KUKIRA MALAM ITU AKAN TETAP MENJADI RAHASIA, LALU KENAPA KAKAK TIRIKKU BERDIRI DI DEPAN KAMPUS SAMBIL TERSENYUM PERLAHAN?

Raka masih berdiri di seberang gerbang kampus ketika aku memutuskan untuk berbalik.

Aku bahkan tidak tahu ke mana harus pergi. Yang kupikirkan hanya satu, jangan sampai dia mendekat.

“Alya.”

Suara itu membuat kakiku berhenti.

Tidak keras, tetapi cukup jelas untuk menembus keramaian mahasiswa yang berlalu-lalang.

Aku menelan ludah sebelum menoleh.

Raka sudah menyeberang jalan.

Hari itu ia tampak seperti Raka yang kukenal selama bertahun-tahun. Kemeja putih tanpa satu lipatan pun, celana hitam, wajah tenang, dan sorot mata dingin yang membuat orang sulit menebak apa yang sedang dipikirkannya.

Tidak ada tanda bahwa beberapa malam sebelumnya aku pernah bangun di tempat tidur yang sama dengannya.

“Kak Raka?” tanyaku, sengaja memasang ekspresi bingung. “Kenapa ada di sini?”

Dia berhenti tepat di depanku.

“Tidak boleh?”

“Tentu boleh.”

Aku tersenyum canggung.

“Cuma aneh saja.”

“Aneh?”

“Iya. Kakak tidak pernah datang ke kampusku.”

Raka menatapku beberapa detik terlalu lama.

Kemudian matanya turun ke tanganku.

Aku langsung menyembunyikan jari-jariku di belakang tubuh.

“Masuk mobil,” katanya.

“Aku masih ada kelas.”

“Aku sudah cek jadwalmu. Kelasmu berikutnya jam tiga.”

Darahku langsung terasa dingin.

“Kenapa Kak Raka mengecek jadwalku?”

Sudut bibirnya terangkat sedikit.

“Karena Ibu menyuruhku menjemputmu makan siang.”

Jawaban yang masuk akal.

Terlalu masuk akal.

Namun aku tahu Bu Ratih bahkan jarang peduli apakah aku makan atau tidak.

“Aku ada janji dengan teman.”

“Kamu selalu buruk kalau berbohong, Alya.”

Aku terdiam.

Raka membukakan pintu mobil.

“Masuk.”

Sepanjang perjalanan aku duduk sekaku patung.

Raka tidak mengajakku bicara. Dia hanya memeriksa tablet di tangannya seolah aku tidak ada.

Justru itu membuatku semakin gugup.

Sesekali mataku mencuri pandang ke arahnya.

Bekas lipstik di lehernya sudah hilang.

Untunglah.

Aku hampir lega ketika mobil berhenti di sebuah restoran.

Namun begitu kami masuk ke ruang privat, aku menyadari tidak ada siapa-siapa.

“Bukannya Ibu mau makan bersama?” tanyaku.

“Tidak.”

Aku membeku.

Raka duduk santai di seberang meja.

“Aku berbohong.”

Jantungku mulai berdegup liar.

“Kenapa?”

“Aku ingin bertanya sesuatu.”

Dia mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah foto, lalu meletakkannya di hadapanku.

Aku hanya perlu satu detik untuk mengenali perempuan di dalam foto itu.

Wig hitam bergelombang.

Gaun merah.

Riasan tebal.

Keira.

Foto itu diambil dari CCTV klub.

Aku buru-buru memasang wajah heran.

“Siapa dia?”

“Namanya Keira.”

“Oh.”

“Kamu kenal?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Raka mencondongkan tubuh.

“Lihat baik-baik.”

Aku menatap layar sekali lagi.

“Tidak kenal.”

Raka tersenyum tipis.

“Menarik.”

“Apa yang menarik?”

“Dia menghilang setelah tidur denganku.”

Aku tersedak air yang baru saja kuminum.

Batukku begitu keras sampai pelayan di luar hampir masuk.

Raka mengambil tisu dan mendorongnya ke arahku.

“Pelan-pelan.”

Aku menerima tisu itu dengan tangan gemetar.

“Kakak cerita beginian kepadaku buat apa?”

“Kamu adikku.”

Kalimat itu membuatku terdiam.

Selama empat tahun, Raka tidak pernah sekali pun menyebutku adiknya.

Dia pasti menyadari perubahan ekspresiku, karena tatapannya langsung menjadi lebih dalam.

“Ada masalah?”

“Tidak.”

Aku menunduk.

“Cuma… bukannya Kakak pernah bilang aku bukan adik Kakak?”

Keheningan turun di antara kami.

Untuk pertama kalinya, wajah Raka kehilangan senyum.

“Itu sudah lama.”

“Bagiku tidak.”

Aku tidak berniat mengatakannya.

Namun begitu kalimat itu keluar, sesuatu yang selama bertahun-tahun kupendam ikut naik ke permukaan.

Raka menatapku beberapa saat.

“Alya.”

“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa.”

Aku memaksakan senyum.

“Jadi Kakak sedang mencari perempuan ini?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Dia berutang sesuatu kepadaku.”

Aku langsung waspada.

“Apa?”

“Jawaban.”

Aku tidak berani bertanya lagi.

Untungnya, ponsel Raka berdering. Saat dia menjawab telepon, aku memanfaatkan kesempatan untuk meminta izin ke toilet.

Begitu pintu tertutup, aku bersandar di wastafel.

Dia curiga.

Entah bagaimana, dia pasti curiga.

Aku membuka ponsel dan mengirim pesan kepada sahabatku, Nisa.

Malam ini semua barang Keira dibuang.

Jawaban Nisa datang beberapa detik kemudian.

Kenapa?

Panjang. Tolong jangan tanya.

Aku menghapus percakapan itu, lalu mencuci muka dengan air dingin.

Saat kembali, Raka tidak membahas Keira lagi.

Aku mulai berpikir mungkin semuanya hanya kebetulan.

Namun tiga hari kemudian, sebuah paket dikirim ke kosku.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya terdapat sepasang anting berlian.

Aku mengenalinya.

Anting yang kupakai sebagai Keira malam itu.

Salah satunya hilang di hotel.

Di bawah kotak itu ada secarik kertas.

Barangmu tertinggal.

Tanganku langsung dingin.

Aku membakar kertas itu.

Antingnya kubuang ke tempat sampah di luar kos.

Malam berikutnya, aku mendapat pesan dari nomor tidak dikenal.

Keira, kamu kejam sekali. Anting sebagus itu dibuang.

Aku menatap layar sampai pandanganku kabur.

Dia tahu.

Aku langsung menelepon nomor itu.

Begitu sambungan terangkat, aku tidak mengatakan apa pun.

Suara Raka terdengar dari seberang.

“Kenapa diam?”

Aku menutup telepon.

Lima menit kemudian, seseorang mengetuk pintu kos.

Aku membuka pintu dengan jantung hampir meledak.

Raka berdiri di lorong.

Aku ingin membanting pintu, tetapi tangannya lebih cepat menahannya.

“Apa yang Kakak lakukan di sini?”

“Aku datang menemui Keira.”

“Aku bukan Keira!”

Untuk pertama kalinya, suaraku meninggi.

Beberapa pintu kamar mulai terbuka.

Raka melihat sekeliling.

“Kita bicara di dalam atau kamu mau seluruh kos mendengar?”

Aku tidak punya pilihan selain membiarkannya masuk.

Begitu pintu tertutup, aku langsung berbalik.

“Aku benar-benar tidak tahu apa yang Kakak bicarakan.”

“Bagus.”

Raka memasukkan tangan ke saku.

“Kalau begitu, aku cuma ingin pinjam satu benda.”

“Apa?”

“Ponsel cadanganmu.”

Napas seolah berhenti di tenggorokanku.

“Aku tidak punya.”

“Nomor yang dipakai Keira terdaftar menggunakan identitas prabayar yang dibeli dekat kampus ini. Setelah malam itu, nomor tersebut mati. Tapi sebelum mati, perangkatnya beberapa kali terhubung ke Wi-Fi kos ini.”

Aku memucat.

Raka melanjutkan tanpa mengubah ekspresi.

“Aku belum yakin sampai melihat CCTV di depan hotel.”

“Apa?”

“Kamu keluar hotel memakai wig, tetapi lima ratus meter kemudian kamu masuk toilet stasiun MRT.”

Aku ingat pagi itu.

Aku melepas wig di toilet stasiun.

“CCTV di dalam toilet tentu tidak ada,” kata Raka. “Tapi perempuan yang keluar memakai pakaian yang sama, membawa tas yang sama, dan berjalan ke kampus yang sama.”

Aku tidak bisa mengatakan apa pun.

“Masih mau berbohong?”

Mataku mulai panas.

Bukan karena takut ketahuan.

Melainkan karena segala sesuatu yang kupendam selama bertahun-tahun tiba-tiba terasa seperti tembok yang runtuh bersamaan.

“Kalau Kakak sudah tahu, lalu mau apa?”

Raka diam.

Aku tertawa getir.

“Mau mempermalukanku di depan Bu Ratih? Mau bilang anak perempuan dari selingkuhan ternyata suka pergi ke klub malam? Silakan.”

“Alya.”

“Atau mau mengusirku dari keluarga Wijaya?”

Aku menatapnya.

“Itu malah lebih bagus.”

Ekspresi Raka berubah.

“Aku tidak pernah menganggap diriku bagian dari keluarga kalian.”

“Alya, cukup.”

“Kenapa cukup?”

Suara yang selama bertahun-tahun kutahan akhirnya pecah.

“Empat tahun aku tinggal di rumah itu seperti tahanan. Ibumu membenciku karena kesalahan ibuku. Kamu bahkan lebih buruk karena kamu melihat semuanya tapi tidak pernah melakukan apa pun.”

Wajah Raka menegang.

“Aku tidak bisa memilih siapa ibuku. Aku juga tidak bisa memilih siapa ayahmu. Tapi semua orang menghukumku seolah akulah yang menyuruh mereka berselingkuh!”

Air mataku jatuh.

Aku membencinya.

Aku membenci diriku sendiri karena menangis di depannya.

“Keira cuma satu-satunya cara supaya aku bisa merasa seperti manusia biasa.”

Raka tidak menyela.

“Aku bisa tertawa tanpa takut. Aku bisa memakai pakaian yang kusuka. Aku bisa bicara keras. Aku bisa melakukan kesalahan.”

Aku menatapnya.

“Dan sekarang bahkan Keira juga mau kalian ambil dariku?”

Keheningan panjang memenuhi ruangan.

Kemudian Raka berkata pelan,

“Aku tidak datang untuk mengambil Keira darimu.”

“Lalu untuk apa?”

“Untuk meminta maaf.”

Aku terdiam.

“Apa?”

“Aku tahu apa yang dilakukan Ibu kepadamu.”

Aku tertawa pahit.

“Tentu tahu. Kakak melihatnya.”

“Itulah yang ingin kuminta maaf.”

Raka menunduk.

“Aku pengecut.”

Itu adalah kata terakhir yang pernah kubayangkan akan keluar dari mulut Raka Wijaya.

“Aku berumur dua puluh dua saat kamu datang ke rumah. Aku marah pada ayahku, pada ibumu, pada seluruh dunia. Tapi karena mereka sudah mati, aku mengarahkan sebagian kemarahanku kepadamu.”

Dia menatapku.

“Aku membiarkan Ibu menyakitimu karena waktu itu aku berpikir mungkin itu adil.”

Dadaku sesak.

“Lalu?”

“Lalu aku sadar tidak ada yang adil dari menghukum anak enam belas tahun atas dosa orang tuanya.”

“Kenapa baru sekarang?”

Raka tidak langsung menjawab.

“Karena dua tahun lalu aku mulai mencoba menghentikan Ibu.”

Aku mengernyit.

Dia mengambil ponsel, membuka beberapa dokumen, lalu menyerahkannya kepadaku.

Ada bukti pembayaran sekolah.

Biaya kuliah.

Kontrak kos.

Semuanya atas nama perusahaan.

“Aku pikir beasiswaku…”

“Bukan.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Aku ingin kamu punya kesempatan keluar dari rumah.”

Aku tidak tahu harus merasa marah atau bersyukur.

“Mengapa tidak pernah bilang?”

“Karena aku tahu kamu tidak akan menerimanya dariku.”

Itu benar.

Raka menarik napas.

“Dan soal malam itu, aku benar-benar tidak mengenalimu.”

Pipiku panas.

“Jangan dibahas.”

“Tapi aku mengenalimu pagi setelahnya.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Saat kamu bilang namamu Keira.”

“Tidak mungkin.”

“Aku belum yakin.”

Dia menunjuk tanganku.

“Bekas luka kecil di ibu jarimu.”

Aku refleks melihat ibu jari.

Bekas terkena pecahan gelas saat berusia tujuh belas tahun.

“Lalu aroma parfummu.”

“Aku pakai parfum berbeda.”

“Kamu pikir berbeda.”

Raka hampir tersenyum.

“Keira memakai parfum mahal. Alya memakai body lotion murah. Tapi kamu selalu menggunakan sampo yang sama.”

Aku ingin menghilang dari dunia.

“Jadi sejak pagi itu Kakak tahu?”

“Sekitar delapan puluh persen.”

“Dan tetap meminta WhatsApp?”

“Aku ingin memastikan.”

“Kakak gila.”

“Bisa jadi.”

Aku mengusap wajah.

“Kalau begitu kenapa datang ke kampus sambil tersenyum seperti psikopat?”

Raka terdiam beberapa detik.

Kemudian ia berkata,

“Karena setelah bertahun-tahun, untuk pertama kalinya aku melihat kamu yang sebenarnya.”

Aku menatapnya tajam.

“Jangan mengatakan hal aneh.”

“Aku tidak mengatakan hal aneh.”

“Kita saudara.”

“Kita tidak punya hubungan darah.”

“Secara hukum tetap keluarga.”

“Status adopsimu dibatalkan enam bulan lalu.”

Ruangan seakan berhenti berputar.

“Apa?”

Raka mengeluarkan sebuah dokumen lain.

“Aku mengurusnya.”

“Kakak… apa?”

“Atas permintaanmu sendiri.”

“Aku tidak pernah meminta.”

“Pernah.”

Dia membuka sebuah surat lama.

Tulisan tanganku.

Aku langsung mengenalinya.

Surat yang kutulis dua tahun sebelumnya, setelah Bu Ratih mengunciku di luar rumah sepanjang malam.

Aku menulis bahwa suatu hari aku ingin pergi dan tidak lagi menjadi bagian dari keluarga Wijaya.

Kupikir surat itu sudah kubuang.

“Kakak mengambilnya?”

“Dari tempat sampah.”

“Kakak benar-benar psikopat.”

“Kemungkinan itu semakin besar.”

Untuk pertama kalinya sejak dia masuk, aku hampir tertawa.

Namun belum sempat mengatakan apa pun, ponselnya berdering.

Ekspresi Raka berubah setelah membaca pesan.

“Aku harus pergi.”

“Ada apa?”

“Ibu tahu aku mengurus pembatalan adopsimu.”

Dadaku langsung menegang.

“Bagaimana?”

“Ada orang di kantor hukum yang membocorkannya.”

Keesokan paginya, Bu Ratih datang ke kampus.

Ia menamparku tepat di depan gedung fakultas.

Suara tamparannya membuat beberapa mahasiswa berhenti berjalan.

“Perempuan tidak tahu diri!”

Aku memegang pipi.

Empat tahun lalu aku mungkin akan diam.

Namun Alya yang sekarang berbeda.

Aku menatapnya lurus.

“Jangan sentuh saya lagi.”

Bu Ratih terpaku.

Mungkin sepanjang hidupnya dia tidak pernah membayangkan aku berani melawan.

“Kamu lupa siapa yang memberimu makan?”

“Saya ingat.”

Aku menahan air mata.

“Saya juga ingat siapa yang berkali-kali membuat saya kelaparan.”

Wajahnya memerah.

“Setelah semua yang ibumu lakukan—”

“Kesalahan ibu saya adalah kesalahan ibu saya.”

Aku memotongnya.

“Kalau Ibu membenci beliau, bencilah beliau. Tapi beliau sudah meninggal. Saya masih hidup.”

Orang-orang mulai berkerumun.

Bu Ratih mengangkat tangan lagi.

Namun sebelum tamparan kedua mendarat, seseorang menangkap pergelangan tangannya.

Raka.

“Cukup, Bu.”

Bu Ratih menatap putranya seperti tidak mengenalinya.

“Kamu membelanya?”

“Aku seharusnya membelanya sejak empat tahun lalu.”

Wajah Bu Ratih berubah pucat.

“Kamu memilih anak perempuan perempuan itu daripada ibumu?”

Raka melepaskan tangannya.

“Aku tidak memilih siapa pun. Aku cuma berhenti membenarkan sesuatu yang salah.”

Bu Ratih tertawa getir.

“Jangan pikir Ibu tidak tahu kenapa kamu melindunginya.”

Aku menoleh.

Raka menegang.

Bu Ratih memandangku dengan kebencian.

“Kamu pikir laki-laki ini kakak yang baik?”

“Ibu.”

“Dia bahkan bukan orang yang mengurus beasiswamu pertama kali.”

Aku mengernyit.

“Apa maksud Ibu?”

Bu Ratih menatap Raka.

“Berani bilang kepadanya?”

Raka tidak menjawab.

“Bilang siapa yang meminta Ayah membawa ibunya pergi malam sebelum kecelakaan itu.”

Udara seperti membeku.

Aku menatap Raka.

“Apa?”

Bu Ratih tersenyum pahit.

“Malam itu ayahnya menelepon seseorang sebelum pergi menemui ibumu.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Raka.”

Tangannya mengepal.

“Aku yang menelepon Ayah.”

Dunia di sekelilingku berubah menjadi suara samar.

“Aku menemukan bukti perselingkuhan mereka,” katanya. “Aku marah dan menyuruh Ayah mengakhiri semuanya malam itu juga.”

“Jadi…”

Suaraku hampir tidak terdengar.

“Mereka berada dalam mobil itu karena Kakak?”

Raka menatapku dengan mata merah.

“Ya.”

Aku mundur satu langkah.

Itulah sebabnya.

Itulah alasan sebenarnya Raka membayar kuliahku.

Alasan dia diam-diam menjagaku.

Bukan kasih sayang.

Rasa bersalah.

Aku pergi tanpa mengatakan apa pun.

Selama dua minggu setelah itu, aku tidak menjawab telepon siapa pun dari keluarga Wijaya.

Aku pindah kos.

Mengganti nomor.

Berhenti menjadi Keira.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku benar-benar sendirian.

Anehnya, aku justru merasa lebih bebas.

Sampai suatu sore, seorang pengacara datang menemuiku di kampus.

Ia membawa sebuah amplop tua.

“Ini milik ibu Anda.”

Aku menatapnya.

“Dari mana?”

“Disimpan oleh notarisnya selama bertahun-tahun. Baru dapat diberikan setelah Anda berusia dua puluh satu.”

Tanganku gemetar saat membuka surat itu.

Tulisan ibu memenuhi beberapa halaman.

Namun satu bagian membuatku berhenti bernapas.

Alya, kalau suatu hari kamu mengetahui kebenaran tentang kecelakaan itu, jangan salahkan siapa pun.

Malam itu aku sendiri yang meminta Pak Wijaya menemuiku.

Aku ingin mengakhiri hubungan kami.

Putranya memang menelepon ayahnya, tetapi bukan dia yang menyebabkan kecelakaan.

Kami bertengkar di dalam mobil karena aku mengatakan akan pergi.

Pak Wijaya kehilangan konsentrasi.

Kesalahan itu milik kami.

Bukan milik anak-anak kami.

Air mataku jatuh ke atas kertas.

Selama bertahun-tahun, kami semua mewarisi rasa bersalah dari orang tua kami.

Bu Ratih menghukumku.

Raka menghukum dirinya sendiri.

Dan aku terus meyakini bahwa aku harus membayar dosa seorang perempuan yang bahkan sudah tidak ada.

Malam itu aku pergi ke rumah keluarga Wijaya untuk terakhir kalinya.

Bu Ratih tidak ada.

Raka duduk sendiri di teras belakang.

Saat melihatku, dia berdiri.

“Alya.”

Aku menyerahkan surat itu.

Dia membacanya lama.

Kemudian duduk kembali tanpa berkata apa pun.

Untuk pertama kalinya aku melihat Raka menangis.

Bukan tangisan keras.

Hanya air mata yang jatuh diam-diam dari laki-laki yang sepanjang hidupnya selalu terlihat terlalu kuat untuk terluka.

“Aku menghabiskan bertahun-tahun berpikir aku membunuh mereka,” katanya.

Aku duduk di sebelahnya.

“Dan aku menghabiskan bertahun-tahun berpikir aku harus membayar kesalahan ibuku.”

Kami terdiam.

Dua orang yang sama-sama dibesarkan oleh rasa bersalah yang bukan milik kami.

“Alya.”

“Hm?”

“Soal Keira…”

Aku langsung berdiri.

“Jangan.”

Raka tertawa kecil.

Itu pertama kalinya aku mendengar tawa yang benar-benar tulus darinya.

“Baik.”

Aku berjalan beberapa langkah sebelum berbalik.

“Raka.”

Dia menatapku.

Aku tidak memanggilnya Kakak.

Dan dia jelas menyadarinya.

“Aku belum memaafkanmu.”

Senyumnya menghilang.

“Aku tahu.”

“Mungkin butuh waktu lama.”

“Aku bisa menunggu.”

Aku mengangguk.

Lalu pergi.

Enam bulan kemudian, aku kembali memakai gaun merah.

Bukan untuk menjadi Keira.

Tidak ada wig.

Tidak ada contour berlebihan.

Tidak ada suara palsu.

Aku pergi ke sebuah acara kelulusan kecil bersama teman-temanku sebagai Alya.

Ketika keluar dari restoran, sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan.

Raka turun.

Dia menatapku lama.

Aku mengangkat alis.

“Apa?”

“Tidak ada.”

“Kenapa senyum?”

Dia memasukkan tangan ke saku, persis seperti hari ketika berdiri di depan kampus.

“Cuma teringat pertama kali aku melihat Alya tanpa topeng.”

Aku tersenyum kecil.

“Yang di klub itu bukan Alya.”

“Bukan.”

Raka mengangguk.

“Keira juga bukan.”

Aku menatapnya.

“Lalu siapa?”

Dia membuka pintu mobil untukku.

“Perempuan yang akhirnya sadar dia tidak perlu menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.”

Aku tidak langsung masuk.

“Raka.”

“Hm?”

“Kalau suatu hari aku benar-benar memaafkanmu, jangan besar kepala.”

Dia tersenyum.

“Aku akan berusaha.”

Aku masuk ke mobil.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak berusia enam belas tahun, aku tidak merasa sedang melarikan diri dari siapa pun.

Bukan dari keluarga Wijaya.

Bukan dari masa lalu ibuku.

Bukan dari Keira.

Dan bukan pula dari diriku sendiri.

Aku akhirnya memahami sesuatu yang sederhana.

Dosa orang tua tidak pernah menjadi warisan yang wajib dibayar oleh anak-anak mereka.

Dan terkadang, rahasia paling menakutkan bukanlah tentang siapa kita ketika memakai topeng.

Melainkan tentang keberanian untuk tetap berdiri ketika topeng itu akhirnya jatuh.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang