Angin menghantam wajahku begitu keras sampai mataku nyaris tidak bisa terbuka.
Di atas sana, helikopter yang baru saja menjadi tempat suamiku mencoba membunuhku berputar liar seperti mainan rusak. Asap hitam mengepul dari bagian belakangnya, lalu api mulai menjilat badan pesawat.
Namun bukan kobaran api itu yang membuat darahku terasa membeku.
Melainkan perempuan yang muncul dari pintu kabin.
Dia berpegangan pada rangka pintu sambil menjerit, rambut panjangnya berkibar diterpa angin. Dari jarak ratusan meter, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Tapi aku mengenali mantel merah itu.

Sofia Mercer.
Asisten pribadi Ethan.
Perempuan yang selama dua tahun terakhir selalu tersenyum kepadaku setiap kali kami bertemu.
Perempuan yang berkali-kali berkata betapa beruntungnya aku memiliki suami seperti Ethan.
Dan perempuan yang menurut penyelidik pribadiku telah menginap bersama Ethan di sebuah hotel di Los Angeles sedikitnya enam kali dalam empat bulan terakhir.
Aku menatap helikopter itu tanpa berkedip.
Jadi Sofia berada di sana.
Pertanyaannya bukan lagi mengapa.
Pertanyaannya adalah apakah dia datang sebagai kaki tangan Ethan atau sebagai korban berikutnya.
Parasutku terus membawa tubuhku turun menuju Samudra Pasifik.
Aku memeluk perutku dengan kedua tangan.
“Tolong bertahan,” bisikku. “Sebentar lagi kita sampai.”
Aku sudah berlatih melakukan pendaratan darurat selama hampir tiga bulan.
Bukan karena aku yakin Ethan akan mendorongku dari helikopter. Bahkan dalam mimpi terburukku, aku tidak pernah membayangkan dia akan memilih cara sekejam itu.
Namun ketika penyelidikku menemukan pencarian internet tentang kecelakaan udara di laptop rahasia Ethan, aku memutuskan tidak ada persiapan yang terlalu berlebihan.
Permukaan laut semakin dekat.
Aku menekuk lutut, mengatur posisi tubuh seperti yang diajarkan instrukturnya.
Tubuhku menghantam air.
Dingin menyergapku begitu keras hingga napasku lenyap.
Aku tenggelam beberapa detik sebelum parasut menarik tubuhku ke satu sisi.
Panik mulai muncul.
Aku memaksa tangan yang gemetar untuk melepaskan pengikat.
Satu.
Dua.
Lepas.
Aku berenang menuju permukaan dan menghirup udara sekeras mungkin.
Di kejauhan terdengar dentuman.
Ketika menoleh, aku melihat asap membumbung dari balik tebing berbatu di pesisir.
Helikopter itu jatuh di daratan.
Aku tidak tahu apakah Ethan selamat.
Anehnya, pikiran pertama yang muncul bukan rasa lega.
Aku justru berharap dia hidup.
Kematian terlalu mudah untuknya.
Beberapa menit kemudian, suara mesin mendekat.
Sebuah kapal kecil milik penjaga pantai melaju ke arahku.
Salah satu petugas menarikku naik.
“Bu, Anda terluka?”
“Saya hamil.”
Wajahnya langsung berubah.
“Kandungan enam bulan.”
Mereka membaringkanku dan mulai memeriksa kondisiku.
Aku menggigil hebat, tetapi tetap sadar.
“Helikopter,” kataku.
“Kami sudah menerima sinyal kecelakaan.”
“Ada dua orang di dalam.”
Petugas itu menatapku.
“Pilot dan suami Anda?”
Aku menggeleng.
“Suamiku yang berada di kabin. Tapi ada seorang perempuan juga.”
Petugas itu terlihat bingung.
Menurut daftar penerbangan yang tercatat, hanya ada tiga orang.
Pilot.
Ethan.
Dan aku.
Sofia tidak pernah didaftarkan.
Saat itulah aku tahu semuanya jauh lebih besar daripada sekadar perselingkuhan.
Aku dibawa ke rumah sakit di Santa Barbara.
Dokter memeriksa bayiku hampir satu jam.
Ketika akhirnya suara detak jantung kecil itu terdengar melalui monitor, aku menangis untuk pertama kalinya sejak jatuh dari helikopter.
“Bayi Anda stabil,” kata dokter. “Tapi Anda perlu beristirahat dan tetap dalam pengawasan.”
Aku mengangguk.
Lalu pintu ruangan terbuka.
Seorang pria berjas abu-abu masuk.
Daniel Reyes.
Penyelidik swasta yang sudah bekerja untukku selama enam bulan.
Dia berhenti ketika melihat kondisiku.
“Victoria.”
“Ethan?”
Daniel menarik kursi.
“Masih hidup.”
Aku menutup mata.
Bukan karena kecewa.
Karena lega.
“Pilot meninggal di lokasi. Ethan mengalami patah tulang dan luka bakar. Sofia selamat, tapi kondisinya kritis.”
“Kenapa dia ada di sana?”
Daniel tidak langsung menjawab.
Dia mengeluarkan ponselnya.
“Kami menemukan sesuatu pagi ini. Saya hendak menelepon Anda sebelum penerbangan, tapi ponsel Anda sudah dimatikan.”
Dia menunjukkan sebuah foto.
Sebuah dokumen transfer saham.
Namaku tercantum di sana.
Tanda tanganku juga.
Namun aku tidak pernah menandatanganinya.
Jika aku meninggal, sebagian besar hak suara perusahaanku akan berpindah ke sebuah perusahaan investasi bernama Meridian Capital.
Aku pernah mendengar nama itu.
Meridian adalah salah satu kreditur terbesar Ethan.
“Dipalsukan?”
Daniel mengangguk.
“Dan Sofia yang menyiapkan dokumennya.”
Aku merasa dada sesak.
“Jadi mereka bekerja sama.”
“Awalnya, iya.”
“Awalnya?”
Daniel menunjukkan pesan lain.
Sofia ternyata menghubungi firma hukumnya tiga hari sebelumnya.
Dia ingin menyerahkan bukti bahwa Ethan telah merencanakan pembunuhanku.
“Dia berubah pikiran,” kataku.
“Sepertinya begitu.”
Menurut pesan-pesan itu, Ethan berjanji kepada Sofia bahwa setelah aku mati, mereka akan menikah dan pindah ke Eropa.
Namun dua minggu sebelumnya, Sofia menemukan percakapan rahasia Ethan dengan seseorang dari Meridian.
Isi pesannya sederhana.
Setelah kematianku dinyatakan sebagai kecelakaan, Sofia juga harus disingkirkan.
Dia tahu terlalu banyak.
“Dia naik helikopter untuk memperingatkanmu,” kata Daniel. “Kami belum tahu bagaimana dia masuk tanpa tercatat.”
Aku menatap langit-langit.
Untuk sesaat, aku tidak tahu apakah harus membenci perempuan itu atau berterima kasih kepadanya.
“Apa yang menyebabkan helikopter jatuh?”
Daniel menarik napas.
“Sofia.”
Aku menoleh tajam.
“Sebelum lepas landas, dia menyabotase sistem bahan bakar.”
Aku terdiam.
“Itu gila.”
“Dia tidak bermaksud menjatuhkan pesawat saat Anda masih berada di dalam. Berdasarkan pesan terakhir yang dia kirim ke pengacaranya, dia berencana memaksa Ethan mendarat setelah Anda mengetahui semuanya.”
“Dia tahu Ethan akan mendorongku?”
Daniel tidak menjawab.
Aku sudah mendapatkan jawabannya.
Ya.
Sofia tahu.
Dan dia membiarkannya terjadi karena dia juga tahu aku memakai parasut.
Seseorang telah membocorkan persiapanku.
Aku menatap Daniel.
“Siapa yang memberitahunya tentang parasutku?”
Wajah Daniel menegang.
Itu hanya berlangsung satu detik.
Tapi aku melihatnya.
Dan satu detik itu cukup.
Aku meraih tombol panggilan perawat sambil tetap menatap matanya.
“Victoria, dengarkan dulu.”
“Kamu memberitahunya.”
“Sofia menghubungi saya seminggu lalu.”
“Jadi kamu bekerja sama dengannya?”
“Saya mencoba menyelamatkan Anda.”
“Dengan membiarkan suamiku mendorongku dari helikopter?”
Daniel berdiri.
“Kami membutuhkan bukti percobaan pembunuhan. Kalau kami menghentikan Ethan sebelumnya, pengacaranya akan mengatakan semua dokumen itu tidak membuktikan niat untuk membunuh.”
Aku hampir tidak percaya.
“Kalian menjadikan aku umpan.”
“Saya memastikan Anda punya parasut. Penjaga pantai juga sudah berada dalam radius dekat karena laporan anonim yang saya buat.”
Aku menatapnya dengan jijik.
“Kamu mempertaruhkan nyawa anakku.”
Daniel terdiam.
Pintu terbuka sebelum dia sempat menjawab.
Dua petugas polisi masuk.
Daniel langsung dibawa keluar untuk dimintai keterangan.
Aku tidak pernah mempekerjakannya lagi.
Tiga hari kemudian, kondisiku stabil.
Ethan ditempatkan di ruang perawatan berbeda dengan penjagaan polisi.
Para penyidik menemukan rekaman kamera di helikopter yang Ethan kira sudah dia hapus.
Kamera itu merekam semuanya.
Tangannya mencengkeram lenganku.
Senyumnya.
Dorongannya.
Bahkan kalimat terakhir yang dia ucapkan tepat sebelum menjatuhkanku.
“Sampai jumpa di kehidupan berikutnya, Victoria.”
Rekaman itu menghancurkan seluruh pembelaannya.
Namun aku belum puas.
Aku meminta pengacaraku datang ke rumah sakit.
“Aktifkan dokumen baru.”
Dia menatapku.
“Anda yakin?”
“Seratus persen.”
Beberapa bulan sebelum penerbangan, aku telah mengubah struktur warisan.
Jika aku meninggal akibat kecelakaan atau sebab alami, Ethan memang masih menerima sebagian aset.
Aku sengaja membiarkannya percaya begitu.
Namun ada klausul tersembunyi.
Jika kematianku terbukti melibatkan tindak kriminal yang dilakukan atau direncanakan pasangan hidupku, seluruh hak waris Ethan batal.
Bukan hanya itu.
Saham yang selama pernikahan sempat kuberikan kepadanya melalui perjanjian tertentu akan kembali ke sebuah yayasan.
Yayasan perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan.
Ethan tidak hanya gagal mendapatkan kekayaanku.
Dia kehilangan hampir semua yang sudah dia dapatkan dariku.
Tapi kejutan terbesar datang seminggu kemudian.
Sofia sadar.
Dia meminta bertemu denganku.
Aku hampir menolak.
Namun akhirnya aku masuk ke kamarnya.
Wajahnya penuh memar. Salah satu lengannya dibalut. Dia terlihat jauh berbeda dari perempuan sempurna yang selama ini selalu berdiri di belakang meja Ethan.
“Kenapa?” tanyaku.
Air matanya langsung jatuh.
“Karena aku bodoh.”
Aku tidak menjawab.
“Aku jatuh cinta kepadanya,” lanjut Sofia. “Dia bilang kamu dingin. Katanya pernikahan kalian sudah berakhir dan kamu cuma mempertahankannya karena citra perusahaan.”
“Kamu percaya?”
“Karena aku ingin percaya.”
Dia menunduk.
“Awalnya aku membantu memalsukan dokumen karena Ethan bilang itu hanya untuk melindungi bagian yang menjadi haknya jika kalian bercerai. Ketika aku sadar dia ingin membunuhmu, semuanya sudah terlalu jauh.”
“Jadi kamu memutuskan membantu Daniel menjadikan aku umpan.”
Sofia menangis.
“Aku tidak tahu Daniel akan membiarkan dia benar-benar mendorongmu. Aku kira dia akan menghentikannya sebelum itu.”
Aku menatapnya lama.
“Kenapa kamu menyabotase helikopter?”
Wajah Sofia pucat.
“Karena setelah kamu didorong, Ethan mengatakan sesuatu.”
“Apa?”
Sofia mengangkat matanya.
“Dia bilang sekarang tinggal aku.”
Ruangan mendadak terasa dingin.
Ethan mencoba mendorong Sofia keluar juga.
Mereka berkelahi.
Dalam kekacauan itu, helikopter kehilangan kendali.
Pilot mencoba melakukan pendaratan darurat, tetapi sudah terlambat.
“Maaf,” bisik Sofia.
Aku berdiri.
“Aku belum bisa memaafkanmu.”
Dia mengangguk sambil menangis.
“Tapi aku akan mengatakan yang sebenarnya.”
Itulah yang dia lakukan.
Kesaksiannya melengkapi seluruh rangkaian bukti.
Enam bulan kemudian, persidangan Ethan dimulai.
Media menyebutnya sebagai kasus paling sensasional tahun itu.
Suamiku masuk ruang sidang menggunakan kursi roda.
Ketika melihatku, dia tersenyum.
Senyum lama itu.
Senyum yang dulu membuatku jatuh cinta.
Sekarang tidak menghasilkan apa-apa.
“Victoria,” katanya saat kami berpapasan. “Kita bisa menyelesaikan ini.”
Aku berhenti.
“Aku sudah menyelesaikannya.”
Wajahnya berubah.
Aku mendekat sedikit.
“Kamu salah tentang satu hal, Ethan.”
Dia menatapku.
“Kamu pikir aku mempersiapkan parasut karena aku takut mati.”
Aku menggeleng.
“Aku mempersiapkannya karena aku ingin hidup cukup lama untuk melihatmu kehilangan segalanya.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di matanya.
Ethan akhirnya dinyatakan bersalah atas percobaan pembunuhan, penipuan, pemalsuan dokumen, dan sejumlah kejahatan finansial.
Meridian Capital ikut terseret dalam penyelidikan federal.
Beberapa eksekutifnya ditangkap.
Daniel kehilangan lisensi penyelidiknya setelah tindakannya terungkap.
Sofia menerima hukuman atas keterlibatannya dalam pemalsuan dokumen, tetapi kesaksiannya membuat hukumannya jauh lebih ringan.
Aku tidak pernah melihatnya lagi.
Tiga bulan setelah persidangan berakhir, aku melahirkan seorang bayi perempuan.
Aku menamainya Grace.
Bukan karena hidup memperlakukanku dengan lembut.
Tapi karena setelah semua yang terjadi, aku memahami satu hal.
Kesempatan kedua tidak selalu datang dalam bentuk keajaiban.
Kadang ia datang sebagai parasut yang terbuka di tengah langit.
Kadang sebagai keberanian untuk mempercayai naluri sendiri.
Dan kadang, kesempatan kedua dimulai pada saat seseorang yang kita cintai menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
Setahun kemudian, aku kembali ke tebing California tempat helikopter itu jatuh.
Aku berdiri sambil menggendong Grace.
Lautan terlihat tenang.
Sulit dipercaya bahwa tempat seindah itu pernah menjadi lokasi seseorang mencoba mengakhiri hidupku.
Grace menggenggam jariku.
Aku tersenyum.
Lalu ponselku berbunyi.
Sebuah pesan dari pengacaraku.
Mereka menemukan satu rekening tersembunyi terakhir milik Ethan.
Di dalamnya tersimpan hampir dua belas juta dolar.
Aku membaca dokumennya dua kali.
Bukan jumlah uangnya yang mengejutkanku.
Melainkan nama pemilik rekening sebelum uang itu dipindahkan.
Ayahku.
Dan di bawah transaksi terakhir, ada catatan digital bertanggal dua hari sebelum ayah meninggal.
Jika sesuatu terjadi padaku, periksa Ethan Cole.
Tanganku gemetar.
Ayahku sudah mengenal Ethan sebelum aku mengenalnya.
Lebih buruk lagi, dia sudah mencurigainya.
Aku menatap lautan, merasakan bulu kudukku berdiri.
Selama bertahun-tahun aku percaya kematian ayahku disebabkan serangan jantung.
Ethan bahkan menjadi orang yang paling banyak menghiburku setelah pemakaman.
Kini untuk pertama kalinya aku bertanya-tanya apakah pertemuan kami setelah kematian ayah memang sebuah kebetulan.
Aku segera menelepon pengacaraku.
“Buka kembali semua dokumen tentang kematian ayah.”
“Victoria, apakah Anda yakin?”
Aku menatap Grace.
Lalu ke cakrawala luas di depan kami.
“Ya.”
Karena tiba-tiba aku memahami sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada jatuh dari ketinggian empat ribu kaki.
Ethan mungkin tidak menikahiku untuk kemudian membunuhku.
Mungkin sejak awal, membunuhku memang alasan dia menikahiku.
Dan jika itu benar, aku belum selesai dengannya.
