“Kenapa saya baru diberi tahu?”
“Karena awalnya kami menduga itu transaksi yang kamu izinkan.”
Pak Reza memutar layar laptop ke arah saya.
Ada belasan transaksi.
Dua ratus juta.
Seratus lima puluh juta.
Tiga ratus juta.
Delapan puluh juta.
Totalnya hampir satu koma tujuh miliar rupiah.
Semua berasal dari rekening operasional yang selama delapan bulan terakhir dapat diakses terbatas oleh Indah untuk kebutuhan persiapan pernikahan dan renovasi rumah.
“Ke mana uang ini?”
Pak Reza membuka diagram aliran dana.
Sebagian masuk ke vendor pernikahan.
Sebagian masuk ke sebuah perusahaan interior.
Tetapi sekitar sembilan ratus juta rupiah mengalir ke rekening bernama PT Arunika Kreasi Nusantara.
Saya tidak mengenal perusahaan itu.
“Pemiliknya siapa?”
Bu Maya tidak langsung menjawab.
Dia mengambil selembar dokumen.
“Direktur perusahaan ini bernama Nadine Kusuma.”
Saya merasa pernah mendengar nama itu.
Kemudian saya teringat.
Saat tadi menangis, Ibu sempat salah memanggil Indah.
“Nadine…” gumam saya.
Indah mendadak berdiri.
“Cukup!”
Bu Maya menatapnya dingin.
“Silakan duduk, Saudari Indah. Atau saya lanjutkan sambil berdiri.”
Saya menatap Indah.
“Siapa Nadine?”
Tidak ada jawaban.
Bu Maya kemudian menggeser fotokopi dokumen kependudukan ke depan saya.
Nama lengkap di atasnya membuat kepala saya berdengung.
Nadine Kusuma.
Foto perempuan itu adalah Indah.
Tanggal lahir sama.
Wajah sama.
Hanya namanya berbeda.
Saya mengangkat kepala perlahan.
“Indah itu siapa?”
Bibirnya gemetar.
“Nama yang saya pakai.”
“Kenapa?”
Dia tertawa kecil, tetapi tawa itu terdengar rapuh.
“Karena orang seperti kamu tidak pernah benar-benar melihat orang lain, Budi.”
Saya terdiam.
Dia mulai bicara.
Nama aslinya Nadine Kusuma. Bertahun-tahun sebelumnya, bisnis katering milik keluarganya bangkrut. Ayahnya meninggalkan utang besar dan menghilang. Ibunya meninggal setelah sakit cukup lama. Nadine kemudian mengganti identitas sosialnya, menggunakan nama Indah dalam lingkungan profesional, dan membangun kehidupan baru.
Namun utang keluarganya tidak pernah benar-benar hilang.
“Empat koma delapan miliar itu untuk membayar utang?” tanya saya.
Nadine tertawa pahit.
“Sebagian.”
“Sebagian lagi?”
Dia menunduk.
Pak Reza membuka dokumen lain.
“Untuk membeli saham perusahaan logistik milik Budi melalui perusahaan cangkang.”
Saya menatapnya tidak percaya.
Rencananya ternyata jauh lebih sistematis.
Setelah menikah, Nadine akan menerima hibah lima persen saham. Dengan dana pinjaman dan beberapa investor yang sudah disiapkan, dia berencana membeli saham minoritas lain secara bertahap.
Targetnya bukan sekadar uang.
Dia ingin masuk ke perusahaan saya.
“Kenapa?” tanya saya.
Nadine menatap saya lama.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak saya duga.
“Karena perusahaan itu seharusnya milik ayah saya.”
Saya membeku.
Nadine mengambil ponselnya, membuka sebuah foto lama, lalu meletakkannya di meja.
Foto itu diambil sekitar dua puluh lima tahun lalu.
Ada tiga pria berdiri di depan sebuah truk tua.
Salah satunya almarhum Bapak.
Yang kedua saya kenal sebagai Pak Harsono, mantan kepala gudang.
Pria ketiga tidak saya kenal.
“Itu ayah saya,” kata Nadine.
Menurut ceritanya, ayahnya pernah menjadi rekan bisnis Bapak ketika perusahaan logistik masih berupa usaha kecil dengan dua truk. Kerja sama mereka berakhir buruk. Nadine tumbuh dengan cerita bahwa Bapak menyingkirkan ayahnya dan mengambil seluruh bisnis.
“Saya hidup bertahun-tahun melihat ayah saya menyalahkan keluarga kamu atas kehancuran kami.”
Saya menatap foto itu.
Untuk sesaat, kemarahan saya bercampur kebingungan.
Apakah mungkin Bapak menyembunyikan sesuatu?
Bu Maya tiba-tiba membuka map lain.
“Saya sudah menduga cerita ini akan muncul.”
Nadine menoleh cepat.
Bu Maya mengeluarkan dokumen tua yang telah dipindai.
“Karena ayah Budi meminta kantor kami menyimpan arsip pendirian perusahaan sejak awal.”
Dokumen itu adalah perjanjian kemitraan lama.
Nama ayah Nadine memang tercantum.
Tetapi bukan sebagai pihak yang disingkirkan.
Dia menjual seluruh kepemilikannya secara sukarela setelah mengambil uang perusahaan tanpa izin untuk menutup utang judi.
Ada tanda tangan.
Bukti transfer.
Bahkan surat pengakuan.
Nadine membaca halaman demi halaman.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
“Tidak mungkin.”
Bu Maya mendorong satu dokumen terakhir.
“Ini tulisan tangan ayahmu.”
Tangan Nadine gemetar saat membacanya.
Ayahnya mengakui kesalahan dan meminta Bapak merahasiakan alasan sebenarnya dari keluarganya agar anak-anaknya tidak mengetahui bahwa ia berjudi.
Bapak memenuhi permintaan itu.
Selama puluhan tahun.
Nadine terduduk.
Semua kebencian yang dia pelihara ternyata dibangun di atas kebohongan ayahnya sendiri.
Namun saya tidak merasa menang.
Saya justru merasa sangat lelah.
“Kalau kamu datang kepada saya dengan cerita ini dua tahun lalu,” kata saya, “saya akan membantu mencari kebenarannya.”
Air mata mulai mengalir di pipinya.
“Tapi kamu memilih mendekati saya dengan nama palsu.”
Dia menunduk.
“Kamu membuat saya mencintai seseorang yang sebenarnya tidak pernah ada.”
Nadine menutup wajahnya.
“Saya awalnya cuma ingin mendekat untuk mencari bukti tentang ayahmu,” katanya tersendat. “Tapi kemudian… saya benar-benar jatuh cinta.”
Saya memejamkan mata.
“Mencintai saya sambil menyakiti Ibu saya?”
Dia tidak mampu menjawab.
Saat itulah Ibu Ratih muncul dari lorong kamar.
Dengan tongkatnya, Ibu berjalan perlahan menuju meja.
“Nadine.”
Perempuan itu mengangkat wajah.
Ibu meletakkan sebuah amplop tua di meja.
“Bapak Budi pernah menitipkan ini kepada Ibu. Katanya kalau suatu hari keluarga Pak Kusuma datang mencari jawaban, berikan surat ini.”
Nadine membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat surat dan bukti sebuah rekening deposito.
Nilainya membuat kami semua terdiam.
Tiga koma dua miliar rupiah.
Rekening itu dibuat bertahun-tahun lalu atas nama sebuah yayasan keluarga dengan penerima manfaat anak-anak Pak Kusuma.
Bapak ternyata menyisihkan sebagian keuntungan perusahaan selama bertahun-tahun.
Bukan karena merasa bersalah.
Melainkan karena pernah berjanji kepada sahabat lamanya bahwa anak-anak mereka tidak boleh menanggung kesalahan orang tua.
Nadine menangis semakin keras.
“Tapi kenapa uang ini tidak pernah diberikan?”
Ibu menjawab pelan.
“Karena ayahmu menghilang. Kami tidak pernah tahu kamu berada di mana.”
Ruangan kembali sunyi.
Kemudian Ibu mengatakan kalimat yang membuat saya tidak pernah melupakan pagi itu.
“Kalau kamu datang sebagai Nadine, mungkin kami akan menyambutmu sebagai keluarga. Tapi kamu datang sebagai Indah sambil membawa dendam.”
Enam hari kemudian, ballroom yang seharusnya menjadi tempat pernikahan kami tetap dipenuhi bunga.
Namun tidak ada pengantin.
Saya meminta vendor menyumbangkan seluruh makanan yang sudah terlanjur dipersiapkan ke beberapa panti lansia dan rumah singgah di Jakarta. Tamu menerima pemberitahuan bahwa pernikahan dibatalkan karena alasan pribadi.
Saya tidak malu.
Untuk pertama kalinya, saya justru merasa bebas.
Proses hukum terhadap pemalsuan identitas digital dan percobaan pengajuan pinjaman tetap berjalan. Saya menyerahkan semuanya kepada pengacara. Saya tidak membalas dendam, tetapi saya juga tidak menghapus konsekuensi dari pilihan Nadine.
Rekening deposito peninggalan Bapak menjadi persoalan berbeda.
Secara hukum, Nadine memang salah satu penerima manfaatnya.
Saya tidak menyentuh satu rupiah pun.
Tiga bulan kemudian, sebuah surat datang ke kantor saya.
Dari Nadine.
Dia tidak meminta saya kembali.
Tidak meminta kasus dihentikan.
Dia hanya menulis bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia berhenti menyalahkan keluarga lain atas luka keluarganya sendiri.
Di dalam amplop terdapat bukti transfer.
Sebagian besar dana warisan yang menjadi haknya telah dia pindahkan ke sebuah yayasan perawatan lansia.
Saya membawa surat itu pulang dan memberikannya kepada Ibu.
Ibu membacanya lama.
“Apakah Ibu memaafkan dia?” tanya saya.
Ibu melipat surat itu perlahan.
“Memaafkan bukan berarti kita harus membiarkan seseorang kembali ke tempat yang sama, Budi.”
Saya menatapnya.
Ibu tersenyum.
“Kita bisa memaafkan seseorang dari balik pintu yang tetap terkunci.”
Malam itu kami makan nasi goreng gila di ruang keluarga.
Hanya saya dan Ibu.
Di dinding, bingkai foto pernikahan Ibu dan Bapak yang sempat dipecahkan Nadine sudah diperbaiki. Retakan kacanya hilang, tetapi saya sengaja tidak mengganti bingkai kayunya yang memiliki bekas benturan kecil di salah satu sudut.
Saya ingin mengingatnya.
Bukan sebagai kenangan tentang perempuan yang hampir menghancurkan keluarga kami.
Melainkan sebagai pengingat bahwa rumah tidak pernah menjadi rumah karena harga tanah, sertifikat, saham, atau rekening bank.
Rumah adalah tempat seseorang yang sudah renta tidak perlu takut dibuang ketika dirinya dianggap tidak lagi berguna.
Dan pagi ketika saya pulang dua hari lebih cepat itu, saya kehilangan seorang calon istri.
Namun saya menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Kepercayaan seorang ibu yang selama tiga puluh delapan tahun tidak pernah sekali pun meninggalkan saya.
