“Kamu pikir rumah ini tempat penampungan bagi ambisi-ambisimu yang tidak mampu kamu biayai sendiri, Clarisse?” suaraku datar, dingin, namun tajam seperti sayatan silet.
Mama berhenti tepat di samping Clarisse. Wajahnya yang biasanya anggun kini berubah menjadi topeng kemarahan yang dipaksakan. “Dani, cukup! Turunkan harga dirimu. Kamu punya uang, mereka baru memulai hidup. Tidakkah kamu punya sedikit saja empati?”
Aku menatap Mama, lalu beralih ke Clarisse yang masih sesenggukan. “Empati, Ma? Apakah kalian punya empati saat menginjak tanaman lavender yang saya rawat selama tiga tahun? Apakah kalian punya empati saat menjadikan ruang tamu saya sebagai tempat menampung tamu-tamu asing yang bahkan tidak saya kenal? Kalian tidak merayakan pernikahan. Kalian sedang melakukan perampokan berkedok perayaan.”

“Itu hanya rumah!” seru Clarisse, air matanya kini berubah menjadi kemarahan. “Kamu punya segalanya, Dani. Karier, uang, rumah mewah. Sementara aku? Aku bahkan harus meminjam uang untuk gaun pengantin itu karena Marvin kehilangan pekerjaannya dua minggu sebelum hari-H!”
Aku tertawa pendek. Tawa yang membuat mereka berdua terdiam. “Oh, jadi begitu? Kalian menyewa properti saya, merusaknya, membiarkan vendor menagih saya karena kalian tidak sanggup membayar, lalu sekarang menyalahkanku karena aku tidak mau menanggung ‘kekurangan’ kalian? Itu bukan keluarga, Clarisse. Itu parasit.”
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di belakang mobil Mama. Seorang pria paruh baya turun dengan setelan jas yang rapi. Dia adalah pengacara properti yang aku hubungi dua minggu lalu, Pak Baskoro.
“Nona Daniela,” sapa Pak Baskoro sopan sambil mengangguk pada mereka berdua. “Surat somasi kedua sudah siap. Dan saya membawa kabar tambahan untuk keluarga ini.”
Mama mengerutkan kening. “Somasi? Apa-apaan ini?”
Pak Baskoro mengeluarkan map cokelat lainnya. “Ibu, Bapak, dan Nona Clarisse. Nona Daniela memang pemilik rumah ini. Namun, setelah insiden dua minggu lalu, Nona Daniela memutuskan untuk melakukan audit hukum terhadap hak guna lahan dan properti di lingkungan ini.”
Aku melangkah maju, menyerahkan folder yang sedari tadi kupegang kepada Clarisse. “Kalian selalu bilang, ‘milikmu milik kita juga’, bukan? Baiklah. Karena kalian sudah menganggap rumah ini milik kalian, maka saya sudah melegalkannya.”
Clarisse membuka folder itu. Tangannya gemetar. Itu bukan sekadar daftar tagihan. Itu adalah dokumen pengalihan aset dan sebuah kontrak sewa paksa yang mengikat secara hukum.
“Apa ini?” bisik Clarisse.
“Itu adalah kontrak utang piutang,” jawabku tenang. “Karena kalian tidak mampu membayar tagihan katering, dekorasi, dan kerusakan properti saya—yang totalnya mencapai ratusan juta rupiah—saya telah mengubah utang tersebut menjadi sebuah perjanjian sewa jangka panjang. Karena kalian tidak punya uang untuk membayar, maka jaminannya adalah…” Aku memberi jeda, menatap mata mereka satu per satu. “…rumah orang tua kita di provinsi yang saat ini masih atas nama Papa.”
Wajah Papa, yang baru saja muncul dari pintu mobil belakang, menjadi pucat pasi. “Kamu… kamu tidak bisa melakukan itu, Dani! Itu rumah leluhur!”
“Oh, Papa,” kataku sinis. “Papa yang bilang bahwa kita adalah keluarga, dan apa yang milik saya adalah milik kita. Bukankah adil jika saya mengambil aset yang setara dengan nilai kerusakan dan kerugian yang kalian timbulkan di rumah ini? Jika kalian tidak bisa membayar tunai hari ini, maka sertifikat rumah itu akan pindah tangan ke atas nama saya melalui pengadilan dalam 30 hari ke depan.”
Keheningan yang mencekam menyelimuti halaman rumahku.
“Kamu kejam!” teriak Mama. “Kamu menghancurkan hubungan darah demi uang!”
“Bukan saya yang menghancurkannya, Ma,” balasku. “Kalian yang menukarnya dengan pesta pernikahan yang tidak sanggup kalian biayai. Kalian mengira saya adalah mesin ATM yang bisa kalian peras kapan saja. Tapi kalian lupa satu hal: saya bekerja di perusahaan pemasaran internasional. Saya tahu persis cara mengelola risiko dan aset.”
Tiba-tiba, Marvin keluar dari mobil di belakang Papa dengan wajah bingung. Dia memegang ponselnya dengan tangan yang gemetar. “Clarisse… aku baru dapat kabar. Rekening bank kita diblokir. Semuanya.”
Aku melipat tangan di dada. “Itu karena saya memasukkan nama kalian ke dalam sistem pelaporan kredit nasional akibat tagihan vendor yang tidak terbayar. Kalian sekarang punya bad credit score.”
Clarisse jatuh terduduk di jalanan beton yang sudah retak. Dunianya runtuh. Dia bukan lagi sang putri kesayangan; dia adalah debitor yang terlilit masalah hukum.
“Pergi,” kataku dingin.
“Dani, tolong…” Mama mulai memohon, kali ini dengan nada yang sebenarnya.
“Pergi dari rumah saya sebelum saya memanggil polisi untuk menuntut kalian atas dasar penerobosan properti dan perusakan fasilitas pribadi. Saya punya rekaman CCTV dari setiap sudut halaman ini saat pernikahan itu berlangsung. Saya punya bukti kalian merusak properti saya secara sengaja.”
Mereka pergi. Perlahan, dengan harga diri yang hancur, mereka masuk ke mobil. Tidak ada lagi tawa, tidak ada lagi senyum sombong. Hanya wajah-wajah yang ketakutan akan masa depan yang mereka ciptakan sendiri.
Aku berdiri di beranda, memandangi tanaman lavender yang hancur. Masih ada sisa-sisa confetti yang tertiup angin di antara celah paving yang retak.
Pak Baskoro berdiri di sampingku. “Nona, apakah ini benar-benar langkah yang ingin Anda ambil? Ini akan memutuskan hubungan keluarga Anda selamanya.”
Aku menatap jalanan yang kini sunyi. “Pak, dalam sebuah keluarga, rasa hormat adalah pondasi. Jika pondasi itu sudah dirusak oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya, maka bangunan itu sudah tidak layak huni. Saya tidak menghancurkan keluarga saya hari ini. Mereka sudah menghancurkannya jauh sebelum saya pulang dari Cebu.”
Aku masuk ke dalam, menutup pintu kayu ek yang berat itu, dan menguncinya rapat-rapat.
Namun, di meja ruang tamu, di samping vas bunga yang retak, ada sebuah amplop putih yang tertinggal di bawah pot tanaman. Aku membukanya. Itu adalah surat dari bank yang dikirimkan ke alamat rumah saya—bukan untuk saya, tapi untuk Clarisse.
Di dalamnya tertulis bahwa rumah orang tua kami di provinsi sebenarnya sudah digadaikan oleh Papa setahun yang lalu untuk menutupi hutang judi Marvin. Dan ternyata, pernikahan itu bukanlah sekadar perayaan—itu adalah siasat mereka untuk melarikan diri ke rumah saya setelah rumah di provinsi itu disita oleh bank besok pagi.
Aku terduduk di kursi. Ternyata, bukan hanya mereka yang parasit. Aku baru saja menyita aset yang tidak lagi berharga—sebuah rumah yang akan disita oleh bank dalam hitungan jam.
Tiba-tiba, ponselku berdering. Itu nomor dari bank yang sama.
“Selamat siang, Nona Daniela. Kami menelepon mengenai properti di provinsi yang baru saja Anda ajukan sebagai jaminan tambahan untuk melunasi utang keluarga Anda…”
Aku tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang pahit. Ternyata, permainan ini tidak berakhir di sini. Aku tidak hanya berhadapan dengan mereka; aku baru saja masuk ke dalam labirin utang yang mereka buat sendiri. Namun, karena akulah yang memegang kendali atas dokumen-dokumen itu, aku sekarang memiliki hak untuk menuntut mereka atas penipuan aset.
Keluarga memang tempat pulang. Tapi terkadang, rumah yang paling aman adalah rumah yang tidak berisi orang-orang yang mencarimu hanya saat mereka membutuhkan tempat persembunyian.
Aku mematikan lampu ruang tamu. Untuk pertama kalinya, rumah ini benar-benar sunyi. Dan di dalam kesunyian itu, aku menyadari bahwa aku tidak kehilangan keluarga; aku baru saja membuang beban yang selama ini menghambat langkahku.
Di luar, mobil mereka menjauh, membawa kebohongan yang akhirnya akan menghancurkan mereka sendiri. Aku tidak perlu mengejar mereka. Takdir sudah menyiapkan tagihan yang jauh lebih besar daripada sekadar uang.
Dan bagi saya, besok adalah hari baru. Saya akan menanam kembali lavender itu. Tanpa ada orang lain yang berhak menginjaknya.
