IBUKU MERTUA MEMBONGKAR BAHWA AKU “BERSELINGKUH” DI HARI ULANG TAHUN KE-40 SUAMIKU…

Suasana ballroom yang tadinya dipenuhi suara bisik-bisik menghakimi kini mendadak sunyi senyap, seolah oksigen di ruangan itu tersedot habis. Tawa Roman bukan tawa pria yang dikhianati; itu adalah tawa seorang yang baru saja menyadari bahwa dia telah hidup dalam sebuah komedi tragis selama sepuluh tahun.

“Elena,” suara Roman rendah, dingin seperti es yang pecah. Dia memungut foto lain. “Pria ini… ini adalah Dr. Adrian, spesialis onkologi di RS Pusat, bukan?”

Doña Corazon tersenyum sinis, merasa kemenangan sudah di depan mata. “Tentu saja, Roman! Dia berselingkuh dengan dokter itu saat kau sibuk bekerja untuk perusahaan ini!”

Roman perlahan berdiri. Dia tidak lagi melihat ke arahku, melainkan menatap ibunya dengan tatapan yang membuat wanita tua itu mundur selangkah. Roman memungut selembar kertas terakhir yang terjatuh dari map tadi—kertas yang tertindih di bawah tumpukan foto. Itu adalah lembar hasil laboratorium medis.

“Ibu,” kata Roman, suaranya tenang namun bergetar hebat. “Kenapa Ibu menyimpan hasil tes DNA janin yang seharusnya digugurkan sepuluh tahun lalu?”

Dunia seakan berhenti berputar. Aku, yang masih terduduk di lantai dengan gaun penuh cokelat, menahan napas. Apa yang Roman katakan? Gugur? Sepuluh tahun lalu?

Doña Corazon tampak pucat pasi. “Itu… itu hanya masa lalu. Fokus saja pada pengkhianatannya sekarang!”

Roman mendekati ibunya, lalu menghempaskan kertas itu ke dada wanita tersebut. “Ini adalah dokumen rumah sakit yang menyatakan bahwa saat itu, Elena tidak pernah hamil, dan dia juga tidak pernah menggugurkan janin. Namun, dokumen ini juga memuat sebuah fakta mengejutkan: Ibu menyuap dokter untuk memalsukan riwayat medis Elena agar dia dianggap mandul setelah keguguran pertamanya.”

Kerumunan tamu mulai riuh. Kehebohan berpindah dari skandal perselingkuhanku menjadi skandal kejahatan keluarga mereka.

“Elena bukan berselingkuh,” lanjut Roman, matanya kini menatapku dengan penyesalan yang mendalam. “Dia selama ini pergi ke Dr. Adrian untuk menjalani pengobatan rahasia. Dia mencoba memulihkan kondisi rahimnya—yang menurut laporan medis ini, sengaja dirusak oleh seseorang melalui konsumsi obat ‘vitamin’ yang Ibu berikan setiap hari selama bertahun-tahun.”

Aku terbelalak. Selama ini, aku mengira aku memang tidak bisa hamil secara alami. Aku meminum vitamin yang diberikan ibu mertuaku dengan penuh rasa terima kasih, mengira dia menginginkan cucu. Ternyata, itu adalah racun pelan-pelan.

“Dan foto ini?” Roman mengangkat foto di kedai kopi. “Ini diambil tiga hari lalu. Itu adalah hari di mana Elena menerima hasil bahwa rahimnya akhirnya pulih. Pria itu bukan selingkuhannya. Dia adalah dokter yang menyelamatkan harapan Elena untuk menjadi ibu.”

“Roman, jangan dengarkan dia!” jerit Doña Corazon, suaranya melengking tinggi, kepanikan mulai mengambil alih. “Dia hanya ingin harta keluarga kita!”

Roman tertawa lagi, kali ini dengan air mata yang menetes. “Harta? Ibu, aku baru saja menandatangani surat pengalihan seluruh saham pribadiku kepada Elena tepat sebelum pesta ini dimulai. Aku ingin memberikannya hadiah ulang tahun pernikahan kita yang tertunda. Tapi Ibu… Ibu justru mencoba menghancurkannya tepat di hari ulang tahunku.”

Tiba-tiba, pintu ballroom terbuka lebar. Dua petugas polisi masuk ke ruangan.

“Nyonya Corazon,” kata salah satu petugas. “Anda ikut kami atas laporan percobaan pembunuhan dan pemalsuan dokumen medis.”

Doña Corazon terhuyung, namun sebelum dia bisa melarikan diri, Roman memberikan isyarat kepada pengawalnya untuk menahan sang ibu. Tidak ada lagi rasa hormat, tidak ada lagi rasa takut terhadap wanita yang telah memanipulasi hidupnya sejak dia lahir.

Roman kemudian berbalik ke arahku. Dia mengulurkan tangannya, mengabaikan gaun mahalku yang hancur dan noda cokelat di wajahku.

“Elena,” bisiknya di tengah kerumunan yang mulai bubar dengan wajah tidak percaya. “Selama ini aku adalah suami yang bodoh karena tidak melihat musuh yang tidur di sampingku. Aku membiarkan ibuku meracuni hidupmu, bahkan secara harfiah.”

Aku menerima tangannya, berdiri dengan sisa tenaga yang kumiliki. “Aku hanya ingin memberikanmu keluarga yang utuh, Roman. Itu saja.”

Roman menatapku, matanya memancarkan tekad baru. “Kita akan membangunnya. Tanpa dia. Tanpa rahasia ini.”

Namun, saat kami berjalan menuju pintu keluar, sebuah bisikan dari salah satu tamu, seorang pengacara keluarga, membuatku membeku. “Sayang sekali, Roman. Jika ibumu masuk penjara, dia akan membuka semua catatan keuangan perusahaanmu. Dan kita berdua tahu, perusahaan itu dibangun di atas fondasi yang jauh lebih kotor daripada sekadar vitamin beracun.”

Roman berhenti. Dia menatapku, dan untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang sebenarnya di matanya. Ternyata, bukan hanya ibunya yang memiliki rahasia.

“Elena,” bisik Roman, suaranya nyaris tidak terdengar. “Ada satu hal lagi yang belum kukatakan padamu.”

Di tengah kekacauan pesta yang hancur, aku menyadari bahwa pengkhianatan ini bukan hanya berasal dari ibu mertuaku. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap yang mengikat kami berdua—sebuah rahasia yang bahkan lebih mematikan daripada racun vitamin itu. Roman menarik tanganku lebih erat, bukan untuk melindungiku, tapi untuk memastikan aku tidak bisa lari dari takdir yang dia buat sendiri.

Aku pun menyadari, akhir dari pesta ini hanyalah awal dari permainan yang lebih berbahaya. Dia bukanlah korban, dia adalah arsitek dari semua kehancuran ini.

“Selamat ulang tahun ke-40, suamiku,” bisikku sinis, menyadari bahwa aku tidak pernah benar-benar mengenal pria yang kunikahi. “Sepertinya kita berdua memang pantas mendapatkan satu sama lain di neraka ini.”

Lampu ballroom padam, menyisakan kami berdua dalam kegelapan yang pekat, dengan detak jantung yang beradu dalam ritme kebencian yang baru saja lahir. Tidak ada cinta, hanya dendam yang siap meledak di babak selanjutnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang