Pintu kamar mandi terbuka bahkan sebelum gema kalimatku benar-benar hilang.
Aku yang tadi berdiri dengan penuh keberanian langsung mundur dua langkah.
Arman muncul dengan rambut masih basah. Ia sudah mengenakan kaus abu-abu dan celana rumah, tetapi beberapa tetes air masih mengalir dari pelipis ke lehernya. Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
“Kamu bilang apa?”
Aku menelan ludah.
“Aku bilang aku tetap mau bercerai.”
Arman mengambil handuk kecil, mengusap rambutnya, lalu berjalan melewatiku.
“Oke.”
Aku berkedip.
“Oke?”
“Besok kita bicarakan.”
Jawaban itu begitu mudah sampai aku malah curiga.

“Kenapa besok?”
“Karena sekarang jam hampir sebelas malam dan kamu mengambil keputusan besar setelah mengira akun WhatsApp suamimu diretas hanya karena dia mengirim kata ‘lapor’.”
“Itu dua hal yang tidak berhubungan.”
“Menurutku sangat berhubungan dengan kemampuanmu mengambil kesimpulan.”
Aku mendengus kesal.
Arman naik ke ranjang, mengambil kacamatanya dari nakas, lalu membuka sebuah jurnal yang belum selesai dibacanya.
Seolah pembicaraan kami sudah selesai.
Aku berdiri di samping ranjang dengan tangan di pinggang.
“Besok jangan hancurkan suratnya lagi.”
“Kalau isinya masih sama, kemungkinan besar akan kuhancurkan.”
“Arman!”
Ia menurunkan jurnal.
“Kalau kamu benar-benar ingin bercerai, beri aku alasan yang benar.”
Aku terdiam.
“Aku sudah memberikannya.”
“Tidak.”
Tatapannya berubah serius.
“Kamu bilang pernikahan kita seperti lelucon. Kamu bilang ada perempuan lain di hatiku. Dua-duanya asumsi. Aku ingin alasan tentang sesuatu yang kulakukan kepadamu.”
Aku membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Arman kembali membaca.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku justru tidak bisa tidur.
Keesokan paginya, Arman sudah berangkat ketika aku bangun. Di meja makan hanya ada roti panggang, telur, kopi, dan secarik kertas.
Pulang jam enam. Jangan kabur. Kita bicara.
Di bawahnya ada tambahan tulisan.
Dan jangan buat surat perceraian dengan font Comic Sans lagi.
Aku menatap catatan itu lama.
Jadi itu alasan dia mengatakan suratku jelek?
Aku hampir merobek kertas tersebut, tetapi akhirnya malah memasukkannya ke tas.
Hari itu pekerjaanku di kantor berantakan. Setiap kali mencoba fokus, pikiranku kembali kepada satu pertanyaan.
Apa sebenarnya alasan paling kuat aku ingin meninggalkan Arman?
Kami menikah dua tahun lalu.
Semuanya bermula dari kejadian yang bahkan sampai sekarang terasa tidak masuk akal.
Aku dulu mahasiswanya. Bukan mahasiswa kesayangan, tentu saja. Kalau ada daftar mahasiswa yang paling sering membuat tekanan darahnya naik, mungkin namaku masuk tiga besar.
Aku suka membantah.
Arman suka meminta bukti.
Aku suka berargumen berdasarkan intuisi.
Dia akan menyuruhku membaca jurnal.
Aku pernah berkata teori tertentu tidak masuk akal.
Besoknya, lima artikel ilmiah muncul di mejaku dengan catatan, Baca sebelum berdebat lagi.
Setelah lulus, kami tidak bertemu hampir setahun.
Kemudian suatu malam di sebuah acara reuni fakultas, kami bertemu lagi. Aku sudah bekerja. Dia baru kembali dari program penelitian di luar negeri.
Entah bagaimana, percakapan yang awalnya hanya lima menit berubah menjadi makan malam, kemudian kopi, lalu dua bulan kemudian dia datang ke rumah orang tuaku.
“Aku ingin menikah dengan Laras.”
Ayahku hampir tersedak teh.
Aku sendiri lebih parah.
Aku mengira Arman sedang menjalankan eksperimen sosial.
Namun tiga bulan kemudian kami benar-benar menikah.
Masalahnya, sejak awal aku mengetahui tentang seorang perempuan bernama Nadia.
Aku pernah melihat foto lama di antara buku-bukunya. Arman dan Nadia berdiri berdampingan ketika masih kuliah. Di belakang foto tertulis tanggal dan satu kalimat pendek.
Sampai kita bertemu lagi.
Aku tidak pernah bertanya.
Mungkin karena takut mendengar jawabannya.
Beberapa bulan terakhir, Nadia kembali ke Bandung sebagai peneliti tamu di universitas tempat Arman mengajar.
Sejak itu Arman lebih sering pulang terlambat.
Seminar. Penelitian. Rapat.
Nama Nadia beberapa kali muncul di layar ponselnya.
Aku tidak pernah memeriksa pesan mereka.
Aku hanya perlahan meyakinkan diriku bahwa sudah waktunya pergi sebelum menjadi orang ketiga dalam kisah cinta orang lain.
Sore itu, tepat pukul enam, aku sudah berada di rumah.
Arman belum pulang.
Enam lewat tiga puluh.
Tujuh.
Aku mulai kesal.
Dia sendiri yang menyuruhku jangan kabur.
Pukul tujuh lewat dua belas, sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Aku melihat dari jendela.
Arman turun dari kursi penumpang.
Yang mengemudi seorang perempuan.
Nadia.
Dadaku seperti ditusuk sesuatu yang tipis tetapi tajam.
Perempuan itu turun juga. Cantik, tinggi, mengenakan blazer krem dan celana panjang hitam.
Mereka berbicara beberapa saat.
Kemudian Nadia menyerahkan sebuah map kepada Arman.
Aku tidak menunggu lagi.
Koper kecil yang sudah kusiapkan sejak siang langsung kutarik keluar kamar.
Saat Arman membuka pintu, aku sudah berdiri di ruang tamu.
Dia melihat koperku.
Lalu melihat wajahku.
“Kamu mau ke mana?”
“Pergi.”
“Kenapa?”
Aku tertawa kecil.
“Serius kamu bertanya?”
Arman meletakkan map di meja.
“Laras.”
“Nadia mengantarmu pulang.”
“Iya.”
“Kalian sering bertemu akhir-akhir ini.”
“Iya.”
“Dia mantanmu.”
Arman diam sebentar.
“Iya.”
Jawaban terakhir itu membuat tenggorokanku panas.
Setidaknya aku tidak salah.
Aku menarik gagang koper.
“Bagus. Berarti perceraian ini mempermudah semua orang.”
Ketika aku melewatinya, Arman menangkap pergelangan tanganku.
“Tidak.”
“Lepaskan.”
“Duduk.”
“Aku bukan mahasiswamu.”
“Aku tahu.”
“Jangan pakai nada dosenmu.”
“Aku sedang berusaha tidak memakai nada suami yang istrinya kabur berdasarkan kesimpulan yang dia buat sendiri.”
Aku berbalik tajam.
“Kesimpulan apa lagi? Dia mantanmu. Dia kembali. Kalian bertemu hampir setiap hari. Kamu pulang bersamanya.”
Arman menatapku.
“Lanjutkan.”
“Apa?”
“Buktinya baru empat. Biasanya kalau presentasi kamu minimal punya lima.”
Aku hampir meledak.
“Ini bukan kelas!”
“Benar. Makanya aku heran kenapa standar pembuktianmu justru turun setelah lulus.”
Aku meraih bantal sofa dan melemparkannya.
Arman menangkapnya.
“Duduk.”
“Aku benci kamu.”
“Tidak apa-apa. Duduk dulu.”
Entah karena marah atau lelah, akhirnya aku benar-benar duduk.
Arman membuka map yang dibawa Nadia.
Ia mengeluarkan beberapa dokumen dan meletakkannya di hadapanku.
Aku membaca halaman pertama.
Proposal penelitian.
Halaman kedua berisi daftar tim.
Nama Arman ada di sana.
Nama Nadia juga.
“Dia kembali ke Bandung karena proyek ini,” katanya. “Kami memang sering bertemu karena tenggatnya minggu depan.”
“Itu tidak mengubah fakta bahwa dia mantanmu.”
“Benar.”
“Dan foto itu?”
Arman mengernyit.
“Foto apa?”
Aku menjelaskan foto yang kutemukan.
Wajahnya berubah.
Bukan panik.
Ia justru menutup mata sebentar seperti seseorang yang baru memahami teka-teki paling bodoh dalam hidupnya.
“Kamu menyimpan semua ini dua tahun?”
Aku diam.
“Laras.”
“Jangan menguliahi aku.”
Arman bangkit.
Dia masuk ke ruang kerja dan kembali membawa sebuah kotak tua.
Foto yang kumaksud ada di dalamnya.
Ia meletakkannya di meja.
“Balik.”
“Aku sudah pernah melihat belakangnya.”
“Lihat lagi.”
Aku membalik foto itu.
Sampai kita bertemu lagi.
“Tulisan siapa?”
“Ya tulisanmu atau dia.”
“Nadia.”
“Nah.”
“Karena?”
Aku mulai kesal.
Arman mengambil foto lain dari kotak tersebut.
Foto pernikahan.
Nadia mengenakan gaun pengantin, berdiri di samping seorang laki-laki yang bukan Arman.
Aku membeku.
“Dia menikah?”
“Sudah tujuh tahun.”
Aku memandangi foto itu.
“Tapi kalian pacaran.”
“Tidak pernah.”
Aku menoleh cepat.
“Kamu tadi bilang dia mantanmu.”
“Mantan partner debat.”
Aku menatapnya seolah ingin membunuh.
Arman, tanpa rasa bersalah, melanjutkan, “Kami satu tim kompetisi debat hampir tiga tahun. Semua orang menyebut kami pasangan. Aku kira kamu bertanya itu.”
“Siapa yang menyebut partner debat sebagai mantan?”
“Kamu tidak pernah menyelesaikan pertanyaannya.”
Aku menutup wajah.
Seluruh rasa sakit yang kupelihara berbulan-bulan tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang sangat memalukan.
Namun satu pertanyaan masih tersisa.
“Kalau begitu kenapa kamu menikahiku?”
Arman tidak langsung menjawab.
Aku menurunkan tangan.
“Arman, kita hampir tidak pernah pacaran. Kamu tiba-tiba datang ke rumah orang tuaku. Setelah menikah kamu juga tidak pernah bilang apa-apa. Aku bahkan tidak tahu apakah kamu benar-benar mencintaiku.”
Ruangan mendadak sunyi.
Untuk pertama kalinya, senyum Arman benar-benar hilang.
Ia duduk di kursi di depanku.
“Aku kira kamu tahu.”
“Dari mana?”
“Aku menikahimu.”
“Itu bukan jawaban.”
“Aku menjemputmu kalau lembur.”
“Itu bisa dilakukan suami mana pun.”
“Aku memasak karena kamu hampir membakar dapur tiga kali.”
“Itu demi keselamatan rumah.”
“Aku hafal obat alergimu.”
“Itu…”
“Aku pindah jadwal mengajar hari Jumat karena kamu pernah bilang satu-satunya hari kita bisa makan malam tanpa melihat laptop adalah Jumat.”
Aku terdiam.
“Aku menolak tawaran mengajar satu semester di Singapura tahun lalu.”
Kepalaku terangkat.
“Apa?”
“Kamu baru pindah pekerjaan. Kamu bilang sedang kesulitan menyesuaikan diri. Aku tidak mau meninggalkanmu.”
Aku tidak pernah tahu.
Arman mengembuskan napas.
“Sepertinya aku memang buruk dalam menjelaskan hal-hal yang menurutku sudah jelas.”
Aku menatapnya.
“Jadi kapan kamu mulai suka padaku?”
Ia diam terlalu lama.
Aku menyipitkan mata.
“Jangan bilang waktu aku masih mahasiswamu.”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat.
“Arman.”
“Aku dosenmu waktu itu. Ada batas yang tidak boleh dilewati.”
“Berarti kamu memang sudah suka?”
Dia mengusap wajah.
Aku hampir tidak pernah melihat Arman kehilangan kata-kata.
Aneh sekali rasanya.
“Aku mulai menyadarinya menjelang kamu lulus,” katanya akhirnya. “Tapi selama kamu masih mahasiswaku, itu tidak relevan. Jadi aku tidak melakukan apa pun.”
“Setelah aku lulus?”
“Aku menunggu.”
“Setahun?”
“Kamu punya pekerjaan pertama. Aku tidak mau datang membawa hubungan yang mungkin membuatmu merasa berutang sesuatu kepadaku sebagai mantan dosen.”
Dadaku terasa sesak.
“Lalu kenapa akhirnya datang?”
Arman menatapku lurus.
“Karena saat reuni kamu bilang sedang dikenalkan dengan anak teman ibumu.”
Aku mengingatnya.
Aku memang pernah mengatakan itu sambil bercanda.
“Jadi kamu cemburu?”
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Bohong.”
“Sedikit.”
“Seberapa sedikit?”
“Cukup untuk datang ke rumah orang tuamu dua bulan kemudian.”
Aku tertawa tanpa bisa menahannya.
Arman ikut tersenyum.
Namun kemudian aku teringat sesuatu.
“Kalau begitu surat cerai kemarin?”
Senyumnya hilang lagi.
“Aku takut.”
Aku benar-benar terkejut.
Arman?
Takut?
“Ketika kamu meletakkan surat itu di meja, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Jadi aku menghancurkannya.”
“Itu tindakan yang sangat tidak dewasa untuk seorang dosen.”
“Aku tahu.”
“Dan menyembunyikanku di bawah meja?”
“Mahasiswi itu sudah beberapa kali mencoba menemui aku di luar jam konsultasi. Aku melihatnya dari kaca pintu. Kalau dia melihatmu, aku khawatir kamu salah paham.”
Aku menatapnya datar.
“Kamu menyembunyikanku supaya aku tidak salah paham, lalu membuatku mendengar dia menawarkan melakukan apa saja?”
Arman terdiam.
“Kalau dipikir lagi, strategi itu memang buruk.”
“Buruk sekali.”
Aku memukul lengannya dengan bantal.
Kali ini dia tidak menghindar.
Beberapa menit kemudian, koperku masih berdiri di dekat pintu.
Arman melihatnya.
“Jadi?”
“Jadi apa?”
“Kamu masih mau pergi?”
Aku menatap koper itu.
Aneh.
Kemarin aku begitu yakin.
Sekarang justru aku sadar masalah terbesar dalam pernikahan kami bukan Nadia, bukan pekerjaan Arman, bahkan bukan sifat pelitnya yang membuat satu ponsel dipakai sampai baterainya hampir menggelembung.
Kami hanya terlalu banyak menebak dan terlalu sedikit bertanya.
Aku berjalan menuju koper.
Arman tidak menghentikanku.
Aku memegang gagangnya.
Kemudian menyeret koper itu kembali ke kamar.
Saat melewatinya, aku berkata, “Surat cerai batal.”
Arman mengangguk tenang.
“Tapi ada syarat.”
Dia langsung waspada.
“Apa?”
“Mulai sekarang, kalau ada sesuatu, kita bicara. Tidak boleh menganggap aku otomatis tahu apa yang kamu pikirkan.”
“Setuju.”
“Dan beli HP baru.”
“Tidak.”
“Arman!”
“Yang sekarang masih berfungsi.”
“Baterainya sudah rusak.”
“Masih bisa diisi.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Pelit.”
“Efisien.”
Aku hendak membalas ketika ponselnya berbunyi.
Pesan dari Nadia.
Arman mengambilnya, membaca sebentar, kemudian menyerahkan ponsel itu kepadaku tanpa diminta.
Pesannya hanya satu kalimat.
Sudah jelaskan semuanya ke Laras? Kalau belum, aku sendiri yang akan bilang bahwa selama kuliah kamu bahkan tidak pernah punya pacar karena terlalu sibuk mengejar perempuan yang belum sadar sedang kamu sukai.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Lalu perlahan menoleh kepada Arman.
“Perempuan yang belum sadar?”
Arman mengambil kembali ponselnya.
“Tidak penting.”
“Arman.”
“Sudah malam.”
“Arman Pradana.”
Dia berjalan cepat menuju kamar.
Aku mengejarnya.
“Siapa perempuan itu?”
“Besok kamu kerja.”
“Jawab!”
Dia tiba-tiba berhenti sehingga aku hampir menabrak punggungnya.
Arman berbalik, menunduk sedikit, lalu mencium keningku.
“Mahasiswi paling keras kepala yang pernah kukenal.”
Aku terdiam.
Dia masuk kamar.
Beberapa detik kemudian kepalanya muncul lagi dari balik pintu.
“Oh, satu hal.”
“Apa?”
“Besok pulang tepat waktu.”
“Kenapa?”
“Kita kencan.”
Aku hampir tertawa.
“Setelah dua tahun menikah?”
“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”
Lalu dia menambahkan dengan wajah sangat serius, “Dan bawa buku catatan.”
Senyumku langsung hilang.
“Untuk apa?”
“Kita perlu membuat aturan komunikasi rumah tangga.”
“Arman, jangan jadikan pernikahan kita mata kuliah.”
“Sudah terlambat. Kamu gagal ujian pertama karena mencoba bercerai tanpa verifikasi data.”
Aku melempar bantal ke arahnya.
Pintu keburu tertutup.
Dari baliknya terdengar tawa Arman.
Aku berdiri di lorong sambil menggeleng, tetapi untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, rumah itu tidak terasa seperti tempat yang ingin kutinggalkan.
Aku baru memahami sesuatu yang selama ini luput.
Cinta tidak selalu datang dalam kalimat indah.
Kadang ia datang dalam bentuk seseorang yang menjemputmu saat lembur, mengingat obat alergimu, mengubah jadwal tanpa pernah memberitahumu alasannya, dan memakai ponsel lima tahun karena menurutnya membeli yang baru adalah pemborosan.
Tetapi cinta yang hanya disimpan dalam tindakan juga bisa salah dibaca.
Malam itu aku belajar bahwa pernikahan kami hampir berakhir bukan karena tidak ada cinta, melainkan karena kami berdua terlalu yakin bahwa yang lain seharusnya sudah tahu.
Dan seminggu kemudian, ketika aku tanpa sengaja membuka laci meja kerja Arman di rumah untuk mencari stapler, aku menemukan sebuah amplop tua.
Di dalamnya ada surat rekomendasi akademik milikku dari bertahun-tahun lalu.
Di sudut belakangnya terdapat tulisan tangan Arman.
Laras Maheswari. Pintar, ceroboh, terlalu berani, sulit diberi tahu.
Di bawahnya ada satu kalimat lain yang dicoret berkali-kali, tetapi masih bisa kubaca.
Kalau suatu hari dia bukan lagi mahasiswaku, mungkin aku akan mengajaknya minum kopi.
Tanggalnya dibuat tiga hari sebelum sidang kelulusanku.
Aku berdiri memegang kertas itu dengan jantung berdebar.
Dari belakang terdengar suara Arman.
“Kamu sedang apa?”
Aku berbalik perlahan.
Wajahnya langsung berubah ketika melihat kertas di tanganku.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, dosen paling tenang dan paling menyebalkan di kampus itu terlihat benar-benar panik.
Aku mengangkat surat tersebut.
“Pak Arman.”
Dia mundur satu langkah.
Aku tersenyum.
Senyum yang selama ini kupelajari darinya.
“Sepertinya kita perlu membahas pelanggaran etika dalam menyimpan dokumen akademik mantan mahasiswa.”
Arman menutup mata.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah pernikahan kami, giliran aku yang memberinya tugas tambahan.
