Suamiku mematahkan tiga tulang rusukku setelah aku menampar perempuan selingkuhannya.

Nathan kembali turun.

Aku langsung menggenggam ponsel erat-erat dan menyembunyikannya di balik tubuhku. Rasa sakit dari tiga tulang rusuk yang patah membuat napasku pendek, tetapi aku memaksa diri tetap sadar.

Pintu terbuka perlahan.

Nathan berdiri di sana.

Wajahnya sudah tidak semarah sebelumnya. Justru ketenangan aneh di wajahnya membuatku semakin takut. Kemeja putihnya kusut, dua kancing teratas terbuka, dan di tangan kanannya ada segelas air.

“Sudah belajar dari kesalahanmu?” tanyanya.

Aku tidak menjawab.

Nathan menuruni tangga.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Setiap suara sepatunya menghantam beton membuat jantungku berdegup semakin cepat.

“Aku bertanya padamu, Lauren.”

“Aku mau ke rumah sakit.”

Nathan tertawa kecil.

“Supaya kamu bisa bilang aku melakukan ini?”

“Aku hampir tidak bisa bernapas.”

“Itu bukan masalahku.”

Aku menatap pria yang sudah menjadi suamiku selama enam tahun itu dan untuk pertama kalinya benar-benar memahami sesuatu.

Nathan tidak mencintaiku.

Mungkin dia tidak pernah mencintaiku.

Dia hanya mencintai apa yang bisa dia dapatkan dariku.

Nama keluargaku.

Koneksi ayahku.

Uang yang kubawa ke dalam pernikahan.

Dan yang terpenting, perlindungan yang selama bertahun-tahun diam-diam diberikan Vincent Moretti kepada menantunya.

Nathan jongkok di depanku.

“Besok pagi kita akan bicara. Kamu akan minta maaf kepada Evelyn.”

Jadi namanya Evelyn.

Aku tertawa pelan meski gerakan kecil itu membuat tulang rusukku terasa terbakar.

“Kenapa aku harus minta maaf kepada selingkuhanmu?”

Rahang Nathan mengeras.

“Karena dia bukan sekadar selingkuhanku.”

Aku menatapnya.

Nathan mendekatkan wajahnya.

“Evelyn sedang mengandung anakku.”

Dunia terasa berhenti.

Enam tahun menikah dengannya, aku sudah dua kali kehilangan kehamilan. Setiap kali itu terjadi, Nathan selalu mengatakan kami masih punya waktu.

Sekarang aku tahu mengapa dia tidak pernah terlihat terlalu kecewa.

Dia sudah membangun kehidupan lain.

“Aku akan menceraikanmu,” bisikku.

Nathan tersenyum.

“Tidak semudah itu.”

“Aku tidak menginginkan apa pun darimu.”

“Bukan itu masalahnya.”

Dia berdiri.

“Ayahmu memindahkan saham Moretti Development ke namamu tiga tahun lalu. Selama kita masih menikah, aku punya akses terhadap beberapa aset yang terhubung dengan perusahaanmu. Kalau kamu pergi sebelum transaksi selesai, semuanya berantakan.”

Darahku seperti berubah menjadi es.

Jadi ini bukan hanya perselingkuhan.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar.

Tiba-tiba suara ayah terdengar sangat kecil dari ponsel yang kusembunyikan.

“Lauren.”

Nathan membeku.

Matanya langsung mengarah kepadaku.

“Apa itu?”

Aku tidak sempat bereaksi.

Dia menerjang, menarik tanganku, lalu merebut ponsel itu.

Wajahnya berubah pucat ketika melihat nama di layar.

DAD.

Nathan menatapku seperti baru melihat hantu.

“Kamu menelepon ayahmu?”

Aku diam.

“Lauren, apa yang kamu katakan kepadanya?”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat ketakutan sungguhan di wajah suamiku.

Nathan mengangkat ponsel ke telinganya.

“Pak Moretti, dengarkan saya. Ini hanya kesalahpahaman.”

Suara ayahku terdengar cukup keras hingga aku bisa mendengarnya.

“Buka pintu depan rumahmu, Nathan.”

Nathan menoleh ke arah tangga.

Kemudian terdengar suara dari lantai atas.

Bel rumah.

Sekali.

Dua kali.

Nathan mematikan panggilan.

Dia berlari menaiki tangga dan mengunci pintu basement lagi.

Aku mendengar langkahnya menjauh.

Beberapa detik kemudian, suara mesin mobil meraung dari garasi.

Nathan kabur.

Aku tidak tahu berapa lama kemudian pintu basement terbuka lagi.

Kali ini bukan Nathan.

“Astaga, Lauren.”

Ayah berdiri di ambang pintu.

Vincent Moretti yang selama hidupku hampir tidak pernah terlihat kehilangan kendali kini tampak seperti pria yang baru saja melihat dunianya runtuh.

Di belakangnya ada dua pria berpakaian gelap.

Aku langsung panik.

“Dad, jangan.”

Ayah turun dan berlutut di sampingku.

“Aku di sini.”

“Apa yang akan Ayah lakukan pada Nathan?”

Dia tidak menjawab.

“Dad.”

Ayah menatapku.

“Aku akan membawamu ke rumah sakit.”

“Itu bukan jawabannya.”

Dia menghela napas panjang.

Aku teringat kalimat yang kuucapkan di telepon.

Jangan biarkan seorang pun dari mereka selamat.

Saat itu aku sedang kesakitan dan marah.

Sekarang kata-kata itu terasa mengerikan.

“Aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya.”

Ayah terdiam.

“Aku ingin Nathan dihukum,” lanjutku. “Tapi bukan seperti itu.”

Vincent memandangku lama, lalu mengangguk.

“Baik.”

Satu kata itu membuatku sedikit lega.

Aku dibawa ke rumah sakit malam itu.

Tiga tulang rusuk patah, memar di punggung, luka di pergelangan tangan, dan gegar ringan.

Polisi datang sebelum matahari terbit.

Aku memberikan keterangan lengkap.

Untuk pertama kalinya, aku tidak berusaha melindungi Nathan.

Tetapi ketika polisi mencari suamiku, dia sudah menghilang.

Begitu juga Evelyn.

Dua hari kemudian, pengacaraku menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk.

Nathan ternyata telah menggunakan tanda tanganku untuk menjaminkan beberapa aset perusahaan. Ada transfer dana ke perusahaan cangkang, pinjaman dengan dokumen palsu, dan jutaan dolar yang bergerak melalui rekening yang bahkan tidak kukenal.

Evelyn bukan sekadar kekasihnya.

Dia adalah direktur keuangan perusahaan investasi milik Nathan.

Kehamilannya ternyata juga bohong.

Aku mengetahuinya dari rekaman percakapan yang ditemukan polisi di laptop Nathan.

“Aku harus bilang apa kalau Lauren mulai curiga?” suara Evelyn terdengar.

“Katakan kamu hamil,” jawab Nathan. “Dia akan kehilangan kendali. Begitu dia membuat keributan, kita punya alasan untuk menggambarkannya sebagai istri yang tidak stabil.”

Aku mematikan rekaman itu sebelum selesai.

Tanganku gemetar.

Jadi semuanya direncanakan.

Bahkan pertemuan di restoran mungkin sengaja dibuat agar aku melihat mereka.

Nathan membutuhkan aku terlihat emosional.

Tidak stabil.

Berbahaya.

Dengan begitu, kalau aku menemukan transaksi ilegalnya, dia bisa mengatakan aku hanya istri pencemburu yang ingin menghancurkan reputasi suaminya.

Seminggu kemudian, polisi menemukan Evelyn di sebuah hotel dekat Bandara O’Hare.

Dia langsung menyerah.

Nathan tidak bersamanya.

Saat diperiksa, Evelyn membongkar semuanya.

Nathan berencana melarikan diri ke luar negeri setelah mentransfer aset terakhir dari perusahaan keluargaku.

Namun ada satu hal dalam keterangannya yang membuatku terdiam.

“Nathan tidak pernah takut kepada polisi,” kata detektif kepadaku. “Dia takut kepada ayah Anda.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Detektif menggeser sebuah foto di atas meja.

Foto lama.

Nathan terlihat jauh lebih muda.

Di sampingnya berdiri ayahku.

“Suami Anda sudah mengenal Vincent Moretti jauh sebelum dia mengenal Anda.”

Aku merasa ruangan itu tiba-tiba terlalu sempit.

Malam itu aku mendatangi rumah ayah.

Dia sedang duduk sendirian di ruang kerjanya.

Aku meletakkan foto itu di mejanya.

“Jelaskan.”

Ayah menatap foto tersebut dan wajahnya berubah.

“Nathan bekerja untuk Ayah?”

“Dulu.”

“Melakukan apa?”

Ayah terdiam cukup lama.

“Dia mengurus beberapa masalah bisnis.”

“Masalah bisnis seperti apa?”

“Jenis yang tidak ingin kamu ketahui.”

Aku menatap pria yang selama hidupku kupanggil ayah itu.

“Jadi Nathan menikahiku karena Ayah?”

“Tidak.”

“Jangan bohong.”

Vincent menutup mata sebentar.

“Aku memperkenalkannya kepadamu.”

Dadaku terasa sesak.

“Ayah melakukan apa?”

“Aku pikir dia sudah berubah. Dia pintar. Ambisius. Aku pikir seseorang seperti dia bisa melindungimu setelah aku tidak ada.”

Aku tertawa pahit.

“Melindungiku?”

Air mata mulai memenuhi mataku.

“Dia mematahkan tulang rusukku.”

“Aku tahu.”

“Dia mengurungku.”

“Aku tahu.”

“Semua karena Ayah membawa pria itu ke hidupku.”

Untuk pertama kalinya, Vincent Moretti tidak memiliki jawaban.

Aku meninggalkan rumahnya malam itu.

Dua minggu berlalu.

Nathan masih belum ditemukan.

Kemudian suatu pagi, aku menerima telepon dari nomor tak dikenal.

“Lauren.”

Aku langsung mengenali suaranya.

Nathan.

“Di mana kamu?”

“Tidak penting.”

“Aku akan memberikan telepon ini kepada polisi.”

“Kalau begitu ayahmu akan masuk penjara.”

Aku terdiam.

Nathan tertawa kecil.

“Akhirnya aku mendapatkan perhatianmu.”

Dia mengatakan memiliki dokumen yang bisa membuktikan keterlibatan Vincent dalam berbagai transaksi ilegal bertahun-tahun sebelumnya.

Dia meminta satu hal.

Paspor baru, lima juta dolar, dan jaminan bahwa aku akan menarik sebagian keteranganku.

Sebagai gantinya, dia akan menyerahkan bukti tentang ayahku.

“Aku tunggu sampai tengah malam,” katanya. “Pilih, Lauren. Suamimu atau ayahmu.”

Telepon terputus.

Dulu aku mungkin akan panik.

Tetapi perempuan yang dikurung di basement itu sudah tidak ada.

Aku menelepon detektif yang menangani kasusku.

Kemudian aku menelepon ayah.

Aku menceritakan semuanya.

Vincent hanya berkata, “Serahkan Nathan kepadaku.”

“Tidak.”

“Lauren.”

“Tidak ada lagi cara keluarga Moretti.”

Dia terdiam.

“Aku akan melakukan ini dengan caraku.”

Keesokan malam aku menemui Nathan di sebuah gudang kosong dekat Sungai Chicago.

Polisi sudah menempatkan alat pelacak dan perekam di tubuhku.

Nathan keluar dari bayangan.

Dia terlihat kacau.

Jenggotnya tumbuh, pakaiannya kusut, matanya merah karena kurang tidur.

“Mana uangnya?”

Aku mengangkat tas.

“Mana dokumennya?”

Dia menunjukkan sebuah flash drive.

“Ayahmu tamat setelah ini.”

Aku mendekatinya.

Nathan tersenyum.

“Lucu, ya? Pada akhirnya kamu tetap datang ketika aku memanggil.”

Aku menatap pria yang pernah kucintai itu.

“Aku datang bukan untukmu.”

Sirene terdengar.

Wajah Nathan langsung berubah.

Dia berbalik hendak lari, tetapi beberapa petugas muncul dari pintu samping.

Nathan panik.

Tangannya masuk ke balik jaket.

“Jangan bergerak!”

Dia berhenti.

Perlahan, Nathan mengangkat kedua tangannya.

Tidak ada tembakan.

Tidak ada darah.

Tidak ada kematian.

Hanya suara borgol yang mengunci pergelangan tangannya.

Saat melewatiku, dia berbisik, “Ayahmu tetap akan jatuh.”

Aku menjawab pelan, “Kalau dia bersalah, biarkan.”

Nathan menatapku seolah tidak mengenaliku lagi.

Dan mungkin memang begitu.

Flash drive itu akhirnya menjadi bukti terbesar dalam penyelidikan.

Nathan benar tentang satu hal.

Ayahku memang menyimpan rahasia.

Namun sebagian besar dokumen yang dimiliki Nathan bukan bukti pembunuhan atau kejahatan mengerikan seperti yang dia ancamkan. Isinya transaksi lama, pembayaran tidak tercatat, dan berbagai praktik bisnis yang cukup serius untuk membuat penyidik membuka kasus baru.

Vincent tidak melarikan diri.

Dia menyerahkan diri.

Sebelum masuk ke mobil pengacaranya, ayah datang menemuiku.

“Ayah bisa membuat semua ini hilang,” katanya.

“Aku tahu.”

“Tapi kamu tidak mau.”

Aku menggeleng.

Vincent tersenyum tipis.

“Akhirnya ada satu Moretti yang lebih berani daripada aku.”

Beberapa bulan kemudian, Nathan dijatuhi hukuman atas kekerasan dalam rumah tangga, penyekapan, pemalsuan dokumen, penipuan, dan sejumlah pelanggaran keuangan.

Evelyn mendapat hukuman lebih ringan karena bekerja sama dengan penyidik.

Ayah juga harus menghadapi konsekuensi atas masa lalunya.

Sedangkan aku menjual rumah di Lincoln Park.

Aku tidak sanggup melihat pintu basement itu lagi.

Pada hari terakhir sebelum pindah, aku berdiri di ruang tamu kosong dan memandangi bekas goresan di dinding tempat tubuhku pernah dihantam Nathan.

Dulu aku mengira telepon kepada ayah malam itu telah menyelamatkan hidupku.

Ternyata aku salah.

Ayah hanya membuka pintu.

Orang yang benar-benar menyelamatkanku adalah diriku sendiri ketika aku memutuskan bahwa rasa takut tidak boleh lagi menentukan siapa yang harus kulindungi.

Bukan suamiku.

Bukan ayahku.

Bahkan bukan nama keluargaku.

Aku keluar dari rumah itu dan menyerahkan kunci kepada agen properti.

Di luar, udara pagi terasa dingin.

Aku menarik napas dalam-dalam.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, tulang rusukku tidak lagi terasa sakit.

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari nomor pengacara ayah.

Vincent ingin bertemu denganmu sebelum sidang besok.

Aku menatap layar beberapa detik.

Kemudian mengetik balasan.

Aku akan datang.

Bukan sebagai putri yang meminta ayahnya menghancurkan seseorang.

Bukan sebagai istri yang menunggu seorang pria menyelamatkannya.

Aku akan datang sebagai Lauren.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, nama itu terasa cukup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang