DI GALA MEWAH, SUAMIKU CIUM SEKRETARISNYA DI DEPAN 2.000 ORANG. DIA TIDAK TAHU, AKU MEMEGANG TOMBOL PEMBATALAN INVESTASI 900 MILIAR RUPIAH!

Di gala mewah yang dipenuhi ribuan orang, suamiku mencium sekretarisnya tepat di depan mataku. Yang tidak dia ketahui, hanya beberapa detik setelah bibir mereka bertemu, jariku sudah berada di atas tombol yang bisa menghentikan investasi senilai Rp900 miliar dan meruntuhkan semua yang selama ini dia banggakan.

Ballroom Hotel Mulia Jakarta malam itu dipenuhi kilatan kamera, gaun mahal, setelan jas, dan suara tepuk tangan yang bergemuruh.

Di atas panggung, Rendra Wijaya berdiri dengan senyum seorang pria yang merasa telah menaklukkan dunia.

Tiga tahun lalu, Aethel Tech nyaris tidak mampu membayar gaji karyawan. Kini perusahaan itu memiliki ribuan pegawai, kantor di tiga kota besar, dan valuasi yang terus meroket.

Semua orang mengenal Rendra sebagai pendiri visioner yang membangun perusahaannya dari nol.

Tidak seorang pun tahu bahwa angka nol itu sebenarnya pernah diselamatkan oleh seorang perempuan bernama Kirana Larasati.

Aku.

Aku duduk sendirian di meja paling belakang, mengenakan gaun biru tua tanpa perhiasan mencolok.

Tidak ada fotografer yang menghampiriku. Tidak ada wartawan yang mengenaliku sebagai istri sang CEO.

Memang begitulah yang diinginkan Rendra sejak awal.

Tiga tahun lalu, ketika kami menikah secara sederhana, Aethel Tech sedang berada di ambang kebangkrutan.

Rendra pernah menggenggam tanganku sambil berkata, “Aku cuma minta satu hal. Jangan umumkan pernikahan kita dulu.”

“Kenapa?”

“Aku tidak mau orang bilang Aethel Tech selamat karena aku menikahi Presiden Direktur Valdes Capital.”

Aku masih ingat ekspresi matanya malam itu.

Ada rasa malu sekaligus ambisi.

“Aku ingin berdiri dengan namaku sendiri, Kirana.”

Karena mencintainya, aku mengangguk.

Ironisnya, beberapa minggu kemudian Valdes Capital menyuntikkan Rp600 miliar ke Aethel Tech.

Aku bahkan mengundurkan diri dari komite investasi khusus yang menangani transaksi itu agar keputusan tersebut tetap profesional dan tidak dianggap sebagai konflik kepentingan.

Investasi itu menyelamatkan perusahaan Rendra.

Namun selama tiga tahun berikutnya, semakin tinggi Rendra berdiri, semakin jauh dia menyembunyikanku.

Aku tidak pernah muncul di akun media sosialnya.

Aku tidak pernah diperkenalkan dalam acara perusahaan.

Ketika kami makan malam di tempat umum, kami selalu datang dan pulang terpisah.

Aku menerima semuanya karena percaya pada satu kalimat yang terus diulang Rendra.

“Tunggu sampai waktunya tepat.”

Malam ini seharusnya menjadi waktu itu.

Valdes Capital sedang mempertimbangkan investasi tahap kedua sebesar Rp900 miliar untuk ekspansi Aethel Tech ke Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Sebelum berangkat dari rumah, Rendra bahkan mencium dahiku.

“Malam ini akan mengubah hidup kita.”

Aku tersenyum.

Aku tidak tahu bahwa kalimat itu ternyata benar dengan cara yang sama sekali berbeda.

Di tengah acara, pembawa acara tertawa sambil mengangkat mikrofon.

“Pak Rendra, karena malam ini ulang tahun kedelapan Aethel Tech, panitia punya satu tantangan.”

Rendra tertawa. “Apa lagi ini?”

“Anda punya waktu satu menit untuk menunjukkan cinta kepada istri Anda!”

Seluruh ballroom langsung riuh.

Aku membeku.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku berpikir mungkin inilah saatnya.

Mungkin Rendra sengaja merencanakan semuanya.

Aku bahkan membayangkan dia turun dari panggung, berjalan melewati ribuan tamu, lalu berhenti di hadapanku.

Namun Rendra justru menoleh ke samping.

Ke arah Maya Sastro.

Maya tersenyum malu-malu.

Orang-orang mulai meneriakkan satu kata yang sama.

“Cium! Cium! Cium!”

Rendra seharusnya menghentikan mereka.

Dia seharusnya mengatakan bahwa Maya bukan istrinya.

Sebaliknya, dia meraih pinggang Maya.

Lalu menciumnya.

Ballroom meledak oleh sorakan.

Aku mendengar seseorang di meja sebelah berkomentar, “Akhirnya mereka go public juga.”

Temannya tertawa.

“Dari dulu juga sudah kelihatan mereka cocok.”

Aku menatap panggung.

Anehnya, aku tidak menangis.

Mungkin ada titik ketika penghinaan menjadi terlalu besar sampai air mata tidak lagi cukup untuk menampungnya.

Aku mengambil ponsel.

Kubuka sistem internal Valdes Capital.

Proposal Aethel Tech berada tepat di halaman utama.

Statusnya menunggu otorisasi akhir.

Rp900.000.000.000.

Aku membaca kembali klausul yang sebelumnya sudah diperiksa tim hukum.

Risiko reputasi.

Pelanggaran tata kelola.

Informasi material yang tidak diungkapkan.

Tanganku berhenti sesaat.

Kemudian kutekan tombol.

SUSPENSI FINANSIAL.

Beberapa detik kemudian layar raksasa di belakang Rendra berkedip.

Presentasi ekspansi Aethel Tech menghilang.

Tulisan merah muncul.

VALDES CAPITAL RESMI MENANGGUHKAN INVESTASI TAHAP 2.

NOMINAL RP900.000.000.000.

Musik mati.

Rendra langsung melepaskan Maya.

Wajahnya kehilangan warna.

“Apa-apaan ini?”

Para direktur Aethel Tech berdiri dari kursi mereka.

Beberapa investor mulai berbicara panik.

Ponsel berdering dari berbagai meja.

Rendra menatap sekeliling sampai akhirnya menemukan wajahku.

Untuk pertama kalinya malam itu, tatapannya benar-benar tertuju kepadaku.

“KIRANA LARASATI!”

Namaku menggema dari pengeras suara.

Ribuan kepala menoleh.

Aku bangkit, mengambil tas, lalu berjalan menuju pintu keluar.

Namun Maya menghadangku.

Dia masih mengenakan senyum tipis.

“Anda mungkin punya banyak uang, Bu Kirana,” bisiknya. “Tapi malam ini Rendra membawa saya ke atas panggung, bukan Anda.”

Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Kemudian mataku berhenti pada kalung berlian di lehernya.

Aku mengenal kalung itu.

Bukan karena harganya.

Karena aku sendiri yang membelinya tujuh tahun lalu.

Kalung itu dibuat khusus di Antwerpen dan hanya memiliki satu batu safir kecil berbentuk tetesan air di bagian belakang liontin.

Aku pernah memberikannya kepada ibuku.

Setelah Ibu meninggal dua tahun lalu, kalung itu kusimpan di brankas rumah.

Aku menatap Maya.

“Dari mana kamu mendapatkan kalung itu?”

Tangannya refleks menyentuh leher.

“Hadiah.”

“Dari siapa?”

Maya tersenyum.

“Menurut Anda?”

Dadaku mendadak terasa dingin.

Saat itu Rendra datang dengan langkah cepat.

“Kirana, kita bicara di belakang.”

Aku tidak bergerak.

“Kalung itu dari mana?”

Rendra melihat leher Maya.

Ekspresinya berubah sepersekian detik.

Cukup bagiku untuk memahami jawabannya.

“Kirana, jangan bikin keributan.”

Aku hampir tertawa.

“Keributan?”

Aku menunjuk panggung.

“Kamu baru saja mencium perempuan lain di depan ribuan orang dan sekarang aku yang bikin keributan?”

Beberapa tamu mulai mendekat.

Kamera ponsel terangkat.

Rendra merendahkan suara.

“Investasi itu tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi kita.”

“Benar.”

Aku mengangguk.

“Karena itu aku tidak membatalkannya.”

Rendra terdiam.

“Aku menangguhkannya karena ada indikasi pelanggaran tata kelola.”

Wajahnya berubah.

“Apa maksudmu?”

Aku menatap kalung Maya.

“Itu aset pribadi yang disimpan di brankas rumah kita. Kalau kamu bisa mengambilnya tanpa sepengetahuanku, aku ingin tahu apa lagi yang sudah kamu ambil.”

Untuk pertama kalinya, Maya tampak panik.

Rendra menarik lenganku.

“Kirana, cukup.”

Aku melepaskan tangannya.

“Jangan sentuh aku.”

Tiba-tiba ponselku bergetar.

Pesan dari Direktur Audit Valdes Capital.

Kami menemukan anomali. Jangan tinggalkan lokasi. Tim hukum sedang menuju ballroom.

Aku membaca pesan berikutnya.

Ada pembayaran senilai Rp47,8 miliar dari rekening anak perusahaan Aethel Tech kepada PT Mahardika Konsultan selama 14 bulan terakhir.

Aku mengangkat wajah.

“Maya.”

Perempuan itu menegang.

“PT Mahardika Konsultan milik siapa?”

Wajahnya langsung pucat.

Rendra memotong, “Kamu tidak berhak menginterogasi stafku.”

Aku menunjukkan layar ponsel.

“Perusahaan itu menerima hampir Rp48 miliar dari Aethel Tech.”

Keheningan menyebar.

Direktur Keuangan Aethel Tech yang berdiri tidak jauh dari kami tiba-tiba maju.

“Pak Rendra… pembayaran Mahardika selalu Anda tandatangani sebagai biaya konsultasi ekspansi.”

Semua mata tertuju pada Rendra.

Aku mulai memahami sesuatu yang jauh lebih buruk daripada perselingkuhan.

Tim audit Valdes kemudian menemukan bahwa PT Mahardika Konsultan terdaftar atas nama kakak Maya.

Alamat kantornya ternyata sebuah ruko kosong di Bekasi.

Tidak ada pegawai tetap.

Tidak ada proyek nyata.

Namun selama lebih dari setahun perusahaan itu menerima puluhan miliar rupiah dari Aethel Tech.

Rendra akhirnya kehilangan kesabaran.

“Ya, aku yang menyetujuinya!”

Suara itu menggema.

“Tapi uangnya dipakai untuk membangun jaringan ekspansi! Semua CEO melakukan hal seperti ini!”

Direktur Keuangan menatapnya tidak percaya.

“Tidak, Pak.”

Kalimat sederhana itu membuat Rendra diam.

Pria tersebut mengeluarkan ponselnya.

“Saya sudah mempertanyakan transaksi itu enam bulan lalu. Bapak meminta saya berhenti mencampuri keputusan CEO.”

Rendra memandangnya tajam.

“Awas kamu.”

Namun ancaman itu justru terdengar lemah.

Beberapa menit kemudian dua orang dari tim hukum Valdes Capital tiba bersama kepala audit internal Aethel Tech yang ternyata sudah dipanggil oleh komisaris independen.

Ballroom yang sebelumnya menjadi pesta berubah menjadi ruang pemeriksaan terbuka.

Maya mulai menangis.

Dia melepas kalung dari lehernya dan menyodorkannya kepadaku.

“Saya tidak tahu soal uang perusahaan. Rendra bilang perusahaan itu legal.”

Rendra menatapnya tak percaya.

“Maya!”

Perempuan itu mundur.

“Jangan libatkan saya!”

Aku menerima kalung tersebut.

Namun ketika membalik liontinnya, aku menemukan sesuatu yang aneh.

Safir kecil di belakangnya hilang.

Aku menatap Rendra.

“Ini palsu.”

Maya terdiam.

“Apa?”

Aku mendekatkan kalung itu ke cahaya.

“Kalung asli milik ibuku punya safir biru di bagian belakang. Ini replika.”

Rendra mendadak terlihat kebingungan.

Untuk pertama kalinya malam itu, kebingungannya tampak sungguhan.

“Aku mengambilnya dari brankas.”

“Tidak mungkin.”

Aku membuka ponsel dan menghubungi seseorang.

“Pak Surya, tolong cek brankas pribadi saya.”

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.

Kemudian kepala keamanan rumahku menelepon balik.

“Bu Kirana, kalung asli masih ada di sini.”

Aku memandang Maya.

Tangannya mulai gemetar.

Rendra juga menatapnya.

“Kamu bilang kalung itu yang kuberikan.”

Maya mundur selangkah.

“Aku…”

Saat itulah aku memahami semuanya.

“Rendra tidak memberikan kalung itu kepadamu.”

Maya tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Kamu membuat replika supaya terlihat seolah-olah Rendra memberikan perhiasan milikku kepadamu.”

Air mata Maya berhenti.

Ekspresinya berubah.

Rendra meraih ponselnya.

“Apa sebenarnya yang kamu lakukan?”

Maya tiba-tiba tertawa kecil.

“Karena kamu pengecut.”

Semua orang terdiam.

“Tiga tahun aku menunggu kamu meninggalkan dia. Tiga tahun kamu bilang pernikahan kalian cuma soal investasi.”

Aku menatap Rendra.

Dia tidak berani menatap balik.

Maya melanjutkan dengan suara bergetar.

“Kamu bilang setelah ekspansi selesai, kamu akan menceraikannya.”

Kalimat itu terasa jauh lebih tajam daripada ciuman di atas panggung.

Aku akhirnya menatap suamiku.

“Benarkah?”

Rendra mendekat.

“Kirana, dengarkan aku. Aku bisa jelaskan.”

Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.

Aku melepas cincin pernikahan dari jariku.

Tiga tahun aku menyembunyikan cincin itu di balik rantai kecil setiap kali menghadiri acara perusahaan.

Malam itu aku meletakkannya di telapak tangan Rendra.

“Dulu kamu bilang ingin membuktikan bahwa kamu bisa berdiri tanpa bayang-bayang namaku.”

Aku menutup jari-jarinya di atas cincin tersebut.

“Sekarang buktikan.”

Aku berbalik.

Namun sebelum meninggalkan ballroom, Komisaris Utama Aethel Tech meminta mikrofon.

“Mohon perhatian.”

Semua orang diam.

“Dewan komisaris baru saja mengadakan rapat darurat.”

Rendra membeku.

“Sampai investigasi transaksi PT Mahardika Konsultan selesai, Saudara Rendra Wijaya dinonaktifkan sementara dari jabatan CEO Aethel Tech.”

Rendra menatap panggung yang beberapa menit sebelumnya menjadi simbol kejayaannya.

Sekarang tidak seorang pun bertepuk tangan.

Aku berjalan keluar tanpa menoleh.

Enam bulan kemudian, hasil audit independen membuktikan bahwa puluhan miliar rupiah telah dialihkan melalui kontrak fiktif. Rendra tidak terbukti menikmati seluruh dana tersebut, tetapi tanda tangannya pada transaksi tanpa proses kepatuhan membuatnya harus menghadapi konsekuensi hukum dan gugatan dari para pemegang saham.

Maya ternyata menjadi orang yang paling banyak menikmati aliran dana melalui perusahaan keluarganya.

Hubungan mereka berakhir bahkan sebelum penyelidikan selesai.

Aethel Tech tidak bangkrut.

Justru itu bagian yang tidak pernah diperkirakan Rendra.

Valdes Capital akhirnya tetap menanamkan modal Rp900 miliar setelah perusahaan menjalani restrukturisasi menyeluruh, memperkuat pengawasan, dan menunjuk CEO profesional baru.

Aku tidak menghancurkan ribuan pekerjaan hanya untuk membalas pengkhianatan seorang pria.

Aku hanya memastikan uang investor tidak diberikan kepada orang yang memperlakukan perusahaan seperti milik pribadinya.

Setahun setelah malam gala itu, aku menghadiri pembukaan kantor regional baru Aethel Tech di Jakarta.

Kali ini aku tidak masuk lewat pintu belakang.

Aku berjalan melalui pintu utama sebagai perwakilan pemegang saham terbesar.

Di lobi, aku berpapasan dengan Rendra.

Dia terlihat jauh berbeda.

Tidak ada rombongan staf.

Tidak ada kamera.

Tidak ada Maya.

Dia memandangku lama.

“Kirana.”

Aku berhenti.

“Aku kehilangan semuanya malam itu.”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Rendra mengernyit.

“Kamu tidak kehilangan semuanya malam itu.”

Aku tersenyum tipis.

“Kamu kehilangan semuanya sedikit demi sedikit selama tiga tahun setiap kali kamu memilih kebohongan karena menganggap aku akan selalu memaafkanmu.”

Aku melanjutkan langkah.

Rendra memanggilku sekali lagi.

“Kirana, apakah kamu pernah menyesal menikah denganku?”

Aku berhenti sejenak tanpa menoleh.

“Tidak.”

Dia tampak terkejut.

Aku akhirnya menatapnya.

“Karena kamu mengajariku sesuatu yang sangat mahal.”

“Apa?”

Aku tersenyum.

“Jangan pernah menginvestasikan kepercayaan lebih besar daripada integritas orang yang menerimanya.”

Lalu aku berjalan pergi.

Di belakangku terpampang layar besar berisi nilai terbaru Aethel Tech setelah restrukturisasi.

Perusahaan itu tumbuh lebih besar daripada saat dipimpin Rendra.

Dan pada saat itulah aku menyadari ironi terbesar dari seluruh kisah kami.

Rendra selama bertahun-tahun takut dunia menganggap kesuksesannya terjadi karena istrinya.

Pada akhirnya, seluruh dunia justru mengetahui bahwa perusahaan yang dibangunnya berhasil bertahan setelah kehilangan dirinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang