Air hujan mengalir di wajahku, bercampur dengan darah yang merembes dari sudut bibir.
Enam tamparan.
Aku menghitung semuanya.
Tamparan pertama mendarat ketika aku bertanya mengapa Vanessa Cole, perempuan yang selama enam bulan terakhir dicurigai menjadi selingkuhan suamiku, duduk santai di meja makan kami sambil mengenakan anting mutiara peninggalan ibuku.
Tamparan kedua datang ketika aku menyuruhnya melepas anting itu.

Tamparan ketiga, keempat, dan kelima menghantam wajahku setelah Grant Whitmore berteriak bahwa rumah itu, perhiasan itu, bahkan kehidupan yang kunikmati selama menikah dengannya adalah miliknya.
Tamparan keenam membuat tubuhku terlempar ke meja marmer di dekat pintu.
Aku masih ingat senyum Vanessa.
Dia berdiri mengenakan jubah sutraku sambil memegang segelas anggur.
Grant kemudian membuka pintu dan melempar tas pakaianku ke halaman.
“Keluar, Claire. Seharusnya sejak dulu kau tahu diri.”
Aku tidak menangis.
Setidaknya tidak di depan mereka.
Aku berjalan tanpa alas kaki melewati halaman hingga mencapai trotoar. Hujan begitu deras sehingga aku hampir tidak bisa membedakan air hujan dengan air mata yang akhirnya jatuh.
Aku duduk di bawah lampu jalan dan menelepon satu-satunya orang yang selama tujuh tahun terakhir selalu diminta Grant untuk kujauhi.
Ayahku.
Arthur Vance.
“Ayah.”
Hanya satu kata itu yang mampu kuucapkan.
“Apa yang terjadi?”
“Grant menamparku enam kali. Dia mengusirku.”
Suara di ujung telepon mendadak sunyi.
“Kau aman?”
“Tidak.”
“Kirim lokasi.”
Aku mengirimkannya.
Sebelum menutup telepon, aku berkata pelan, “Ayah, kali ini jangan beri dia belas kasihan.”
Jawaban ayah membuat bulu kudukku berdiri.
“Kalau begitu, belas kasihan berakhir malam ini.”
Empat puluh menit kemudian, dua SUV hitam berhenti di depanku.
Aku dibawa ke sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Ayah ternyata sudah berada di Indonesia sejak tiga hari sebelumnya untuk menghadiri pertemuan bisnis regional, sesuatu yang bahkan tidak kuketahui karena hampir setahun kami jarang berbicara.
Dokter menemukan memar di tulang rusuk, luka di bibir, serta retakan kecil pada tulang pipiku.
Ketika dokter selesai memeriksa, Ayah masuk.
Usianya enam puluh delapan tahun, tetapi malam itu langkahnya masih setegas ketika aku kecil. Rambutnya sudah memutih. Dia tidak memelukku langsung. Matanya terlebih dahulu memeriksa wajah dan tanganku.
Kemudian dia duduk di samping tempat tidur.
“Ayah pernah memperingatkanmu tentang Grant.”
Aku menunduk.
“Aku tahu.”
“Tapi malam ini bukan waktunya mengatakan Ayah benar.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menangis seperti anak kecil.
Ayah memelukku.
“Sekarang tidur. Besok biarkan dia mengenal siapa sebenarnya istrinya.”
Aku tidak mengerti maksudnya.
Sampai pukul enam pagi.
Ponselku menyala tanpa henti.
Dua puluh tiga panggilan tak terjawab dari Grant.
Lalu pesan pertama masuk.
Claire, apa yang kau lakukan?
Pesan kedua.
Hubungi aku sekarang.
Pesan ketiga datang lima menit kemudian.
Tolong. Kita harus bicara.
Aku menunjukkan layar itu kepada Ayah.
“Jangan jawab.”
“Apa yang Ayah lakukan?”
Ayah meletakkan secangkir kopi di meja.
“Tidak banyak.”
Aku menatapnya tidak percaya.
Dia kemudian menjelaskan.
Perusahaan Grant, Whitmore Pacific Infrastructure, selama bertahun-tahun berkembang melalui kontrak logistik, pergudangan dan distribusi regional. Yang tidak pernah Grant sadari adalah hampir tiga puluh persen jalur distribusi strategis perusahaannya bergantung pada anak perusahaan yang terafiliasi dengan Vance Global Logistics.
Grant mengira hubungan bisnis itu didapat karena reputasinya.
Padahal Ayahlah yang membukakan pintu itu setelah kami menikah.
Pagi itu semua fasilitas kredit dagang yang dijamin melalui jaringan Vance dihentikan sementara untuk audit.
Dua investor meminta penjelasan.
Tiga mitra menunda kontrak.
Dan pukul sembilan pagi, dewan direksi Grant mengadakan rapat darurat.
Namun Ayah belum selesai.
“Ini bukan balas dendam,” katanya.
“Lalu apa?”
“Membersihkan apa yang selama ini kita lindungi.”
Ayah menyerahkan sebuah tablet kepadaku.
Di sana terdapat laporan keuangan.
Aku membacanya perlahan.
Ada pembayaran kepada perusahaan konsultasi yang tidak kukenal. Transfer berulang dalam jumlah besar. Invoice proyek yang nilainya jauh lebih tinggi daripada biaya sebenarnya.
“Grant mencuri?”
“Kami belum tahu. Karena itu audit dilakukan.”
Aku terus menggulir layar sampai menemukan satu nama.
Cole Strategic Advisory.
Aku membeku.
“Cole?”
Ayah mengangguk.
Perusahaan itu ternyata didirikan delapan bulan lalu.
Direkturnya adalah Vanessa Cole.
Selama tujuh bulan, perusahaan Grant telah membayar hampir dua juta dolar kepada perusahaan Vanessa untuk jasa konsultasi yang tidak memiliki laporan kerja jelas.
Tiba-tiba pintu kamar diketuk.
Seorang anggota tim hukum Ayah masuk.
“Pak Arthur, ada perkembangan.”
Dia meletakkan beberapa dokumen.
Audit internal menemukan sesuatu yang jauh lebih besar.
Grant tidak sekadar berselingkuh.
Dia diduga menggunakan sejumlah perusahaan cangkang untuk memindahkan dana perusahaan sebelum laporan keuangan tahunan diterbitkan.
Vanessa bukan hanya kekasihnya.
Dia membantu mengelola aliran uang itu.
Dadaku terasa sesak.
Selama bertahun-tahun aku berpikir Grant menjauhkan diriku dari urusan perusahaan karena dia menganggapku tidak memahami bisnis.
Sekarang aku mengerti.
Dia tidak ingin aku melihat terlalu dekat.
Pukul sebelas siang, Grant akhirnya datang ke rumah sakit.
Namun petugas keamanan menghentikannya di lobi.
Dia berteriak meminta bertemu denganku.
Aku turun bersama Ayah.
Begitu melihatku, wajah Grant berubah.
“Claire.”
Laki-laki yang tadi malam menamparku kini terlihat seperti tidak tidur semalaman.
“Suruh mereka menghentikan audit itu.”
Aku menatapnya lama.
Bukan permintaan maaf.
Bukan pertanyaan tentang lukaku.
Itulah kalimat pertamanya.
“Jadi itu alasanmu datang?”
“Dengarkan aku. Ada hal yang tidak kau pahami.”
“Aku memahami enam tamparan dengan sangat baik.”
Wajahnya memucat.
“Aku kehilangan kendali.”
“Kau kehilangan kendali enam kali?”
Dia diam.
Kemudian matanya beralih kepada Ayah.
“Arthur, ini masalah rumah tangga.”
Ayah menjawab tenang, “Kalau begitu mengapa uang perusahaan ada di rekening kekasihmu?”
Grant langsung terdiam.
Aku melihat ketakutan muncul di matanya.
Saat itulah aku sadar bahwa Grant tidak datang untuk menyelamatkan pernikahan kami.
Dia datang karena kerajaan bisnisnya sedang terbakar.
“Aku bisa menjelaskan semuanya,” katanya.
“Tolong jelaskan kepada auditor dan pengacara,” jawabku.
Aku berbalik.
Grant tiba-tiba berteriak, “Claire, kau tidak punya apa-apa tanpa aku!”
Langkahku berhenti.
Kalimat itu sudah sering kudengar selama tujuh tahun.
Aku berbalik perlahan.
“Apa maksudmu?”
“Kau pikir karena ayahmu kaya, kau punya kekuasaan? Semua aset rumah tangga atas namaku. Rumah, mobil, rekening. Kau akan keluar dari pernikahan ini tanpa apa pun.”
Anehnya, Ayah justru tersenyum.
“Grant,” katanya, “kau benar-benar tidak pernah membaca dokumen yang kau tanda tangani, ya?”
Grant menatapnya.
Ayah menyerahkan sebuah map kepada pengacaranya.
Barulah rahasia terbesar dalam pernikahanku terbuka.
Tujuh tahun lalu, ketika Grant membutuhkan modal untuk menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut, sebuah perusahaan investasi bernama Northbridge Holdings membeli empat puluh dua persen saham Whitmore Pacific.
Grant selalu mengira Northbridge adalah investor institusional asing.
Padahal pemilik manfaat akhirnya adalah sebuah trust keluarga.
Namanya Claire Vance Trust.
Aku bahkan tidak mengetahuinya.
Aku menatap Ayah dengan mata membesar.
“Ayah?”
“Itu warisan ibumu. Ayah tidak pernah memberitahumu karena ibumu meminta agar uang itu baru kau ketahui ketika kau benar-benar membutuhkannya.”
Grant mundur satu langkah.
“Tidak mungkin.”
Pengacara membuka dokumen.
“Dengan kepemilikan empat puluh dua persen dan dukungan pemegang saham minoritas yang sudah menandatangani surat kuasa pagi ini, Nyonya Claire memiliki hak suara efektif untuk meminta restrukturisasi dewan.”
Wajah Grant kehilangan seluruh warnanya.
Selama tujuh tahun, dia memperlakukanku seperti perempuan yang hidup dari uangnya.
Padahal tanpa sadar, dia membangun kerajaannya di atas modal milikku.
Siang itu, dewan direksi mengeluarkan keputusan sementara.
Grant dinonaktifkan sebagai CEO sampai audit selesai.
Vanessa diberhentikan dari semua posisi konsultasi.
Semua transaksi dengan Cole Strategic Advisory dibekukan.
Namun kejutan terbesar datang malam harinya.
Vanessa menghubungiku.
Awalnya aku ingin mengabaikannya.
Lalu sebuah pesan masuk.
Aku punya sesuatu tentang Grant. Kalau kau ingin tahu kebenaran, temui aku.
Kami bertemu di sebuah kafe hotel dengan dua anggota keamanan duduk beberapa meja jauhnya.
Vanessa datang tanpa riasan. Tidak ada lagi perempuan angkuh yang mengenakan jubahku.
“Aku tahu kau membenciku,” katanya.
“Aku tidak datang untuk membicarakan perasaan.”
Tangannya gemetar ketika mengeluarkan flash drive.
“Grant berencana menjadikan aku kambing hitam.”
Aku menatapnya.
Vanessa menjelaskan bahwa seluruh perusahaan konsultasinya memang dibuat atas perintah Grant. Awalnya dia percaya Grant akan menceraikanku dan menikahinya. Grant memintanya menerima sejumlah pembayaran dengan alasan efisiensi pajak.
Namun dua minggu sebelumnya, Vanessa menemukan dokumen yang menunjukkan semua transaksi bermasalah sengaja dibuat menggunakan tanda tangan digital miliknya.
“Kalau audit terjadi, aku yang akan jatuh.”
“Dan sekarang kau ingin aku menyelamatkanmu?”
Vanessa menunduk.
“Tidak. Aku hanya tidak mau jatuh sendirian.”
Flash drive itu berisi email, rekaman suara dan salinan instruksi Grant.
Bukti itu akhirnya diserahkan kepada pengacara dan penyidik.
Tiga bulan kemudian, aku resmi menggugat cerai.
Grant kehilangan jabatan, sebagian besar sahamnya dijadikan jaminan untuk menyelesaikan kewajiban perusahaan, dan kasus keuangan terhadapnya masuk proses hukum.
Vanessa menjadi saksi yang bekerja sama dengan penyidik.
Aku tidak memaafkannya.
Tetapi aku juga berhenti membencinya.
Karena akhirnya aku memahami sesuatu.
Grant tidak pernah benar-benar mencintai salah satu dari kami.
Dia hanya mencintai orang selama orang itu berguna baginya.
Enam bulan kemudian, aku berdiri di balkon kantor pusat Vance Logistics Indonesia, memandang Jakarta yang perlahan diterangi matahari pagi.
Ayah menghampiriku.
“Kau masih menyesal?”
“Menyesal tentang apa?”
“Memintaku tidak menunjukkan belas kasihan.”
Aku tersenyum kecil.
“Ayah sebenarnya tidak menghancurkannya, kan?”
Ayah menggeleng.
“Tidak.”
Grant sering mengatakan kepada semua orang bahwa Arthur Vance menghancurkan hidupnya karena dendam seorang ayah.
Namun kenyataannya jauh lebih sederhana.
Ayah hanya menarik semua perlindungan yang selama bertahun-tahun diberikan kepadanya.
Kontrak yang diberikan karena aku.
Investor yang percaya karena reputasi keluargaku.
Jaringan bisnis yang dibuka karena pernikahan kami.
Begitu semuanya ditarik, Grant tidak dihancurkan oleh Ayah.
Dia dihancurkan oleh apa yang selama ini dia sembunyikan sendiri.
Aku menyentuh pipiku.
Bekas luka kecil di dekat tulang pipi masih ada.
Dulu aku ingin menghilangkannya.
Sekarang tidak lagi.
Itu mengingatkanku pada malam ketika aku kehilangan rumah, suami, dan kehidupan yang kukira sempurna.
Namun malam itu pula aku mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih penting.
Diriku sendiri.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
Claire, ini Grant. Aku hanya ingin satu kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
Aku membaca pesan itu tanpa merasakan apa pun.
Lalu kuhapus.
Ayah menatapku.
“Tidak mau menjawab?”
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas.
“Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.”
Aku berjalan menuju ruang rapat, tempat dewan sudah menungguku untuk memimpin pertemuan pertamaku sebagai ketua baru perusahaan investasi keluarga.
Di belakangku, matahari naik semakin tinggi.
Dulu Grant mengusirku ke tengah hujan karena dia yakin aku tidak memiliki tempat untuk kembali.
Dia benar tentang satu hal.
Aku memang tidak pernah kembali.
Karena akhirnya aku sadar, rumah bukanlah tempat di mana seseorang membiarkanmu tinggal.
Rumah adalah tempat di mana kau tidak perlu kehilangan harga dirimu hanya agar bisa tetap dicintai.
