Pintu mobil terkunci sebelum Laras sempat meraih gagangnya.
“Buka pintunya.”
Arman tidak menjawab.
“Arman, aku bilang buka.”
Mobil terus melaju membelah jalanan Jakarta yang masih ramai meski hampir tengah malam. Cahaya gedung dan lampu kendaraan berkelebat di balik kaca, tetapi di dalam mobil suasananya begitu tegang hingga Laras bisa mendengar napasnya sendiri.

Arman duduk di sebelahnya dengan rahang mengeras. Tangan kanannya terluka akibat gigitan Laras, tetapi dia bahkan tidak melihatnya.
Laras tertawa pendek.
“Aneh.”
Arman menoleh.
“Apa?”
“Dua tahun aku mengejarmu. Kamu tidak pernah peduli aku pergi ke mana, makan dengan siapa, bahkan hidup atau mati.” Laras menatap lurus ke depan. “Sekarang ketika aku berhenti mengejarmu, kamu malah menyeretku masuk mobil.”
“Dia menyentuhmu.”
“Lalu?”
“Kamu istriku.”
Kalimat itu membuat Laras akhirnya menoleh.
“Istri?”
Suaranya pelan, tetapi justru terdengar lebih tajam.
“Waktu aku pingsan di rumah, kamu melangkahi tubuhku. Waktu ulang tahunku, kamu menjatuhkan kue yang kuberikan. Dua tahun kamu tidur di kamar berbeda dan memperlakukanku seperti orang yang harus membayar dosa yang bahkan tidak pernah kulakukan.”
Arman terdiam.
Laras tersenyum getir.
“Jangan tiba-tiba mengingat statusku sebagai istrimu hanya karena ada laki-laki lain yang memperlakukanku seperti manusia.”
“Laras.”
“Aku sudah meninggalkan surat cerai di meja kerjamu.”
Arman membeku.
Untuk beberapa detik, hanya suara mesin mobil yang terdengar.
“Apa?”
“Kamu dengar.”
“Tarik kembali.”
Laras menatapnya seolah baru mendengar lelucon.
“Tidak.”
“Aku bilang tarik kembali.”
“Aku juga bilang tidak.”
Tangan Arman mengepal.
“Karena Galang?”
“Bukan.”
“Lalu kenapa?”
Pertanyaan itu hampir membuat Laras tertawa.
“Karena aku sudah selesai mencintaimu.”
Wajah Arman berubah.
Tidak banyak. Hanya sedikit.
Namun Laras mengenalnya cukup lama untuk mengetahui kalimat itu mengenai tempat yang bahkan mungkin tidak disadari Arman ada di dalam dirinya.
Sesampainya di rumah, Laras langsung menuju kamar.
Arman mengejarnya.
“Laras.”
Dia membuka lemari dan mengeluarkan koper.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Pergi.”
Arman meraih koper itu.
Laras menahannya.
“Jangan sentuh barangku.”
“Ini rumahmu.”
“Tidak pernah terasa seperti rumah.”
Untuk pertama kalinya, Arman kehilangan jawaban.
Laras memasukkan beberapa pakaian, laptop, dokumen, dan obat-obatan. Ketika hendak menutup koper, pandangannya tiba-tiba berkunang-kunang.
Tangannya mencengkeram pinggir tempat tidur.
Arman langsung menangkap bahunya.
“Kamu kenapa?”
“Jangan sentuh aku.”
Wajah Laras memucat.
Arman melihatnya dengan ekspresi yang perlahan berubah.
“Kamu sakit?”
Laras mendorong tangannya.
“Sekarang kamu peduli?”
Dia mengambil koper dan pergi.
Malam itu Laras menginap di apartemen kecil milik sepupunya yang sedang bekerja di Singapura.
Arman menelepon tujuh belas kali.
Tidak satu pun dijawab.
Pagi berikutnya, Galang datang.
Begitu pintu terbuka, dia langsung melihat memar di lengan Laras.
Wajahnya mengeras.
“Dia melakukan ini?”
“Tidak separah kelihatannya.”
“Ti.”
Nada Galang membuat Laras terdiam.
“Jangan membela orang yang menyakitimu.”
Kalimat sederhana itu membuat sesuatu di dalam dada Laras runtuh.
Selama dua tahun, dia terlalu sibuk mencari alasan untuk Arman.
Arman sedang marah.
Arman kehilangan Melati.
Arman terluka.
Arman belum bisa memaafkan.
Tidak pernah sekalipun Laras bertanya siapa yang akan mencari alasan untuk luka-lukanya sendiri.
“Aku sudah minta cerai,” katanya.
Galang menatapnya cukup lama.
Lalu mengangguk.
“Bagus.”
“Kamu tidak mau bertanya apakah aku melakukan ini karena kamu?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau menjadi pintu keluar dari pernikahanmu.”
Laras menatapnya.
Galang melanjutkan pelan, “Keluar karena kamu memang ingin keluar. Kalau setelah semuanya selesai kamu masih mau berjalan denganku, baru kita bicara.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, Laras sadar mengapa berada di dekat Galang terasa ringan.
Dia tidak pernah berusaha memilikinya.
Dia hanya memberinya ruang untuk memilih.
Tiga hari berikutnya, Arman tidak datang.
Namun pengacaranya menghubungi Laras.
Arman menolak menandatangani kesepakatan perceraian.
Alasannya sederhana.
Dia tidak setuju.
Laras hampir tidak percaya.
Laki-laki yang menikahinya untuk menghukum kini justru menolak melepaskannya.
Pada hari keempat, Laras mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenalnya.
“Apakah ini Laras?”
“Iya.”
“Saya Ratri. Dulu saya konselor pendamping mahasiswa di kampus Anda.”
Jantung Laras berdetak lebih cepat.
Nama itu terasa familiar.
“Saya ingin bicara tentang Melati.”
Mereka bertemu sore itu di sebuah kedai kopi kecil di Jakarta Selatan.
Ratri datang membawa map tua.
“Saya sudah lama ingin menghubungi kamu,” katanya. “Tapi dulu ada aturan kerahasiaan. Setelah beberapa dokumen lama dipindahkan dan keluarga Melati akhirnya memberikan izin, saya rasa kamu berhak mengetahui sesuatu.”
Tangannya mendorong map itu ke arah Laras.
Di dalamnya terdapat salinan catatan pendampingan Melati.
Laras membaca perlahan.
Tangannya mulai gemetar.
Tidak ada namanya.
Tidak ada tuduhan perundungan oleh teman sekamar.
Yang ada justru catatan tentang tekanan ekonomi, konflik keluarga, kelelahan karena bekerja malam, kecemasan berat, dan hubungan romantis yang penuh ketidakpastian.
Kemudian Laras menemukan satu kalimat.
Pasien merasa pasangan romantisnya akan meninggalkannya karena tekanan keluarga.
Laras mengangkat wajah.
“Pasangan romantis?”
Ratri mengangguk.
“Arman.”
Dunia seperti berhenti bergerak.
“Melati dan Arman memang berpacaran?”
“Secara diam-diam.”
Laras menunduk lagi.
Ada halaman lain.
Melati takut hubungan mereka diketahui keluarga Arman. Dia merasa tidak cukup baik. Dia takut Arman akan memilih masa depan yang disiapkan keluarganya.
Lalu pada sesi terakhir sebelum kematiannya, ada catatan lain.
Pasien menyatakan pertengkaran besar dengan pasangan setelah mendengar rencana pasangan pergi ke luar negeri.
Laras merasa tenggorokannya kering.
“Kenapa semua ini tidak pernah muncul?”
“Karena kematian Melati menjadi bahan gosip. Orang mencari penyebab yang sederhana. Seseorang harus dijadikan penjahat.”
“Dan orang itu aku.”
Ratri menghela napas.
“Sayangnya, iya.”
Malam itu Laras tidak langsung pulang.
Dia duduk di mobil hampir satu jam.
Lalu ponselnya berbunyi.
Pesan dari Arman.
Pulang. Kita bicara.
Untuk pertama kalinya, Laras membalas.
Baik.
Ketika tiba di rumah, Arman sudah menunggu di ruang kerja.
Surat perceraian masih berada di atas meja.
Belum ditandatangani.
Laras meletakkan map di depannya.
“Apa ini?”
“Baca.”
Arman membuka halaman pertama.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
Ketika sampai pada catatan sesi terakhir, tangannya berhenti.
Laras memperhatikannya.
“Kamu bertengkar dengan Melati sebelum dia meninggal?”
Arman tidak menjawab.
“Jawab.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Arman menutup mata sebentar.
“Ayahku mengetahui hubungan kami. Dia mengancam menghentikan biaya kuliah dan mengirimku ke luar negeri. Aku bilang kepada Melati bahwa kami harus berhenti bertemu sementara.”
“Sementara?”
“Waktu itu aku pikir begitu.”
“Lalu apa yang kamu katakan kepadanya saat bertengkar?”
Arman diam.
“Arman.”
“Aku bilang dia terlalu bergantung padaku.”
Suara itu hampir tidak terdengar.
Laras menatapnya.
“Apa lagi?”
“Aku bilang aku lelah.”
“Apa lagi?”
Arman mengepalkan tangan.
“Aku bilang kalau dia terus seperti itu, mungkin lebih baik kami tidak pernah bertemu.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Laras akhirnya mengerti.
Selama empat tahun Arman menyimpan rasa bersalah yang begitu besar hingga dia membutuhkan seseorang untuk menanggungnya.
Dan orang itu adalah Laras.
“Kamu tahu aku tidak pernah merundung Melati.”
Arman mengangkat kepala.
“Aku tidak tahu.”
“Jangan bohong.”
“Aku benar-benar tidak tahu.”
“Tapi kamu tidak pernah mencari tahu.”
Arman tidak menjawab.
Laras merasakan air mata mengalir, tetapi kali ini dia tidak malu.
“Kamu memilih versi cerita yang membuatmu bisa hidup dengan dirimu sendiri.”
Wajah Arman menegang.
“Kalau aku penyebab kematian Melati, kamu bisa membenciku. Kamu bisa menghukumku. Kamu bisa mengatakan bahwa semua rasa bersalah itu bukan milikmu.”
“Cukup.”
“Tidak.”
Laras berdiri.
“Dua tahun, Arman. Kamu mengambil dua tahun hidupku untuk menghukum orang yang salah.”
“Aku menikahimu karena…”
Arman berhenti.
“Karena apa?”
Dia tidak menjawab.
Laras tersenyum pahit.
“Karena ingin membalas dendam?”
Arman menatapnya.
Lalu sesuatu yang mengejutkan terjadi.
“Awalnya.”
Satu kata itu membuat Laras diam.
“Awalnya aku memang mendekatimu karena aku ingin tahu bagaimana seseorang yang terlihat begitu baik bisa melakukan sesuatu kepada Melati.”
Arman menunduk.
“Tapi semakin aku mengenalmu, semakin aku tidak menemukan orang yang kubenci itu.”
“Namun kamu tetap menikahiku.”
“Iya.”
“Dan tetap menghukumku.”
Arman tertawa pendek, tetapi suaranya terdengar hancur.
“Karena kalau kamu tidak bersalah, berarti selama ini aku yang…”
Dia tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.
Laras menyelesaikannya.
“Yang harus menghadapi rasa bersalahmu sendiri.”
Arman menutup wajah dengan kedua tangan.
Untuk pertama kalinya Laras melihatnya bukan sebagai laki-laki dingin yang tidak bisa disentuh, melainkan seseorang yang selama bertahun-tahun membusuk di dalam luka yang tidak pernah dia hadapi.
Namun memahami bukan berarti harus memaafkan.
Terlebih lagi, memahami tidak berarti harus tetap tinggal.
Laras mengambil surat perceraian.
“Sekarang tanda tangani.”
Arman mengangkat kepala.
Matanya merah.
“Kalau aku berubah?”
Laras terdiam.
“Aku akan pergi ke terapi. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan melakukan apa pun.”
“Untuk apa?”
“Untuk kita.”
Laras hampir tidak mengenali suara itu.
Dulu dia mungkin akan menangis bahagia hanya karena Arman mengucapkan dua kata tersebut.
Sekarang rasanya sudah terlambat.
“Arman, kamu tidak mencintaiku.”
“Aku tidak tahu.”
Laras menatapnya.
Arman berdiri.
“Aku tidak tahu kapan semuanya berubah. Aku hanya tahu beberapa minggu terakhir, saat kamu berhenti menungguku pulang, berhenti mengirim pesan, berhenti bertanya apakah aku sudah makan…”
Suaranya pecah.
“Rumah ini mendadak terasa kosong.”
Laras tidak berkata apa-apa.
“Waktu melihatmu bersama Galang, aku ingin menghancurkan sesuatu.”
“Itu bukan cinta. Bisa jadi kamu hanya tidak tahan kehilangan sesuatu yang selama ini selalu tersedia.”
Arman membeku.
Kalimat itu kejam.
Tetapi Laras tahu itu mungkin benar.
“Aku pernah mencintaimu sampai kehilangan diriku sendiri,” katanya. “Sekarang aku akhirnya menemukan diriku lagi. Aku tidak akan kehilangannya untuk kedua kali.”
Dia menyerahkan pena.
Arman menatap pena itu cukup lama.
Kemudian menandatangani.
Tiga bulan kemudian, perceraian mereka resmi.
Laras pindah ke apartemen baru dan mulai menjalani pemeriksaan kesehatan secara serius. Dokter menemukan anemia berat serta gangguan lambung akibat pola makan dan stres berkepanjangan. Tidak ada penyakit misterius. Tubuhnya hanya sudah terlalu lama berteriak sementara dia terus memaksanya diam.
Galang tetap ada.
Tetapi dia tidak pernah terburu-buru.
Mereka makan bersama, menonton film, berjalan di taman, dan sesekali bertengkar soal hal sepele.
Hubungan mereka tumbuh tanpa janji besar.
Enam bulan setelah perceraian, pada suatu sore, Laras menerima sebuah amplop tanpa nama pengirim.
Di dalamnya ada foto lama.
Melati, Laras, dan dua teman sekamar mereka sedang duduk di halaman kampus.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan Melati.
Laras mengenali tulisan itu.
Ti, kalau suatu hari orang salah paham tentang aku, jangan merasa harus menjelaskan semuanya. Kamu terlalu suka menyelamatkan orang. Sesekali selamatkan dirimu sendiri.
Tangan Laras gemetar.
Dia membalik amplop.
Ada surat pendek dari ibu Melati.
Ternyata foto itu ditemukan di antara barang-barang lama putrinya.
Ibu Melati juga menulis bahwa Arman datang menemuinya beberapa minggu sebelumnya.
Untuk pertama kalinya, Arman menceritakan seluruh pertengkaran terakhir mereka.
Dia meminta maaf.
Bukan kepada Laras.
Bukan untuk mendapatkan Laras kembali.
Tetapi kepada keluarga perempuan yang selama bertahun-tahun dia jadikan alasan untuk lari dari rasa bersalahnya sendiri.
Malam itu Laras pergi ke makam Melati.
Dia datang sendirian.
Di depan batu nisan, dia meletakkan bunga putih.
“Aku marah sama kamu, Mel.”
Angin bergerak pelan di antara pepohonan.
“Aku marah karena kamu pergi tanpa memberi siapa pun kesempatan memahami apa yang terjadi.”
Air mata Laras jatuh.
“Tapi aku lebih marah pada diriku sendiri karena membiarkan rasa bersalah orang lain menentukan hidupku.”
Dia berdiri cukup lama sebelum akhirnya berbalik.
Di ujung jalan pemakaman, seseorang berdiri.
Arman.
Mereka saling memandang.
Arman terlihat lebih kurus. Tidak ada jas mahal, tidak ada mobil yang menunggu tepat di belakangnya. Hanya kemeja sederhana dengan lengan digulung.
Dia tidak mendekat.
Tidak meminta kesempatan kedua.
Tidak memanggil namanya.
Dia hanya menundukkan kepala sedikit.
Laras membalas dengan gerakan yang sama.
Kemudian mereka berjalan ke arah berlawanan.
Di luar pemakaman, Galang menunggu di dekat mobil sambil membawa dua gelas kopi.
Dia tidak bertanya apa yang terjadi.
Hanya menyerahkan satu gelas kepada Laras.
“Masih hangat.”
Laras menerimanya.
Galang membuka pintu mobil.
Namun Laras tidak langsung masuk.
Dia menatap langit sore yang perlahan berubah warna.
Dulu dia mengira cinta berarti bertahan.
Semakin sakit, semakin besar cinta itu harus dibuktikan.
Sekarang dia mengerti sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Cinta yang sehat tidak meminta seseorang kehilangan dirinya sendiri agar pantas dipertahankan.
Galang berdiri di sampingnya.
Laras tiba-tiba mengulurkan tangan.
Galang menatap tangan itu, lalu wajahnya.
“Kali ini yakin?”
Laras tertawa kecil.
“Yakin.”
Galang menggenggam tangannya.
Dan kali ini, Laras tidak menggenggam tangan seseorang karena takut ditinggalkan.
Dia menggenggamnya karena akhirnya tahu bahwa kapan pun dia ingin pergi, dia tetap memiliki dirinya sendiri.
