Sudah 19 hari Kirana terbaring di ruang perawatan Rumah Sakit Kebon Jeruk, Jakarta, ketika suaminya datang bukan untuk membawakan bunga, bukan untuk menanyakan rasa sakitnya, melainkan untuk menyeretnya pulang.
Aris berdiri di samping tempat tidur dengan rahang mengeras.
Tanpa peringatan, ia menarik selimut dari kedua kaki Kirana yang masih terbungkus gips.
“Aku tidak akan keluar uang satu rupiah pun lagi untuk drama tidak bergunamu ini!”
Tinju Aris menghantam perut Kirana.

Rasa sakit menjalar sampai ke tulang rusuknya yang masih retak.
Monitor di samping ranjang langsung berbunyi nyaring.
Kirana mencoba menarik napas, tetapi belum sempat ia pulih, Aris meraih pergelangan tangannya.
“Hari ini kamu pulang.”
“Aku belum bisa berdiri.”
“Dokter cuma mau menguras uangku.”
Aris menariknya lagi.
Kirana mencengkeram pagar ranjang.
“Tidak.”
Satu kata itu membuat mata Aris berubah.
Ia memukul perut Kirana untuk kedua kalinya.
Kirana tersengal dan membungkuk menahan nyeri.
Di dinding di samping tempat tidur tergantung gambar buatan Maya, putri mereka yang berusia sembilan tahun. Tiga orang bergandengan tangan di bawah matahari besar berwarna kuning.
Mama cepat pulang ya.
Aris mengangkat tangan untuk ketiga kalinya.
Pintu kamar mendadak terbuka.
Suster Nita berdiri di sana membawa baki obat.
Wajahnya seketika pucat.
“Pak, mundur dari pasien.”
Aris menoleh.
“Ini urusan keluarga saya.”
“Pak, mundur sekarang.”
“Jangan ikut campur.”
Suster Nita tidak menjawab. Tangannya menekan tombol darurat di dekat pintu.
Kurang dari satu menit kemudian, dua petugas keamanan rumah sakit dan seorang dokter masuk.
Aris masih berteriak bahwa istrinya hanya berpura-pura sakit ketika ia dibawa keluar dari kamar.
Sebelum pintu tertutup, ia menunjuk Kirana.
“Kamu akan menyesal.”
Kirana tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, ancaman itu terdengar berbeda.
Bukan karena Aris berubah.
Melainkan karena Kirana akhirnya berhenti mempercayainya.
Dokter Rendra memeriksa kondisi Kirana. Untungnya tidak ditemukan cedera baru yang mengancam nyawa, tetapi memar di perutnya harus diawasi.
Suster Nita duduk di sisi tempat tidur setelah ruangan kembali tenang.
“Bu Kirana, saya harus melaporkan apa yang saya lihat.”
Kirana menatap tangannya sendiri.
“Kalau saya melapor, anak saya bagaimana?”
“Kita bisa menghubungi keluarga Ibu.”
Kirana langsung memikirkan Siska.
Selama setahun terakhir, ia hampir tidak pernah berbicara dengan kakaknya. Aris selalu mengatakan bahwa Siska iri terhadap rumah tangga mereka, terlalu banyak ikut campur, dan hanya ingin menghancurkan pernikahan mereka.
Kini Kirana mulai mempertanyakan semuanya.
Dengan tangan gemetar ia menyebutkan nomor telepon yang masih diingatnya.
Siska tiba satu jam kemudian.
Begitu melihat kondisi adiknya, perempuan itu berhenti di ambang pintu.
Matanya memerah.
“Kirana…”
Kirana tidak sanggup berkata apa-apa.
Siska mendekat dan memeluknya dengan sangat hati-hati.
“Aku minta maaf.”
“Kenapa kamu minta maaf?”
“Aku seharusnya datang lebih cepat.”
Kirana menangis.
“Aku yang menjauh.”
“Bukan.” Siska menggeleng. “Kamu dibuat menjauh.”
Malam itu menjadi malam pertama Kirana menceritakan semuanya.
Tentang rekening yang tidak lagi bisa ia akses.
Tentang uang belanja yang harus dipertanggungjawabkan sampai seribu rupiah terakhir.
Tentang Aris yang memeriksa ponselnya.
Tentang teman-temannya yang satu per satu menghilang.
Tentang hinaan yang selalu datang setelah pintu rumah ditutup.
Siska mendengarkan tanpa menyela.
Kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuat Kirana terdiam.
“Seminggu sebelum kecelakaanmu, kamu meneleponku.”
“Aku?”
“Kamu bilang ada sesuatu yang aneh dengan rekening lama milikmu.”
Kirana mengerutkan kening.
Sedikit demi sedikit ingatannya kembali.
Sebelum berhenti bekerja, Kirana memiliki rekening tabungan sendiri. Bertahun-tahun rekening itu hampir tidak pernah digunakan. Sebulan sebelum kecelakaan, saat mencari dokumen untuk keperluan sekolah Maya, Kirana menemukan buku tabungan lama.
Ia mendatangi bank untuk memperbarui data.
Di sanalah ia melihat transaksi yang tidak pernah ia lakukan.
Transfer dalam jumlah berbeda-beda masuk dan keluar selama hampir tiga tahun.
Lima puluh juta.
Delapan puluh juta.
Seratus dua puluh juta.
Beberapa transaksi bahkan mencapai ratusan juta rupiah.
“Kamu bilang mau memeriksanya diam-diam,” kata Siska.
Kirana menutup mata.
Kini ia ingat.
Ia sempat memotret beberapa halaman mutasi rekening.
Lalu ia menyimpannya di surel baru yang tidak diketahui Aris.
“Siska.”
“Ya?”
“Ada email.”
Dengan bantuan kakaknya, Kirana membuka akun tersebut.
Kata sandinya masih ia ingat.
Di dalam folder draft terdapat dua belas foto mutasi rekening.
Siska memperbesar salah satunya.
Nama pengirim dan penerima berulang kali muncul.
PT Arunika Prima.
Siska terdiam.
“Itu perusahaan Aris, kan?”
Kirana mengangguk.
Perusahaan konstruksi kecil milik Aris seharusnya menggunakan rekening perusahaan, bukan rekening pribadi Kirana.
Mereka kemudian menemukan sesuatu yang lebih aneh.
Tiga hari sebelum kecelakaan, ada transfer sebesar Rp480 juta dari rekening Kirana ke rekening atas nama seorang perempuan.
Melati Prameswari.
Kirana mengenal nama itu.
Sekretaris Aris.
Dua hari setelah kecelakaan, masuk lagi dana Rp300 juta.
Lalu uang itu ditarik hampir seluruhnya pada hari yang sama.
“Orang yang koma tidak mungkin melakukan transfer,” kata Siska.
Kirana merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
Keesokan paginya, Siska menghubungi seorang pengacara yang dikenalnya.
Atas saran pengacara, mereka meminta bank membekukan aktivitas rekening dan melakukan pemeriksaan akses.
Hasil awal menunjukkan beberapa transaksi dilakukan melalui perangkat yang selama ini terdaftar menggunakan nomor telepon milik Aris.
Namun temuan yang benar-benar membuat Kirana takut datang dua hari kemudian.
Seorang pria bernama Bayu datang ke rumah sakit.
Ia memperkenalkan diri sebagai penyelidik klaim dari perusahaan asuransi.
“Saya perlu memastikan beberapa informasi langsung dengan Ibu Kirana.”
Kirana mengira urusan itu berkaitan dengan asuransi kendaraan.
Ternyata bukan.
Bayu meletakkan satu dokumen di meja.
Polis asuransi jiwa.
Nama tertanggung adalah Kirana Adinata.
Nilai pertanggungannya Rp15 miliar.
Kirana membaca dokumen itu berulang kali.
“Saya tidak pernah membeli ini.”
“Polisnya diterbitkan sekitar delapan bulan lalu.”
“Siapa penerima manfaatnya?”
Bayu tidak langsung menjawab.
Kemudian ia menunjuk sebuah baris.
Aris Prasetyo.
Suaminya.
Tenggorokan Kirana mendadak kering.
“Tanda tangannya…”
“Ibu merasa tidak pernah menandatanganinya?”
“Tidak pernah.”
Bayu mengangguk pelan.
“Itulah sebabnya klaim yang diajukan setelah kecelakaan Ibu masuk ke pemeriksaan khusus.”
Siska berdiri mendadak.
“Klaim?”
Bayu menatap mereka.
“Bapak Aris menghubungi perusahaan dua hari setelah kecelakaan. Ia menanyakan prosedur pencairan apabila tertanggung meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Kirana merasa seolah seluruh suara di dunia menghilang.
Dua hari setelah kecelakaannya, ketika ia masih tidak sadarkan diri di ICU, suaminya sudah bertanya bagaimana mendapatkan Rp15 miliar jika ia meninggal.
Bayu kemudian menjelaskan bahwa perusahaan asuransi menemukan ketidaksesuaian pada tanda tangan dan dokumen kesehatan yang digunakan untuk menerbitkan polis.
Investigasi belum selesai.
Namun polisi mulai tertarik ketika laporan kekerasan di rumah sakit digabungkan dengan informasi tersebut.
Beberapa hari kemudian, polisi meminta kendaraan Kirana yang masih berada di bengkel penyimpanan diperiksa ulang.
Pemeriksaan pertama menganggap kecelakaan itu akibat kegagalan sistem pengereman.
Pemeriksaan kedua menemukan sesuatu yang lebih spesifik.
Selang rem bagian depan memiliki bekas sayatan.
Bukan retakan akibat benturan.
Sayatan.
Kirana tidak langsung menuduh Aris.
Ia bahkan berharap ada penjelasan lain.
Namun penyelidikan menemukan rekaman kamera keamanan dari area parkir apartemen mereka.
Malam sebelum kecelakaan, sebuah kamera memperlihatkan Aris berada di dekat mobil Kirana selama hampir dua puluh menit.
Aris membantah.
Ia mengatakan hanya memeriksa ban.
Lalu polisi menemukan percakapan yang sudah dihapus dari ponselnya.
Melati, sekretarisnya, ternyata bukan sekadar sekretaris.
Hubungan mereka telah berlangsung lebih dari dua tahun.
Salah satu pesan yang berhasil dipulihkan dikirim beberapa minggu sebelum kecelakaan.
Kalau semuanya selesai, kita tidak perlu sembunyi lagi.
Balasan Aris singkat.
Aku sedang mengurusnya.
Melati akhirnya menyerah setelah diperiksa polisi selama berjam-jam.
Ia mengaku membantu Aris membuat beberapa dokumen keuangan menggunakan data Kirana.
Namun ia bersikeras tidak mengetahui rencana mencelakai Kirana.
Menurut Melati, Aris terlilit utang besar setelah proyek investasinya gagal.
Utangnya mencapai miliaran rupiah.
Ia menggunakan rekening Kirana untuk mengalirkan uang perusahaan agar tidak terlacak kreditur.
Polis Rp15 miliar menjadi jalan keluar terakhir.
Sementara penyelidikan berjalan, Maya akhirnya dipindahkan dari rumah tetangga dan tinggal bersama Siska.
Saat Kirana bertemu putrinya kembali, Maya tidak langsung berlari memeluknya.
Anak itu berhenti beberapa langkah dari tempat tidur.
“Mama masih sakit?”
“Sedikit.”
Maya mendekat perlahan.
Lalu ia berbisik, “Papa bilang Mama kecelakaan karena Mama ceroboh.”
Kirana menelan tangis.
“Mama tidak ceroboh.”
Maya mengeluarkan sebuah ponsel lama dari tas kecilnya.
“Aku simpan ini.”
Itu ponsel lama Kirana.
Maya menemukannya di laci beberapa minggu sebelum kecelakaan dan menggunakannya untuk bermain gim ketika Aris tidak ada di rumah.
Ada satu rekaman suara yang tidak sengaja dibuat Maya.
Tanggalnya malam sebelum kecelakaan.
Suara Aris terdengar dari ruang garasi berbicara melalui telepon.
“Besok dia pergi ke Bogor sendirian.”
Hening beberapa detik.
Lalu suara Aris kembali terdengar.
“Kalau mobil itu sampai bengkel sebelum kejadian, semua rencana berantakan.”
Kirana tidak sanggup mendengar sisanya.
Siska langsung menyerahkan ponsel itu kepada polisi.
Bukti itu menjadi potongan terakhir yang mereka butuhkan.
Aris ditangkap tiga hari kemudian.
Ia masih menyangkal ketika dibawa keluar dari kantornya.
Bahkan di depan penyidik, ia mengatakan Kirana dan Siska bersekongkol menghancurkan hidupnya demi mengambil seluruh hartanya.
Namun catatan keuangan berkata lain.
Rekaman berkata lain.
Hasil pemeriksaan kendaraan berkata lain.
Dan polis Rp15 miliar yang dibuat menggunakan dokumen Kirana menjadi bukti yang tidak mudah dijelaskan.
Beberapa bulan kemudian, Kirana sudah mampu berjalan menggunakan tongkat ketika menghadiri sidang pertamanya.
Di lorong pengadilan, untuk pertama kalinya setelah kecelakaan, ia melihat Aris dari dekat.
Pria itu tampak jauh lebih kurus.
Ketika petugas membawanya lewat, Aris berhenti.
“Kirana.”
Kirana menatapnya.
“Aku melakukan semua ini untuk keluarga kita.”
Dulu kalimat itu mungkin akan membuatnya ragu.
Dulu ia mungkin akan bertanya apakah dirinya terlalu keras.
Namun sekarang Kirana hanya menjawab pelan.
“Keluarga tidak membuat seseorang takut untuk hidup.”
Ia berjalan pergi.
Setelah proses hukum berlangsung, aset yang diperoleh melalui transaksi ilegal dibekukan. Klaim asuransi Rp15 miliar tentu tidak pernah dibayarkan.
Kirana tidak menjadi kaya dari semua itu.
Sebaliknya, ia harus memulai kembali hampir dari nol.
Ia menjalani fisioterapi berbulan-bulan.
Ia kembali belajar mengatur keuangannya sendiri.
Ia mengambil kursus akuntansi daring untuk memperbarui kemampuan yang sudah lama ditinggalkan.
Setahun kemudian, sebuah perusahaan menerima Kirana sebagai staf keuangan paruh waktu.
Pada hari pertama bekerja, Maya menunggu ibunya pulang di ruang tamu rumah kecil yang kini mereka sewa bersama.
Di atas meja terdapat gambar baru.
Kirana mengambilnya.
Kali ini hanya ada dua orang bergandengan tangan.
Seorang ibu dan seorang anak perempuan.
Di atas mereka ada matahari besar.
Di bawah gambar itu Maya menulis,
Mama sekarang tidak perlu cepat pulang.
Mama boleh pergi ke mana pun Mama mau.
Kirana menatap kalimat itu cukup lama.
Lalu ia memeluk putrinya.
Baru saat itulah Kirana menyadari sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia pahami.
Rumah bukanlah tempat yang memiliki suami, istri, anak, dan alamat yang sama.
Rumah adalah tempat seseorang tidak perlu takut.
Dan setelah dua belas tahun, untuk pertama kalinya, Kirana akhirnya pulang.
