Arman mendorong Maya begitu keras hingga perempuan itu hampir terjatuh ke sofa.
“Jangan salahkan aku! Dari tadi kamu juga sibuk memukul Citra!” bentaknya.
Maya membeku. Wajahnya basah oleh air mata, tetapi sebelum ia sempat membalas, tubuh Kevin mendadak kejang dalam pelukan Arman.
“Kevin!”
Jeritan Maya membuat seluruh rumah seketika sunyi.
Aku menjatuhkan pisau ke lantai.
Apa pun yang baru saja mereka lakukan kepadaku, Kevin tetap anak kecil. Dia tidak tahu apa-apa.
“Telepon ambulans!” seruku dengan suara serak. “Sekarang!”

Dimas akhirnya tersadar dan menghubungi layanan darurat. Aku berlutut beberapa meter dari Kevin, tetapi Maya langsung menghalangiku.
“Jangan sentuh anakku!”
“Dia menelan obat Mama.”
Semua orang terdiam.
Bu Ratna menatapku seolah tidak memahami kalimat itu.
“Apa?”
“Aku melihat Kevin mengambil pil diabetes dan obat tekanan darah dari lantai. Aku sudah mencoba memperingatkan kalian.”
Maya menggeleng cepat.
“Bohong.”
“Aku menunjuk ke arahnya berkali-kali.”
“Bohong!” teriaknya lagi.
Aku menatap Maya tepat di mata.
“Waktu aku mencoba menghampiri Kevin, kamu menamparku. Suamimu mendorongku sampai kepalaku menghantam kulkas. Setelah itu aku tidak bisa bicara.”
Wajah Arman berubah.
Pak Hendra menoleh ke lantai. Di bawah meja masih terlihat beberapa pil putih dan sebuah tablet berwarna kekuningan.
Bu Ratna langsung pucat.
“Itu… itu obat Ibu.”
Maya berlari ke meja dan mengambil kotak obat. Tutupnya terbuka.
“Ma, berapa banyak yang hilang?”
“Ibu nggak tahu.”
“Berapa banyak?”
“Ibu benar-benar nggak tahu!”
Maya menjerit frustrasi.
Suara sirene terdengar beberapa menit kemudian. Dua petugas medis masuk membawa tandu. Mereka segera memeriksa Kevin dan menanyakan jenis obat yang mungkin tertelan.
Aku mengambil kotak obat Bu Ratna dan menyerahkannya.
“Yang ini obat diabetes. Yang ini obat tekanan darah. Saya melihat dia memasukkan setidaknya dua pil ke mulut, tapi saya nggak tahu apakah sebelumnya dia sudah makan yang lain.”
Petugas langsung mencatat nama dan dosis obat.
Maya berdiri kaku.
“Setidaknya dua?”
Aku mengangguk.
“Aku melihatnya.”
“Kenapa kamu nggak menghentikannya?”
Pertanyaan itu membuatku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena rasanya terlalu kejam untuk menjadi nyata.
Aku menyentuh bagian belakang kepalaku yang masih berdenyut.
“Aku mencoba.”
Maya terdiam.
Petugas membawa Kevin menuju ambulans. Maya dan Arman ikut. Bu Ratna hendak ikut, tetapi salah satu petugas meminta agar seseorang membawa semua obat yang biasa dikonsumsinya.
Saat mereka bergegas keluar, aku mendengar Maya menangis sambil terus memanggil nama anaknya.
Dimas berdiri di ambang pintu.
Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran dimulai, wajahnya tidak lagi menunjukkan kemarahan.
Hanya ketakutan.
Dia menatapku.
“Citra…”
“Jangan sentuh aku.”
Tangannya yang hendak meraih bahuku berhenti di udara.
Aku menggendong Lala dan masuk ke kamar.
Pipiku bengkak. Bagian belakang kepalaku terasa sakit. Lala menempel erat di dadaku, seolah takut aku akan menghilang kalau dia melepaskan tangannya.
Aku memasukkan pakaian kami ke dalam koper.
Dimas mengikuti dari belakang.
“Kamu mau ke mana?”
“Pergi.”
“Sekarang?”
Aku berhenti melipat baju.
“Kamu tadi mau mengusirku, kan?”
“Itu karena aku emosi.”
“Kamu mencetak surat cerai.”
Dia tidak menjawab.
“Kamu juga membiarkan kakakmu memukulku. Kakak iparmu mendorongku. Ayahmu mengatakan kalau Lala mati, kita tinggal punya anak laki-laki.”
Wajah Dimas menegang.
“Mereka panik.”
“Kevin belum sakit saat mereka mengatakan itu.”
Kalimat itu membuatnya terdiam.
Aku menutup koper.
Bel rumah berbunyi.
Jantungku langsung berdegup cepat.
Dimas menoleh.
Beberapa detik kemudian terdengar suara Bagas dari depan.
“Citra!”
Aku hampir menangis mendengarnya.
Aku keluar sambil menggendong Lala.
Bagas berdiri di ruang tamu bersama istrinya. Begitu melihat wajahku, ekspresinya berubah.
“Siapa yang melakukan ini?”
Dimas buru-buru berkata, “Mas Bagas, ini cuma salah paham keluarga.”
Bagas menatap pipiku yang bengkak, lalu bagian belakang kepalaku.
“Salah paham pakai tangan?”
Pak Hendra mencoba ikut bicara.
“Anak muda jangan ikut campur urusan rumah tangga orang.”
Bagas mengeluarkan ponselnya.
“Baik. Kalau begitu polisi saja yang ikut campur.”
Wajah Pak Hendra langsung berubah.
“Polisi?”
Bu Ratna yang tadi hendak pergi ke rumah sakit berhenti.
“Kenapa harus polisi? Ini keluarga.”
Aku menatapnya.
“Karena saya dipukul.”
Bu Ratna menunjuk pisau yang tergeletak di dapur.
“Dia juga mengancam kami pakai pisau!”
“Bagus,” kata Bagas. “Kita serahkan semuanya kepada polisi.”
Dimas mendekatiku.
“Citra, jangan bikin masalah makin besar.”
Aku menatap laki-laki yang sudah empat tahun menjadi suamiku.
Aneh sekali.
Pagi tadi aku masih membuatkan kopi untuknya. Siang tadi kami membahas rencana membeli kursi makan untuk Lala. Beberapa jam kemudian dia menamparku karena aku berusaha mencegah putri kami keracunan.
“Aku bukan yang membuat masalah ini besar, Dimas.”
Aku mengangkat Lala sedikit lebih erat.
“Kalian yang membuatnya.”
Bu Ratna mendengus.
“Kalau bukan karena kamu cerewet soal obat, semua ini nggak akan terjadi.”
Bagas langsung menoleh kepadanya.
“Jadi Kevin keracunan karena adik saya?”
Bu Ratna terdiam.
Aku justru merasa sesuatu di dadaku menjadi tenang.
Selama berbulan-bulan aku selalu bertanya apakah aku terlalu sensitif. Apakah aku terlalu cerewet. Apakah aku terlalu protektif terhadap Lala.
Sekarang jawabannya ada di depan mata.
Aku mengambil ponsel.
“Ada satu hal yang belum kalian tahu.”
Dimas mengerutkan kening.
“Apa?”
“Aku memasang kamera di rumah.”
Ruangan itu mendadak senyap.
Wajah Arman memang tidak ada di sana, tetapi wajah Dimas, Bu Ratna, dan Pak Hendra berubah hampir bersamaan.
“Kamera apa?” tanya Dimas.
“Kamera pengawas.”
“Sejak kapan?”
“Beberapa bulan.”
Bu Ratna langsung marah.
“Kamu merekam kami diam-diam?”
“Aku memasangnya untuk menjaga Lala.”
Aku membuka aplikasi di ponsel.
“Dan hari ini ternyata berguna untuk menjaga aku juga.”
Pak Hendra segera berkata, “Hapus.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Hapus rekamannya. Ini masalah keluarga.”
Aku tersenyum tipis.
“Tadi waktu kalian mau menjadikan diri kalian saksi supaya aku kehilangan rumah, kalian nggak bilang ini masalah keluarga.”
Tak seorang pun menjawab.
Bagas mengambil koperku.
“Kita pergi sekarang.”
Dimas menghadang pintu.
“Lala tetap di sini.”
Aku menatapnya tajam.
“Coba ulangi.”
“Dia anakku juga.”
“Dan beberapa jam lalu kamu bilang bukan masalah besar ketika dia hampir menelan obat.”
Dimas membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Bagas berdiri di sampingku.
“Kalau mau membahas hak asuh, lakukan lewat jalur hukum.”
Dimas akhirnya bergeser.
Malam itu aku meninggalkan rumah bersama Lala.
Aku tidak pergi ke rumah orang tuaku. Bagas membawaku ke rumah sakit terlebih dahulu. Dokter memeriksa kepalaku dan menyatakan aku mengalami gegar otak ringan. Luka dan memar di wajah serta lenganku didokumentasikan.
Aku juga menyerahkan rekaman kamera kepada polisi.
Di situlah kebohongan keluarga Dimas mulai runtuh satu per satu.
Rekaman menunjukkan Lala mengambil pil dari lantai.
Menunjukkan aku merebutnya.
Menunjukkan Dimas menamparku.
Menunjukkan Maya menamparku.
Menunjukkan aku berusaha menuju Kevin sebelum Maya menahan dan memukulku.
Menunjukkan Arman mendorongku hingga kepalaku menghantam kulkas.
Dan yang paling menyakitkan, rekaman itu juga menangkap ucapan Pak Hendra dengan sangat jelas.
Kalau terjadi sesuatu pada Lala, mungkin memang sudah takdir. Setelah itu kalian bisa punya anak laki-laki.
Ketika polisi memutar bagian tersebut, Dimas menundukkan kepala.
Aku tidak.
Untuk pertama kalinya aku mendengarnya tanpa berusaha mencari alasan untuk keluarga itu.
Beberapa jam kemudian kami mendapat kabar dari rumah sakit.
Kevin selamat.
Dokter berhasil menangani keracunannya tepat waktu. Ia harus dirawat dan dipantau, tetapi kondisinya mulai stabil.
Aku mengembuskan napas panjang ketika mendengarnya.
Bagaimanapun juga, aku tidak pernah menginginkan seorang anak membayar kesalahan orang dewasa.
Namun ternyata drama belum selesai.
Keesokan paginya Maya meneleponku.
Aku tidak mengangkat.
Dia mengirim belasan pesan.
Awalnya memaki.
Kemudian menyalahkanku.
Lalu memohon.
Pesan terakhir berbunyi, “Citra, tolong bilang ke polisi Arman nggak sengaja mendorongmu. Dia bisa kehilangan pekerjaannya.”
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Perempuan yang kemarin mengatakan kematian putriku hanyalah takdir sekarang memintaku menyelamatkan suaminya dari konsekuensi tindakannya.
Aku memblokir nomornya.
Dimas datang ke rumah Bagas tiga hari kemudian.
Dia berdiri di depan pagar dengan wajah kusut.
“Aku mau bicara.”
Bagas tidak mengizinkannya masuk, jadi aku menemuinya di teras.
Dimas membawa dokumen yang pernah dia cetak malam itu.
“Aku nggak jadi mau cerai.”
Aku menatap kertas di tangannya.
“Aku jadi.”
Wajahnya membeku.
“Citra, aku salah. Aku mengaku salah.”
“Bagus.”
“Aku akan berubah.”
“Semoga.”
“Demi Lala.”
Aku tertawa kecil.
“Jangan pakai nama Lala untuk mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak melindungi dia.”
Dia mulai menangis.
Selama empat tahun menikah, baru kali itu aku melihat Dimas menangis.
“Aku cuma terbawa suasana.”
“Tamparanmu juga terbawa suasana?”
Dia menunduk.
“Aku takut melawan orang tuaku.”
Aku mengangguk perlahan.
“Dan karena kamu takut menjadi anak yang buruk, kamu memilih menjadi suami dan ayah yang buruk.”
Dimas tidak punya jawaban.
Proses perceraian berjalan jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan keluarganya.
Rumah tidak bisa begitu saja menjadi milik Dimas karena ada bukti kontribusiku dalam pembelian dan pembayaran cicilan. Rekaman Arman yang sengaja merencanakan skenario agar aku pergi tanpa harta justru memperburuk posisi mereka.
Maya dan Arman juga batal pindah ke rumah itu.
Hubungan mereka sendiri mulai retak setelah kejadian Kevin.
Maya menyalahkan Arman karena tidak mengawasi anaknya. Arman menyalahkan Maya karena sibuk berkelahi. Keduanya menyalahkan Bu Ratna karena membiarkan obat berserakan.
Untuk pertama kalinya, Bu Ratna tidak punya orang yang mau menerima kesalahannya.
Beberapa bulan kemudian, rumah itu akhirnya dijual sesuai kesepakatan hukum. Aku mendapatkan bagian sesuai hakku dan menggunakan sebagian uangnya untuk menyewa apartemen kecil dekat tempat kerja.
Tidak mewah.
Hanya dua kamar, ruang tamu kecil, dan balkon sempit.
Namun pada malam pertama di sana, ketika Lala tertidur di ranjang barunya, aku merasa rumah itu jauh lebih luas daripada rumah lama.
Tidak ada orang yang mengatakan kelahirannya sebuah kegagalan.
Tidak ada obat berserakan di lantai.
Tidak ada tangan yang tiba-tiba melayang ke wajahku.
Setahun kemudian aku bertemu Maya secara tidak sengaja di sebuah klinik anak.
Kevin berdiri di sampingnya, sehat dan semakin tinggi.
Maya terlihat jauh lebih kurus.
Kami saling menatap beberapa detik.
Lalu Kevin mengenaliku.
“Tante Citra!”
Dia berlari menghampiriku.
Maya hendak menahannya, tetapi terlambat.
Kevin memeluk kakiku.
Aku berjongkok.
“Kamu sehat?”
Dia mengangguk ceria.
“Mama bilang dulu Tante yang kasih tahu dokter obat apa yang aku makan.”
Aku terdiam.
Maya memalingkan wajah.
Sebelum pergi, Kevin mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah permen kecil yang masih terbungkus.
“Buat Lala.”
Aku menerimanya sambil tersenyum.
“Terima kasih.”
Setelah Kevin berjalan kembali, Maya akhirnya berbicara.
“Citra.”
Aku menoleh.
Matanya merah.
“Aku minta maaf.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Waktu itu aku benar-benar berpikir Mama selalu benar. Aku juga marah karena kamu mau memukulku.”
“Aku tidak sedang menuju kamu.”
“Aku tahu.”
Suaranya mengecil.
“Aku tahu setelah lihat rekamannya.”
Ia menatap Kevin.
“Kalau kamu nggak mencoba menghentikan dia waktu itu… mungkin aku sudah kehilangan anakku.”
Aku menarik napas.
“Maya, aku tidak butuh kamu merasa berutang kepadaku.”
Dia menatapku.
“Aku cuma berharap setelah semua itu, kamu belajar satu hal.”
“Apa?”
“Jangan pernah menganggap nyawa seorang anak lebih berharga hanya karena dia laki-laki.”
Air mata Maya jatuh.
Aku menggandeng Lala dan pergi.
Beberapa langkah kemudian Lala menarik tanganku.
“Mama.”
“Ya?”
Ia menunjuk permen pemberian Kevin.
“Boleh makan?”
Aku tersenyum.
“Boleh. Tapi setelah makan siang.”
Lala mengangguk dan memasukkan permen itu kembali ke tasku.
Saat itulah aku menyadari sesuatu.
Setahun sebelumnya, sebuah pil kecil hampir menghancurkan hidup kami.
Namun sebenarnya bukan obat itu yang paling berbahaya.
Yang paling berbahaya adalah sebuah keluarga yang terbiasa menganggap kelalaian sebagai hal biasa, kekerasan sebagai urusan rumah tangga, dan anak perempuan sebagai manusia kelas dua.
Aku tidak bisa mengubah mereka.
Aku hanya bisa memastikan Lala tidak tumbuh menjadi bagian dari pola itu.
Aku menggenggam tangannya lebih erat dan berjalan keluar dari klinik menuju cahaya sore.
Di belakangku ada keluarga yang pernah ingin mengusirku dari rumahku sendiri.
Di sampingku berjalan alasan mengapa aku akhirnya berani meninggalkan mereka.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa kehilangan keluarga.
Aku merasa telah menyelamatkan satu.
