SAYA TIBA DI RUMAH PUTRI SAYA DAN MENEMUKANNYA MENANGIS SAMBIL MENCUCI PIRING DENGAN BAYINYA YANG BARU BERUSIA 8 BULAN DALAM GENDONGAN. SUAMINYA MALAH MEMBENTAKNYA. TAPI BEBERAPA MENIT KEMUDIAN, 3 KARTU DIBLOKIR DAN SKANDAL RP30 MILIAR TERBONGKAR!

Pembayaran Ditolak.

Rehan menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu mengerutkan kening. Dia mengambil dompet, mengeluarkan kartu kedua, dan mencoba membayar tagihan belanja daring yang sejak tadi terbuka di tabletnya.

Ditolak.

Kartu ketiga menyusul.

Hasilnya sama.

Wajah Rehan perlahan berubah.

“Apa yang Ibu lakukan?”

Maya tidak menjawab. Dia justru mengambil handuk bersih, lalu dengan lembut mengeringkan tangan Arini yang merah karena terlalu lama terkena air panas.

“Arini, masuk kamar. Ambil dokumenmu dan Tania. Jangan bawa barang lain.”

Rehan langsung berdiri.

“Dia tidak akan pergi ke mana-mana.”

Tangannya hendak meraih lengan Arini, tetapi Maya berdiri di antara mereka.

“Sentuh dia sekali lagi,” ucap Maya pelan, “dan masalah kartu kredit akan menjadi masalah terkecil dalam hidupmu.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Rehan terdiam.

Murni meletakkan sendoknya dengan kasar.

“Jangan mentang-mentang kaya lalu mempermalukan anak saya!”

Maya menatapnya.

“Saya belum mempermalukan siapa pun. Saya baru menghentikan fasilitas perusahaan.”

“Fasilitas apa?” bentak Rehan. “Saya direktur regional. Saya berhak atas semua itu.”

“Benar. Selama dipakai untuk kepentingan pekerjaan.”

Ponsel Maya berbunyi.

Pesan dari Siska masuk.

Tiga kartu telah diblokir. Akses server dinonaktifkan. Data sudah diamankan.

Namun ada satu kalimat tambahan yang membuat tatapan Maya berubah.

Kami menemukan transaksi mencurigakan. Nilainya besar. Jangan biarkan Rehan menyentuh laptop atau ponsel kantor.

Maya mengangkat wajah.

“Laptop perusahaanmu di mana?”

Pertanyaan sederhana itu membuat Rehan pucat.

“Kenapa?”

“Karena saya bertanya.”

Rehan buru-buru meraih ponselnya.

Maya segera memahami.

“Jangan.”

Namun terlambat.

Rehan berlari menuju ruang kerja di lantai dua.

Beberapa detik kemudian terdengar suara pintu dibanting.

Maya langsung menelepon Siska.

“Dia menuju komputer.”

“Tidak masalah, Bu. Akunnya sudah terkunci. Kami juga sudah membuat salinan cadangan sebelum akses dicabut.”

Di lantai atas terdengar teriakan.

“Sial!”

Arini keluar dari kamar sambil membawa tas kecil dan map dokumen. Wajahnya masih pucat.

“Ada apa, Bu?”

Maya memegang bahunya.

“Kita keluar dulu.”

Arini justru menggeleng.

“Ada sesuatu yang harus Ibu lihat.”

Dia berjalan menuju lemari kecil di dekat dapur, membuka bagian paling bawah, lalu mengeluarkan sebuah ponsel lama.

“Selama beberapa bulan aku merekam semuanya.”

Maya menatap putrinya.

Arini menelan ludah.

“Aku takut kalau suatu hari orang menganggap aku berbohong.”

Di dalam ponsel itu terdapat rekaman suara, foto lebam, percakapan, dan catatan tanggal.

Ada suara Rehan membentak.

Ada suara Murni menyebut Arini istri yang tidak berguna.

Ada rekaman Rehan mengancam akan mengambil Tania jika Arini berani meninggalkan rumah.

Tetapi satu rekaman membuat Maya membeku.

Suara Rehan terdengar sedang berbicara melalui telepon.

“Jangan transfer langsung ke rekening saya. Masukkan lewat vendor seperti biasa. Pecah jadi beberapa invoice. Kalau nominalnya terlalu besar, audit internal bisa curiga.”

Maya menatap Arini.

“Kapan kamu merekam ini?”

“Dua minggu lalu.”

“Siapa vendornya?”

Arini membuka sebuah foto.

Di sana terlihat beberapa dokumen yang sempat dia potret diam-diam.

PT Garuda Cipta Konsultan.

Nama itu terasa asing bagi Maya.

Namun Siska hanya membutuhkan beberapa menit untuk menemukan kejanggalannya.

Perusahaan tersebut menerima pembayaran dari Nusantara Utama Group selama hampir dua tahun untuk jasa konsultasi distribusi, survei pasar, dan pengembangan jaringan.

Masalahnya, alamat kantornya ternyata sebuah ruko kecil yang sudah lama kosong.

Direkturnya adalah sepupu Rehan.

Total pembayaran yang tercatat mencapai lebih dari Rp30 miliar.

Maya memejamkan mata sejenak.

Kini dia mengerti.

Rehan bukan hanya menyiksa putrinya.

Dia juga diduga menggunakan jabatan yang diberikan keluarga Maya untuk mengalirkan uang perusahaan melalui vendor fiktif.

Tidak lama kemudian, Rehan turun dari lantai atas dengan wajah merah.

“Akun saya diblokir!”

“Memang.”

“Pulihkan sekarang!”

“Tidak.”

Rehan menghantam meja.

Tania terbangun dan menangis.

Arini refleks memeluk bayinya.

Rehan menunjuk Maya.

“Ibu pikir perusahaan itu bisa berjalan tanpa saya?”

Maya tersenyum tipis.

“Perusahaan itu sudah berjalan dua puluh tujuh tahun sebelum kamu menjadi direktur regional.”

Murni berdiri.

“Rehan, telepon Pak Danu. Dia pasti bisa membantu.”

Nama itu membuat Arini menatap ibunya.

Maya menangkap perubahan kecil tersebut.

“Kamu kenal Danu?”

Arini mengangguk.

“Direktur pengadaan. Rehan sering bertemu dengannya malam-malam.”

Maya langsung menyampaikan nama itu kepada Siska.

Jawaban datang sepuluh menit kemudian.

Danu memiliki kewenangan menyetujui sebagian vendor yang menerima pembayaran mencurigakan tersebut.

Masalah ini ternyata lebih besar daripada Rehan seorang.

Bel rumah berbunyi.

Rehan mendadak diam.

Dua petugas dari unit perlindungan perempuan datang bersama Siska dan seorang petugas keamanan perusahaan.

Siska masuk sambil membawa tablet.

“Saya sudah menerima bukti awal dari Bu Arini.”

Rehan menunjuk istrinya.

“Kamu merekam saya?”

Arini mundur selangkah.

Namun kali ini Maya tidak menjawab untuk putrinya.

Arini sendiri yang mengangkat wajah.

“Iya.”

Suara itu masih bergetar.

Tetapi terdengar jelas.

“Aku merekam karena setiap kali kamu menyakitiku, besoknya kamu selalu bilang itu tidak pernah terjadi.”

Rehan kehilangan kata-kata.

“Aku merekam supaya suatu hari aku tidak lagi meragukan ingatanku sendiri.”

Maya menatap putrinya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia seperti melihat Arini yang dulu.

Siska kemudian menunjukkan temuan awal audit.

Ada enam perusahaan yang diduga berkaitan satu sama lain.

Sebagian invoice memiliki nomor berbeda tetapi deskripsi pekerjaan identik.

Beberapa laporan kegiatan bahkan menggunakan foto yang sama untuk proyek di kota berbeda.

Nilai transaksi yang sedang ditelusuri mencapai Rp30,4 miliar.

Rehan tertawa gugup.

“Itu semua transaksi resmi.”

“Bagus,” jawab Siska. “Berarti Anda tidak perlu takut saat auditor independen dan pihak berwenang memeriksanya.”

Murni tiba-tiba berdiri di depan Rehan.

“Semua ini gara-gara perempuan itu!”

Dia menunjuk Arini.

“Sejak menikah dengannya hidup anak saya tidak pernah tenang!”

Arini memeluk Tania lebih erat.

Biasanya dia akan diam.

Namun malam itu sesuatu dalam dirinya akhirnya pecah.

“Tidak, Bu.”

Murni tertegun.

“Saya diam bukan karena saya salah. Saya diam karena setiap kali saya bicara, kalian membuat saya percaya bahwa saya istri buruk.”

Air mata Arini jatuh.

“Saya berhenti bekerja karena Rehan bilang Tania membutuhkan saya. Lalu dia mengambil akses rekening saya karena katanya dia yang lebih pandai mengatur uang. Setelah itu dia memeriksa ponsel saya, membatasi saya bertemu teman, dan mengatakan kepada semua orang bahwa saya tidak stabil setelah melahirkan.”

Rehan memotong.

“Aku melakukan itu demi keluarga!”

“Tidak.”

Arini menatap suaminya.

“Kamu melakukannya supaya aku tidak punya tempat untuk pergi.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Petugas meminta Arini menjelaskan lebam di lengannya.

Arini menarik napas panjang.

“Tiga malam lalu kami bertengkar. Saya bertanya soal transfer ke PT Garuda Cipta. Rehan merebut ponsel saya dan mendorong saya ke lemari.”

Rehan langsung membantah.

“Dia terpeleset!”

Arini membuka ponsel lamanya.

Ada rekaman suara malam tersebut.

Suara benturan terdengar jelas.

Kemudian tangisan Tania.

Lalu suara Rehan.

“Kalau kamu bicara soal perusahaan lagi, saya pastikan kamu tidak akan pernah membawa Tania keluar dari rumah ini.”

Wajah Rehan kehilangan seluruh warnanya.

Maya tidak mengatakan apa-apa lagi.

Dia tahu sejak titik itu, bukan kemarahan seorang ibu yang akan menentukan nasib Rehan.

Bukti yang akan melakukannya.

Malam itu Arini dan Tania pergi bersama Maya.

Rumah di Serpong kemudian diamankan sesuai prosedur karena sebagian perangkat perusahaan dan dokumen yang relevan dengan audit berada di sana.

Investigasi internal berlangsung selama berminggu-minggu.

Semakin banyak dokumen diperiksa, semakin jelas pola yang selama ini tersembunyi.

Rehan dan beberapa orang di divisinya diduga membuat jaringan vendor yang saling terhubung. Pembayaran dipecah menjadi nominal lebih kecil agar tidak langsung menarik perhatian.

Danu dinonaktifkan dari jabatannya selama pemeriksaan.

Rehan diberhentikan sementara, lalu perusahaan menyerahkan temuan audit kepada pihak berwenang.

Tiga bulan kemudian, Arini tinggal bersama Tania di sebuah apartemen yang dia pilih sendiri.

Bukan rumah besar.

Hanya apartemen dengan dua kamar, balkon kecil, dan sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela ruang tamu.

Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arini bisa tidur tanpa takut mendengar langkah kaki seseorang di depan pintu.

Dia juga mulai mengikuti terapi dan perlahan kembali bekerja sebagai konsultan strategi.

Suatu sore Maya datang membawa makanan.

Dia menemukan Arini duduk di lantai bersama Tania yang sedang belajar berdiri sambil berpegangan pada sofa.

“Bu,” kata Arini tiba-tiba.

“Hmm?”

“Kenapa Ibu tidak datang lebih cepat?”

Pertanyaan itu membuat Maya terdiam.

“Aku selalu bilang semuanya baik-baik saja.”

Maya duduk di sebelahnya.

“Karena Ibu terlalu percaya ketika kamu bilang baik-baik saja.”

Arini menunduk.

“Aku malu.”

“Kenapa?”

“Aku dulu selalu dianggap kuat. Aku pikir kalau orang tahu apa yang terjadi, mereka akan bertanya kenapa aku tidak pergi sejak awal.”

Maya menggenggam tangannya.

“Orang sering bertanya kenapa seseorang tidak pergi. Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang membuat dia begitu takut untuk pergi.”

Arini menangis.

Namun kali ini tangisannya berbeda.

Bukan tangisan orang yang terjebak.

Melainkan tangisan seseorang yang akhirnya merasa aman.

Beberapa minggu kemudian, audit perusahaan menemukan fakta terakhir yang tidak pernah diduga Maya.

Dari seluruh transaksi mencurigakan, ada satu pembayaran pertama yang menjadi awal semuanya.

Nilainya hanya Rp180 juta.

Persetujuan digital pada transaksi itu menggunakan akun Arini.

Maya langsung panik.

Namun pemeriksaan forensik menemukan bahwa transaksi dilakukan ketika Arini sedang menjalani operasi caesar untuk melahirkan Tania.

Alamat perangkat yang digunakan berasal dari laptop kantor Rehan.

Rehan ternyata telah memakai kredensial istrinya yang masih tercatat sebagai konsultan perusahaan untuk menciptakan jejak seolah Arini terlibat.

Maya akhirnya memahami alasan Rehan begitu keras melarang Arini berhubungan dengan kantor.

Bukan hanya karena dia ingin mengendalikan istrinya.

Dia membutuhkan Arini tetap diam karena suatu hari, jika skandal itu terbongkar, nama Arini sudah disiapkan sebagai salah satu orang yang akan disalahkan.

Saat Siska menjelaskan temuan tersebut, Arini hanya duduk diam.

Kemudian dia tersenyum pahit.

“Jadi selama ini dia bukan cuma takut aku pergi.”

“Dia takut kamu mulai melihat,” jawab Maya.

Arini menatap Tania yang sedang tidur di pelukannya.

Lalu dia berkata pelan.

“Untung Ibu masih ingat Bunga Teratai.”

Maya tersenyum.

“Ibu tidak pernah melupakannya.”

Tania bergerak kecil dalam tidurnya.

Arini mencium kening putrinya.

Dia tahu hidupnya belum sepenuhnya pulih. Proses hukum masih berjalan. Luka emosional tidak hilang hanya karena sebuah pintu akhirnya terbuka.

Tetapi sekarang dia memiliki sesuatu yang selama dua tahun perlahan dirampas darinya.

Pilihan.

Dan beberapa bulan kemudian, ketika Tania mengucapkan kata pertamanya dengan jelas, kata itu bukan “Mama”.

Bukan pula “Nenek”.

Dia menunjuk bunga kecil berwarna merah muda yang tumbuh di pot balkon dan berkata terbata-bata,

“Bunga.”

Arini dan Maya saling menatap.

Lalu keduanya tertawa sambil menangis.

Bunga Teratai dahulu mereka ciptakan sebagai kata sandi untuk menghadapi bahaya.

Kini mereka memutuskan tidak akan menggunakannya lagi sebagai simbol ketakutan.

Bagi Arini, dua kata itu memiliki arti baru.

Pulang.

Bukan pulang ke sebuah rumah mewah.

Melainkan pulang kepada dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang