ISTRiku YANG MILIARDER MENGHINAKU DI ATAS KURSI RODA SELAMA BERBULAN-BULAN. NAMUN MALAM KETIKA DIA MENYERAHKAN BUNGKUSAN PUTIH MISTERIUS KEPADA PEMBANTU MUDA KAMI DAN BERBISIK, “MASUKKAN INI KE DALAM SUPNYA,” SEMUANYA BERUBAH.

Jasmine menatap bungkusan putih kecil di telapak tangannya selama beberapa detik setelah meninggalkan ruang duduk Vanessa.

Tangannya masih gemetar.

Namun bukan karena dia takut.

Setidaknya, bukan hanya karena takut.

Ada kemarahan yang jauh lebih besar di dalam dadanya.

Selama hidup berpindah-pindah dari satu rumah asuh ke rumah lain, Jasmine sudah terlalu sering melihat orang berkuasa menganggap mereka bisa melakukan apa saja kepada orang yang lebih lemah. Mereka selalu menggunakan cara yang sama. Uang. Ancaman. Rasa takut.

Vanessa tidak berbeda.

Kesalahan Vanessa hanya satu.

Dia mengira Jasmine akan tetap menjadi gadis pendiam yang menundukkan kepala setiap kali diperintah.

Jasmine masuk ke dapur, menutup pintu, lalu mengeluarkan ponselnya.

Sebelum membuka bungkusan itu, dia memotretnya dari berbagai sisi. Setelah itu dia mengambil sebuah wadah kecil dari laci, menuangkan sebagian isi bungkusan ke dalamnya, lalu menyimpannya di saku celemek.

Sisanya tetap berada di dalam bungkusan.

Langkah kaki terdengar dari koridor.

Jasmine segera memasukkan bungkusan itu ke dalam saku.

Vanessa muncul di ambang pintu.

“Supnya sudah siap?”

“Hampir, Nyonya.”

Vanessa menatap panci di atas kompor.

“Pastikan dia menghabiskannya.”

Jasmine mengangguk.

“Baik.”

Vanessa tersenyum tipis lalu pergi.

Begitu suara sepatunya menghilang, Jasmine mengembuskan napas panjang.

Lima belas menit kemudian, dia membawa nampan makan malam ke kamarku.

Saat itu aku sedang menatap laporan perusahaan melalui tablet. Sejak kecelakaan, sebagian besar direktur mulai memperlakukanku seperti orang yang sudah pensiun paksa. Vanessa bahkan berulang kali mendorongku menyerahkan hak suara di perusahaan kepadanya.

Katanya agar aku bisa “fokus pada pemulihan”.

Entah kenapa, malam itu kalimat tersebut tiba-tiba terasa sangat mencurigakan.

Jasmine meletakkan sup di meja.

“Pak Michael.”

Aku mengangkat kepala.

Wajahnya pucat.

“Ada apa?”

Dia tidak langsung menjawab.

Matanya melirik ke arah pintu.

Kemudian dia berjalan mendekat dan berbisik sangat pelan.

“Jangan makan sup ini.”

Aku mengerutkan kening.

“Apa?”

Jasmine mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto.

Bungkusan putih.

Kemudian rekaman suara mulai terdengar.

Suara Vanessa.

“Masukkan ini ke dalam sup suamiku malam ini.”

Dadaku seolah berhenti bekerja.

Aku menatap Jasmine.

“Apa itu?”

“Saya belum tahu.”

“Vanessa memberikannya kepadamu?”

Jasmine mengangguk.

“Dia menawarkan lima puluh ribu dolar. Kalau saya menolak, dia bilang akan menuduh saya mencuri.”

Aku kembali menatap layar ponsel.

Suara istriku terdengar begitu tenang.

Tidak ada keraguan.

Tidak ada kemarahan.

Justru itulah yang paling mengerikan.

Dia mengucapkannya seperti seseorang yang sedang meminta gula ditambahkan ke kopi.

Aku merasa mual.

“Kenapa kamu merekamnya?”

Jasmine terdiam sesaat.

“Karena orang seperti dia tidak takut pada kebenaran, Pak.”

Dia menatapku.

“Mereka takut pada bukti.”

Malam itu kami tidak menghubungi polisi.

Bukan karena aku ingin melindungi Vanessa.

Aku hanya ingin mengetahui seberapa jauh rencananya sudah berjalan.

Jasmine mengganti supku dengan sup baru. Mangkuk yang seharusnya kubawa makan disimpan di lemari pendingin dalam wadah tertutup.

Kepada Vanessa, kami berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Keesokan paginya, aku sengaja mengatakan tubuhku terasa lemas.

Vanessa yang sedang minum kopi langsung menatapku.

“Lemas?”

“Sedikit pusing.”

Ada perubahan sangat kecil di wajahnya.

Hampir tidak terlihat.

Namun aku melihatnya.

Kepuasan.

Dia berdiri lalu menyentuh bahuku.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, suaranya terdengar lembut.

“Kamu harus lebih banyak istirahat, Michael.”

Aku menatap tangannya di bahuku dan menahan keinginan untuk menepisnya.

“Sepertinya begitu.”

Siang itu, saat Vanessa pergi, Jasmine membawa sampel bubuk tersebut ke sebuah laboratorium swasta di Jakarta menggunakan nama orang lain.

Hasilnya keluar dua hari kemudian.

Zat itu bukan sesuatu yang akan membunuhku seketika.

Justru jauh lebih licik.

Jika dikonsumsi berulang, zat tersebut dapat memperburuk kondisiku, menyebabkan kebingungan, kelemahan ekstrem, gangguan jantung, dan dalam jumlah tertentu berpotensi fatal.

Aku membaca hasil laboratorium berkali-kali.

Lalu aku teringat sesuatu.

Selama tiga bulan terakhir, kondisiku memang sering memburuk tanpa alasan.

Pusing.

Mual.

Sulit berkonsentrasi.

Dokter mengira itu efek obat dan stres pascakecelakaan.

Aku menatap Jasmine.

“Ini bukan pertama kalinya.”

Wajah Jasmine berubah.

“Apa maksud Bapak?”

“Vanessa tidak baru memulainya malam itu.”

Aku meminta Jasmine mengambil semua obat yang biasa disiapkan untukku.

Kami memeriksanya.

Beberapa kapsul berbeda bentuk dari resep asli.

Saat itulah aku akhirnya menghubungi seseorang yang selama bertahun-tahun kupercayai.

Adrian Prasetyo, kepala bagian hukum perusahaan sekaligus sahabatku sejak kami masih merintis bisnis di sebuah kantor sewaan kecil di Bandung.

Aku menunjukkan semuanya kepadanya.

Adrian tidak berbicara hampir satu menit.

Kemudian dia berkata, “Kita harus lapor polisi.”

“Belum.”

“Michael, istrimu mencoba membunuhmu.”

“Aku tahu.”

“Lalu apa yang masih kamu tunggu?”

Aku menatap jendela.

“Kalau Vanessa hanya ingin aku mati, dia bisa melakukannya sejak lama.”

Aku menoleh kepadanya.

“Dia sedang menunggu sesuatu.”

Kami segera mengetahui apa itu.

Tiga hari kemudian, Vanessa masuk ke ruang kerjaku membawa beberapa dokumen.

Dia mengenakan gaun putih sederhana, rambutnya terikat rapi, senyum lembut di wajahnya.

Senyum yang dulu membuatku jatuh cinta.

“Aku sudah bicara dengan pengacara,” katanya.

“Tentang?”

“Perusahaan.”

Dia meletakkan dokumen di meja.

“Kondisimu tidak stabil. Dewan butuh kepastian.”

Aku membaca halaman pertama.

Surat kuasa.

Jika kutandatangani, Vanessa akan memperoleh hak untuk mewakiliku dalam sejumlah keputusan finansial dan kepemilikan saham.

“Jadi ini yang kamu inginkan?”

Vanessa menghela napas seolah aku anak kecil yang sulit diatur.

“Aku ingin melindungi apa yang sudah kita bangun.”

“Kita?”

Dia tersenyum.

“Kita suami istri.”

Aku hampir tertawa.

Namun aku mengambil pena.

Vanessa menatapku tajam.

Aku menandatangani.

Setidaknya dia mengira begitu.

Dokumen itu telah diganti Adrian sehari sebelumnya.

Tanda tanganku berada di salinan yang tidak memiliki kekuatan hukum.

Vanessa pergi malam itu dengan wajah kemenangan.

Dan mulai saat itu, dia menjadi semakin ceroboh.

Jasmine merekam percakapannya dengan seorang pria bernama Richard.

Richard ternyata konsultan keuangan yang diam-diam berhubungan dengan Vanessa.

Bukan hanya secara profesional.

Suatu malam, kamera keamanan yang dipasang Adrian menangkap mereka berciuman di ruang kerja.

Namun yang membuat darahku membeku adalah percakapan setelahnya.

“Berapa lama lagi?” tanya Richard.

“Dokternya sudah percaya kondisinya memburuk.”

“Kalau dia mati terlalu cepat, akan mencurigakan.”

Vanessa tertawa kecil.

“Kecelakaan saja tidak berhasil. Kali ini aku tidak akan terburu-buru.”

Aku memutar rekaman itu tiga kali.

Kalimat yang sama terus terdengar di kepalaku.

Kecelakaan saja tidak berhasil.

Aku menoleh kepada Adrian.

“Apa maksudnya?”

Kami kemudian membuka kembali laporan kecelakaanku.

Polisi waktu itu menyimpulkan kecelakaan terjadi karena jalan licin dan kegagalan kendali kendaraan.

Namun setelah seorang ahli independen memeriksa sisa kendaraan yang masih tersimpan di gudang perusahaan asuransi, ditemukan sesuatu yang tidak pernah masuk laporan awal.

Sistem pengereman telah dimanipulasi.

Bukan kerusakan akibat benturan.

Seseorang telah melakukannya sebelum aku berangkat malam itu.

Aku merasa seluruh tubuhku membeku.

Malam sebelum kecelakaan, mobilku berada di rumah.

Dan hanya dua orang yang memiliki akses ke garasi pribadi.

Aku.

Dan Vanessa.

Aku tidak tidur malam itu.

Bukan karena takut mati.

Aku sedang berduka.

Bukan atas kakiku.

Bukan atas pernikahanku.

Melainkan atas orang yang selama ini kukira pernah mencintaiku.

Seminggu kemudian kami menjalankan bagian terakhir dari rencana.

Aku berpura-pura sakit parah setelah makan malam.

Gelas jatuh dari tanganku.

Tubuhku terkulai di kursi roda.

Jasmine berteriak.

Vanessa berlari turun.

“Apa yang terjadi?”

“Saya tidak tahu!” Jasmine menangis pura-pura panik. “Setelah makan sup, tiba-tiba Pak Michael seperti ini.”

Vanessa menatapku.

Kemudian dia menatap Jasmine.

“Apa kamu memasukkannya?”

Jasmine mengangguk cepat.

“Semuanya.”

Untuk sepersekian detik, ekspresi Vanessa berubah.

Bukan ketakutan.

Kelegaan.

Dia mendekat dan memeriksa napasku.

“Panggil ambulans,” katanya.

Namun suaranya sama sekali tidak terdengar seperti seorang istri yang baru melihat suaminya sekarat.

Ambulans datang.

Aku dibawa pergi.

Vanessa ikut ke rumah sakit.

Dua jam kemudian, seorang dokter keluar dan mengatakan bahwa kondisiku sangat kritis.

Semuanya bagian dari rencana yang telah disetujui polisi.

Vanessa duduk sendirian di ruang tunggu.

Richard datang tiga puluh menit kemudian.

Mereka tidak tahu mikrofon telah dipasang di bawah meja.

“Apa dia akan mati?” bisik Richard.

“Dokter bilang mungkin.”

“Dan dokumennya?”

“Sudah kutandatangani sebagai saksi. Begitu dia mati, aku akan urus sisanya.”

Richard menghela napas lega.

Vanessa menggenggam tangannya.

“Setelah ini selesai, kita tidak perlu bersembunyi lagi.”

Saat itulah pintu terbuka.

Dua petugas kepolisian masuk.

Vanessa berdiri.

“Ada apa?”

Kemudian aku muncul dari koridor dengan kursi rodaku.

Wajah Vanessa kehilangan warna.

“Michael?”

Aku berhenti beberapa meter di depannya.

Untuk pertama kali sejak kecelakaan, dialah yang terlihat tidak berdaya.

“Kamu seharusnya…”

“Mati?”

Dia tidak menjawab.

Richard mundur.

Polisi langsung menghentikannya.

Aku menatap perempuan yang pernah kujanjikan akan kucintai seumur hidup.

“Aku tahu tentang bubuk itu.”

Vanessa menggeleng.

“Itu Jasmine. Dia yang melakukannya.”

Aku tersenyum pahit.

“Tentu saja.”

Jasmine kemudian keluar dari ruangan sebelah.

Vanessa menatapnya seperti melihat hantu.

“Kamu…”

Jasmine mengeluarkan ponselnya.

“Saya merekam semuanya, Nyonya.”

Vanessa mulai panik.

“Dia berbohong! Gadis itu pencuri!”

Adrian muncul membawa berkas laboratorium, rekaman kamera, bukti transaksi Vanessa kepada Richard, dan laporan pemeriksaan kendaraan.

Satu per satu diletakkan di meja.

Senyum Vanessa akhirnya benar-benar menghilang.

Polisi memborgolnya malam itu.

Richard juga ditahan.

Investigasi yang berlangsung beberapa bulan kemudian mengungkap bahwa Vanessa telah merencanakan kecelakaanku bersama Richard setelah mengetahui klausul tertentu dalam perjanjian saham perusahaan dan polis asuransiku.

Jika aku meninggal, Vanessa akan menerima aset dalam jumlah sangat besar.

Namun ada fakta yang bahkan Vanessa sendiri tidak tahu.

Bertahun-tahun sebelum kecelakaan, ketika perusahaan mulai bernilai miliaran, aku mengubah struktur kepemilikannya.

Sebagian besar sahamku tidak pernah tercatat sebagai aset pribadi yang otomatis diwariskan kepada pasangan.

Saham itu berada dalam sebuah yayasan.

Dan ada satu ketentuan khusus.

Jika kematianku terjadi karena tindakan kriminal seseorang yang seharusnya menjadi ahli waris, orang tersebut kehilangan seluruh hak finansial.

Vanessa hampir membunuhku demi mendapatkan kekayaan yang sejak awal tidak akan pernah bisa dia miliki.

Setahun kemudian, pengadilan menjatuhkan hukuman panjang kepada Vanessa dan Richard.

Aku tidak pernah kembali berjalan.

Dokter ternyata benar tentang itu.

Namun ternyata mereka salah mengenai satu hal.

Kehidupanku tidak berakhir ketika kakiku berhenti bergerak.

Aku kembali memimpin perusahaan.

Aku mendirikan sebuah yayasan untuk membantu penyandang disabilitas mendapatkan akses teknologi, pekerjaan, dan pendampingan hukum.

Sedangkan Jasmine?

Aku menawarkan uang sebagai ucapan terima kasih.

Dia menolak.

“Saya tidak menolong Bapak supaya dibayar.”

“Lalu apa yang kamu inginkan?”

Dia tersenyum malu.

“Saya ingin kuliah.”

Aku tertawa.

“Kalau begitu, jangan minta sesuatu yang terlalu mudah.”

Empat tahun kemudian, Jasmine berdiri di atas panggung sebuah universitas di Jakarta menerima gelar sarjananya di bidang hukum.

Aku duduk di barisan depan.

Setelah acara selesai, dia menghampiriku sambil membawa map kelulusan.

“Ada sesuatu yang belum pernah saya ceritakan kepada Bapak.”

“Apa?”

Dia mengeluarkan selembar foto lama.

Di dalamnya ada seorang perempuan muda berdiri di depan sebuah panti asuhan sambil menggendong anak kecil.

Aku menatapnya.

“Siapa dia?”

“Ibu saya.”

Aku menatap Jasmine dengan bingung.

Dia melanjutkan.

“Ibu saya pernah bekerja untuk keluarga Vanessa.”

Dadaku terasa sesak.

Jasmine menatap foto itu.

“Dia dipecat setelah menuduh ayah Vanessa melakukan penipuan. Tidak ada yang percaya padanya. Setelah kehilangan pekerjaan, hidup kami runtuh. Saya akhirnya masuk sistem pengasuhan.”

Aku terdiam lama.

“Jadi sejak awal kamu tahu siapa Vanessa?”

Jasmine mengangguk.

“Tidak ketika pertama bekerja di rumah Bapak. Saya baru sadar setelah melihat foto keluarganya.”

Aku menatapnya.

“Kalau begitu… kamu membantuku karena ingin membalas dendam?”

Jasmine tersenyum kecil.

“Awalnya saya kira begitu.”

“Lalu?”

Dia memandang kursi rodaku.

“Kemudian saya melihat bagaimana dia memperlakukan Bapak.”

Jasmine memasukkan foto itu kembali ke tasnya.

“Saat itu saya sadar saya tidak ingin menghancurkan Vanessa karena apa yang keluarganya lakukan kepada ibu saya.”

Dia menatapku lurus.

“Saya hanya ingin menghentikan dia sebelum dia menghancurkan orang lain.”

Aku tidak langsung menjawab.

Selama bertahun-tahun aku mengira kekuasaan berarti memiliki perusahaan, uang, rumah besar, dan ribuan orang yang mengenal namaku.

Kecelakaan merenggut semua ilusi itu.

Vanessa mengira kursi roda membuatku lemah.

Aku juga sempat mempercayainya.

Namun pada akhirnya, orang yang menyelamatkan hidupku bukan pengacara mahal, bukan direktur perusahaan, bukan teman-teman berkuasa yang dulu memenuhi pesta-pestaku.

Dia adalah seorang gadis muda yang oleh istriku dianggap tidak memiliki keluarga, uang, atau perlindungan.

Seseorang yang katanya bukan siapa-siapa.

Dan mungkin itulah pelajaran paling mahal yang pernah kupelajari.

Jangan pernah mengukur kekuatan seseorang dari jumlah uang di rekeningnya, jabatan di kartu namanya, atau seberapa keras suaranya ketika memasuki sebuah ruangan.

Terkadang orang paling kuat adalah orang yang selama ini tidak diperhatikan siapa pun.

Karena ketika semua orang memilih menundukkan kepala demi keselamatan mereka sendiri, satu orang yang berani mengatakan tidak sudah cukup untuk mengubah segalanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang